My Only One

My Only One
Perasaan Dan Move On


__ADS_3

🌺


🌺


Galang tiba di depan gedung Nikolai Grup tak lama setelah mobil milik Clarra sampai. Kemudian mereka turun, dan hampir berbarengan melangkah ke arah gedung setinggi dua puluh lantai itu.


"Selamat pagi?" Galang menyapanya terlebih dahulu.


"Pagi." Clarra menjawab tanpa mengarahkan pandangannya pada wajah pria yang berusaha mensejajari langkahnya itu.


"Bagaimana kabarmu? Apa baik-bsik saja?" Galang mengajaknya berbicara.


"Baik, hanya saja badanku sedikit pegal dan sakit-sakit." Clarra terkekeh.


"Itu pasti. Baru pertama kali mengendarai motor dan langsung menempuh jarak jauh. Ajaib sekali kamu bahkan tidak mengeluh di perjalanan."


"Hmm ... ya, kamu benar. Kakiku bahkan sampai memar-memar. Mungkin karena jatuh kemarin." Mereka berhenti di depan lift.


"Apa?"


"Hmm ..." Clarra sedikit menarik celana panjangnya yang membungkus kaki jenjang miliknya. Dan benar saja, ada beberapa memar di kedua kaki dan sekitar betisnya.


"Hey, kamu pakai celana panjang?"


"Ya, terpaksa untuk menutupi memarnya. Tidak lucu juga karena ini terlihat sangat jelas."


"Iya, hahaha ...." Galang tergelak.


"Selamat pagi Pak, selamat pagi Bu?" Beberapa orang pegawai yang baru saja tiba menyapa mereka.


"Pagi." Galang dan Clarra menjawab bersamaan.


Kemudian mereka sama-sama masuk ke dalam kotak besi itu. Saking penuhnya sampai-sampai keadaan di dalam sana berdesakan, dan mereka berdekatan antara satu sama lainnya.


Clarra dan Galang yang berada di tengah bahkan hampir saling menempel karena begitu berdesakannya. Dan hal itu menyebabkan keadaan menjadi cukup canggung di antara mereka.


Clarra bahkan merasakan wajahnya memanas karena jarak mereka yang hanya beberapa senti saja. Dan ini cukup mendebarkan. Padahal jarak di antara mereka dua hari kemarin lebih dekat dari ini.


Selama perjalanan liburan hingga pulang dia memeluknya dengan erat. Terakhir kali di hotel bahkan mereka saling berpelukan untuk menenangkannya yang tengah menangis. Dan itu tidak ada apa-apanya.


Tapi ini? Hatinya bahkan terasa berdebar-debar tak karuan.


"Ehmm ...." Clarra berdeham untuk menetralisir kecanggungan yang dirasakannya. Sementara yang lain hanya saling melirik.


Sesekali lift berhenti, dan satu persatu pegawai turun di tempat mereka bertugas. Sehingga keadaan berangsur kembali seperti semula. Dan akhirnya, keduanya kembali memiliki jarak.


"Umm ... jadwal kita apa hari ini?" Galang memulai percakapan.


"Apa?" Clarra mendongak.


"Maksudku, ... jadwalku." Galang mengerutkan dahi.


"Umm ... sebentar aku kirimkan ke hapemu." Clarra mengalihkan perhatiannya pada macbook yang kemudian dia nyalakan.


Beberapa jadwal dan catatan untuk pekerjaan hari itu dia kirimkan ke ponsel milik Galang dan pria itu memeriksanya seperti biasa.


"Tugas keluar semua ya?" ucap Galang setelah membaca jadwalnya.


"Ya."


"Baiklah, ...." Lalu dia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya.


Lift berhenti di lantai paling atas gedung itu dan pintunya segera terbuka. Keduanya melangkah hampir bersamaan, namun Galang segera mundur dan mempersilahkan Clarra untuk keluar lebih dulu.


Perempuan itu menunduk lalu melangkahkan kakinya keluar dari kotak besi tersebut. Sementara Galang kembali mengerutkan dahi. Dia merasa heran dengan sikap rekan kerjanya itu.


