
🌺
🌺
"Kamu masih di sini?" Arfan menemukan jika Galang masih berada di ruang perawatan putrinya. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi.Â
Setelah dia menyuruhnya untuk tidak datang selama satu harian kemarin dengan alasan menyuruhnya beristirahat, namun pada pagi ini rupanya Galang datang bahkan di saat semua orang baru saja membuka mata.
Pria itu sepertinya begitu bersemangat.
"Ya Pak. Hari ini mau ke kantor polisi dulu, baru bekerja." Galang menjawab.
"Kantor polisi?" Arfan sedikit menjengit.
"Ya, ada panggilan tadi pagi jadi saya harus datang ke sana untuk memberikan keterangan."
"Oh …" Arfan mengangguk-anggukkan kepala.
"Sepertinya Ara juga harus. Apa sudah ada panggilan dari kantor polisi?"
"Belum, mungkin hari ini."
"Iya, bisa jadi begitu."
"Hmm …" Arfan menggumam, kemudian perhatiannya teralihkan ketika ponselnya berbunyi nyaring.
"Sebentar Kak, Papa terima telfon dulu." Lalu pria itu keluar.
"Aku pergi dulu ya?" Galang berpamitan namun dia mendekat.
Amara menganggukkan kepala.
"Mungkin dari kantor polisi langsung bekerja. Jadi sorenya baru bisa ke sini lagi." ucap pria itu.
"Iya nggak apa-apa, nggak usah maksain juga kalau nggak sempat." Amara menjawab.
Namun Galang menggelengkan kepala.
"Apaan?"
"Aku akan tetap ke sini walaupun kamu menolak."
"Dih, nggak tahu malu kalau begitu?"
"Kenapa kamu sebut nggak tahu malu?"Â
"Ya nggak tahu malu, nggak ada yang minta dan nggak ada yang mau tapi Kakak tetap datang."
Galang terdiam sejenak.
"Kamu tidak senang kalau aku datang ya?" tanya nya kemudian.
"Bukan nggak seneng, tapi malu." Amara menjawab.
"Kenapa malu?"
"Takut ngerepotin. Kakak kan sibuk?" Gadis itu memalingkan pandangan pada langit-langit kamar.
"Tidak sama sekali." Galang lebih mendekat lagi, namun Amara malah terdiam.
"Ra?"
"Hum?" Lalu dia mengembalikan perhatiannya kepada Galang yang berdiri di samping tempat tidur.
"Jangan mulai."
"Mulai apaan?"
"Jangan mulai mengatakan hal-hal yang membuat kita bertengkar."Â
"Nggak, aku cuma ngomong aja."
"Tapi dampaknya akan lain lagi nanti."
"Ah, Kakak baper."
"Bukan baper Ra." Galang tergelak. "Cuma, rasanya disini nggak enak." Pria itu meraba dadanya sendiri.
"Apaan? Jantung? Periksa, mumpung di rumah sakit. Kali Kakak ada gejala." Amara dengan cueknya.
"Astaga, kenapa kamu jadi kejam begini?"
__ADS_1
"Nggak ih siapa? Aku kan cuma mengira-ngira?"
"Tapi perkiraan kamu kejam."
Amara kemudian mencebik, sementara Galang terdiam lagi. Dia kemudian duduk di pinggir ranjang seperti biasa, dan pandangannya tidak beralih kepada hal lainnya.
"Aku tahu kamu masih ragu. Tapi tidak apa, tidak semua orang bisa dengan gampang menerima kabar apa pun, meski itu benar. Atau juga tidak semua orang bisa percaya begitu saja atas apa yang kita lakukan. Tidak peduli tujuannya apa."
"Ah, … Kakak mulai lagi. Omongannya makin ke sini makin ngelantur." Amara mencoba bergerak untuk menghindari pandangan pria itu. Â
Terutama untuk menghindarkan dirinya sendiri dari apa yang mungkin akan kembali menyakitinya jika saja yang sedang terjadi ini bukanlah hal yang sebenarnya.
