
🌺
🌺
"Hey, baru sampai?" Clarra menyambutnya di meja kerja tepat dua menit sebelum jam kerja dimulai.
"Eee … ya. Kamu sendiri?" Galang balik bertanya setelah dia hampir mencapainya.
"Sama. Aku pikir kamu akan mampir seperti biasa, makanya aku menunggu kamu dulu. Tapi ternyata nggak." Clarra menjawab.
"Apa?"
"Iya, tadi itu aku menunggumu dirumah, aku salah lagi nggak menghubungi kamu. Jadinya ya … agak …."
"Kamu kesiangan?" Galang mendekat.
"Hampir." Clarra terkekeh pelan.
"Umm …"
"Seharusnya aku tanya sih, hari ini mau berangkat sama-sama atau tidak? Bukanya malah menunggu seperti orang bodoh." Perempuan itu tertawa.
Galang terdiam dengan pikirannya yang menerka-nerka.
"Maaf." katanya kemudian.
"Maaf untuk apa?"
"Karena aku tidak memberitahumu kalau pagi ini tidak akan mampir."
Clarra menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Apa kamu sudah lebih baik sekarang?" Galang bertanya lagi.
"Ya, lumayan. Asalkan mereka tidak lagi datang menemuiku aku pasti akan baik-baik saja."
"Kamu yakin?"
"Ya. Selama ini aku baik-baik saja kalau Mamaku nggak datang. Tapi semuanya akan tiba-tiba berubah kalau dia ada. Seperti ada sesuatu yang mengancam."
"Kamu merasa begitu?"
"Ya. Makanya aku selalu merasa tidak tenang. Sehingga aku tidak mau menemuinya, karena dampaknya akan sangat besar kepadaku."
"Kamu takut?"
"Bukan takut, tapi seperti tidak nyaman saja."
"Kamu merasa was-was, tidak tenang kemudian mengalami gejala depresi?"
Clarra menganggukkan kepala.
"Mungkin sebenarnya itu takut. Hanya saja bercampur dengan perasaan negatif lainnya."
"Mungkin."
"Perkiraanku seperti itu."
"Kamu ini seperti dokter saja?" Clarra tergelak.
"Anggap saja begitu."
"Baiklah, analisamu sebagian besar benar Pak Dokter." ucap Clarra yang seketika mengerutkan dahi ketika dia mengingat sesuatu.
"Kamu tahu caranya untuk menghilangkan perasaan seperti itu?" Galang lebih mendekat lagi.
"Bagaimana?"
"Dengan menghadapinya."
Clarra semakin mengerutkan dahinya.
"Hadapi ibumu, mungkin juga ayah kandungmu. Bicara dengan mereka secara benar dan ungkapkan bagaimana perasaanmu selama ini. Agar mereka tahu dan mengerti bagaimana keadaanmu yang sebenarnya."
"Maksudmu, menemui mereka?"
"Ya."
"Itu mustahil."
"Maka mustahil juga kamu akan pulih dari depresi seperti ini."
Clarra terdiam.
"Apa kamu tidak lelah menjalani hal seperti ini? Bertahun-tahun hidup dalam ketakutan dan ketidak tenangan. Lalu sewaktu-waktu kamu bisa meledak ketika ada ibumu yang merupakan pemicu dari depresimu selama ini datang. Apa kamu betah hidup seperti itu?"
Perempuan itu menutup mulutnya rapat-rapat.
"Hadapilah, dan jika perlu aku akan menemanimu menemuinya."
"Benarkah?"
"Ya."Â
"Kamu mau menemaniku bertemu dengan Mama?"
"Tentu saja."
"Baik, akan aku pikirkan."
"Bagus." Pria itu kemudian tersenyum.
"Oh iya, tadi aku ke tempatnya Ara sebentar." tiba-tiba saja Galang berujar. Dia dengan hati berdebar dan menerka-nerka bagaimana reaksi perempuan di depannya ini.
Dan pernyataan itu membuat Clarra yang sedang memilah pekerjaannya mendongak.
"Apa?"
"Pagi ini aku mampir dulu ke kedainya Ara, itu sebabnya aku tidak mampir ke rumahmu." Pria itu memperjelas pernyataannya. Sudah terlanjur juga pikirnya, sekalian saja dia juga ingin melihat bagaimana reaksinya.
"Benarkah?"
"Ya."
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Melihat keadaannya."
