
🌺
🌺
"Kalian dari mana?" Arfan menyambut kedatangan anak dan menantunya di depan rumah pada sore hari.
"Habis terapi dari pagi, terus jalan-jalan." Amara menjawab.
"Terapi?"
"Ya."
"Sudah mulai?" Pria itu melirik kepada Galang.
"Sudah. Ini sesi pertama." jawab sang menantu.
"Dan jalan-jalan?" Arfan beralih kepada putrinya.
"Iya, habisnya udah lama nggak keluar rumah. Aku bosen."
"Hmm … sampai sore begini?"
"Baru sekarang Papa." sela Amara.
"Kakak dateng mau jemput aku ya?" Arkhan berlari keluar begitu mengetahui kedatangan kakak iparnya.
"Duh?"
"Tunggu Kak, aku udah siap kok. Ambil dulu tas sama jaket ya?" Lalu dia kembali ke dalam rumah.
"Baru juga sampai?" Amara bergumam.
Dan mereka hampir saja masuk ke dalam rumah ketika adik laki-lakinya itu kembali lagi tidak lama kemudian, dengan menenteng tas selempang dan mengenakan jaket kulit pemberian Galang.
"Ayo Kak, kita pergi sekarang?" katanya dengan bersemangat.
"Tunggu Ar, Kakakmu baru saja sampai?" Arfan bereaksi. Melihat putranya yang begitu bersemangat untuk pergi menginap lagi dengan sang kakak.
"Nggak bisa Pah, nanti adik-adik bakalan …." Belum selesai remaja itu berbicara, ketiga saudaranya sudah muncul terlebih dahulu.
"Kan, kamu curang? Mau ninggalin kita ya?" Anandita berujar.
"Kakak ih, ingkar janji. Katanya iya, boleh ikut nginep, tapi malah mau duluan pergi?" Asha menimpali.
"Tunggu tunggu, ada apa ini?" Arfan menyela percakapan ke empat anaknya.
"Kemarin Kak Ar bilang kalau kita boleh ikut nginep di apartemen Kak Galang. Tapi ternyata hari ini maunya pergi sendiri?" Asha menjawab.
"Apa?" Tiga orang dewasa di hadapan mereka bereaksi bersamaan.
"Padahal Mommy bilang boleh. Iya kan Mom?" ucap Asha ketika ibunya pun muncul.
"Tanya Kak Galang dan Kak Ara, boleh apa tidak? Kalau boleh, oke. Tapi kalau tidak boleh ya jangan memaksa."
Mereka menoleh ke arah Galang secara serentak, termasuk Arkhan yang menggeleng samar.
Orang yang dimaksud tertegun untuk beberapa saat, dan dia berpikir.
Kalau mengizinkan, sudah pasti apartemennya akan sangat ramai karena keberadaan empat remaja yang sedang aktif-aktifnya. Dan sudah tentu, malam Minggunya akan benar-benar terganggu.
Tapi jika tidak mengizinkan, sudah pasti adik-adik iparnya akan kecewa, dan pandangan mertuanya tidak akan baik kepadanya. Apa lagi Arfan yang dia rasa tidak pernah menyukainya.
"Umm …." Pria itu menatap mereka satu-satu.
"Bukankah kalian akan menginap di rumah Opa malam ini?" Arfan mengingatkan.
"Sekali-sekali lah nginep di tempat lain Pah." Anandita menyahut.
"Iya, jangan cuma Kak Ar yang dikasih pergi?" Asha ikut bicara.
"Nggak mau! Kalau kalian juga ikut, di sana kebanyakan orang tahu? Nanti Kak Galang kerepotan!" sergah Arkhan, memberi alasan.
"Kerepotan apanya? Nggak harus gendong sama suapin makan?" Anandita menjawab saudara kembarnya.
"Iya … tetep aja kebanyakan orang tahu?"
Ke empat anak itu mulai berdebat.
"Hey hey? Berhenti!" Arfan menghentikan hal tersebut.
"Kenapa malah ribut? Giliran saja bisa tidak? Biar tidak terlalu merepotkan." katanya, dan sukses membuat ke empat remaja itu terdiam.
"Giliran?"
"Ya, karena dua minggu kemarin Arkhan, bagaimana kalau minggu ini Ann?" Pria itu berujar.
"Apa? Nggak mungkin!" Sang anak pun bereaksi.
"Kenapa?"
"Ya … nggak mungkin aja gitu lho. Ini kan awalnya ide aku?"
