
🌺
🌺
Amara setengah menjatuhkan keranjang cucian yang berisi penuh dengan bed cover dan sarung bantal. Juga beberapa bathrobe dan handuk yang dia ambil dari beberapa kamar.
Trolli yang di bawanya pun sama penuhnya dengan berbagai hal. Wadah kotor dan sampah, juga sisa makanan yang ditinggalkan oleh pengunjung semalam.
Sudah satu minggu dia bekerja di sebuah hotel sekitar menara Eiffel, untuk mengisi waktu luang sambil menunggu kabar kelulusan dari kampus.
Tidak sesuai dengan ekspektasinya sebagai mahasiswa, tapi cukup untuk menambah pengalaman. Seperti halnya tiga teman sekelasnya yang juga bekerja di tempat yang sama.
"Berapa lama kalian bekerja di sini?" Amara bertanya.
"Aku enam bulan, Abigail dan Catherine sekitar lima bulan." Piere menjawab.
"Dan setiap hari kalian bekerja seperti ini?"
"Ya apa lagi? Tidak banyak tempat yang menerima mahasiswa untuk bekerja selain di akhir pekan, sementara kami memerlukan uang untuk bertahan hidup. Tahu sendiri biaya makan dan sewa apartemen disini sangat mahal." Abigail menyahut.
"Orang tua kalian?"
"Cukupkan saja mereka mengirim untuk biaya kuliah semampunya. Tidak perlu juga memikirkan bagaimana kita hidup. Lagi pula ibuku hanya orang tua tunggal dengan penghasilan kecil di pinggiran kota, tidak bisa menyokong semua kebutuhan."
"Kamu Cath?" Amara beralih pada teman lainnya.
"Kurang lebih sama. Kalau bukan kita yang bekerja, lalu siapa? Tidak lucu juga jika aku harus berebut dengan adik-adikku." Gadis berambut merah itu tertawa.
Mereka memang tidak pernah se akrab ini sebelummya. Selain hanya untuk urusa kuliah, ke empat mahasiswa itu juga jarang berkumpul. Apalagi menjelang tahun akhir seperti ini, mereka tak memiliki banya waktu untuk bersantai. Karena selain kegiatan kampus dan perkuliahan semakin padat, juga bulan-bulan belakangan tempat mereka bekerja merupakan salah satu hotel yang paling ramai menjelang liburan seperti ini.
Dan Amara benar-benar baru mengetahui keadaan teman-temannya itu setelah satu minggu ini mereka bekerja di satu shift yang sama.
"Selain di sini, kalian pernah bekerja di mana saja?" lalu dia bertanya lagi, merasa penasaran dengan hal selanjutnya yang mungkin akan dia dengar.
"Aku bekerja paruh waktu di gerai pizza." Abigail menjawab, dengan tangannya yang tidak berhenti memilah barang yang akan dia bersihkan di mesin cuci.
"Kamu Cath?"
"Pernah di kafe, tapi di sana gajinya kecil, hanya cukup untuk makan. Sementara untuk sewa apartemen, aku harus mencari lagi. Terkadang aku menggantikan teman di mini market."
"Kalian sudah bekerja keras sejak awal kuliah ya?"
"Bukan lagi. Piere sejak SMA kan?"
"Benarkah?"
"Ya, kalau tidak begitu aku tidak akan bisa kuliah di sini." Pria yang merapikan kain-kain yang sudah bersih itu menyahut.
"Kalian tidak lelah?"
"Bercanda ya? tentu saja lelah. Mana ada pekerjaan yag tidak lelah? Seandainya orang tua kami lebih mampu, tentu kami hanya akan fokus kuliah saja."
Amara mengangguk-anggukkan kepala.
"Kau sendiri bagaimana?" Kini Abigail yang bertanya.
"Soal apa?"
"Pernah bekerja di mana saja? Aku jarang bertemu denganmu selain di kampus?"
"Aku?"
__ADS_1
Gadis dengan rambut coklat itu mengangguk.
"Aku hanya ...."
"Hanya menunggu kiriman dari orang tuamu ya? Beruntung sekali. Mereka pasti sangat kaya sehingga mampu menyekolahkanmu keluar negri."
"Umm ...."
"Bersyukurlah dengan itu, karena tidak semua orang seberuntung dirimu. Kebanyakan dari kami bisa kuliah karena beasiswa, dan harus sangat bekerja keras bahkan untuk bertahan hidup. Dan aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang kau punya."
Amara tertegun.
"Lalu apa yang kau lakukan disini? Menghabiskan waktu dengan berlelah-lelah seperti ini, karena aku yakin kau belum pernah bekerja sebelumnya?"
"Aku ...."
"Ehm ...." Seorang manager muncul untuk memeriksa keadaan.
"Maaf, aku harus kembali memeriksa kamar-kamar kosong itu. Puluhan tamu sudah check out hari ini, dan tamu lainnya akan segera check in. Aku yakin kita akan sagat bekerja keras untuk beberapa minggu." Catherine membawa trolli keluar dari ruang cuci.
"Kau juga ikut Amara?" Dia menoleh terlebih dahulu.
