
🌺
🌺
Raungan itu kembali menggema di ruang pemulihan pasien di lantai tiga rumah sakit terkenal di Jakarta. Raungan yang sama seperti hari-hari sebelumnya yang masih terdengar memilukan.
"Berilah lagi dia obat biusnya dokter, saya mohon." Terdengar suara Arfan berseru.
"Papa! Ini sakit sekali! Aku mohon! Ampuuunn!!" Tangis Amara kembali membahana.
"Dokter!!!" Arfan pun berteriak.
Lalu setelah beberapa saat raungan itu perlahan memelan dan akhirnya berhenti. Mungkin dokter menuruti kemauan Arfan untuk kembali memberikan obat biusnya kepada anak gadisnya.
Pintu terbuka dan dokter juga perawat pun keluar, diikuti Arfan di belakang yang lantas menutup pintu kamar itu rapat-rapat.
"Setelah beberapa hari kami harus mengurangi dosisnya, lalu menghentikan pemberian obat ini dan Amara harus menyesuaikan diri dengan rasa sakitnya. Mungkin berat, tapi itu perlu dilakukan karena jika terlalu lama menggunakan obat bius atau penahan rasa sakit kami takutkan anak Anda akan ketergantungan." Dokter Syahril berbicara sebelum pergi. Dia Arfan tunjuk untuk menangani pemulihan bagi Amara agar memudahkannya untuk berkomunikasi.
Arfan hanya menganggukkan kepala.
"Baik, nanti kita rundingkan lagi dengan spesialis tulang dan syaraf untuk penyembuhannya. Cara apa yang paling baik agar semuanya berjalan Lancar. Terutama untuk Amara sendiri."
"Iya, terima kasih."
"Saya pamit." ucap dokter Syahril yang kemudian mundur menjauh.
Galang dan Clarra bangkit dari kursinya di ruang tunggu, yang seketika meraih perhatian Arfan yang hampir saja kembali ke dalam ruangan. Dan dokter Syahril pun sempat menghentikan langkah ketika berpapasan dengan Clarra. Namun keduanya tak saling menyapa, terutama Clarra yang buru-buru menghindar.
"Kalian datang." Arfan melihat jam tangannya.
"Langsung dari kantor?" tanyanya.
"Ya Pak, bagaimana Ara?"
"Seperti biasa."
"Kami mau melihatnya, boleh?" Clarra menyela, membuat pria itu menoleh kepadanya.
"Keadaannya mungkin tidak terlalu baik. Tapi … kalau sekedar melihat sepertinya bisa. Masuklah." ucap Arfan yang kemudian mendorong pintu, dan mereka pun masuk.
Amara masih dalam keadaan yang sama. Verban tebal membalut tubuh bagian kanannya termasuk wajah, penyangga leher masih terpasang dan selang infus yang masih tersambung ke urat nadi di tangannya.
Dia kembali terlelap, mungkin efek obat bius yang baru saja dokter suntikkan kepadanya, membuatnya menjadi sangat tenang seperti ini. Jika tidak, maka dia akan terus menjerit dan meraung karena rasa sakit yang menyiksa.
"Apa dia tidur?" Clarra berhenti di ujung ranjang.
"Bisa disebut begitu. Dokter memberinya obat penghilang rasa sakit setiap kali dia terbangun. Atau kalau tidak, dia akan menjerit-jerit seperti tadi." Arfa menjawab.
Mereka terdiam untuk beberapa saat, terutama Galang yang berdiri lebih dekat kepadanya. Rasa sesak itu kembali menyeruak dalam dada, dan dia tidak bisa menyembunyikannya sama sekali.
"Maaf Pak." ucap Clarra kemudian, membuat pandangan Arfan segera beralih kepadanya.
"Karena mama saya Ara jadi seperti ini. Saya menyesal karena ini harus terjadi, mungkin ada hubungannya dengan penolakan saya kepada Mama."
"Kamu tahu, orang dengan pikiran seperti ibumu akan melakukan apa pun untuk mencapai tujuannya. Entah itu ada hubungannya dengan penolakanmu terhadapnya atau tidak. Tapi dendamnya terhadap saya sepertinya menjadi alasan utama."
Clarra mendengarkan.
"Alasannya menjadi samar dan motifnya menjadi berbeda, dan itu yang membuatnya bisa berbuat sekeji ini. Selain merasa marah karena niatnya terhalangi." Arfan melirik kepada Galang yang duduk ditepi ranjang, masih menatap putrinya tanpa terganggu dengan percakapan mereka.
