My Only One

My Only One
Pemeriksaan Kandungan


__ADS_3

🌺


🌺


Amara mendongak ketika Galang menarik lepas alat tempurnya. Dia sempat merasa kecewa karena pria itu menghentikan pergumulan mereka yang mulai menanjak lagi setelah istirahat untuk yang kedua kalinya.


"Kakak!" Perempuan itu merengek karena merasa jika dirinya belum selesai.


Namun Galang tak merespon, melainkan menelusupkan sebelah tangannya ke belakang tubuh Amara kemudian perlahan-lahan memiringkannya ke kiri.


"Umm …." 


Lalu pria itu mendekat dan merapatkan dirinya di belakang Amara, seraya kembali menyentuh tubuhnya yang sudah berkeringat.


Tangannya merayap ke bawah dan dia menemukan pusat tubuhnya yang basah setelah percintaan mereka yang terjeda. Kemudian perlahan-lahan membuka pahanya yang sempat saling menempel satu-sama lain.


Bersamaan dengan itu dia mendorong pinggulnya ketika senjatanya sendiri sudah menyelinap diantara bongkahan sintal milik Amara dan menerobos inti tubuhnya dari belakang.


"Aaahhh …." Amara mende*ah dengan mata terpejam.


Galang kemudian bergerak perlahan sambil memegangi paha sebelah kanan perempuan itu agar posisinya tetap nyaman.


"Eehhh, sakit!" rintihnya ketika rasa sakit merambat dari lutut hingga kakinya.


"Sakit, hum?" Galang menghentikan hentakannya.


"Bukan!" Amara merengek lagi, dan tangannya yang cedera perlahan merayap ke belakang untuk menyentuh pinggul pria itu yang hampir melepaskan pertautan tubuh mereka.


"Kakinya yang sakit." Perempuan itu sedikit berbisik.


Galang terdiam untuk beberapa saat.


"Kakak! Kakinya yang sakit, bukan itu!" katanya lagi, dan dia sedikit menggerakkan jari-jarinya.


Galang menarik sebuah bantal dari sisi lainnya yang kemudian dia letakkan di bawah tubuh Amara. Dia meletakkan kakinya yang masih cedera di sana dan memastikannya aman. Kemudian dia melanjutkan hentakannya.


"Uuhhh!!" Perempuan itu melenguh.


"Masih sakit?" Galang berbisik di dekat telinganya.


"Hmm … sedikit." Amara menjawab dengan pipi merona.


Galang menyeringai sambil mengetatkan rahang meskipun napasnya terdengar menderu-deru. Dia berusaha menahan diri agar tidak melakukannya dengan keras.


"Uuhhh, Kakak!" erang Amara yang merasakan dadanya begitu bergejolak.


Rasa nikmat merambat dari pusat hingga ke seluruh tubuh, dan dia merasa sudah kehilangan kesabaran.


Posisi ini membuatnya merasa begitu penuh, dan perasaannya menjadi semakin tak karuan. Apalagi Galang lebih leluasa menyentuh setiap lekuk tubuhnya.


Tangan pria itu merayapi setiap jengkal kulitnya yang semakin memanas. Meremat buah dadanya yang terlihat semakin menggoda, dan mempermainkannya secara bergantian. 


"Ahhh … Kak Galang!" Erangnya lagi saat pria itu mengusap perut lalu turun menelusup menyentuh pusat tubuhnya, sementara hentakannya tak dia hentikan sama sekali.


Galang mengecupi pundak, menyesap tengkuk hingga menciumi punggungnya yang begitu menggodanya. Seraya mengeratkan dekapannya pada tubuh semampai dalam kuasanya.


Senjatanya seperti dire*as-rem*s dan ini membuatnya ingin menggila. 


"Sayang!" geramnya di belakang telinga Amara, lalu dia kembali menyesap tengkuknya sehingga meninggalkan bekas kemerahan di sana. Sementara tangannya tak tinggal diam.


Dia terus meremat dada perempuan itu dan menyentuh apa pun yang ditemuinya. Perasaannya campur aduk dan dia tak bisa menahannya lagi.


