
🌺
🌺
Amara melakukan pengecekan pada gitar yang akan digunakan pada malam itu. Dia mengadakan acara pertunjukan musik sederhana untuk memeriahkan kedainya pada malam Minggu ketika pengujung sedang banyak-banyaknya.
Dengan bantuan Daryl dan Darren yang sengaja meluangkan waktu untuk menjadi pegawai cadangan, maka terciptalah acara dadakan yang cukup meriah di kedai tersebut.
“Oke, semuanya udah siap.” katanya, kepada pemain musik yang juga melakukan hal sama.
“Vocalistnya udah datang kan?” Lalu dia bertanya.
“Sebentar lagi.”
“Oke. Bisa dimulai kalau dia udah datang ya?”
“Iya.”
Kemudian Amara kembali ke tempatnya bekerja.
Namun setelah beberapa saat sang vocalist yang ditunggu tak kunjung menampakan diri, dan seorang di antara pemain musik mendekat ke pantry.
"Ya?"
"Vocalistnya datang terlambat. Dia terjebak macet. Mobilnya nggak bisa bergerak sama sekali."
"Masa sih sampai gitu? Kayak lebaran aja macet total?" ucap Amara. "Pakai ojek online kek. Kan bisa?"
"Dari tadi di udah pesen, tapi di cansel terus sama drivernya. Alasannya kalau nggak kejauhan ya karena macet."
"Hmm …."
Malam sudah beranjak semakin larut, dan pengunjung semakin padat. Mereka bahkan sampai menambah tempat duduk diluar kedai hingga ke bahu jalan. Tapi tak membuat para tamu mengurungkan niatnya.
"Jadi gimana? Mereka tahunya malam ini ada akustikan lho." Ardi mendekati Amara.
"Iya, beberapa orang tanya kenapa acaranya belum mulai aja?" sahut Nindi yang bertugas di bagian depan bersama Raka.
"Kenapa nggak mereka mulai aja duluan? Mainin gitar aja dulu gitu?" Ardi menoleh ke arah para pemain musik yang asyik di tempat duduk mereka.
"Jadi bagaimana?" Daryl kembali setelah mengantarkan pesanan pengunjung di luar.
"Vocalistnya kejebak macet Kak." Amara menjawab.
"Duh, mana sudah malam. Lagi pula ini acara pertama di kedai ini kan?" Daryl melihat jam tangannya.
"Hu'um. Kalau yang ini telat atau sampai gagal, kesananya nggak asik." jawab Amara dengan nada kecewa.
Daryl berpikir sebentar.
"Bukannya kamu bisa nyanyi ya?" katanya, kepada Amara.
"Hah?"
"Hasil les vokal dan les gitar waktu kecil mana? Apa bisa digunakan sekarang?"
"Nggak mungkin. Aku kan kerja di sini."
"Ada Nania." Pria berhidung mancung itu melirik kepada gadis yang baru menyelesaikan pekerjaannya di bak cuci.
"Nania?" Amara menoleh sekilas.
"Ya, bukankah dia juga sering menggantikanmu memasak?"
"Iya sih."
"Jadi apa yang kamu tunggu?"
"Mm …."
"Cepatlah. Pengunjung sudah menunggu acaranya." Daryl menggendikkan bahu.
"Mungkin tunggu vokalisnya sebentar lagi Kak." Amara menolak.
"Ya, sementara kita menunggunya, maka kamu dulu yang maju."
"Mm … nggak tahu deh." Amara sedikit ragu.
"Ayolah."
"Tapi Kak."
"Nania." panggil Daryl kepada gadis itu.
"Ya Pak?" Nania pun mendekat.
"Kamu gantikan Ara sebentar." perintahnya.
"I-iya." jawab Nania, singkat.
"Cepat!" Daryl bahkan sampai menerobos pintu ruang masak agar Amara segera melakukan apa yang dia katakan.
Gitar akustik sudah di stel, dan segalanya sudah di sesuaikan. Amara pun telah melakukan check soun beberapa kali. Memastikan jika alat musik yang akan dipakainya sudah dalam keadaan siap.
Gadis itu menatap ke arah Daryl dan sound man. Kemudian dia mengangkat jempolnya. Dan pria di samping menganggukkan kepala.
"Oke, selamat malam. Selamat datang di Amara's Love." Penonton menjawab hingga terdengar suara yang begitu riuh.
"Mbak vocalistnya kejebak macet guys." Dia terkekeh.
