My Only One

My Only One
Hubungan #2


__ADS_3

🌺


🌺


Satu minggu kemudian ….


"Hari ini banyak yang tidak istirahat?" Galang menatap ke sekeliling setelah mereka menyelesaikan makan siangnya. 


Keduanya semakin hari semakin berani untuk memperlihatkan hubungan spesial meski hanya sekedar makan bersama.


"Entahlah. Mungkin?" Clarra menjawab.


"Memangnya pekerjaan kita minggu ini sangat banyak ya, sehingga para pegawai memilih untuk tidak istirahat?"


"Tidak juga, semuanya normal kok."


"Terus, mereka kok tidak mengambil jam istirahat?"


"Ya mana aku tahu?" Clarra melihat ponselnya untuk memeriksa jadwal.


"Sudah selesai?"


Clarra menganggukkan kepala.


"Mau kembali ke atas sekarang?"


"Boleh."


Kemudian keduanya bangkit dari kursi dan berjalan keluar.


Mereka berpapasan dengan beberapa orang yang baru saja kembali dari luar. Ternyata sebagian besar pegawai memang memilih istirahat di tempat lain akhir-akhir ini.


"Siang Pak, Bu?" sapa mereka kepada dua staff utama ini.


"Siang." keduanya menjawab.


"Eh, beneran kan itu kedai punya anaknya Pak Arfan? Tadi aku lihat lho Pak Arfannya ada di sana?"


"Iya, aku juga lihat tadi. Mau nyapa tapi malu, takutnya dia sudah lupa. Resignnya kan sudah lama."


"Aku denger anaknya sekolah di Prancis kan?"


"Iya, tapi balik lagi kok cuma bikin kedai kecil ya? Kenapa nggak restoran mewah aja? Kan bapaknya bisa tuh."


"Kedai kecil juga nggak kalah sama restoran, nggak lihat tadi antriannya sebanyak apa? Kedainya penuh gitu?"


"Iya sih. Baguslah, ada tempat makan yang lain dari biasanya. Jadi kita nggak bosen kan ya?"


"Hmm …."


Percakapan tersebut berlangsung hingga pintu lift terbuka, dan semua yang ada di depannya masuk. Kemudian benda tersebut melesat membawa semua penumpang kembali ke divisinya masing-masing.


"Pantas kantin agak sepi." Clarra memulai percakapan saat mereka sudah tiba di lantai dua puluh.


"Kenapa?"


"Mereka makan di tempatnya Ara."


"Hmm …."


"Besok-besok kita makan di sana juga ya? Atau nanti sore sepulang kerja?"


Galang mendengus keras. Sudah seminggu ini Clarra mengajaknya untuk pergi ke kedainya Amara tapi tidak dia turuti.


Ada saja alasan yang dia lontarkan untuk membuat perempuan itu mengurungkan niatnya.


"Di sini juga enak." ucap Galang.


"Kan sudah biasa."


"Order online saja lah."


"Eh, … rasanya beda. Kalau di sana bisa sambil menikmati suasananya."


"Jam makan siang pasti penuh." 


Dia tahu pada jam-jam sekitar itu tempat Amara pasti disesaki pengunjung karena pernah melihat antrian yang cukup mencolok saat melewati kedai tersebut ketika bertugas diluar kantor.


Kedai itu berada tidak jauh dari tempat kerjanya. Dan posisinya yang strategis membuatnya bisa dicapai dari arah manapun sehingga memudahkan siapa saja untuk menemukannya. Dia bahkan bisa melihat kedai itu dari ruang kerjanya meski tak terlalu jelas. Tapi kini, ada alasan untuknya melirik setiap kali dia melihat keluar jendela besar itu.


"Kamu dari kemarin menolak terus kalau aku ajak ke sana. Kenapa sih? Takut ketemu Ara ya?"


"Apa?"


"Minggu kemarin begitu tahu kedai itu punya Ara kamu langsung mengajakku pulang. Aneh?" Clarra mengingat hal terakhir yang dia alami.


"Bukan begitu."


"Terus kenapa?"


"Bukankah kita bertemu Rania dan anak-anaknya di sana? Kamu nggak tahu akan seramai apa kalau sudah ketemu mereka."


"Mereka kan memang begitu."

__ADS_1


"Iya, kadang membuat kegaduhan yang tidak jelas."


"Dia kan sahabatmu?"


"Memang."


"Terus masalahnya di mana? Aku suka kalau bertemu mereka, suasana jadi ramai. Apa lagi melihat tingkah anak-anak."


Galang memutar bola mata.


"Aku mau tanya satu hal." Clarra menatap wajah pria yang kini berstatus sebagai kekasihnya itu 


"Apa?"


"Kamu sudah tidak ada hubungan dengan Ara?"


"Kamu sudah tahu kalau aku putus sudah lama?"


"Iya."


"Terus kenapa masih bertanya?"


"Aku ingat, terakhir kali dia datang kesini dan kalian bertemu. Aku lihat …."


"Dia hanya datang untuk bertemu, tidak ada lagi."


"Masa? Soalnya aku sempat berpikir kalau kalian akan kembali."


"Tapi kenyataannya?"


"Kamu malah meminta aku jadi kekasihmu?"


"Terus masalahnya di mana?"


"Ya aku pikir kalian bersama lagi."


"Tapi tidak kan?"


Clarra mengangguk.