Galang terus memacu tubuhnya semakin cepat dan memeluk Amara semakin kencang ketika sesuatu dari dalam dirinya kembali memberontak dan memancar dengan hebat. Lalu dia menekan alat tempurnya dengan keras dan dalam, bersamaan dengan Amara yang mencapai pelepasan yang sama. Diakhiri dengan lenguhan panjang dari mulut mereka berdua.


***


Satu minggu kemudian …


"Keadaannya semakin baik." Dokter memeriksa hasil ronsen pada tulang dan kaki Amara.


"Retakannya sudah benar-benar hilang," lanjutnya, dan pria dengan kacamata itu menunjuk beberapa titik pada gambar yang sebelumnya terdapat garis-garis halus.


"Sendinya bagaimana?" Galang bertanya.


"Sudah benar-benar membaik. Sepertinya minggu depan sudah bisa memulai terapinya."


Pasangan itu tampak bernapas lega.


"Sudah aman?" Kini Amara yang bertanya.


"Sudah, bahkan jika kamu mau, bisa dimulai minggu ini juga," jawab sang dokter.


"Kamu mau sekarang?" tanya Galang yang tak melepaskan genggaman tangannya.


"Minggu depan aja, nggak apa-apa."


"Yakin?"


"Iya, kita santai kan? Nggak akan kemana-mana?"


Galang menggelengkan kepala.


"Eh, aku yang santai. Kakak kan sibuk?" Perempuan itu tertawa.


"Akan selalu ada waktu untuk mendampingimu," ucap Galang yang mengeratkan genggaman tangannya. Membuat Amara tersenyum bahagia karena mendengarnya.


"Baik, obatnya seperti biasa ya?" Dokter itu mengeluarkan beberapa obat yang dibutuhkan untuk pasiennya tersebut.


"Oo, … nggak Dokter, saya udah nggak minum obatnya lagi." Amara menolak.


"Apa?"


"Terakhir minum obatnya minggu lalu, saya nggak kuat."


"Tapi ini harus, agar penyembuhannya semakin cepat."


"Nggak mau, saya mual!"


"Percuma Dokter, karena benar-benar tidak akan diminum." Galang menyela.


"Lalu selama ini bagaimana?"


"Tidak bagaimana-bagaimana. Dia hanya perlu makan banyak."


Dokter berpikir.


"Bagaimana dengan suplemen dan vitamin?"


"Asal yang enak aja, nggak bau obat. Bisa muntah saya kalau nyium bau obat."


Dua pria itu tertawa.


"Suplemen dan vitaminnya rasa stroberi mau?" Akhirnya dokter mengalah.


"Mau mau mau! Saya suka syroberri!" Amara menganggukkan kepalanya dengan riang lalu dia pun tertawa.


"Baiklah, itu sedikit melegakkan."

__ADS_1


***


Mereka keluar dari ruang pemeriksaan setelah sesi konsultasi pada sore itu selesai. Keduanya bercakap-cakap diselingi dengan tawa riang seperti biasa.


Namun Galang menghentikan langkah saat mereka melewati unit Observasi Ginekologi, dan pria itu mengingat sesuatu.


"Kenapa?" Amara menengadahkan kepalanya sambil menoleh ke arah belakang di mana suaminya berada.


"Kamu mau periksa kandungan?" tawar Galang kepadanya.


"Periksa kandungan?" Perempuan itu membeo.


"Ya, periksa kandungan."


"Kenapa aku diperiksa? Kan aku nggak hamil?"


Galang menatap wajahnya yang polos dan lugu, juga teramat manis.


"Memangnya harus perempuan hamil saja yang memeriksakan kandungan?"


"Umm …."


"Kita menikah sudah berapa lama?"


"Nggak tahu, aku nggak hitung. Mungkin sebulan lebih?"


"Terus kita melakukannya sejak kapan?" Pria itu beralih ke hadapan Amara kemudian berjongkok di depannya.


"Melakukan apa?" Perempuan itu dengan polosnya.


"Making love." Galang berbisik namun hal itu membuat wajah Amara seketika merona.


"Kakak ih ngomongin begituan di rumah sakit?" Perempuan itu menahan senyum saat otaknya mengingat malam-malam yang mereka lewati.


"Kan kamu sendiri yang tanya? Kenapa juga apa-apa itu harus selalu jelas?"