"Jadi akan ada sedikit keterlambatan disini. Tapi jangan khawatir, kita akan tetap bisa menikmati malam minggu ini dengan asik kan?"
Semua orang bertepuk tangan.
__ADS_1
"Oke, let me do something." katanya yang kemudian duduk di kursi yang tersedia.
Kembali menyesuaikan stand mic dan gitar yang dibawanya.
Jari-jarinya mencoba memetik snar gitar, dan dia memastikan suara benda tersebut sudah sesuai.
"Oke, untuk yang tahu lagunya boleh kok ikut nyanyi. Just enjoy." dia tersenyum.
Kemudian Amara mulai memainkan alat musik tersebut hingga menghasilkan bunyi yang mengalun indah untuk permulaannya. Menciptakan suasana yang begitu syahdu di tempat tersebut. Dan semua orang tentu saja segera terhanyut.
It's funny cause i've always dreamed of me and you now here we are
Starring at the stars
You just broke my heart even though you promised you'd never do that
From the start
But i guess we can only make it so far
Cause time wasn't in our favor
This isn't good bye
This is simply see you later
Let me know when it's time to come back
Maybe when your life is on track
And you don't have to hasitate
Hopely it's isn't too late
Luckily for you i am patient
I'm ok with you make me wait and
As long as you're near, i'll be here
Even if takes ten years
Rasanya lucu, karena aku selalu
Memimpikan tentang kau dan aku
Dan disinilah kita
Menatap bintang-bintang
Kau mematahkan hatiku
Padahal kau telah berjanji
Tapi aku kita kita berhasil hanya sampai disini
Karena waktu tidaklah mendukung
Ini bukan ucapan selamat tinggal
Tapi sampai jumpa lagi
Beri tahu aku kapan harus kembali
Mungkin setelah hidupmu ada di jalurnya
Dan kau tak harus ragu
Aku harap ini tidak terlambat
Kau beruntung karena aku sabar
Tidak apa kau membuatku menunggu
Selama kau di dekat sini, aku pun aka di sini
Meski selama sepuluh tahun
See You Later ( ten years )
by : Jenna Raine
Daryl mengabadikan momen tersebut dengan ponsel pintarnya. Begitu juga dengan beberapa pengunjung. Dan mereka begitu menikmati saat-saat itu dengan baik.
Dan beberapa lagu Amara mainkan hingga si vocalist yang ditunggu tiba dan menggantikannya bersama para pemain musik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Galang memutuskan untuk kembali ke Jakarta pada Sabtu malam. Dia tak sabar untuk menyelesaikan ketidak pastian ini. Setidaknya itu yang dia rasakan.
Mengenai perasaannya, juga perasaan dua perempuan disekitarnya, yang tanpa sengaja dia tarik dalam pusaran kisah yang membuatnya frustasi.
"Kalau begitu keadaannya, mungkin masalahnya ada di kamu." Galang mengingat ucapan Angga.
Dan ya, apa yang pria itu katakan juga sama seperti ucapan orang tuanya.
"Kamu yang membuat masalahnya menjadi rumit. Dan akan semakin rumit kalau membiarkannya berlarut-larut seperti ini." ucap Angga lagi.
"Buatlah keputusan pasti dari sekarang, dan bertanggung jawablah dengan itu. Hadapi apa pun yang akan terjadi setelahnya, karena dua-duanya memiliki resikonya sendiri." Angga dengan tenang.
"Kalau cinta ya perjuangkan bagaimana pun keadaannya. Tapi kalau harus berkorban, ya lakukan dengan sepenuh hati. Jangan setengah-setengah. Kamu ini buka abege, tapi laki-laki dewasa."
Galang merebahkan kepalanya pada sandaran kursi. Menatap bangunan kedai yang mulai sepi di dalam mobilnya yang dia parkirkan dari seberang. Setelah menonton live streaming di media sosial tentang acara yang baru saja berlangsung, pria itu memutuskan untuk menunggu.
__ADS_1
Dan orang-orang mulai meninggalkan kedai pada hampir tengah malam, bagitu juga Daryl dan Darren yang menjadi orang terakhir yang pergi.
"Dah Ra, besok lagi ya?" Daryl yang masuk ke dalam mobilnya.
"Nggak usah, kalian capek." Amara terdengar menjawab.
"Tapi seru." Pria berambut coklat itu tertawa.
"Cepat pulang Kak."
"Oke, dah Ara-ku!" Daryl tertawa lagi.
"Kak Darren, hati-hati. Kayaknya Kak Daryl mabuk nasi goreng makanya ngelantur."
