My Only One

My Only One
Omelan Galang


__ADS_3

🌺


🌺


"Iya maaf atuh Neng. Kan kitanya waktu itu udah putus." Galang terus mencoba membujuknya.


Amara tak merespon, meski tangisannya sudah reda setelah satu jam, tapi dia masih terisak dan tak mau berhadapan dengan suaminya.


"Neng?" Galang menyentuh pundaknya.


"Aku nggak mau ngomong sama Kakak!" Amara dengan suara parau.


"Astaga Neng! Ini aku seperti yang ketahuan selingkuh?"


"Di pikiran aku Kakak lagi selingkuh. Mana pergi ke tempat yang aku mau lagi? Huhuhu …." Dia menangis lagi.


"Neng, sudah! Nanti kedengaran ibu, bisa salah sangka. Dikiranya aku apa-apain kamu lagi?"


Amara bergeming.


"Ya sudah, nanti kita ke Bromo ya? Asal kamunya sembuh dulu, oke?"


"Nggak mau! Kakak udah lebih duluan ke sana sama Kak Clarra! Aku nggak mau pergi ke tempat yang udah di duluin orang lain. Aku sebel!!"


"Ya sudah, ke tempat lain mau?"


Tangisan Amara terhenti.


"Ke mana?" Lalu dia bertanya.


"Ke Tangkuban Perahu? Besok kita berangkat?" Galang tersenyum lebar, dia merasa kali ini akan berhasil membujuk istri super manjanya.


Amara terdiam.


"Ya, Tangkuban Perahu juga sama bagusnya dengan Bromo. Mana dekat lagi?"


"Dekat ya?"


"Iya. Dari sini paling dua jam an aja. Besok kita berangkat pagi-pagi ya? Sekarang ayo kita bobok biar nggak kesiangan?" Pria itu membujuknya, dan hampir saja memeluknya lagi.


"Aku nggak mau yang deket, aku maunya yang jauh kayak Kak Clarra. Aku mau yang jauuuuuuhhhhh!!!" Dan perempuan itu kembali menangis.


"Astaga Tuhan!!" Kali ini Galang benar-benar dibuat frustasi.


"Sana Kakak keluar, aku nggak mau tidur sama orang jahat kayak Kakak!"


"Masa begitu, Neng? Aku kan …."


"Nggak mau. Sana keluar!!"


Galang mengeraskan rahang. Sepertinya kesabaran yang dia miliki sudah di ambang batas dan dirinya tak bisa lagi menghadapi hal ini.


Pria itu kemudian turun dari tempat tidur.


"Terserah, terserah!!" katanya dengan nada frustasi, sambil melenggang keluar dari kamarnya.


"Ada apa Lang? Kenapa Ara sampai menangis begitu?" Kedua orang tuanya berada di depan pintu kamar.


Mereka bergegas keluar saat mendengar tangisan dari kamar sang anak, namun hanya bisa berdiam diri di luar karena tak berani menginterupsi.


"Nggak jelas, dia memikirkan aku yang lagi selingkuh dengan Clarra. Benar-benar diluar nalar!" Galang menggerutu, lalu dia menuruni tangga dengan perasaan kesal.


Arif dan Mayang saling pandang.


***


"Kayaknya hampir semua perempuan begitu?" Angga bersandar pada kepala kursi.


Pria itu menemukan Galang yang melintas di depan ketika dirinya bermaksud mengunci pintu pagar. Lalu dia mengajaknya untuk mampir dan akhirnya berbicara panjang lebar.


"Bikin pusing!"


"Ya memang. Perempuan dengan segala ketidak jelasannya. Kamu pikir gampang menghadapi mereka apa?"


"Memangnya Tante Rani juga begitu ya?"


"Sama." jawab Angga.


"Masa? Kelihatannya kalem-kalem aja?"


"Iya, tapi nggak separah Ara sih. Hahahah." Angga meneguk kopinya yang hampir dingin.


