
🌺
🌺
Amara belum beranjak dari tempat tidur sejak dia membuka matanya. Dia malah tetap menggulung tubuhnya dengan selimut dalam keadaan kamar yang masih temaram, padahal matahari sudah meninggi.
Dia memutuskan untuk mengambil libur setelah saat bangun tadi merasa tidak baik-baik saja. Kepalanya pusing dan matanya masih bengkak sisa tangisan semalam.
Kalau saja Piere tak memaksanya untuk pulang, bisa dipastikan gadis itu akan tetap berada di bandara untuk alasan yang tidak masuk akal.
Amara berkali-kali memeriksa ponselnya untuk memastikan apakah ada yang menelfon, atau mengirim pesan kepadanya. Dan yang paling dia harapkan tertu saja Galang yang mungkin akan menghubunginya.
Tapi nihil, pria itu bahkan tak membuka blokiran pada nomor whats appnya, dan akun sosial medianya pun menghilang ketika Amara mencarinya sejak semalam.
Dia lupa, jika Galang memblokir semua akses media yang memungkinkan dirinya untuk menghubunginya.
"Kak Galang, kenapa pergi begitu saja? Kenapa tidak tetap menemui aku? Se nggaknya kita bisa bicara dulu!" ucapnya, pada ponselnya yang menyala.
Perhatiannya kemudian teralihkan ketika dia mendengar seseorang mengetuk pintu. Yang membuatnya memaksakan diri untuk segera bangkit.
"Hey, kau baik-baik saja?" Piere muncul begitu Amara membuka pintu.
"Hmm ...." Gadis itu menjawab dengan gumaman.
"Dari pagi kau sulit dihubungi, tahu-tahu manager bilang kalau kau minta libur?" Piere mengikutinya masuk.
"Oui (iya). Ponselku mati."
"Begitu ya?"
Mereka duduk di sofa yang tersedia.
"Hey, apakah kau lapar? Sepertinya kau baru saja bangun tidur? Aku membawakan makanan untukmu." Pria itu menunjukkan bungkusan yang dia bawa.
Amara tidak menjawab, namun dia segera menekuk kedua kakinya sehingga menempel ke dada, kemudian memeluknya lalu menangis dengan keras setrlah mendengar Piere berbicara seperti Galang ada di dekatnya.
"Hey, sudahlah jangan menangis lagi? Keadaanmu mengkhawatirkan." Pria itu mendekat.
"Dia tidak bisa dihubungi, Piere. Aku tidak bisa menelfonnya." Amara menelungkupkan wajahnya di antara kedua lututnya.
"Bagaimana bisa?"
"Aku lupa, kalau sudah mengunfollow media sosialnya beberapa minggu yang lalu. Tapi dia membalasku dengan memblokir semua hal yang bisa aku gunakan untuk menghubunginya." Gadis itu menangis cukup keras.
Ini cukup menyakitkan, dan dia merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Sementara Piere hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghentikannya.
"Kau mau pulang?" Dan pertanyaan itu sukses membuat tangis Amara berhenti.
"Dari pada seperti ini lebih baik kau pulang." Lanjut pria itu yang sejak semalam menjadi saksi betapa terpuruknya gadis di depannya itu.
"Kau sepertinya sangat mencintai dia hingga kepergiannya membuatmu terpuruk seperti ini." Piere sedikit terkekeh.
"Padahal dia pulang ke negaramu, dan kau juga bisa pulang ke sana. Jarak kalian hanya enam belas jam perjalanan udara, dan ini bukan tahun dua puluhan. Kau bisa mencarinya di manapun dia berada tanpa akan menemui kesulitan berarti. Kau tahu, kau sangat mampu untuk itu?"
Amara mengusap wajahnya yang basah.
"Apa yang membuatmu merasa begitu kesulitan?"
Gadis itu kemudian beralih menatapnya.
"Ini bukan akhir dari dunia, kau masih bisa mengerjarnya tahu?" Pria itu tertawa sambil mengusap puncak kepalanya.