"Iya Ra, nanti aku pukul kepalanya biar sadar."
"Bagus."
"Oke Ra, pergi dulu." Lalu mobil yang ditumpangi saudara kembar itu pun segera pergi.
Amara terlihat diam di trotoar, menatap mobil itu yang segera menghilang di jalanan yang sudah lengang. Baru dia buru-buru masuk.
Gadis itu membereskan bekas makan dua orang terakhir dan membersihkan meja. Lalu memastikan jendela di beberapa sisi sudah terkunci dengan benar.
Hingga terdengar lonceng berbunyi nyaring saat pintu terbuka dan tertutup dengan cepat.
"Maaf, kedainya sudah tutup. Bisa kembali besok pagi ya?" Amara yang sibuk dengan pekerjaan terakhirnya.
Terdengar suara deheman di belakang yang membuat dia melirik. Sekilas dia menangkap sosok pria berdiri di dekat pintu.
"Kak Daryl balik lagi, ada yang ketinggalan?" Amara memutar tubuh, dan seketika dia membeku.
Sosok yang dikenalnya berada di sana, yang selama berminggu-minggu dia tunggu dan tak kunjung menemuinya.
"Kak Galang?" ucapnya, dan dia segera menghampirinya.
"Kakak dari mana?" Amara bertanya.
Galang tak segera menjawab, namun dia menatap wajah gadis di depannya. Perasaannya berkecamuk, dan rindulah yang paling mendominasi.
Dia tidak menyangka Amara akan besikap setenang ini di depannya, padahal dia juga tahu mungkin perasaannya sedang tidak baik-baik saja sekarang ini.
"Aku …."
"Kakak sendiri?" Gadis itu menatap ke belakang tubuhnya.
"Ya, aku dari Bandung." jawab Galang.
"Oh … ya udah, ayo duduk?" Amara menariknya ke kursi di depan pantry, dan dia membiarkan Galang duduk di sana.
"Mau aku buatkan sesuatu? Kakak udah makan?"
Galang menggelengkan kepala.
"Aku bikinin minum ya? Tunggu, cuma sebentar." katanya lagi, dan dia segera masuk kedalam pantry.
Tidak membutuhkan waktu lama, Amara kembali dengan segelas kopi yang mengepulkan uap panas, yang kemudian dia letakan di meja.
"Minun Kak, tapi hati-hati panas." ucap Amara, dan dia hampir saja menjauh ketika Galang tiba-tiba menariknya, lalu memeluk pinggangnya dengan erat.
Pria itu bahkan menempelkan wajahnya di perut sehingga Amara tak mampu bergerak sedikitpun.
"Maaf." Galang berbisik.
Amara terdiam.
"Maafkan aku." katanya, dan dia semakin mengeratkan pelukan.
"Kak." Amara mendorong pundaknya, namun Galang menolak untuk menjauh.
"Maaf karena sudah salah faham kepadamu." Pria itu berujar.
"Aku mengira kamu sudah bersama orang lain. Dan aku tidak bisa menerima itu." Galang masih memeluknya.
"Aku nggak pernah sama siapa pun selain teman-teman. Mereka yang menemani aku melewati hari-hari yang berat, dan membuatku sadar bahwa selama ini aku salah karena sudah seegois itu."
Galang mendongak.
"Dan aku salah karena menganggap semua hal harus sejalan dengan apa yang aku mau. Padahal nggak bisa begitu."
Galang memindai wajahnya yang akhir-akhir ini selalu tampak begitu tenang dan ceria.
"Bagaimana kamu bisa bertahan, dan mampu melewati ini tanpa terganggu sama sekali?" Galang berucap.
"Yang Kakak lihat cuma topeng, pada kenyataannya aku hancur. Tapi apa boleh buat? Bukankah nggak semua hal bisa kita dapatkan? Dan nggak harus semua hal sejalan dengan keinginan? Dan aku menerima itu sebagai hukuman, atas keegoisanku dulu yang meninggalkan Kakak tanpa berpikir panjang. Hanya karena apa yang Kakak lakukan nggak sesuai keinginan aku."
Galang mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Lepaskanlah, … aku sudah merelakan semuanya. Mungkin sulit, tapi aku akan berusaha."
"Oh … kenapa harus seperti ini?" Galang kembali menenggelamkan wajahnya di perut Amara dan merasakan keberadaan gadis itu.
"It's oke Kak."
Galang menggelengkan kepala.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1