My Only One

My Only One
Kekangan


__ADS_3

*


*


"Ara?" Arfan menatap layar ponsel begitu dia menjawab panggilan video dari putrinya.


"Gimana, Papa udah lihat video yang aku kirim belum?" Tampak wajah Amara memenuhi layar.


"Sudah."


"Gimana menurut Papa?"


"Bagus. Kamu yang buat?"


"Iya dong." Amara dengan bangga. Mengetahui jerih payahnya membuat konten video memasak untuk keperluan tayangan di akun media sosial miliknya tidak mengecewakan.


"Hebat. Selain belajar masak, rupanya kamu belajar editing video juga di sana ya?" puji Arfan kepada putrinya.


"Sedikit. Mimpung punya temen sutradara."


"Benarkah?"


"Sutradara film?" Dygta kemudian ikut dalam percakapan.


"Iklan." Amara tergelak.


"Mommy kira sutradara film."


"Belum Mom, dia baru bikin film pendek doang kayak yang aku posting di Ig aku minggu lalu. Selebihnya ya terima bikin iklan produk makanan." Gadis itu menjelaskan.


"Apa itu sinyal kalau kamu akan melanjutkan kuliah jurusan iklan atau perfileman? Sepertinya kamu cukup serius?" Arfan membenahi duduknya begitu Dygta menelusup ke dalam pelukannya.


"Belum tahu, aku mau fokus dulu di sini. Minggu depan aku udah ujian, terus bulan-bulan berikutnya wisuda. Setelahnya aku bisa pikirin lagi." Amara menjawab.


"Baiklah."


"Papa?"


"Ya?"


"Kalau misalnya aku nggak pulang tahun ini nggak apa-apa?" Meski ragu-ragu, namun Amara tetap bertanya.


Arfan dan Dygta terdiam untuk beberapa saat.


"Kamu dua tahun tidak pulang Kak. Tepat setelah kamu masuk ke sana." Dygta berujar.


"Kenapa? Apa kamu benar-benar akan melanjutkan kuliah untuk jurusan lain?" Kemudian Arfan bertanya.


"Nggak apa-apa, aku kayaknya mau nyoba kerja di sini dulu." Sang anak menjawab.


"Kerja?"


"Iya, kayaknya aku harus mempraktekan apa yang udah aku pelajari deh." jawabnya, diplomatis.


"Di sana?"


"Iya, di mana lagi?"


"Kenapa tidak di sini? Kita punya hotel juga beberapa restoran. Mungkin kamu mau kerja di salah satunya. Dari pada bekerja di negeri orang kan, lebih baik mempraktekannya di usaha milik sendiri?" Dygta menerangkan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Masalahnya aku mau suasana yang lain Mom." Amara pun menjawab lagi.


"Suasana lain apanya? Dua tahun kamu kuliah di Paris pasti sudah tahu lah bagaimana suasananya? Tetap, yang ternyaman itu adalah rumah."


"Um, ... memang. Tapi aku mau cari pengalaman dulu di sini. Gimana kerja dan segala macamnya, yang nggak ada hubunganya sama sekali dengan di rumah."


"Setelah wisuda sebaiknya kamu pulang Kak, usaha kita juga butuh keterlibatan kamu."


"Tapi Mommy, ...."


Dygta kembali membuka mulutnya untuk berbicara, tapi Arfan dengan segera menyentuh tangannya untuk menghentikannya.


"Ambil waktu sebanyak yang kamu mau. Cari pengalaman dan ilmu sebanyak yang kamu bisa, dan pulanglah nanti jika kamu sudah merasa cukup." Pria itu berujar.


"Beneran Pah?" Amara tampak tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh ayahnya.


"Ya." Pria itu menganggukkan kepala.


"Mungkin akan membuat aku nggak pulang selama bertahun-tahun lagi ...."


"Tidak apa-apa. Lakukanlah apa yang mau kamu lakukan." Arfan mengulang kata-katanya.


"Serius?"


"Iya."


"Sayang?" Dygta bereaksi, namun Arfan memberi isyarat.


"Seperti Papa ucapkan tadi, carilah pengalaman dan ilmu yang banyak di sana. Apa pun itu, dan pulanglah jika kamu sudah merasa cukup."


"Oke kalau gitu." Gadis itu menjawab dengan wajah sumringah.


"Kamu yakin?" Dygta tak menyangka sedikitpun hal ini akan dia dengar.