"Rani itu lebih mudah dihadapi karena rasa empatinya lebih besar dari siapa pun. Biarpun dia keras kepala, tapi cenderung memiliki kesabaran berlebih dan bisa menerima keadaan dengan baik."


"Rani kan nggak berasal dari keluarga berada. Untuk hidup sehari-hari dia berjuang sendirian dan mengusahakan keinginannya dengan cara yang nggak mudah. Ditambah dia mengalami trauma dan banyak masalah dalam hidupnya. Makanya dia keras kepala. Tapi kayaknya menghadapi perempuan keras kepala lebih mudah dari pada menghadapi perempuan manja seperti Ara. Dia tidak mengalami apa yang Rani alami, sudah pasti cara menghadapinya juga berbeda. Kan kamu sudah lama kenal dia?"


Galang menghembuskan napas pelan.


"Selamat berjuang. Benar kata ibumu, kesabaranmu harus benar-benar berlebih karena mungkin ini bukan pertama kalinya Ara merajuk. Ingat juga, dia sedang mengandung anak kalian. Penderitaannya nggak akan berakhir sampai di sini saja, tapi berlanjut sampai anak kalian lahir nanti. Semuaya akan berubah dan bertambah berkali-kali lipat, dan bukan hanya kesabaran saja yang kamu butuhkan." Angga menepuk pundak anak tetangganya itu.


"Masa asisten nomer satu Nikolai Grup lemah menghadapi hal kayak gini? Dia istrimu lho, yang nanti akan menemanimu sampai tua, dan kalian akan menghadapi segalanya bersama."


"Nggak ada hubunganya, Om."


"Memang. Tapi se nggaknya kamu kamu bisa menghadapi dia yang sedang mengalami fase awal kehamilanya dengan baik. Ini kan salahmu juga."


"Kok salah aku?"

__ADS_1


"Iyalah, anak orang masih sakit udah dikerjain? Pas hamil, ya parah."


Galang mendengus keras.


"Terima aja Lang, terima. Demi kesejahteraan Si Ulil. Perempuan itu maha benar." Angga tertawa lagi.


"Kok Om tahu si Ulil?" Dahi Galang berkerut.


"Lupa ya, waktu disunat kan Om yang antar kamu sama ayah ke dokter. Kamu nangis-nangis sambil bilang 'jangan potong Si Ulil, Yah! Nanti mati!'" Angga mengingatkan kejadian waktu Galang kecil.


"Dih, Om ngibul. Mana ada begitu?"


"Kamu nggak akan ingat." Pria itu tertawa.


"Pulang sana! Kalau udah nikah jangan pergi pas lagi berantem, nanti kebiasaan." ucap Angga lagi.


"Sebentar lagi lah. Masih sebel. Tunggu Ara tidur dulu. Nanti kalau ketemu dia pas masih bangun bisa berantem lagi."


"Ya, tunggunya di rumah. Di teras kek, di ruang tengah kek. Kan Ara di kamar? Yang penting jangan keluar dari rumah."


"Ck!" Galang berdecak kesal.


"Nanti kalau moodnya udah baik, marahnya bakal reda."


Pria itu tak menggubris.


"Lang, sana pulang. Kan Om juga mau malam mingguan?"


"Udah aki-aki Om. Udah nggak musim malam mingguan."


"Siapa bilang? Aki-aki juga punya kebutuhan. Mumpung nggak nganter si Oneng balapan."


"Kebutuhan apa?"


"Masa kamu nggak ngerti? Kan udah nikah? Udah hamilin Ara juga?"


"Om nggak jelas deh ngomongnya?"


"Nggak usah dijelasin, tapi Tante Rani udah nunggu di atas." ucap Angga dengan sedikit kesal.


Galang mengerutkan dahi, namun kemudian dia mengerti maksud pria di dekatnya ini.


"Oh, hehe. Maaf Om, maaf. Aku pulang deh." Lalu dia bangkit setelah meneguk habis kopinya.