"Sekali lagi saya minta maaf atas perbuatan Mama saya."
Arfan mengangguk-anggukkan kepala.
"Dia sudah diserahkan kepada polisi."
"Saya tahu."
"Mungkin dia akan dihukum dalam waktu yang cukup lama."
"Saya juga tahu, memang sudah seharusnya begitu."
"Saya harap kamu akan tetap baik seperti ini. Dia memang ibumu, tapi kamu pantas melakukan hal yang lebih baik dan berbeda."
"Iya Pak."
"Dan sebenarnya saya juga mau berbicara dengan Ara, tapi sepertinya dia tidak bisa diganggu?" Clarra mengalihkan pandangan kepada Amara.
"Ya, setelah menjerit-jerit dia sangat kelelahan, belum lagi pengaruh obat."
"Kalau begitu mungkin saya akan menunggu saja sampai Ara benar-benar pulih baru bicara dengannya."
"Ya, mungkin itu lebih baik."
"Baik Pak, sepertinya saya harus pulang." ucap Clarra kemudian.
__ADS_1
"Baik, terima kasih sudah menjenguk Ara." Arfan menjawab.
"Saya pamit Pak."
"Ya."
"Lang, aku pulang duluan ya?" Lalu Clarra mendekat kepada Galang seraya menepuk pundaknya. Dan pria itu menjawabnya dengan anggukkan.
Clarra pun pergi setelah menatap Amara sebentar.
"Hey, pulang sana. Masa kamu membiarkan pacarmu pulang sendirian? Kamu malah di sini menunggui mantan." Arfan berujar, sedikit menyindir.
Namun pria di depannya tidak merespon.
"Hey, Galang?"
"Saya mau di sini dulu Pak. Izinkan saya untuk tetap di sini." Lalu dia menjawab.
"Aneh sekali kamu ini?"
"Dan lagi dia bukan pacar saya." lanjut Galang.
"Apa?"
"Kami sudah putus barusan." Pria muda itu memperjelas ucapannya, membuat kening Arfan berkerut tajam.
"Hah, terserah kamu sajalah." Lalu Arfan pun melenggang keluar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Clarra menghentikan langkahnya saat dia hampir saja keluar dari rumah sakit. Menemukan anak perempuan yang sangat dikenalnya duduk di ruang tunggu memeluk boneka kelinci berwarna coklat.
"Syahnaz? Sedang apa di sini?" Clarra segera menghampirinya.
"Ikut papa kerja lagi ya?"
Anak itu mendongak, lalu menggelengkan kepala.
"Terus kenapa?"
"Nenek sakit lagi.” jawab Syahnaz yang menatapnya dengan matanya yang bening.
“Sakit?”
Syahnaz menganggukkan kepala.
“Baru saja.” Suara bariton menginterupsi di belakang, dan Clarra segera menoleh.
“Ibu jatuh di kamar mandi, dan sepertinya kena strooke.” jelas dokter Syahril. “Baru saja aku kan pulang, sudah dapat panggilan lagi. Dan beginilah.” Pria itu duduk di dekat putrinya.
Dia bersandar pada dinding seraya mengusap wajahnya, frustasi.
Lalu sesaat kemudian para perawat membawa ranjang pasien keluar dari instalasi Gawat darurat dengan ibu dari dokter Syahril yang terbaring lemah diatasnya.
“Bisakah saya titip Syahnaz sebentar? Ada sesuatu yang harus saya urus dulu.” pinta pria itu kepada Clarra. “Atau kamu sedang menunggu Galang?”
“Umm … tidak. Aku tadinya mau pulang tapi … sepertinya menemani Syahnaz sebentar masih bisa.” jawab Clarra yang tiba-tiba saja harus melakukan sesuatu di situasi ini.
“Baik, terima kasih. Aku janji hanya sebentar.” Pria itu kemudian bangkit dan segera mengikuti para perawat mengantarkan ibunya ke ruangan lain.
Dan setelah sekitar setengah jam lamanya, pria itu kembali ke ruang tunggu di mana dia meninggalkan putrinya bersama Clarra. Dokter Syahril tertegun sebentar ketika melihat interaksi di antara mereka yang memang biasanya terjadi. Dimana Syahnaz akan berbicara banyak hal dan Clarra menanggapinya dengan begitu antusias. Mereka seperti sudah sering melaluinya setiap hari.