"Pulang saja dulu, dan nanti kembali saat wisuda. Apa susahnya?"
"Kenapa sih perempuan suka sekali membesar-besarkan masalah? Bukannya fokus pada menyelesaian?"
"Tapi butuh waktu untuk mengurus kepulangan. Surat-surat, dan segalanya." Akhirnya Amara buka suara.
"Maka lakukanlah! Mau menghabiskan berapa hari kau seperti ini? Entah itu dua hari atau mungkin satu minggu, maka lakukanlah dari sekarang! Setidaknya kau sudah berusaha." Piere berujar.
Amara masih terdiam.
"Cepatlah, mau aku antar atau pergi sendiri?"
"Tapi kamu sedang bekerja?"
"Tidak. Aku pun ambil liburan hari ini. Sengaja karena ingin melakukan sesuatu. Tapi mendengar manager mengatakan bahwa kau tidak masuk kerja membuatku berpikir lagi."
"Ayolah, cepat bersiap-siap!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Clarra mengerutkan dahi mendapati Galang yang berjalan memasuki gedung Nikolai Grup tepat beberapa menit sebelum jam kerja di mulai.
"Sudah mau masuk kerja?" Perempuan itu bertanya saat jarak mereka sudah dekat.
"Seperti yang kamu lihat sendiri." Galang menghentikan langkah.
__ADS_1
"Padahal aku sudah mengosongkan jadwal untuk kalian berdua." ucap Clarra.
"Benarkah?"
"Ya, apa Dimitri juga masuk hari ini?" Clarra melihat ke belakang punggung pria itu.
"Sepertinya tidak. Dia masih ingin bersama keluarganya."
"Begitu?"
"Yeah."
"Kenapa kamu tidak melakukan hal yang sama? Perjalanan enam belas jam itu lama tahu?"
"Perhatian sekali kamu ini?" Galang menarik kedua sudut bibirnya sehingga membentuk sebuah senyuman.
"Tapi terima kasih, aku harus tetap bekerja."
"Sepertinya kepalamu terbentur sesuatu ya?" Clarra tertawa.
"Hum, apa?"
"Apa kepalamu terbentur? Atau seseorang memukulnya sehingga pikiranmu hanya bekerja? Padahal kemarin-kemarin memohon-mohon kepadaku untuk memberimu cuti?"
"Entahlah, tapi setelah aku pikir-pikir sepertinya terus bekerja ada bagusnya juga. Kamu tahu, pergi ke Bromo bisa kapan saja." Galang menjawab.
"Apa? Bromo?"
"Ya. Rencananya aku dan komunitas motorku mau pergi ke Bromo. Tapi akhirnya aku kan tidak jadi ikut."
Clarra terdiam.
"Jadi memang sebaiknya kerja saja lah."
"Kapan seharusnya kalian pergi?" Clarra tampak antusias.
"Seharusnya minggu depan." Galang menjawab.
"Minggu depan?"
"Yeah, ...."
"Memangnya harus empat hari ya? Tidak bisa kurang? Bukankah Sabtu-Minggu itu hari libur? Sepertinya kamu bisa pergi di Jum'at sore atau Sabtu pagi?"
"Tapi teman-temanku akan pergi di hari Rabunya."
"Kenapa?"
"Lebih sepi?"
"Ya."
Perempuan itu terdiam lagi.
"Apakah di sana pemandangannya bagus?" Kemudian dia bertanya.
"Bagus. Sangat bagus malah. Apalagi kalau kamu melihat matahari terbit. Kamu akan mendapatkan pemandangan yang tidak ada di tempat lain."
"Kamu pernah ke sana?"
"Dulu sering."
"Sekarang?"
"Tahu sendiri sejak masuk perusahaan ini aku jarang ambil libur kecuali hari minggu?"
"Itu sebabnya kamu memohon untuk mengambil cuti selama itu?"