Amara ingin percaya dengan semua yang dikatakan oleh Galang, tapi dia juga merasa takut jika mungkin saja pria itu hanya datang sekedar untuk menghiburnya. Mengingat keadaannya yang seperti sekarang ini.
Kaki dan tangannya cedera, wajahnya terluka, dan dia tak bisa melakukan apa pun. Bahkan untuk makan dan duduk saja dia membutuhkan bantuan orang lain.
Bukankah ini menyedihkan?
"Terserah, … " Pria itu menggendikkan bahu. "Apa pun yang kamu katakan aku akan tetap datang. Tidak peduli kamu menolak atau memintaku pergi, aku akan tetap kembali."
Amara terdiam.
"Ra."
"Udah, pergi sana. Katanya mau ke kantor polisi?" Gadis itu masih menatap ke arah lain.
"Ini juga mau pergi."
"Iya, tapi Kakak masih tetap di sini."
"Hmm … cuma …" Galang menoleh ke belakang di mana pintu berada.
Benda itu tertutup namun suara Arfan yang tengah bercakap-cakap di telefon masih terdengar. Dan bayangannya terlihat dari celah kaca kecil tampak mondar-mandir di depan sana.
Galang kemudian menunduk dan dalam sekejap mata dia mengecup kening Amara, membuat gadis itu tertegun karena terkejut. Dia bahkan tak punya kesempatan untuk menghindar.
"Umm …"
"Aku akan sangat merindukanmu." ucap Galang masih dalam posisi yang sama, namun di detik berikutnya dia mendaratkan bibirnya di bibir milik Amara.
Kedua bola mata gadis itu membulat seketika, dan dia berusaha menggerakkan kepalanya untuk menghindar namun Galang segera membingkai wajahnya dengan kedua tangannya.
Dan segera saja, Galang memagutnya sedalam yang yang dia bisa. Dan mereka segera tenggelam untuk beberapa saat. Amara bahkan memejamkan mata merasakan lembut dan hangatnya bibir pria itu.
"Baiklah, kamu bisa pergi sekarang." ucap Arfan yang memasukkan ponsel ditangan ke dalam saku kemejanya.
"Baik Pak, kalau begitu saya pamit." sahut Galang yang melirik kepada Amara sebelum pergi.
"Ya, pergilah."Â
Kemudian Galang pun segera keluar dari ruangan tersebut.
"Kamu baik-baik saja?" Arfan beralih kepada putrinya yang terdiam sejak dirinya masuk.
Amara menganggukkan kepala, namun dia terus mengatupkan bibirnya sejak beberapa saat yang lalu.
"Papa pikir aku masih punya kesempatan?" Kemudian gadis itu bicara.
"Kesempatan untuk apa?" Sang ayah mendekat.
"Kesempatan untuk melakukan semua yang aku suka, kesempatan untuk mencapai yang belum aku capai, atau kesempatan untuk menjalani hidup kedepannya?"
"Apa maksudmu?"
"Keadaan aku udah kayak gini. Apa aku masih bisa? Aku udah nggak bisa apa-apa."
"Siapa bilang kamu tidak bisa apa-apa? Kamu hanya sedang cedera makanya tidak bisa." Arfan duduk di sisinya.
Amara terdiam.
"Nanti juga bisa lagi. Jangan putus asa seperti ini." Arfan meraih tangan putrinya.
"Tapi nanti semuanya nggak akan sama lagi." Amara mereasa kelopak matanya mulai memanas.
"Siapa bilang? Papa akan melakukan apa pun untuk kesembuhanmu. Semua hal yang diperlukan akan Papa usahakan."
Lalu kedua mata gadis itu mulai berkaca-kaca.Â
"Jangan mematahkan semangat kami. Apa kamu tidak tahu jika semua orang sedang mengusahakan yang terbaik sekarang ini? Mama datang setiap pagi untuk merawatmu. Mommy membuatkan makanan untukmu, papi dan mama Fia juga sering datang untuk melihatmu, dan yang lainnya juga. Bahkan Galang lebih banyak menghabiskan waktunya disini setelah bekerja. Apa kamu tidak melihat itu?"
