My Only One

My Only One
Kabar


__ADS_3

🌺


🌺


Galang keluar dari kamarnya dengan langkah yang tertatih. Masih lebih baik hari ini dirinya bisa berjalan dari pada tiga hari sebelumnya yang hanya bisa duduk saja atau berbaring di sofa.


"Sudah mandi?" Clarra yang beberapa hari terakhir ini datang setiap pagi untuk membuatkannya sarapan dan memastikan keadaannya baik-baik saja.


"Sudah." Galang menjawab.


"Baiklah." Perempuan itu meletakkan sarapan sederhana buatannya. 


Satu porsi nasi goreng dengan omelet diatasnya. Ditambah segelas besar air putih hangat dan potongan buah di wadah kecil.


"Kamu jadi repot harus berputar lebih jauh kesini sebelum kerja?" Galang duduk di kursinya.


Clarra hanya tersenyum.


"Kamu tidak kesiangan?"


"Tidak. Makanya aku datang kesini pagi-pagi agar semuanya bisa aku kerjakan tepat waktu." Clarra duduk setelah meletakkan piring sarapan miliknya.


Galang terkekeh seraya memulai sarapannya. Lalu dia melirik kepada perempuan itu yang juga melakukan hal sama.


Dia menatapnya untuk beberapa saat, dan tiba-tiba saja hatinya merasa bersalah. Bagaimana pikirannya malah tertuju kepada orang lain padahal mereka selalu bersama. Apalagi beberapa hari belakangan dia selalu datang untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.


"Terima kasih." ucap Galang, dan hanya Clarra jawab dengan senyuman.


"Kalau begitu aku pergi ya?" Clarra memastikan semuanya rapi seusai mereka makan dan mengembalikan barang yang sudah bersih ke tempatnya semula.


"Iya, baik." Galang menjawab seraya mengikutinya yang berjalan ke arah pintu.


"Mungkin nanti aku akan mengirimkan beberapa file untuk kamu kerjakan lagi. Deadlinnya harus selesai minggu ini." Clarra membuka pintu.


"Ya, kirim saja. Akan aku kerjakan nanti."


"Hmm …." Clarra mengangguk-anggukkan kepala. "Aku pamit ya?" kemudian dia melangkah keluar.


"Ya, hati-hati." Galang mengantar kepergiannya hingga di ambang pintu, dan menatapnya hingga Clarra mencapai lift.


***


"Tiga paket sarapan untuk meja sebelas, dua paket sarapan untuk meja lima, dan satu kopi untuk meja delapan." Pegawai laki-laki bernama Ardi menyerahkan kertas berisi tulisan pesanan yang segera Nania ambil.


"Baik." Amara menjawab dari arah counter di mana dia mengolah pesanan.


"Dua paket sarapan baru." Pegawai lainnya yang bernama Raka juga menyerahkan pesanan yang sama.


"Masih ada lagi? Aku mau sekalian membuatnya." Amara sedikit berteriak dari belakang sana.


"Belum. Hanya ada pelanggan yang komplain." jawab Nindi.


"Komplain?" Empat orang itu menjawab bersamaan.


"Pesanannya lama. Hehe …." ucapnya, yang kemudian kembali ke depan ketika dia mengetahui tamu berikutnya datang.


"Ah! Aku rasa promosinya cukup dulu sampai hari ini. Nanti nggak usah di update ya Raka?" Amara berujar, dengan alat masak ditangan bersama Nania yang menata makanan di piring.


"Tapi kalau begini terus setiap hari kan bagus Kak?"


"Iya bagus, tapi aku bisa pingsan."


Dua pegawai laki-laki di depan tertawa.


"Pamfletnya juga masih banyak Kak. Apa masih perlu aku sebarin?" Ardi menyahut.


"Stop dulu Di. Segini cukup." Amara menjawab.


"Yakin? Nanti kedai kita sepi?"


"Aku belum terlalu terbiasa. Jadi kurangi dulu promosinya ya? Astaga! Nggak kebayang kalau pakai jasa promosinya Papa. Bisa-bisa kita keteteran!"