"Iya. Dan mungkin setelah ini aku akan jarang menelfon. Harus konsentrasi belajar sama praktek Mom. Jadi kalau misalnya aku agak sulit di hubungi, Mommy jangan khawatir ya? Aku pasti baik-baik aja."


"Kamu bicara apa sih? Tentu kamu akan baik-baik saja, memangnya apa yang akan kamu lakukan selain kuliah?" Dygta mengulur waktu untuk mencari cara membujuk anak sambungnya pulang.


"Nggak ada, takutnya Mommy khawatir kalau aku nggak nelfon." Amara mengingat beberapa panggilan dari ibu sambungnya itu yang tak sempat dia jawab karena kesibukan.


"Setidaknya jangan menghilang tiba-tiba, baru Mommy tidak akan khawatir. Memangnya papamu?"


Amara tertawa.


"Maksudnya apa?" Arfan bereaksi.


"Ya udah kalau gitu, aku harus membereskan tugas kampus dulu." Amara hampir saja mengakhiri panggilan.

__ADS_1


"Baiklah Kak, hati-hati di sana ya?"


"Oke, Papa dan Mommy juga ya?"


"Tapi telefon mamamu dulu Kak." Dygta mengingatkan.


"Iya, habis ini aku telfon Mama."


"Baik." Kemudian percakapan itu pun berakhir.


"Hmmm ...." Dygta tampak menghela napas dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan.


"Tidak usah khawatir. Ara sudah dewasa, dia pasti tahu apa yang dia lakukan." Arfan membenahi batal di belakang tubuhnya.


"Kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh ya?" Dygta mendongak kepada suaminya.


"Yang aneh apanya? Kamu ini ada-ada saja?" Arfan tertawa.


"Kamu terlalu santai, dan tenang di saat Ara, yang pengawasannya tidak pernah kamu lepaskan tiba-tiba saja kamu bebaskan untuk menentukan pilihannya sendiri. Kamu bahkan membiarkan dia sekolah di luar negeri tanpa rasa khawatir?"


"Apa ada yang salah dengan itu?"


"Tidak ada, hanya saja ini seperti bukan kamu."


"Kamu ngawur." Pria itu tergelak, sementara Dygta menggelengkan kepala.


"Kamu sengaja membiarkan Ara melakukan segala yang dia mau untuk menjauhkanya dari Galang ya?"


"Astaga!" Arfan mendengus keras. "Masih saja membahas soal itu?"


"Setidak suka itu kamu kepada Galang sehingga lebih rela putrimu pergi jauh agar mereka tidak bersama?"


"Pikiranmu terlalu jauh sayang."


"Aku rasa tidak, tapi tindakanmu yang terlalu jauh."


"Buktinya apa?"


"Ya ini. Kamu membebaskan Ara untuk memilih apa yang dia suka, dan mengerjakan apa yang dia inginkan. Padahal dulu tidak begitu?"


"Bukankah itu bagus? Memberinya sedikit kebebasan yang memang seharusnya dia dapatkan? Bukankah kamu yang selalu mengatakan kepadaku jika sekarang zaman sudah berubah, dan aku tidak boleh mengekang Ara?" Pria itu mengingatkan.


"Setelah aku pikir-pikir, ucapanmu ada benarnya juga. Di zaman seperti ini kita memang tidak bisa mengatur anak-anak untuk menjadi yang kita inginkan. Dan harus membiarkan mereka memilih hidup sesuai dengan keinginannya itu lebih baik. Diamana kesalahanku?"


Dygta terdiam.


"Obsesiku dulu untuk menjadikan Ara seperti diriku adalah salah, dia memiliki kepribadian yang berbeda, dan tidak mungkin mengikuti jejakku. Dan memang sudah seharusnya aku membiarkannya begitu. Untuk apa? Untuk membuatnya bahagia dengan hidupnya. Apa pun itu."


"Sejak kecil aku selalu menentukan apa yang baik, apa yang pantas, dan apa yang seharusnya dia lakukan. Padahal keberadaanku di sisinya nyaris tidak dia rasakan. Kamu tahu sendiri, kesibukanku ketika bekerja bagaimana. Dan jika untuk hal sebesar ini aku masih ikut campur, maka ayah seperti apa aku ini? Aku ingin menebus tahun-tahun yang hilang itu dengan membiarkanya memutuskan sendiri apa pun yang ingin dia jalani. Tidak perlu menunjukkan, atau menentukan lagi. Karena ini sudah bukan lagi saatnya kita mengatur atau mengatakan keinginan kita atas hidupnya. Karena pada akhirnya andil kita tidak lebih dari sekedar mendampingi. Selebihnya dia yang menjalani."