Amara terkekeh.


"Ingat tidak, sejak kapan kita melakukannya?"


"ML?"


"Haih!"


Perempuan itu menutup mulut dengan tangannya untuk menahan tawa yang hampir saja menyembur.


"Nggak tahu, aku nggak ingat-ingat. Tapi yang pasti kita melakukannya di sini."


"Hmm …." Galang bergumam.


"Kenapa emangnya?"


"Dan sejak itu kita nggak berhenti melakukannya."


"Ya, terus?"


"Bagaimana kalau misalnya kamu hamil?" Pria itu menatap wajah Amara kemudian beralih pada perutnya. Dia ingat ucapan Dimitri minggu lalu.


"Aku hamil?"


"Ya."


Amara terdiam.


"Kamu hamil dan keadaanmu masih seperti ini?"


Perempuan itu berpikir.


"Aku nggak tahu. Mungkin sebaiknya kita cari tahu?" ucap Galang yang kemudian bangkit.


Dia lantas mendorong kursi roda menuju unit obgyn.


Petugas dan perawat tentu saja mengenalinya begitu mereka tiba dan segera mendahulukan prosedur pendaftaran, juga segala yang mereka perlukan.


"Silahkan."


Senyuman manis dan sapaan ramah dokter pria itu segera menyambut begitu mereka masuk ke ruang pemeriksaan.


"Kakak?"


"Hum?"


"Gimana kalau misalnya aku beneran hamil?" Amara bebisik.


"Nggak apa-apa. Bagus juga." Galang balas berbisik.


"Bagus?"


"Ya, itu berarti aku hebat!" Pria itu terkekeh pelan.


"Hebat?"


"Tentu saja, kerja kerasku ternyata menghasilkan!" Galang dengan kekonyolannya.


"Dih?"


"Silahkan Pak, apa mau berkonsultasi untuk program kehamilan atau justru memeriksakan kandungan?" Dokter berbicara.


"Umm … apa ya?" Galang sedikit tertawa.


"Suami saya ngiranya saya ini hamil, Dokter." Amara menjawab.


"Eh, bukan. Hanya ingin mencari tahu." Galang menyela.


"Sama aja kan Dok?"


Dokter kandungan itu tersenyum.


"Apa ibu mengalami gejala kehamilan?" Lalu dia bertanya.


"Gejala kehamilan?"


"Ya."


"Misanya?"


"Pusing, mual dan muntah di pagi hari?"


Amara mengerutkan dahi.


"Nggak." Lalu dia menggelengkan kepala.


"Tidak datang bulan sejak kapan?" Dokter bertanya lagi.


"Harusnya sebelum nikah datang bulan."


"Dan anda berdua, kapan menikah?"

__ADS_1


"Udah sebulan."


"Baik."


"Tapi nggak lagsung ML Dok. Nunggu dulu, soalnya saya kan sakit. Terus pindah rawat ke sini, habis itu …."


"Eee … Neng?" Galang meraih tangan Amara untuk menghentikannya berbicara.


"Intinya nggak langsung aja," lanjut perempuan itu, dan dokter hanya tersenyum.


"Pernah mencoba melakukan tes kehamilan sendiri?"


"Belum pernah." Galang menjawab.


"Baik." Pria dengan jas putih itu menganggukkan kepala.


"Pemeriksaan kita pindah ke sini ya?" Lalu dia bangkit dari kursinya dan beralih ke blankar pemeriksaan.


Pasangan itu menurut dan Galang memindahkan Amara ke tempat tersebut.


"Tidak mengalami gejala umum ya?" Dokter memulai pemeriksaan.


Memeriksa tekanan darah, dan denyut nadi perempuan itu. Lalu dia memeriksa detak jantungnya dengan stetoskop.


"Merasa ada perubahan pada tubuh?" Dia terus bertanya.


"Nggak." Amara menggelengkan kepala.


Dokter terdiam.


"Kenapa?" Galang menginterupsi.


"Mungkin sebaiknya kita pakai alat tes kehamilan untuk memastikan?"


"Alat tes kehamilan?"


"Ya, agar hasil pemeriksaannya lebih meyakinkan."


"Baiklah, terserah dokter saja." ucap Galang yang mengikuti saran dari dokter.