"Terus aku nggak boleh gitu kalau mau nginep sama Kak Ara?" Anandita menambahkan.
"Berarti aku juga nggak boleh?" Asha juga melakukan hal yang sama.
"Bukan begitu, maksud aku …."
"Ah … kamu curang!" ucap Anandita lagi, dan hanya Aksa yang tidak ikut bicara seperti kedua saudaranya.
"Ish, kalian ini …."
"Sudah …." Dan akhirnya Galang buka suara.
"Ayolah, kalau mau menginap kita pergi sekarang." katanya, dia memutuskan.
"Boleh ikut?" Asha dengan mata berbinar penuh harap.
"Boleh."
"Semuanya?"
"Ya."
"Apa?" Lagi-lagi Arfan bereaksi.
"Kakak serius?" Amara dan Arkhan pun menyahut.
"Iya, ayolah siap-siap." jawab Galang lagi kepada ke empat adik iparnya.
"Kakak bercanda nih?" Arkhan seolah masih tidak percaya.
"Tidak, cepatlah. Kalau mau ikut siap-siap saja."
Dan ketiga anak lainnya berlarian ke dalam mobil setelah mengambil perlengkapan dan berpamitan kepada kedua orang mereka.
"Dah Mom, dah Pah."Â Asha melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam mobil milik Galang.
Sementara Arkhan tertegun dengan wajah cemberut.
"Mereka serius mau pergi ke sana juga?" Arfan masih protes.
"Tidak apa-apa Papa, sesekali." Dygta tertawa melihat reaksi suaminya.
"Benar tidak apa-apa Lang kalau mereka ikut juga?" Lalu dia beralih kepada menantunya.
"Tidak apa-apa, Mom."
"Baiklah kalau begitu. Titip ya, mereka pasti merepotkan." Dygta memperingatkan, sedangkan Galang hanya tertawa.
"Kalau begitu kami pamit?" ucap Galang yang kemudian segera pergi setelahnya.
"Sekarang dia juga merebut perhatian yang lain? Apa tidak cukup hanya Ara saja?" Arfan menatap kepergian mobil yang membawa anak-anaknya hingga benda tersebut menghilang dibalik gerbang.
"Kamu bilang apa sih?"
"Kamu tidak lihat tadi? Anak-anak merengek ingin ikut dengan mereka, sampai-sampai lupa kalau setiap malam minggu seharusnya menginap di rumah mama mu?"
"Memangnya kenapa? Sesekali ke tempat lain kan tidak apa-apa." Dygta melenggang ke dalam rumah.
"Tidak apa-apa katamu?"
"Ya Sayang, biarkan mereka pergi. Lagi pula tidak dengan orang asing. Masih dengan Kakaknya bukan?" Perempuan itu menempelkan ponsel di telinga untuk melakukan panggilan telfon.
"Ya Ma?"
"...."
"Tidak, aku hanya memberi tahu kalau malam ini anak-anak tidak akan menginap di rumah besar."
"...."
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, mereka hanya ikut Arkhan menginap di tempatnya Galang."
"...."
"Iya. Tidak apa, ada Anya dan Zenya bukan?"
"...."
"Baik." Lalu dia menutup telfon.
"Kalau dibiarkan, nanti Galang akan terlalu dekat dengan anak-anak." Arfan mengikuti istrinya masuk ke dalam rumah.
"Memangnya kenapa?"
"Kenapa? Ya tidak seharusnya seperti itu."
"Dia sudah menjadi bagian dari keluarga ini, apa maksudmu mengatakan jika dia tidak seharusnya seperti itu?"
"Sayang, aku …."
"Kamu hanya cemburu!" Dygta tertawa.
"Apa?"
"Kamu cemburu karena anak-anak punya panutan baru. Apa lagi Arkhan." Dygta memperjelas maksud ucapannya.
"Tidak seperti itu!"
"Ya, kamu cemburu Papa!"
"Tidak!"
Perempuan itu memutar bola mata sambil menggelengkan kepala, lalu dia tertawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sepertinya kita harus punya rumah yang lebih besar." Galang memperhatikan ke empat adik iparnya yang berkumpul di depan televisi.
Kasur lantai sudah digelar dengan bantal dan selimut yang juga sudah tersedia. Meja dan sofa di geser ke sisi lain ruangan sehingga tempat itu memiliki cukup ruang untuk keberadaan mereka.