"Dan jangan selalu menghubungkan segala hal dengan Galang. Kenapa sih kamu selalu begitu? Semua ini tidak ada hubungannya dengan anak itu. Lagipula sepertinya mereka sudah tidak lagi berkomunikasi, apalagi berhubungan?"


"Masa?"


"Iya."


"Dari mana kamu tahu?"


"Apa?"


Arfan menyalakan ponselnya, lalu dia berikan kepada Dygta. Tampak gambar-gambar yang seseorang kirimkan pada nomor pria itu yang isinya kebanyakan tentang kebersamaan Galang denga Clarra. Meski tidak terlalu dekat, tapi mereka tampak akrab.


"Clarra?"


"Seperti yang kamu lihat sendiri. Dua minggu terakhir ini mereka sepertinya sering bersama, padahal sebelumnya tidak pernah."


"Kamu memata-matai mereka ya? Kebiasaan!" Dygta mengembalikan benda pipih itu kepada suaminya.


"Terserah kamu menyebutnya apa. Tapi yang pasti aku harus memastikan pria seperti apa yang mencoba mengambil Ara dariku."


"Apa? Kamu bicara begitu seolah-olah Galang akan manculiknya darimu? Aneh sekali!"


"Aku hanya memastikan, Sayang."


"Kamu tahu sendiri Galang bagaimana?"


"Iya, tapi sesuatu bisa saja membuat dia goyah bukan? Dan waktu dua tahun itu cukup lama untuk membuat seseorang kelelahan menunggu sehingga akhirnya dia pindah haluan."


"Bagaimana tidak goyah, bukannya mereka sudah putus ya? oh, sayang sekali. Padahal hubungam jarak jauh juga bisa. Kenapa mereka harus putus segala?" Dygta dengan raut kecewa.


Dia memang sangat menyukai Galang seperti para orang tua pada umumnya. Lagi pula, siapa juga yang tidak akan terkesan oleh pemuda itu? Sikapnya yang baik, selalu menjadi nilai positif bagi siapa pun. Belum lagi pekerjaan yang menambah nilainya di mata siapa pun. Orang tua mana yang tidak akan merasa terkesan?


"Aku menyebutnya jalan kehidupan Sayang. Mungkin mereka belum waktunya bersama, atau mungkin juga memang tidak seharusnya bersama."


"Ah, mengecewakan."


Arfan tertawa cukup keras.


"Sesuka itu ya kamu kepada Galang?"


"Aku hanya melihatnya begitu baik, dia pintar juga tekun bekerja. Bagaimana aku tidak suka?"


"Aku juga pintar dan tekun bekerja, kamu tahu?" Arfan mencondongkan tubuhnya.


"Kalau itu tidak di ragukan lagi. Tidak akan ada yang bisa menandingimu kalau soal pekerjaan."


"Terus kenapa kamu kecewa karena Galang harus putus dengan Ara?"


"Tidak kecewa juga, hanya saja ... sudahlah jangan di bahas lagi." Dygta pun membenahi sisi tempat tidurnya.


"Ya sudah, jadi kita sepakat untuk membiarkan Ara dengan cita-citanya?" Arfan memastikan tak akan ada lagi perdebatan soal putri mereka yang sudah dewasa.


"Ya, apa boleh buat? Kalau sudah begitu ya biarkan sajalah."


"Bagus sayang." Pria itu mengusap pipi Dygta dengan punggung tangannya.


"Ah, ... kalau begitu, beruntung sekali jadi Ara." Dygta kemudian menjatuhkan kepalanya di atas bantal.

__ADS_1


"Beruntung?"


"Iya, dia sekarang bebas melakukan apa yang dia mau."


"Maksud kamu?"


"Coba dia hidup di zamanku, sudah pasti tidak akan bisa berbuat seperti itu. Apalagi kamu selalu mengawasi."


"Hey!"


"Ara sangat beruntung hanya kamu awasi, tapi tidak kamu kekang. Dia bebas pergi ke mana pun, dengan siapa pun, dan melakukan apa pun. Hebat. Aku ingin sekali jadi Ara."


"Apa kamu bilang?"


"Tidak ada. Tidurlah, sudah malam." Perempuan itu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


Arfan tak lagi berbicara. Dia hanya menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, kemudian terdiam dengan kedua tangan di lipat di dada.