🌺


🌺


"Kamu mau pergi?" Arfan mengalihkan perhatiannya dari laptop. Menjeda pekerjaannya sebentar memeriksa beberapa laporan yang dikirim oleh pegawainya.


"Ya. Mau ketemu mama." Amara menjawab.


"Baiklah."


"Kalau nggak pulang berarti aku menginap di sana ya?" Gadis itu berjalan mendekati sang ayah.


"Iya, baik." Arfan menyesap kopi hitamnya yang masih mengepulkan uap panas.


"Sekalian mau cari apartemen."


Pria itu hampir saja menyemburkan minuman pekat beraroma khas itu dari mulutnya.


"Ish, Papa kenapa sih?" Sang anak menepuk-nepuk punggung ayahnya.


"Cari apartemen?" Arfan mengulangi ucapan putrinya.


"Iya. Kemarin kan aku udah bilang sama Papa?"

__ADS_1


"Iya, Papa kira tidak secepat ini. Bukankah kamu bilang masih lama?" Arfan mengingatkan percakapan mereka sebelumnya.


"Iya, tapi kan nggak ada salahnya juga kalau aku cari dari sekarang."


Arfan berjengit.


"Kan aku juga mau kerja."


"Baru juga pulang? Nggak mau istirahat dulu apa?" Dygta yang muncul kemudian.


"Kalau kelamaan istirahat nanti aku lupa sama yang udah aku pelajari."


"Terus rencananya kamu mau kerja di mana? Hotel? Restoran? Pilih saja, nanti Papa uruskan dengan manajemen." Arfan berujar.


"Kalau aku mau memulai usaha sendiri boleh?" Amara kemudian duduk di samping sang ayah.


"Usaha sendiri?"


"Ya."


"Usaha apa?"


"Nggak tahu, menurut Papa bagusnya apa?"


"Kalau yang sesuai jurusan kuliah kamu ya antara kafe, atau restoran."


"Masa aku mau buka restoran?" Amara tertawa. "Kayaknya kegedean Pah."


"Kafe?"


Gadis itu berpikir.


"Maunya kafe outdoor, bisa di pinggir pantai atau di tempat terbuka lainnya."


"Ide yang bagus."


"Papa setuju?"


"Setuju." Arfan menganggukan kepala. Dia menutup laptopnya untuk bisa fokus berbicara dengan putrinya.


"Jadi di mana?"


"Apanya?"


"Kafenya."


"Kan belum. Baru juga dapat ide, Papa gimana sih?"


"Atau sekalian aja sekarang aku cari tempatnya?"


"Mmm ... kalau mau bertemu mama, pergilah kesana dulu. Soal pekerjaan bisa kita pikirkan bersama nanti."


"Beneran?"


"Ya."


"Papa mau bantuin aku soal kerjaan?"


"Tentu saja, memangnya apa lagi yang akan Papa lakukan untukmu?"


"Hmm ... iya sih." Amara tersenyum.


"Sudah, sana kalau mau pergi. Mamamu pasti sudah menunggu?"


"Iya, dari tadi nelfon melulu." adunya kepada sang ayah.


"Makanya."


"Ya udah, aku pergi dulu ya?"


"Ya, pergilah."


"Dah Mom." Amara memeluk Dygta, seperti biasa.


"Dah, hati-hati bawa mobilnya. Jam segini pasti macet. Atau mau diantar sopir?"


"Nggak usah Mom, aku bisa." Amara pun keluar dari rumah.


🌺


🌺


"Aku dengar Ara sudah pulang?" Galang hampir saja menyuapkan makan siangnya ketika Dimitri berujar.


"Apa?" Dia meletakan kembali sendok ke atas piring berisi makanannya.


"Ara sudah pulang. Dia sampai kemarin siang." ulang Dimitri.


Galang tampak tertegun karenanya.

__ADS_1


"Kenapa dia pulang?" Lalu dia bertanya.


"Kenapa katamu? Ya karena kuliahnya sudah selesai." Dimitri mengunyah makanannya.


"Kuliahnya sudah selesai?"