"Terus bagaimana hubungan kalian?"


"Hubungan apa? Kami kan sudah lama putus. Kenapa kamu mempertanyakan hal seperti itu?"


"Maksudnya, apa kalian baik-baik saja? Tidak saling marah atau benci?"


Galang mengerutkan dari.


"Aku terlalu banyak bertanya ya?" Clarra terkekeh sambil menutup mulut dengan tangannya.


"Apa menurutmu itu penting?"


"Tidak juga, aku hanya ingin tahu. Agar nanti aku bisa bersikap seperti apa kalau sewaktu-waktu ketemu Ara."


"Kenapa begitu?"


"Hanya takut membuat dia salah paham."


"Kenapa dia harus salah paham?"


"Ya karena kita ada hubungan."


"Masalahnya di mana? Aku kan tidak sedang berhubungan dengan Ara waktu memutuskan menjalin hubungan denganmu. Kenapa sih itu harus jadi masalah?"


"Tidak, maksudku tidak begitu."


"Ya terus kenapa harus selalu di bahas? Dan jangan juga selalu mengait-ngaitkan aku dengan apa pun yang berhubungan dengan Ara."


"Aku tidak begitu."


"Memang seharusnya jangan." Pria ifu meninggikan nada suaranya.


Clarra mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Hh. .. Astaga!" Galang mengusap wajahnya kasar.


"Lama-lama kita bisa bertengkar kalau terus membicarakan masalah ini. Padahal tidak seharusnya begitu." katanya, seraya kembali melembutkan nada suaranya ketika merasa kendali atas dirinya mulai goyah setiap kali Clarra membahas soal hubungannya dengan Amara.


"Maaf." Galang menyentuh lengannya.


"Jangan bahas soal Ara lagi. Aku juga tidak pernah membahas soal Dokter Syahril, walau mungkin kalian akan sering bertemu karena proses pengobatanmu.  Kita sama-sama memiliki masa lalu, dan aku menghargaimu untuk tidak mengungkit itu. Aku harap kamu juga begitu kepadaku."


Clarra terdiam.


"Dia sudah tahu kalau aku sudah bersamamu." ucap Galang.


"Benarkah?" Clarra bereaksi.


"Ya."


"Kamu yang mengatakannya? Kapan kalian bicara?"


"Sebelum aku mengalami kecelakaan."

__ADS_1


"Apa?"


"Ya, dia sudah tahu semuanya."


"Terus?"


"Tidak ada terusannya. Ara sudah tahu kalau sekarang aku denganmu. Titik."


"Maksudku, bagaimana reaksinya?"


"Umm …."


"Dia tidak marah, terkejut, atau apa?"


Galang menggelengkan kepala.


"Dia biasa saja?"


"Begitulah." bohongnya, hanya untuk membuat pikiran perempuan itu tenang. 


Dia tahu mungkin sekarang ini Clarra sedang merasa cemas, maka tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain menguatkannya.


"Jadi sebenarnya tidak akan ada masalah dong kalau kita makan di tempatnya?"


"Hah?"


"Hubungan kalian kan baik?"


"Tapi kan …."


"Aku juga tetap berobat kepada Dokter Syahril padahal kami pernah berhubungan. Aku berusaha bersikap baik kepadanya sejak kami putus."


"Tapi konsepnya beda Cla."


"Sama saja."


"Umm …."


"Sudah waktunya kerja. Sana, masuk lagi ke ruanganmu! Pekerjaanmu lebih cepat selesai kalau kamu sendirian di dalam sana." Clarra mendorongnya masuk ke dalam ruangannya.


"Tapi kan aku …."


"Sana, kalau sama-sama kerja di sini kita banyak bicara." Perempuan itu duduk di kursinya, dan Galang pun mengalah untuk masuk dan bekerja di ruangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mama Fia, Papi!" Amara keluar dari ruang memasaknya ketika tahu kedatangan pasangan ini di kedainya pada menjelang sore.


"Hey, …."


"Maaf Ara, kami baru sempat mampir." Sofia memeluk gadis itu dengan erat.


"Nggak apa-apa. Kapan datang?"


"Ada tiga hari. Maklum, harus membujuk dua bujangan untuk pulang dulu."


"Kak Daryl dan Kak Darren pulang?"


"Ya akhirnya."


Mereka mengalihkan perhatian pada dua pemuda yang menyusul.


"Kakak!" Amara segera saja menghambur ke hadapan mereka dan memeluknya bergantian.


"Hey? … Ara-ku sudah besar!" Daryl memeluknya dengan erat, begitu juga Darren.


"Kami tidak percaya kamu membuka kedai di dekat sini? Kami kira Mama dan Papi bercanda. Tahunya benar?" Daryl berujar.


"Aku pikir kamu akan membuka restoran di pusat kota?" sahut Darren.


"Nggak, restoran terlalu besar untuk aku Kak."


"What? Nggak ada yang terlalu besar untukmu, semuanya pantas kamu dapatkan."


Amara tertawa.


"Oh iya, ayo ayo duduk. Kalian mau makan apa? Papi sama Mama Fia mau apa? Mumpung nggak terlalu sibuk aku masakin?"


"Buat yang paling enak yang kamu punya." Satria menjawab.


"Mama Fia mau apa?"


"Terserah kamu."


"Oke, tunggu ya? Aku buatkan."


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2