Clarra tertegun sejenak.
"Tapi ternyata dia baik-baik saja." Galang terkekeh.Â
Ini rasanya seperti sedang mengakui kalau dirinya tengah berselingkuh, padahal hanya perasaannya saja yang selalu tertaut kepada gadis itu.
"Kenapa tidak mengajak aku?" ucap Clarra kemudian.
"Hah?"
"Ara bilang kita bisa kapan saja datang ke kedainya, dan aku memang suka sekali pergi ke sana. Dia punya tempat yang bagus dan nyaman untuk menikmati waktu." Clarra dengan riang gembira. Membuat Galang sedikit terheran-heran karenanya.
Padahal tadinya dia menyangka jika perempuan itu akan marah atau bersikap diluar kebiasaannya. Tapi ternyata tidak.
"Nanti kita makan lagi di sana ya?" Perempuan itu dengan antusias.
"Umm …."
"Cepat antarkan ini ke mejanya Dimitri sebelum dia datang." Lalu Clarra menyerahkan beberapa dokumen kepada Galang.
"Ba-baik."
"Kamu juga sekalian saja mengerjakan bagianmu di sana. Nanti kalau kita kerja sama-sama di sini malah banyak mengobrol."
"Begitu ya?"
"Ya, kamu kan senang sekali mengajakku bicara?"
"Oh, …."
"Sudah, sana."Â Clarra setengah mengusirnya.
"Baiklah, ibu sekretaris." Pria itu bergegas masuk kedalam ruangan atasannya.
🌺
🌺
"Selamat siang, selamat datang di Amara's Love." Gadis itu seperti biasa, menyapa tamu yang datang dengan suara riang dan raut wajah gembira.
Keadaan kedai tidak terlalu ramai, karena belum benar-benar tiba waktunya makan siang, sehingga mereka bekerja cukup santai hari itu. Dan Amara memilih untuk bertugas di depan. Membiarkan para pegawainya megolah makanan agar mereka terlatih untuk melakukannya.
Beberapa orang tamu masuk, dan di antaranya adalah seorang pria yang menggandeng tangan seorang anak perempuan berseragam merah putih yang segera mendekat kepadanya.
"Selamat siang Pak?" sapanya dengan ramah. "Silahkan sebelah sini?" Dia menunjukkan sebuah kursi di depan pantry.
Amara menarik buku menu lalu menyerahkannya kepada pria tersebut.
"Silahkan, kami punya banyak pilihan menu di sini."
"Saya tahu, makanan di sini enak. Itu sebabnya kami selalu kembali." jawab si pria yang mengenakan kemeja hitam dengan lengan pendek tersebut.
"Benarkah? Bapak sudah sering datang? Maaf, saya tidak terlalu memperhatikan." Amara tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Ya, waktu pembukaan kami duduk di sini." jawab pria itu.
"Oh ya?"
"Oh, … senang sekali mendengarnya Pak. Baik, anda Bapak … siapa ya, maaf?"
"Saya Syahril."Â
"Baik, Pak Syahril dan Adik Syahnaz secara resmi sudah jadi pelanggan terbaik Amara's Love mulai sekarang."
"Whoaaa …" Anak kecil di samping pria itu bereaksi. "Itu artinya aku dapat bonus?" ucapnya kemudian.
"Syahnaz?"Â
"Iya dong. Syahnaz mau apa? Kakak kasih gratis." Amara kepada anak itu.
"Mau apa ya?" Anak itu menoleh ke arah sang ayah.
"Apa saja dia suka."
"Baik, ada puding spesial hari ini, Syahnaz mau?"
"Mau mau Kak."Â
"Oke, Bapak sendiri mau sesuatu?"
"Saya bingung, soalnya makanan di sini enak-enak." Syahril menjawab.
"Kalau begitu mau saya pilihkan?" tawar Amara kepadanya.
"Boleh."
"Karena saya dulu kuliah di Paris, jadi ada menu spesial yang kami punya di sini."
"Oh ya, apa itu?"
"Rattatouile."
"Tikus?" Syahnaz menyela.
"Apa?"
Syahril terkekeh.
"Dia pasti ingat film animasi." katanya, sambil mengusap puncak kepala putrinya.
"Oo iya, film itu. Kakak juga suka lho. Seru kan ya?"
"Hu'um. Masak-masak, terus tikusnya lucu-lucu."
"Kamu benar."