Dygta pun sama. Dia berusaha memejamkan matanya. Namun tak berhasil karena merasa keadaan terlalu hening.


"Sayang, kamu sudah tidur?" Kemudian dia menoleh dan mendapati suaminya yang terdiam.


"Ada apa?" Dygta memutar tubuh sehingga dia menghadap Arfan.


"Jadi selama ini kamu merasa sudah aku kekang ya?" Pria itu bicara dengan suara pelan.


"Apa?"


"Aku hanya merasa itulah caraku menjagamu, karena tahu kalau kamu sering bertindak ceroboh dan sembarangan. Tapi tidak pernah berpikir kalau kamu akan merasa bahwa aki aku mengekangmu?"


"Eh?"


Arfan menghela dan menghembuskan napasnya dengan pelan.


"Setelah sekian tahun, dan anak-anak kita sebesar itu, baru tahu kalau kamu selama ini merasa terkekang? Mengecewakan sekali. Ternyata hidup denganku tak se membahagiakan itu ya?" Pria itu menyugar rambut ikalnya, kemudian menurunkan tubuhnya sehingga kini dia pun berbaring.


"Maksudku bukan begitu. Aku hanya sedang ...."


"Tidur Dy, sudah malam." ucap Arfan yang beralih memunggungi istrinya setelah mematikan lampu.


"Sayang, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku hanya bicara."


"Tidak apa, kamu berhak mengatakan apa pun." Arfan menjawab tanpa melihat ke belakang di mana Dygta tertegun.


"Tapi jangan begini, aku jadi tidak enak kepadamu?"


"Tidak usah merasa begitu. Kamu bebas mengatakan apa pun yang mau kamu katakan. Dan jika kamu mau, aku pun akan membebaskanmu melakukan apa pun mulai sekarang."


"Apa maksudmu?" Dygta mencondongkan tubuhnya ke arah Arfan sambil tertawa.


"Kamu ngomong apa sih?"


Pria itu terdiam.


"Sayang?" Kemudian Dygta mengguncangkan tubuh Arfan, namun pria itu tak merespon.


"Haih, kamu marah padaku ya?" Dygta semakin menunduk untuk melihat wajah suaminya agar lebih jelas.


"Tidak, tidurlah." Arfan menghindar.


"Terus kenapa kamu begini?"


"Tidak, aku hanya merasa kecewa. Ternyata usahaku hanya sebatas itu." jawab Arfan.


"Duh?"


"Tidurlah Dy." Pria itu tak merubah posisinya. Dia malah memejamkan mata sementara Dygta masih menatapnya seperti semula.


"Ck! Ada apa denganmu?" Perempuan itu kembali tertawa seraya merangkul tubuh suaminya.


"Aku kan hanya bicara, tidak bermaksud untuk mengungkit apa pun."


Arfan terdiam.


"Sayang?"


"Hmmm ...." Arfan bergumam.


"Kamu sudah mau tidur ya?"


"Iya, sudah malam. Aku ngantuk." Arfan kembali memejamkan mata.


"Tapi aku belum." Perempuan itu berbisik di dekat telinganya.


"Sayang?" Panggil Dygta lagi seolah pria itu tidak berada di dekatnya.


Arfan tak jawab.


"Mau melakukan sesuatu?" ucap Dygta yang membuat pria itu seketika membuka matanya.


Belum Arfan menjawab, Dygta sudah menariknya sehingga dia terlentang, dan perempuan itu segera naik ke tubuhnya.


"Sudah malam Dy." Arfan berujar.


"Memangnya kenapa? Bukankah bagus? Anak-anak sudah tidur dan semua orang sudah kembali ke tempat istirahat mereka. Sedangkan kita ...." Perempuan itu tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya.


Dia kemudian menunduk untuk meraih bibir Arfan yang segera mendapat sambutan dari pria itu. Dia memang tidak akan pernah bisa menolak Dygta bagaimana pun keadaannya. Meski kesal sempat dia rasakan karena ucapannya barusan.


Segera saja mereka terhanyut dalam cumbuan yang memabukkan, yang kemudian mengantarkan keduanya pada penyatuan indah yang selalu menjadi hal yang paling menyenangkan setia kali mereka melakukannya. Meski usia sudah tidak muda lagi, namun perasaan dan gairah mereka tidak pernah berkurang sedikitpun.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....

__ADS_1


ehm, ... inget umur Pak 😅😅


Like koment dan hadiahnya lagi dong


__ADS_2