"Rumah?" Amara yang duduk nyaman disampingnya.
"Ya. Apertemen ini sepertinya nggak cukup besar kalau mereka menginap."
"Ah, cuma sesekali."
"Belum lagi nanti anak kita lahir. Mereka akan membutuhkan ruangan yang lebih dari sekedar rumah." Pria itu menyentuh perut Amara, lalu mengusap-usapnya dengan lembut.
"Terus, Kakak mau beli rumah gitu?" Amara terkekeh. Hal ini selalu terasa menyenangkan setiap kali suaminya melakukan hal seperti itu. Membuatnya merasa nyaman dan aman.Â
"Menurutmu bagaimana?"
"Emang uangnya ada?" Perempuan itu bertanya.
"Belum sih, hahaha."
"Dih, terus kenapa bilang begitu?"
"Soal itu bisa bicara kepada Clarra."
"Kenapa sama Kak Clarra?"
"Ya biar dia uruskan."
"Terus nantinya nyicil gitu?"
"Ya apa lagi?"
"Jangan lah."
"Kok jangan?"
"Terlalu banyak cicilan, aku pusing."
Galang tertawa.
"Apartemen ini aja udah cukup, gunakan fasilitas yang ada aja dulu. Lagian aku juga ada kedai yang harus dipikirkan. Kalau tambah sama cicilan rumah kayaknya kita belum sanggup."
"Menurutmu begitu?"
"Ya. Emangnya gaji Kakak di Nikolai Grup sebanyak apa sampai mau beli rumah segala?"
"Lumayan."
"Banyak ya?"
"Cukuplah untuk biaya hidup dan nyicil rumah."
"Gaya. Orang lain bilangnya cukup untuk biaya hidup sama nyicil motor, Kakak sama nyicil rumah."
Galang tertawa lagi, tanpa menghentikan ucapannya pada perut perempuan itu. Kini kegiatan tersebut menjadi hal yang paling disukainya sejak tahu bahwa mereka akan segera punya anak.
"Kalau orang dewasa pacaran tuh kayak Kakak gini ya?" Asha menginterupsi percakapan mereka.
"Apa?" Dua orang dewasa itu menoleh.
"Yang pacaran. Tapi temen aku nggak kayak gitu, pegangan tangan sama cium-ciuman."
"Aduh? Kelas berapa kamu?" Galang bereaksi.
"Kelas sembilan." jawab Asha.
"Itu berarti … kelas 3 SMP?"
Amara mengangguk.
"Memangnya anak kelas tiga SMP sudah pacaran?"
"Sekarang anak SD juga udah."
"Masa?"
Asha juga menganggukkan kepala.
"Kakak pacarannya kok nggak kayak temen aku? Cuma gini-gini doang?"
"Dih? Anak-anak sudah tahu pacaran?" Galang menarik tangannya dari perut Amara.
"Aku belum tahu, cuma sering lihat temen-temen aja."
"Bohong!"
"Serius. Mana berani? Bisa dikerangkeng sama Papa kalau ketahuan."
"Jangan dulu! Pacarannya nanti saja kalau sudah lulus kuliah. Kalau sekarang, sekolah dulu yang benar." Pria itu berbicara.
"Emangnya nggak boleh ya?"
"Nggak boleh."
"Kenapa?"
"Nanti kamu malas belajar. Ingatnya pacaran melulu."
"Kayak Kakak gini ya? Ingatnya pacaran, nggak ingat kalau aku sama kakak-kakak aku laper?"
"Apa?"
"Laper Kak,mau makan." ucap Asha sambil memegangi perutnya.
"Bukannya tadi begitu sampai kalian sudah makan?" Galang melirik tempat cuci piringnya yang penuh dengan peralatan makan kotor bekas pakai mereka.
"Udah dua jam Kak, laper lagi. Heheh." Asha dengan malu-malu.
"Udah, pesenin makanan aja gih. Mereka bakal ribut kalau kelaparan." ujar Amara seraya menepuk paha suaminya.
"Serius?"
"Ayo Papa, anggap aja ini latihan punya anak. Kasih mereka makan biar anteng." Perempuan itu tertawa.
"Hah! Belanjaan kita yang tadi saja sudah habis." Galang menggerutu.
"Salah Kakak mengizinkan mereka ikut menginap." Amara tertawa lagi.
Galang memutar bola mata, namun tak urung juga dia meraih ponselnya lalu masuk ke aplikasi untuk memesan makanan.