"Ya, ayo." Amara pun mengikuti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Clarra mengamati setiap gerak gerik pria di depannya. Yang sudah beberapa minggu belakangan tak bersikap seperti biasa kepadanya, tapi kepada orang lain dia begitu ramah.
Galang makan siang bersama karyawan lain dari beberapa divisi, dan terlihat akrab. Mereka bahkan bisa tertawa terbahak-bahak dan tidak ada kecanggungan sama sekali.
Sementara dirinya tidak ada siapa pun yang menemani, seperti biasa. Tak ada yang pernah mendekat atau setidaknya mengajaknya berbicara. Dan semuanya berjalan seperti sebelum-sebelumnya.
"Permisi Bu?" Seorang karyawan mendatanginya.
"Ya?" Clarra berpaling dan dia merasa sedikit lega. Akhirnya ada sesorang yang mengajaknya berbicara.
"Untuk file ini bisakah saya minta waktu setidaknya dua hari lagi?" Perempuan itu agak ragu-ragu.
Clarra terdiam sebentar. Hatinya sedikit kecewa, karena percakapan itu bukanlah yang dia harapkan.
"Maaf, kalau seandainya tidak bisa saya akan ...."
"Itu file yang mana?" Namun kemudian dia bertanya.
"File untuk perjanjian kerjasama."
"Kenapa kamu minta dua hari lagi? Bukankah kamu terbiasa mengerjakan hal seperti ini? Apa ada kesulitan?"
"Sebenarnya tidak juga."
"Lantas kenapa kamu meminta tambahan waktu selama dua hari? Apakah itu tidak membuang-buang waktu?"
"Ada beberapa file sama juga yang harus kami kerjakan, dan saya rasa kami tidak bisa mengerjakanya di waktu yang bersamaan."
"Makanya selesaikan dulu satu-satu."
"Kami berusaha Bu, tapi untuk waktunya mohon agar di tambah lagi."
"Kalian tidak sanggup?" Suara Clarra naik satu oktaf yang membuat seluruh ruangan kantin itu tiba-tiba menjadi hening dan pandangan tertuju ke arahnya.
Galang bahkan sampai menghentikan kegiatan makannya.
__ADS_1
"Sa-sanggup Bu, hanya saja kami butuh tambahan waktu." jawab si pegawai.
Clarra terdiam untuk beberapa saat. Dia bersedekap sambil menatap perempuan itu lekat-lekat.
"Berapa orang timmu?" Lalu dia bertanya lagi.
"Enam orang Bu."
"Berapa proyek file yang harus kalian kerjakan?"
"Sekitar dua belas Bu."
"Itu berarti satu orang dua file, seharusnya itu bisa kalian selesaikan tepat waktu."
"Iya Bu, maaf."
Clarra menghembuskan napasnya keras-keras.
"Kamu membuat selera makan saya hilang." Dia menggeser piring berisi makan siangnya ke tengah meja.
"Maaf Bu."
"Satu orang, dua file seharusnya bisa di selesaikan sejak kemarin. Waktu dua hari yang saya berikan sebenarnya sudah cukup. Itu waktu standar untuk menyelesaikanya. Tapi tidak tahu kenapa kalian tidak bisa mengejarnya. Apa kalian tidak mampu?"
Semua orang tampak menahan napas. Itu merupakan kata-kata keramat yang biasanya Clarra ucapkan sebelum nantinya ada beberapa pegawai yang dipecat.
"Saya tanya, kamu dan tim tidak mampu?" Perempuan itu mengulangi pertanyaannya.
"Mampu Bu."
"Lalu kenapa mengerjakan hal seperti ini saja meminta tambahan waktu? Bukankah kita terbiasa bekerja dengan cepat dan efisien?"
"Kamu tahu, Nikolai Grup itu terkenal karena proses yang tidak rumit. Birokrasi yang tidak berbelit-belit sehingga banyak proyek yang bisa dimulai dengan cepat. Kita ini terkenal karena tidak pernah bertele-tele dalam pengerjaan setiap proyek kerjasama. Tapi karena keterlambatan kalian yang seperti ini bisa membuat yang lainnya juga terlambat. Tahu berapa miliar uang yang hilang sia-sia karena hal semacam ini?"
Si pegawai terdiam.
"Telat dua detik saja kerugian kita banyak. Jadi sebaiknya tidak usah mengulangi hal semacam ini lagi."
"Cepat kerjakan, pagi lusa harus sudah ada di meja saya. Kalau tidak, saya pastikan sp 3 sampai ke meja kamu dan tim."
"Ba-baik Bu." Pegawai itu segera pergi.
"Hah, dasar. Di pikir ini ujian sekolah apa bisa di tunda begitu saja?" Clarra bangkit seraya mengambil beberapa barang miliknya di meja.
Lalu dia meninggaklan makanan yang masih utuh itu untuk kembali ke lantai paling atas gedung tempatnya bekerja itu. Dan selera malannya benar-benar sudah hilang sama sekali.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Galak bener bu?😂😂
ayo like komen sama hadiahnya kirim lagi
Bu Clarra yang galak 😄
__ADS_1