"Yeah."
Clarra menganggukkan kepala.
"Jadi ... mana saja yang harus aku kerjakan?" Galang mengalihkan topik pembicaraan.
"Umm ... tunggu aku cari dulu. Tadinya mau aku kerjakan karena aku kira kamu tidak akan masuk? Tapi ...."
"Kalau begitu aku kerjakan di sini saja, agar ada teman ngobrol." Galang berjalan memutar, kemudian menarik sebuah kursi di dekat kursi milik Clarra.
"Apa?"
"Kerja sendirian di ruangan itu tidak enak. Aku seperti tidak punya siapa-siapa." Pria itu tertawa, lalu duduk tak jauh dari sekretaris utama Nikolai Grup itu.
Dia lantas meletakkan tas, kemudian mengeluarkan laptop yang di bawanya. Menerima dokumen yang Clarra sodorkan, kemudian mulai mengerjakan bagiannya.
"Bagaimana rasanya selalu bekerja sendiri, Cla?" Sebelumnya dia berbicara.
"Biasa saja."
"Apa kamu tidak memerlukan partner?"
__ADS_1
"Partner apa? Sudah ada kamu dan Pak Andra kan?" Clarra tertawa canggung. Ini pertama kalinya dia bekerja satu meja dengan seseorang, karena selama ini tidak pernah ada siapa pun yang bisa bekerja dengannya. Apalagi sedekat ini.
"Aku lihat di beberapa perusahaan lain, sekretaris biasanya punya partner kerja?"
"Tidak denganku."
"Kenapa?"
"Seperti yang pernah kamu bilang. Aku ini galak, jangankan partner, jodoh saja tidak mau mendekat?"
"Hmm ... makanya berubah." Galang menggumam, meski takut-takut.
"Tidak mau, kenapa harus berubah demi orang lain? Apa enaknya?" Clarra menjawab.
Galang menatapnya sebentar.
"Berapa usiamu sebenarnya?" Lalu dia bertanya.
"Kenapa bertanya soal usia? Mau mengejekku lagi ya?"
"Hanya mau memastikan."
"Memastikan apa?"
"Kalau aku bersikap yang seharusnya kepadamu."
"Maksudmu?"
"Cara bicaraku, caraku bersikap. Siapa tahu membuatmu tidak nyaman, makanya kamu sering bersikap buruk?"
"Kamu ini!" Clarra beraksi.
"Aku serius."
"Bulan depan aku 30 tahun." Clarra kemudian menjawab
"Benarkah?"
Perempuan itu menganggukka kepala.
"Bukankah usia itu hanya masalah angka?" Galang kemudian berujar.
"Hum?"
"Karena aku merasa kita ini seperti seumuran. Hahaha." katanya.
"Ish, apa sih kamu ini?"
"Atau apakah aku harus memanggilmu dengan sebutan Ibu?"
Clarra tampak mendengus.
"Eh, lupa. Sudah dua tahun pun aku tidak memanggilmu begitu ya?"
"Kamu memang junior yang tidak sopan!"
"Dan kamu senior yang galak."
"Terus kenapa kamu selalu dekat-dekat denganku?"
"Karena aku suka dekat-dekat denganmu."
"Apa?"
"Auramu membuatku selalu ingin bekerja. Kamu seperti laptop yang jika aku membukanya, maka semua pekerjaan langsung terpampang di depanku."
"Apa sih kamu ini?"
Galang tertawa terbahak-bahak.
"Hah, kamu memang seserius itu. Tidak asik!"
"Memang. Aku datang ke sini untuk bekerja, bukannya bercanda tahu?"
"Iya iya, aku tahu."
"Makanya cepat kerjakan bagianmu!"
"Baik Bu senior."
"Bagus, menurut begitu kan manis. Jadilah junior yang baik." Clarra menyunggingkan senyuman.
Kemudian keduanya pun mulai bekerja.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Berambung ...
Cieeee tumben akur? 😅😅