"Baiklah kalau begitu. Terserah Kak Ara saja."


"Hmm …"


"Siap, silahkan diantar, dan cepat bawa pesanannya lagi kesini." Nania menyerahkan beberapa piring berisi pesanan yang telah selesai dibuat.


Yang kemudian segera diantarkan oleh Ardi dan Raka. Lalu Nindi menyusul untuk menyerahkan pesanan berikutnya.


Keadaan tersebut berlangsung hingga jam kerja bagi para karyawan perusahaan sekitar dimulai. Mereka istirahat ketika kedai cukup sepi dan memulai kesibukannya lagi di jam makan siang.


Dan begitulah segalanya bergulir sejak awal tempat tersebut dibuka untuk umum. Dengan promosi di sosial media dan penyebaran selebaran, juga cerita dari mulut ke mulut akhirnya membuat usaha kecil si anak manja ini berjalan seperti yang dia rencanakan.


Setiap hari dia disibukkan oleh pekerjaan yang paling disukainya. Membuatkan makanan untuk orang-orang, dan melihat senyum mereka yang puas dengan pesanannya. Tidak lupa dengan ucapan terima kasih ketika para pelanggan selesai dan kembali pada aktivitas rutin mereka. Membuatnya merasakan kesenangan tersendiri.


***


Lonceng diatas pintu masuk berbunyi tanda ada pelanggan masuk. Suasana pada menjelang siang itu cukup sepi karena belum terlalu banyak pengunjung. Jam makan siang bahkan belum tiba.


"Selamat siang, selamat datang di Amara's Love." Nindi menyambut tamu yang datang.


"Terima kasih, mau ketemu Ara boleh?" Suara perempuan menjawab. Diikuiti suara anak kecil yang terus menginterupsi.


"Kak Ara?"


"Iya."


Bersamaan dengan itu Amara muncul dari ruang masaknya. Dengan rambut di gulung ke atas dan afron menempel melapisi pakaiannya.

__ADS_1


"Ya?"


"Kak Ara!" Anya melambaikan tangan ke arah gadis itu.


Amara tersenyum begitu mengenali siapa tamu yang datang. Rania bersama anak kembarnya yang mulai membuat gaduh suasana.


"Kak Rania?" Gadis itu segera menghampiri mereka dan mengambil alih pekerjaan Nindi.


"Hey? Selamat." Rania segera merangkulnya.


"Maaf, kemarin pas pembukaan nggak bisa datang. Anak-anak ada lomba di sekolah." ucap Rania.


"Nggak apa-apa Kak. Cuma bertiga?" Amara beralih kepada dua anak kecil yang duduk di kursi mereka.


"Iya, tapi sebentar lagi Papinya menyusul."


"Oh … oke."


"Mudah-mudahan nggak lama. Katanya lagi diluar kantor."


"Oh ya? Ada meeting?"


"Gitu deh. Pasti lama, sendirian soalnya." 


"Lho, kenapa? Biasanya sama Om Andra kan?"


"Nggak sih, udah beberapa minggu ini sama Galang. Eh, …." Rania menutup mulut dengan tangannya.


"Maksudnya e .…"


"Om Galangnya lagi sakit. Nggak bisa jalan. Jadinya nggak bisa kerja. Kan kasihan papi aku kerjanya sendirian." celetuk Anya dengan polosnya.


"Apa?"


"Umm … nggak apa-apa. Anya cuma asal ngomong. Ngga usah di …."


"Kata papi kakinya patah." ucap Anak itu lagi.


"Ish, Anya ngomong terus deh? Mommy kan lagi ngobrol sama kak Ara."


"Tapi aku udah laper Mommy, dari tadi nggak pesen-pesen?" protes anak itu.


"Oh astaga, jadi lupa." Amara tertawa, kemudian menyerahkan buku menu.


"Pesan makan dulu Kak, nanti ngobrol lagi."