"Dan Papa melakukan hal yang lebih dari semua orang." Amara mulai terisak.
__ADS_1
"Ya, karena Papa harus. Siapa lagi yang akan melakukannya? Jadi bantulah Papa dengan tidak berputus asa, bantulah kami dengan tetap semangat."
"Bahkan setelah aku marah-marah dan berprasangka buruk, Papa tetap merawat aku." Gadis itu teringat hal terakhir yang dia katakan terhadap ayahnya.
"Kamu anak Papa, tentu Papa akan selalu merawatmu. Kenapa tidak?"
Amara menatap wajah pria itu yang pertama kali dia kenali sejak mampu melihat. Yang pertama dia kenali, yang setiap hari, sejak bayi mengurusnya. Membesarkannya dengan tangannya sendiri. Dan tak ada sehari pun selama itu, bahkan hingga kini pria di depannya ini melewatkan setiap hal dalam hidupnya.
Sang ayah selalu menjadi yang pertama kali mengetahui apa pun yang terjadi kepadanya.
"Maaf Pah, aku udah salah." ucap Amara, yang membuat Arfan menjengit.
"Maaf karena udah marah-marah, padahal aku nggak tahu keadaan yang sebenarnya."
Pria itu merunduk lalu menempelkan kening mereka berdua.
"Jangan pikirkan soal itu, Papa akan selalu memaafkanmu walau kamu tidak meminta maaf."
Namun Amara malah menangis.
"Jangan menangis, nanti Papa sedih." ucap Arfan setengah tertawa.
"Tapi aku menyesal."
"Papa tahu."
"Papa nggak akan marah sama aku sekarang?"
"Tidak akan, mengapa Papa harus marah kepadamu?" Arfan pun bangkit.
"Aku cuma takut Papa marah, soalnya Kak Galang …."
"Ck! Jadi ini ada hubungannya dengan Galang?" Arfan mulai mengerti.
"Apa dia mengatakan sesuatu kepadamu?" Pria itu lalu bertanya.
Amara menggelengkan kepala.
"Lalu mengapa kamu bicara seperti ini?"
"Aku cuma takut."
"Tidak ada yang perlu kamu takutkan."
"Tapi tetep aja."
"Hanya … ikuti apa yang Papa katakan. Jangan putus asa, dan sisanya biarkan kami yang memikirkan." ucap pria itu, membesarkan hatinya.
"Papa nggak marah sama aku?" Amara bertanya lagi untui meyakinkan.
"Tidak."
"Biarpun aku udah melawan Papa?"
Pria itu menggelengkan kepala.
"Biarpun aku tetap sama Kak Galang?" Amara memberanikan diri, sementara sang ayah mengerutkan dahi.
"Sudah Papa duga ini ada hubungannya dengan Galang." Pria itu kemudian turun dari tempat tidur.
"Sekarang ini yang Papa pikirkan hanya kesembuhanmu dulu. Soal yang lainnya, kita pikirkan nanti. Apa lagi kalau soal Galang."
Kini Amara yang terdiam.
"Sekarang istirahatlah lagi, Papa harus menemui dokter untuk terapimu." Lalu Arfan membenahi letak selimut yang menutupi tubuh Amara sebelum akhirnya melenggang ke arah pintu.
"Tapi ...." Namun dia berhenti sebelum benar-benar keluar.
"Jika dia yang menghadap sendiri dan berbicara dengan serius soal ini, mungkin akan Papa pertimbangkan." katanya, lalu dia segera menutup pintu rapat-rapat.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
ayoloh ... maunya menghadap langsung.
kira-kira, apa Kang Galon berani? 😂😂
__ADS_1
kita lihat saja nanti, tapi sebelumnya klik like, kasih komen dan kirim hadiahnya lagi ya?
alopyu sekebon 😘