My Only One

My Only One
Malamnya Ara


__ADS_3

🌺


🌺


Amara menjengit ketika sesuatu di bawah sana menerobos inti tubuhnya. Lalu bergerak intens seperti biasa. Dan des*han segera terdengar begitu Galang kembali mencumbu dan menyentuh tubuhnya.


Pria itu mengecupi leher dan menyesap kulitnya yang menghangat seiring dengan sentuhan yang semakin tidak terkendali. Menghadirkan perasaan luar biasa yang kemudian segera menguasai tubuhnya yang terus menegang. Merespon dengam sangat baik setiap kali kulit mereka bersentuhan.


Suasana kembali memanas setelah terjeda sejenak sekembalinya mereka dari kamar mandi, dan dalam keadaan tubuh yang sama-sama basah keduanya segera bertautan.


"Hmm … Kakak!" erangnya dengan napas yang terengah-engah mencoba menahan hasrat yang kian bergejolak mengaburkan akal dan pikirannya yang sudah berhamburan entah ke mana.


Sementara pria itu pun mulai mengeram seiring hentakannya yang semakin kuat di bawah sana. 


Merasakan alat tempurnya yang dicengkeram kuat dan dia merasa hal ini menjadi semakin gila saja.


"Oh …." Amara meremat pinggulnya yang terus bergerak sementara tubuhnya terus menggeliat-geliat dibawah kuasa Galang.


Udara terus memanas seperti halnya dua tubuh yang tengah bergumul saling menyenangkan, dan mereka sudah tidak merasakan hal lain kecuali rasa nikmat yang menjalar menguasai setiap sendi yang bersentuhan. Seolah tak ada lagi selain hal itu dan mereka semakin menginginkan lebih. 


Amara merintih dan mende*ah sementara Galang mendengus dan menggeram. Pria itu bahkan sampai mengetatkan rahangnya hingga giginya bergemeletuk.


Mati-matian dia menahan diri agar tidak menyakiti Amara, mengingat cedera pada tangan dan kakinya yang masih belum pulih benar. Dan Galang bahkan tetap menahan paha sebelah kananya agar perempuan itu tidak terganggu. Namun tetap, perasaannya tidak bisa benar-benar dia kendalikan.


Apa lagi melihat ekspresi Amara yang membuatnya semakin berdebar, dan suara des*hannya yang membuatnya semakin merasa tidak karuan. 


Peluh mulai bercucuran dan tubuh keduanya semakin memanas. Seiring gairah yang kian menggelora. Menguasai segalanya ketika hentakan itu semakin tidak terkendali.


Dada mereka sesekali menempel dan saling bersentuhan, juga cumbuan pun berlanjut semakin dalam. Disela napas yang semakin memburu, keduanya berusaha untuk tetap bertahan.


"Ah, Kak Galang!" Amara mengerang dan tubuhnya menggeliat. 


Wajahnya bahkan sampai terdongak dengan kedua matanya terpejam erat ketika pelepasan menghantamnya tanpa ampun. Lalu tubuhnya bergetar seiring denyutan hebat dibawah yang membuat Galang berpacu lebih cepat, dan sedetik kemudian pria itu menekan pinggulnya dengan tajam dan dalam ketika kl*maks juga menyerangnya dengan begitu hebat.


***


Galang membuka mata ketika ponselnya berdering nyaring. Dia mengerjap untuk menarik kesadarannya, lalu terdiam menatap langit-langit kamar yang masih temaram. 


Waktu di layar ponselnya sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, dan dia sedikit terkejut jika saja tak ingat jika itu adalah hari Sabtu.


Ponsel kembali berdering dan tampak kontak Arfan yang menelfon.


"Hallo?" Dia segera menjawab panggilan dari mertuanya.


"Kalian tidak ke sini hari ini?" Pria itu segera bertanya setelah menunggu beberapa lama.


"Umm … sepertinya tidak Pak." Dan Galang menjawab.


"Kamu libur?"


"Sepertinya iya, Clarra belum menghubungi." Galang memijit pangkal hidungnya yang sedikit terasa nyeri, sambil mengingat kalau-kalau ada jadwal yang dia lupa.


Tapi tidak, Clarra bahkan tidak mengirim pesan atau pun menghubunginya sejak semalam.


"Baiklah kalau begitu, hari ini kami tidak akan menunggu." ucap Arfan kemudian.


"Ya Pak."


"Oh iya, Arkhan mengatakan jika malam nanti dia ingin menginap, apa boleh?" Sang mertua bertanya lagi.