"Ah, iya. Kalau udah ngobrol tuh suka lupa segalanya."


"Hmm …."


"Mau pesan sekalian untuk Papinya anak-anak ya, biar pas dia datang langsung makan."


"Yang enak apa?"


"Macam-macam Kak. Ada western, ada juga yang lokal. Kalau rasa sih tergantung selera."


"Ayam geprek ada?"


"Ada."


"Capucinno cincau?"


"Ada."


"Wah? Sate?"


"Ada juga."


"Es boba?"


"Ada."


"Komplit ya?"


"Gitu deh, hehe." Amara terkekeh.


"Westernnya apa yang enak? Kali Papinya Anya mau pilih." Rania mengeluarkan ponsel kemudian mengambil gambar beberapa makanan.


"Kalian mau apa?" Lalu dia beralih kepada kedua anaknya.


"I don't know." Zenya menjawab.


"Mommy ini hari apa sih?" Anya balik bertanya.


"Hari Jum'at. Kenapa?"


"Kalau hari minggu masih lama?"


"Lusa. Kenapa?"


"Mau es krim."


"Kalau Anya mau es krim, Kakak rekomendasikan yang enak ya?"


"Umm …."


"Baru hari Jum'at. Belum boleh." Rania menjawab.


"Sekali aja Mommy."

__ADS_1


"No."


"Aku udah good lho."


"Tetep aja, ini belum hari Minggu."


"Ya, Mommy?"


"Nggak bisa Anya."


Anak itu mengerucutkan mulutnya.


"Kalau mau bisa aku ambilin Kak?"


"Nggak usah. Aku punya aturan es krim di hari minggu, dan nggak boleh di ganggu gugat. Mau dia tantrum sekali pun."


"Oh, …."


"Gara-gara si Dudul tuh, waktu di Paris ngasih dia es krim hari Sabtu. Jadinya inget terus." Perempuan itu menggerutu.


"Zenya mau spageti?" Rania beralih kepada anak laki-lakinya.


"Mau."


"Anya mau nggak?"


Anak perempuan dengan kuncir dua itu masih cemberut.


"Ngga mau makan? Ya udah, sampai malam nggak akan Mama kasih makan." ancam Rania kepadanya.


"Umm …."


"Mau risotto? Di sini itu yang paling terkenal lho. Enak." tawar Amara.


"Ayo, Anya mau nggak?"


Anya belum menjawab.


"Kalau Anya mau es krim, datang aja nanti hari Minggu. Kakak punya es krim yang enak."


"Masa?" Anya dengan raut sumringah.


"Iya. Tapi sekarang harus mau makan dulu, biar nanti Minggu Mama ijinin makan es krim di sini."


"Mau mau mau!" Akhirnya anak itu menjawab.


"Dih, kalau dijanjiin gitu aja mau?"


"Mau Kakak pilihkan makanannya?"


"Hu'um." Anya mengangguk.


"Kita pilih risotto aja ya untuk Anya?"


"Oke."


"Baiklah." Amara tersenyum. "Kalau Kakak mau apa?" Lalu dia beralih kembali kepada Rania.


"Apa ya bingung. Sama deh kayak Anya."


"Oke." Amara mencatat pesanan.


"Buat Papi apa ya? Bisa kamu pilihin?"


"Kalau Kak Dim kayaknya biar pilih sendiri deh." Amara menjawab.


"Gitu ya?"


"Takutnya nggak cocok, dia kan beda seleranya. Kan sayang kalau nggak dimakan."


"Bener juga. Ya udah, itu dulu deh."


"Oke, aku bikin dulu makanannya ya?"


"Kamu yang masak?"


"Iya."


"Kirain pakai koki?"


"Terus untuk apa aku sekolah jauh-jauh?" Amara tertawa.


"Bener juga."


"Tunggu ya Kak? Aku usahain nggak lama."


"Oke." 


Amara pun kembali ke dalam area memasaknya.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


like komen sama hadiahnya mana?

__ADS_1


__ADS_2