"Nah, itu ngerti."


"Iya Om. Tapi hati-hati."


"Apaan?"


"Jangan keras-keras, nanti encok." Galang tertawa, kemudian dia berlari keluar. 


"Inget umur Om!" Galang berteriak dari luar pagar, kemudian segera pergi ketika melihat sebelah sandal melayang ke arahnya.


***


"Jangan terlalu begitu, kan kasihan Galangnya?" Mayang mengusap kepala Amara setelah menantunya itu bercerita.


"Ibu ngerti, kalau sedang hamil itu banyak hal aneh yang kamu rasakan. Semua hal berubah, belum lagi keadaan kamu yang belum sepenuhnya pulih. Tapi kalau bisa jangan terlalu mengikuti perasaan yang belum tentu benar. Dan jangan juga mempermasalahkan hal yang tidak terlalu penting. Apa lagi yang nggak ada hubungannya dengan pernikahan kalian. Bahaya. Nanti malah bisa memperkeruh keadaan."


Amara terdiam.


"Ibu nggak membela anak ibu, tapi karena tahu dia bagaimana. Kalau salah ya ibu salahkan juga. Segitu dia sudah banyak mengalah lho, dan mengikuti apa yang kamu mau. Padahal biasanya dia melakukan apa-apa atas kemauannya sendiri. Tapi setelah menikah Galang lebih banyak menuruti kamu. Ibu benar nggak?"


Sang menantu tidak merespon.


"Maafkan kalau dia banyak kekurangan, atau kadang tidak peka. Karena sifat dasar laki-laki memang seperti itu. Mereka harus sering diingatkan."


"Sekarang Ara tidur ya? Jangan lama-lama nangis dan marahnya, kasihan cucu ibu." Mayang kembali mengusap kepala menantunya.


"Ibu tinggal ya? Mungkin sebentar lagi Galang pulang."


"Memangnya Kak Galang ke mana?"


"Nggak tahu, mungkin keluar sebentar. Dia kalau marah memang suka kabur begitu."


"Masa?" Amara dengan suara parau


"Iya, tapi nanti pasti pulang. Apa lagi ingat istrinya sedang hamil, dia nggak akan tega pergi berhari-hari seperti dulu."


Amara mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Ibu keluar ya? Ara harus tidur."


Amara menganggukkan kepala.


***


Galang kembali pada lewat tengah malam. Tanpa banyak bicara dia masuk ke dalam kamar lalu naik ke tempat tidur. Juga tanpa menghiraukan Amara yang masih terjaga menunggunya. Sengaja, dia melakukannya karena tidak ingin memulai pembicaraan yang nantinya akan mengulang pertengkaran.


Pria itu segera merebahkan kepalanya di samping Amara tanpa memeriksa keadaannya terlebih dahulu, dan bahkan memiringkan tubuh untuk membelakanginya.


"Kakak dari mana?" Amara bersuara.


Galang tak berminat untuk menjawab. Hatinya masih terasa kesal dan dia segera memejamkan mata.


"Kakak!" Perempuan itu menarik ujung kausnya, namun Galang bergeming.

__ADS_1


"Kakak ih dari mana? Aku tanya kok nggak jawab?" Amara kembali menarik kausnya, dan kali ini lebih keras.


"Apa sih? Aku malas berantem lah! Terserah kamu mau bilang apa juga, terserah! Aku mau tidur!" katanya, sedikit membentak.


Amara menutup mulutnya. Baru kali ini pria itu berbuat demikian kepadanya, padahal sebelumnya tidak pernah. Dia merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya dan kedua matanya kembali memanas.


Apakah kelakuannya malam itu sudah keterlaluan, Sehingga suaminya bereaksi demikian?


"Kakak bentak aku." Katanya, sedikit tercekat.


"Kamu lebih dari membentak aku." Galang membalikkan ucapannya, tanpa merubah posisi. Dia masih memunggungi istrinya yang hampir kembali menangis.