"Di dapur Kakak ada tikusnya nggak?" Syahnaz bertanya.
"Apa? Tikus?"
"Iya. Tikus yang bisa masak."
"Nggak ada dong. Nggak boleh. Tikus kan kotor."
__ADS_1
"Tapi di film bisa?"
"Itu cuma film. Kadang cuma bohongan."
"Masa?"
"Iya."
"Dia tidak akan percaya." Syahril menyela, sedangkan Amara hanya tersenyum.
"Syahnaz mau juga rattatouile? Biar sekalian Kakak buatkan?"
"Enak nggak?"
"Enak lah."
"Ya udah."
"Minumnya?"
"Mau es boba."
Amara tertegun dan dia segera mengingat sesuatu.
"Dari pertama buka, minuman itu terus yang dia pesan." Syahril menjelaskan.
"Oh, oke." Amara mencatat pesanan.
"Baik. Ditunggu sebentar ya?" Kemudian dia pun berlalu.
***
"Silahkan." Amara meletakkan dua piring makanan yang dia rekomendasikan kepada Syahril dan putrinya.
"Kalau ada kekurangan bisa kok di tulis di sana." Amara menunjuk sebuah papan kecil yang menempel di dinding ujung yang sudah di penuhi oleh kertas catatan kecil dengan warna dan tulisan beragam.
"Bisa juga seperti itu?"
"Bisa. Atau kalau ada ide juga bisa ditulis di sana."
"Baiklah." Amara mengangguk.
Dan gadis itu hampir saja pergi ketika Syahril kembali berbicara.
"Oh iya."
"Ada lagi?"
"Bisa bertemu dengan pemilik kedai ini?" Syahril bertanya.
"Pemilik kedai?"
"Ya. Saya ada satu project untuk rumah sakit. Khususnya untuk pasien anak-anak. Kami membutuhkan semacam penyedia makanan untuk perayaan hari anak sebentar lagi."
"Wow?"
"Jadi, bisakah saya bertemu dengannya? Mungkin dia bersedia bekerja sama dengan rumah sakit." lanjut Syahril.
"Kerja samanya nanti dalam bentuk apa?" Amara tiba-tiba merasa antusias.
"Mungkin menyediakan makanan untuk anak-anak. Saya lihat di sini menunya cukup unik."
Amara terdiam dan berpikir.
"Bagaimana? Bisa bertemu?"
"Untuk berapa porsi?" Gadis itu bertanya lagi.
"Soal itu … nanti bisa di infokan oleh pihak rumah sakit." Syahril menjawab.
"Terus Bapak ini siapa? Bukan dari pihak rumah sakit?" Amara menyelidik.
"Saya hanya dokter." Pria itu terkekeh.
"Duh?"
"Saya tidak tahu mengenai hal-hal semacam itu. Hanya saja, Syahnaz yang sangat menyukai makanan di sini. Jadi, saya pikir mungkin anak-anak di rumah sakit juga akan suka. Mereka bisa saja merasa bosan dengan makanan di sana."
"Umm …."
"Jadi bagaimana? Bisakah saya bertemu dengan pemilik kedai?" Pria itu kembali bertanya.
"Pak Dokter sudah ketemu dengan pemilik kedai." Amara pun menjawab.
"Maksud kamu?"
"Perkenalkan, saya Amara. Saya pemilik Amara's Love." Gadis itu mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Oh, … jadi yang melayani kami ini adalah pemilik kedai?" Dokter Syahril menjabat tangannya.
"Ya, betul sekali Dokter." Amara tersenyum karenanya.
"Beruntung sekali kami ini …"
"Ah, nggak juga. Semua orang pernah." Mereka berdua masih saling berjabat tangan ketika tamu berikutnya masuk.
Dan bersamaan dengan lonceng diatas pintu yang berbunyi, dua orang ini menoleh ke arah yang sama.
Lalu mereka sama-sama tertegun setelah saling menyadari keberadaan masing-masing.
"Hey? Kalian datang?" Amara beraksi, namun belum melepaskan jabatan tangannya dari Dokter Syahril.
"Tante Clarra!!" Syahnaz melambaikan tangan pada perempuan yang dia kenal. Yang juga tertegun di ambang pintu.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
Aduh, kok bisa kebetulan gitu sih? ðŸ¤ðŸ¤
come on gaess, like komen dan hadiahnya dikencengin lagi.
__ADS_1
alopyu sekebon😘😘