"Ap-apa? Arkhan?" Galang tergagap.


"Ya, baru saja tadi dia mengatakannya. Biasanya jadwal sabtu malam dia menginap di rumah Pak Satria dengan adik-adiknya. Tapi kali ini dia sedikit berbeda?" jelas Arfan kepada menantunya.

__ADS_1


"Umm …." Galang mengingat percakapan dengan adik iparnya yang satu itu.


"Bagaimana? Apa boleh? Dari pada dia terus merengek meminta dibelikan motor, sepertinya menginap dengan kalian lebih baik? Sekalian juga tolong bicara kepadanya, mungkin jika berbicara denganmu atau Ara akan membuatnya sedikit mengerti." Arfan terdengar menghela napas dalam.


"Ba-baik Pak. Akan saya usahakan." Menantunya menjawab.


"Jadi boleh kalau dia menginap?" Arfan bertanya lagi.


"Boleh Pak, boleh. Mau saya jemput atau nanti di antar?" Galang berbasa-basi.


"Kita lihat saja nanti sore."


"Baik."


"Ya sudah, kami mau pergi ke rumah Pak Satria kalau begitu."


"Ya Pak." Lalu percakapan antara mertua dan menantu itu berakhir.


Galang terdiam dengan kening berkerut. Namun dia segera tersadar ketika Amara bergerak dalam pelukannya.


"Siapa sih, pagi-pagi udah nelfon? Ini kan hari Sabtu?" katanya, dengan suara serak khas bangun tidur.


Wajahnya menempel pada dada telanjang Galang dan tangannya yang berbalut perban bertumpu juga di sana. 


"Papa." Galang mengembalikan ponselnya ke atas nakas.


"Mau apa?"


"Hanya bertanya, kenapa aku belum mengantarmu?"


"Oh … kan hari Sabtu?"


"Iya tahu."


"Papa juga tanya apa boleh Arkhan menginap malam ini?" lanjut Galang.


"Hum? Arkhan?"


"Ya."


"Arkhan mau menginap di mana?" Amara mendongak.


"Di sini."


"Di sini?" Perempuan itu membeo.


Galang menganggukkan kepala.


"Kenapa dia mau menginap di sini?" tanya Amara lagi.


"Tidak tahu."


"Tumben?"


Galang hanya terkekeh.


"Mencurigakan?"


"Apanya?"


"Tiba-tiba dia mau menginap dan Kakak izinkan?"


"Ya."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kok kenapa?" Pria itu balik bertanya.


"Kalian punya rencana ya?" Amara dengan kecurigaannya.


"Tidak."


"Bohong!"


"Serius."


"Aku nggak percaya." Perempuan itu memicingkan mata.


"Terserah kamu." Galang kemudian menggeser tangan cedera Amara pelan-pelan dari tubuhnya, lalu menyingkirkan kakinya yang semalaman menindihnya.


"Aku mandi dulu, Yang." katanya yang kemudian bangkit.


"Hmm …."


"Mau mandi sama-sama?" Lalu dia memutar kepala sambil tersenyum.


"Nggak dulu ah, aku masih ngantuk." Amara menyurukkan kepalanya pada bantal.


"Beneran?"


"Hu'um." Perempuan itu mengangguk.


"Yakin?"


"Yakin. Lagian Kakak hari ini nggak kerja kan?"


"Nggak." Galang berdiri sambil mengenakan handuk yang dia temukan dibawah tempat tidur yang dilemparkannya semalam.


Amara menggigit bibir bawahnya saat sekilas melihat alat tempur pria itu yang tegak mengacung, dan ingatannya seketika kembali pada kejadian malam tadi.


Betapa malam-malamnya kini telah berbeda dan dia sungguh menikmatinya.


Ah, … otakku! Batinnya, kemudian dia memalingkan pandangan ketika Galang memergokinya.


"Aku bangun dia juga ikut bangun?" Pria itu terkekeh seraya menyelipkan ujung handuk di sela pinggangnya.


"Umm …."


"Yakin nggak mau mandi sama-sama?" tawarnya lagi dan dia menyeringai mendapati pipi perempuan itu yang merona.


"Nggak!" Amara menarik selimut hingga menutupi wajahnya karena dia merasa malu sendiri.


"Ya sudah." ucap Galang seraya melenggang ke arah kamar mandi.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....


Ayo genks, like komen juga hadiahnya dikirim lagi. Jangan lupa votenya juga ya?


Kang Anu lagi enjoy 🤣🤣🤣


Alopyu sekebon 😘😘

__ADS_1


__ADS_2