Prosedur lain dilakukan kepada Amara. Yakni dokter memintanya mengambil sampel air seni perempuan itu untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan.


Sebuah alat kecil sepanjang jari telunjuk ditetesi air pada tempat yang seharusnya, lalu dia menunggu selama beberapa detik.


Kemudian dokter memeriksanya dan meyakinkannya dengan dua alat yang sama yang telah dicelupkan sebelumnya.


Dia kembali ke hadapan Galang dan Amara yang masih menunggu di blankar pemeriksaan.


"Gimana Dokter?" Sang pasien bertanya.


Pria itu meletakkan ketiga alat tes kehamilan yang hasilnya sudah bisa dilihat dengan jelas.


Galang dan Amara menatapnya untuk beberapa saat dan mereka sama-sama tertegun.


Dua alat tes biasa menunjukkan dua garis merah di tengah-tengahnya, sementara alat elektrik  yang satunya lagi bertuliskan positive.


Mereka saling pandang.


"Positif?" Keduanya berucap bersamaan.


"Ya, positif seperti yang sudah saya periksa. Anda akan menjadi orang tua. Selamat!" jawab dokter dengan ekspresi gembira.


Pasangan itu terdiam untuk beberapa saat, membuat dokter menjengit keheranan.


"Aku … hamil?" ucap Amara, seolah tidak percaya.


"Sepertinya iya." Galang dengan ekspresi datar.


"Umm … aku …."


"Kamu hamil!" Pria itu tiba-tiba saja berteriak kemudian memeluk tubuh Amara.


"Astaga! Kamu hami!" ulangnya, dan dia tertawa.


"Aku akan jadi ayah?" Katanya lagi, dan dia mengecup kening perempuan itu beberapa kali, sedangkan Amara malah terisak.


"Kamu kenapa?" Lalu dia bertanya seraya membingkai wajah perempuan itu.


Amara sesenggukkan, dan seketika senyuman di wajah Galang menghilang.


"Kamu kenapa? Tidak mau punya anak sekarang?" tanya nya dengan nada kecewa.


Perempuan itu belum menjawab.


"Ara?" Galang sedikit mengguncangkan tubuhnya.


"Aku …."


"Kamu tidak senang kita akan punya anak?" tanya Galang lagi, entah mengapa hatinya merasa kecewa melihat reaksi perempuan itu.


"Nanti … aku … ngerepotin Kakak!" ucap Amara kemudian yang membuat Galang mengeritkan dahi. Juga dokter di dekat mereka.


"Aku belum sembuh, terus sekarang hamil. Nanti Kakak tambah repot ngurusin aku." Dia semakin sesenggukkan.


"Tidak mungkin!" Galang berujar.


"Apa itu yang kamu khawatirkan?" Pria itu lebih mendekat kemudian duduk di pinggir blankar.


Amara menganggukkan kepala, dia sadar keadaannya yang sudah begitu merepotkan Galang sejak mereka menikah. Ditambah dengan kehamilan? Tidak terbayangkan bagaimana akan lebih kerepotannya pria itu nanti.


"Tidak! Kamu tidak merepotkan. Sudah tanggung jawabku mengurusmu, ingat?"


"Jangan khawatir." Galang kembali merangkulnya.


"Semuanya akan baik-baik saja. Kamu akan sembuh dan kita akan merawatnya, kan?" 


Isakan Amara terhenti.


"Nggak apa-apa?" Dia menyeka air matanya.


"Tentu saja tidak apa-apa. Memangnya kenapa?" Galang tertawa.


"Aaaa … Kakak!" Perempuan itu menghambur ke pelukannya lalu menangis lagi.


Sementara Galang merangkulnya sambil tertawa.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Aduh? Tunasnya udah tumbuh?😱😱


Hai reader tersayang. Cintaku, lopeku yang paling amazing sejagat Noveltoon. Kayaknya novel My Only One sebentar lagi tamat nih. Tapi jangan khawatir, masih beberapa episode kok, jadi masih bisa menyimak pejalanan kisah cintanya Neng Ara sama Kang Dudul.

__ADS_1


Kirim terus dukungan kalian ya,


Alopyu sekebon😘😘


__ADS_2