"Cuma makanan. Gaji Kakak nggak akan habis. Masih sisa banyak untuk ditabung buat beli rumah." Dia mengusap pundak suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dygta memiringkan tubuh ke kanan, dan menemukan suaminya yang masih terjaga. Padahal waktu sudah larut malam.
__ADS_1
"Aku kira kamu sudah tidur?" katanya, yang menyentuh tangan pria itu.
"Aku tidak bisa tidur." gumam Arfan yang menatap langit-langit kamar mereka.
"Kenapa?" Dygta bergeser sehingga jaraknya cukup dekat dengan suaminya.
"Apa menurutmu aku berlebihan?"Â
"Berlebihan soal apa?"
"Soal anak-anak."
"Hum?"
"Aku merasa tidak senang ketika tahu mereka dekat dengan orang selain kita."
Dygta terkekeh pelan.
"Apa aku konyol?" Arfan menoleh kepada perempuan itu.
"Tidak, kamu hanya seorang ayah yang sedang cemburu."
"Apa? Aku tidak cemburu. Kenapa aku harus cemburu? Cemburu kepada siapa? Galang? Untuk apa aku cemburu kepadanya? Tidak masuk akal!" racau pria itu, dan malah membuat Dygta tertawa.
"Lucu sekali kamu ini!" Perempuan itu mencubit pipi suaminya dengan gemas.
"Tidak apa-apa Sayang. Cemburu itu tanda cinta. Kecemburuanmu kepada Galang menunjukkan bahwa cintamu sebesar itu kepada anak-anak. Dan itu bagus."
Arfan terdiam.
"Tapi jangan juga menjadikanmu memusuhinya. Karena sekarang dia sudah jadi bagian dari keluarga kita. Dan ingat siapa yang merawat putri kesayanganmu sejak dia mengalami kecelakaan?"
"Aku tidak memusuhinya!"
"Tapi kamu selalu bersikap tidak ramah kepadanya."
"Aku memang begini dari dulu."
"Tapi kepada orang asing sikapmu lebih tidak ramah. Seperti yang kamu lakukan kepada Galang."
"Tidak! Kamu ngawur!"
Dygta menggelengkan kepala.
"Aku mengenalmu sejak kecil. Dan tidak ada satu hal pun yang membuatmu tidak ramah kecuali orang asing. Apalagi yang mendekati milikmu."
"Aku tahu, tidak mudah merelakan dan mempercayakan orang yang kamu sayang kepada orang yang bahkan kamu tidak kenal. Tapi begitulah siklus kehidupan manusia. Apakah kamu tidak ingat saat menikahi aku?"
Arfan menatap wajahnya lekat-lekat.
"Yang sangat mengenal kita juga belum tentu percaya, apalagi tidak kenal. Seperti mama."
"Dan mamamu bersikap tidak ramah setelah aku menikahimu." Arfan buka suara.
"See? Padahal Mama mengenalmu sejak lama, tapi tetap saja. Dan kamu tahu rasanya bagaimana? Tidak mudah menghadapi sikap seperti itu, apalagi Galang. Bayangkan jadi dia?"
"Kamu berpihak kepadanya heh?"
"Aku tidak berpihak kepada siapa pun. Dua-duanya anakku sekarang, dan dia sudah berusaha melakukan yang terbaik. Jadi apa salahnya mendapat keramahan kita?"
Arfan memutar bola matanya.
"Papa … aku senang dia jadi suaminya Ara. Dia sepertinya bisa diandalkan untuk mendampingi anak-anak. Dan itu bagus." Dygta meraih wajah suaminya.
"Dasar ibu-ibu. Selalu mudah terkesan dengan anak laki-laki yang dekat dengan anak-anak!"
"Hey! Suka tidak suka, mau tidak mau, dia sudah jadi anggota keluarga ini. Dan kamu tidak bisa menghalangi anak-anakmu untuk dekat dengannya. Karena dia memang mudah disukai."
"Ish!!!"
Dygta tertawa.
"Dan kamu juga menyukainya?"
"Tentu saja. Siapa yang tidak? Kamu juga tahu kalau dia anak baik. Pria baik dan berasal dari keluarga baik-baik. Dan yang terpenting adalah dia sangat mencintai putrimu. Lalu apa lagi?"
"Hah, aku lupa kalau kamu ini adalah negosiator nomor satunya Nikolai Grup." Arfan bangkit seraya menyugar rambut ikalnya.