"Ya, setelah wisuda dia langsung pulang. Aneh sekali, aku pikir dia akan menetap di sana. Aku dengar obrolan Kak Dygta dan Mama beberapa bulan yang lalu."


Galang mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Move on mu gagal, Galang!" Dimitri tertawa pelan, lalu meneguk air minumnya.


"Siapa bilang?" Pria itu pun menjawab.


"Cih, lagakmu!"


"Bapak sok tahu!" Galang kembali melahap makannya meski seleranya tiba-tiba saja menghilang.


"Yakin?"


Pria itu tak menjawab.


"Aku hanya mengkhawatirkan satu hal." Dimitri berujar.


"Apa?"


"Pendirianmu goyah."


Galang mengerutkan dahi.


"Hati-hati, perempuan-perempuan itu akan membuatmu pusing tujuh keliling dengan kelakuan mereka yang tidak jelas."


"Mungkin kamu merasa akan baik-baik saja, tapi pada kenyataannya mereka akan membuatmu tidak berdaya."


"Aku beri tahu saja, sehingga kamu akan bisa menyiapkan hati dan mental."


"Bapak sedang menasehati saya?"


"Sebagai atasanmu, ya. Aku mendukung hubunganmu dengan Clarra. Dia wanita yang baik meski sedikit galak. Tapi Ara juga tidak bisa di sepelekan."


"Pengalaman Bapak dengan Ara memang cukup baik ya?" Sindir pria itu kepada atasannya.


"Bicara apa kamu ini? jangan sembarangan!" Dimitri bereaksi.


"Saya cuma jawab apa yang Bapak ucapkan lho."


"Hey, aku ini atasanmu? Berani sekali kamu bicara begitu kepadaku?"


"Dalam hal apa saya harus tunduk? Pekerjaan memang mengharuskan saya untuk tunduk secara profesional kepada Bapak, tapi kalau untuk masalah pribadi sepertinya tidak harus?"


"Apa katamu?"


"Lagi pula saya tidak ada hubungan dengan Clarra."


"Yeah, sekarang tidak, tapi tidak tahu kalau nanti." Dimitri kembali menikmati makanannya.


"Eh, aku lupa. Ara kan sudah pulang ya? Siapa tahu kamu mengurungkan niatmu untuk move on?" Lalu pria itu tertawa.


Sementara Galang mendengus sambil mendelik.


"Saya sudah selesai, apa Bapak sudah? Kita harus menghadiri pertemuan selanjutnya." Galang melihat jam tangannya.


"Yang sopan! Aku ini sedang makan!" Dimitri kembali bereaksi.


"Makannya yang cepat Pak, kita ka sedang bekerja."


"Lancang sekali kamu ini ya?"


"Pak Satria mengijinkan saya untuk melakukannya jika apa yang Bapak lakukan tidak sesua dengan apa yang kita kerjakan."


"Ish, bawa-bawa Papi? Memangnya bosmu itu siapa sih? Kan aku?"


"Di kantor memang Bapak, tapi yang menarik saya ke Nikolai Grup kan Pak Satria, sebagai pemilik utama perusahaan. Jadi kalau untuk masalah itu, ya saya tunduk kepada Pak Satria." Galang menenggak habis air minumnya.


"Tapi kamu bekerja denganku!"


"Tapi kita sama-sama bekerja untuk Pak Satria."


Sang atasan tak mampu menjawab lagi. Kekuasaannya memang tidak akan bisa melebihi Satria sebagai ayahnya. Meski apa pun bisa dia perintahkan, tapi ada beberapa hal yang membutuhkan persetujuan pria itu.


"Jadi, bisakah kita segera meghadiri pertemuannya? Agar semuanya cepat selesai hari ini. Reputasi kita dipertaruhkan Pak." Galang dengan senyumnya yang aneh.


"Dasar antek orang tua!" Dimitri menggerutu, sedangkan Galang hanya terus tersenyum.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


Bersambung ...


oooyyy, kalian di mana? Like komen sama hadiahnya dong dikencengin. 🤣🤣


__ADS_2