Meski pada kenyataannya, dulu sekali Clarra memang ada di dalam hidup mereka terutama anaknya sejak dia bayi sepeninggal Nisa. Perempuan itu akan datang setidaknya satu kali dalam seminggu dihari libur untuk mengasuh Syahnaz, atau membawanya pergi bermain diluar rumah. Bahkan di saat dia menelfonnya ketika kehadirannya Syahnaz butuhkan, Clarra selalu datang tanpa banyak alasan.
“Bagaimana?” Clarra mendekat setelah dia menyadari pria itu sudah kembali.
“Sudah lebih baik dari pada tadi.” Syahril menjawab.
“Lalu?”
“Ibu harus dirawat setidaknya dua hari di sini.” Kemudian dia menjelaskan.
“Baiklah. Kamu mau menunggu ibumu di sini?” tanya Clarra lagi.
“Ya, mungkin begitu.”
“Lalu Syahnaz?” Mereka melirik kepada anak itu yang asik melahap makanan yang Clarra belikan beberapa saat yang lalu.
“Sepertinya dia juga akan tinggal. Dia tidak akan mungkin mau tinggal dirumah hanya dengan asisten rumah tangga. Kamu tahu, dia tidak terbiasa ditinggal sendirian dengan orang lain.”
“Hmm ….”
“Terima kasih, kamu bisa pulang sekarang.” ucap pria itu kemudian.
“Umm … baiklah.” Namun Clarra tertegun sebentar.
__ADS_1
“Atau mungkin aku bisa membawa Syahnaz pulang, sementara kamu disini menemani ibumu?”
“Apa?”
“Aku akan membawanya pulang agar dia tidak harus tinggal di sini. Kasihan.” ulang Clarra.
“Soal itu ….”
“Syahnaz?” Panggil Clarra kepada anak itu.
“Hum?”
“Mau tidak kalau ikut tante pulang? Papa harus tunggu nenek di sini.”
“Papa nggak akan pulang?”
“Nggak.”
“Nenek?”
“Neneknya harus dirawat, jadi nggak bisa pulang.”
Anak itu terdiam sebentar.
“Jadi papa di sini, Syahnaz pulang dengan tante. Mau?” tanya Clarra lagi.
Gadis kecil itu kemudian beralih menatap ayahnya. “Boleh nggak?” Lalu dia bertanya.
“Kamu mau ikut tante pulang?” Syahril balik bertanya.
“Mau kalau boleh sama Papa.” anak itu menjawab.
Kemudian dokter Syahril melirik kepada Clarra yang menunggu. Pikirannya menerka-nerka apa yang ada dalam kepala perempuan itu? Kenapa dia tiba-tiba saja bersikap ramah seperti ini? Apakah ada yang terjadi dengannya?
“Papa?” Syahnaz dengan nada tanya.
“Ya?”
“Apa boleh?”
“Boleh, kalau Syahnaz mau. Nanti Papa telfon orang rumah untuk mengantarkan pakaian kamu ya?”
Sang putri menganggukkan kepala.
“Apa tidak akan merepotkan?” Lalu dia beralih kepada Clarra.
“Tidak sama sekali.”
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?”
“Bisa diatur. Aku akan mengantarkannya ke sekolah dulu, setelah itu pergi bekerja. Siang aku akan menyuruh orang untuk menjemputnya kalau kamu tidak bisa, lalu ….”
“Sepertinya kalau siang aku bisa, tidak usah repot-repot.”
“Baik, lalu aku akan mampir kesini sepulang bekerja. Dan dia kan aku bawa pulang lagi.”
Dokter Syahril mengerutkan dahi.
‘Umm … siapa tahu ibumu masih harus disini besok? Kamu bilang setidaknya ibu harus dirawat selama dua hari bukan?”
“Oh, … ya. Baiklah.” Pria itu menganggukkan kepala.
“Baik kalau begitu, kami akan pulang sekarang?”
“Baiklah, aku titip dia ya?” ucap Dokter Syahril setelahnya.
“Iya, tenang saja.” Kemudian Clarra pun segera menarik anak itu pergi dari tempat tersebut.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
acieeeee ... pada balik cieeeee .... 😂😂
jan lupa like komen sama hadiahnya gaess.
makasih karena selalu mendukung ceritanya sampai sejauh ini. makin lope deh sama kalian.
alopyu sekebon😘😘
meet pak dokter😂😂
__ADS_1