"Apa hubungannya?" Perempuan itu pun ikut bangkit.
Kemudian dia beranjak lalu naik ke pangkuannya.
"Apa pun yang aku katakan selalu bisa kamu bantah. Dan itu terdengar masuk akal."
"Sekarang kamu tahu. Apa sudah mengerti?" Dygta merangkul pundak pria pria itu dengan kedua tangannya.
"Mengerti Mommy." Arfan tersenyum, namun kedua tangannya sudah meremat bokong perempuan itu.
"Jadi, apakah kamu akan terus bersikap seperti ini?" Dygta mendekatkan wajahnya.
"Seperti apa?"
"Tidak ramah dan memusuhi Galang?"
"Sayang, sudah aku katakan kalau aku tidak …."
"Ssshhhhhttt!" Dygta menempelkan telunjuknya pada pria itu.
Arfan mendenguskan napas. Kalau sudah begini, bisa dipastikam bahwa dirinya tidak akan membantah lagi. Karena akan sangat berbahaya bagi kelangsungan hidupnya di rumah itu.
"Jadi …."
"Ya aku tidak akan memusuhi Galang, meskipum sebenarnya aku tidak begitu. Tapi …."
Dygta memicingkan mata, dan itu membuat nyalinya sedikit menciut.
"Ya Sayang." ucapnya kemudian.
"Ya apa?"
"Aku akan memperbaiki sikapku kepada menantumu."
Bibir Dygta melengkung membentuk sebuah senyuman.
"Kamu puas?" Arfan mencondongkan tubuhnya sehingga jarak diantara mereka hampir menghilang.
"Tentu saja. Papa yang baik." Perempuan itu menarik dagu Arfan kemudian mengecup bibirnya dengan lembut.
Lalu dia bangkit lagi, bermaksud turun dari pangkuan suaminya. Namun pria itu segera menahannya.
"Tapi aku belum." bisiknya, dan dia segera menariknya kembali.
"Aku belum puas denganmu." katanya, dan dia menarik lepas pakaian tidur yang menempel di tubuh Dygta.
"Umm … Sayang, sepertinya aku harus tidur. Besok instruktur yogaku datang pagi-pagi sekali …." Perempuan itu mengerjap saat Arfan mengecup lehernya, dan tangannya menyentuh kedua dadanya.
Pria itu tidak bersuara karena bibirnya sibuk menyesap bulatan kenyal yang terawat hasil latihan dan perawatannya. Yang meski sudah berada di usia yang tidak muda lagi, perempuan itu masih saja tampak menggoda.
Arfan kemudian mendorongnya hingga Dygta jatuh terlentang dibawahnya. Kemudian dia melucuti pakaiannya sendiri dan segera membenamkan alat tempurnya.
"Ugh!" Dygta melenguh saat pria itu memenuhi dirinya tanpa aba-aba.
Arfan kembali mencumbunya dan bagian bawah tubuhnya menghentak dengan intens.
"Ngh …." Des*han dan erangan segera mengisi ruangan temaram pada hampir tengah malam itu. Diiringi decapan dan suara percintaan yang mengudara. Meningkatkan semangat dua tubuh yang sudah bertautan dipeluk gairah yang terus menanjak.
Mereka membiarkan diri terhanyut dan tenggelam dalam nikmatnya percintaan yang terasa masih sama seperti saat pertama kali melakukannya. Dan kini bahkan terasa lebih indah meski pernikahan sudah berlangsung selama bertahun-tahun.
Nyatanya, rasa cinta itu semakin erat mengikat mereka berdua hingga usia yang tak lagi semuda dulu.
"Ahhh … Sayang!" Dygta mendekap erat tubuh Arfan yang masih berpacu saat pelepasan tiba.
Bagian terdalam dari dirinya berdenyut kencang dan membuat pria di atasnya semakin menggila.
Arfan mengetatkan rahang hingga giginya bergemeletuk, lalu dia membenamkan miliknya dengan keras dan dalam ketika ******* juga tiba padanya. Seraya menggeram meneriakkan nama perempuan itu.
"Aarrrgghhh … Dygtaaaaaaa!" Lalu keduanya terdiam dengan napas menderu-deru.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Duh? Inget umur wooyy!!😆😆😆
Ayooo siapa yang kangen ke anuan mereka? Cuss kasih hadiah yang banyak!!
Alopyu sekebon jahe!😘😘
__ADS_1