"Kamu mempermasalahkan hal nggak penting, membahas soal mantan, dan lagi kamu mengusir aku dengan alasan nggak jelas!" katanya, dan dia tetap seperti itu.


"Aku sudah berusaha ya, melakukan semua yang harus aku lakukan. Mendengar semua yang kamu katakan, dan lakukan semua yang kamu minta. Keinginan aku cuma satu kok, biar kamu senang dan semuanya baik-baik saja. Dan aku nggak mau memikirkan masalah yang nggak ada hubungannya sama pernikahan kita. Entah itu mantan pacar, orang tua, atau apa pun itu. Rumah tangga belum dua bulan kok ada saja masalah. Dibuat-buat lagi? Seperti sinetron saja?" Pria itu mengomel.


Amara tak menjawab. Dia memilih mendengarkan gerutuan suaminya sambil memikirkan bahwa apa yang dia katakan ada benarnya juga.


"Coba, apa yang nggak aku lakukan untuk kamu? Dan bagaimana cara aku melakukannya? Apa ada keinginan kamu yang aku bantah? Tolonglah jangan bikin aku jadi pamrih kayak gini. Jadi mengingat apa saja yang sudah aku lakukan, padahal itu hal biasa untuk pasangan. Kamu tahu, melakukan apa saja untuk pasangan itu adalah bentuk kasih sayang yang bisa aku berikan. Tapi dengan mengungkit masa lalu yang nggak bisa aku rubah hanya karena kamu menginginkan itu? Aku nggak bisa. Itu diluar kendali aku, Neng."


"Mungkin hubunganku dengan Clarra adalah fase yang harus aku lewati sebelum akhirnya kita kembali. Dan nyatanya, kita bersama lagi kan? Tanpa ada ganjalan apa pun dengan Clarra, karena kami sama-sama menyadari perasaan masing-masing." Galang berbalik sehingga kini mereka berhadapan.


"Tolonglah, ngidamnya jangan keterlaluan. Suruh aku beli apa pun yang kamu mau. Minta apa saja, atau pergi ke mana saja. Tapi jangan ungkit masalah hubunganku dengan orang lain. Itu malah akan merusak hubungan kita!" katanya, dan dia menatap wajah perempuan itu yang matanya berkaca-kaca.


"Mau nangis lagi? Sok, nangis lagi. Nggak apa-apa. Nangis yang keras, paling nanti aku diomel lagi sama ibu karena mengira aku menyakiti menantunya. Biar kamu puas sekalian!" Galang kali ini dia tak dapat menyembunyikan kekesalannya.


"Kakak jangan ngomong gitu, kan aku jadi merasa bersalah." Amara yang air matanya mulai berderai.


"Ya emang kamu salah. Memangnya enak kalau dituduh-tuduh terus, padahal kejadian itu sudah lama? Dan aku nggak menghianati kamu ya? Kita nggak ada hubungan apa-apa selama dua tahun itu!" Kini dia berbicara dengan tegas.


"Iya, maafin." Amara bergeser ke dekatnya.


"Alah, paling nanti kalau ada kesempatan kamu ungkit lagi? Tanya-tanya lagi karena ingin tahu dan bilang nggak akan marah. Tapi ujung-ujungnya ngamuk juga? Pakai sebut aku jahat lagi?" Galang mengungkapkan kekesalannya.


Amara terus terisak.


"Ayo, menangis yang keras. Biar semua orang tahu kalau aku sudah berbuat jahat kepadamu!" ucap Galang lagi, namun kemudian Amara menyurukkan wajah di dadanya.


"Cukup!!! Maafin aku!" katanya, membuat Galang berhenti bicara.


"Nanti setelah minta maaf kamu bahas lagi? Perempuan biasanya begitu kan?"


"Nggak akan." Amara menggelengkan kepala.


"Bohong! Nanti apa-apa, nyambungnya ke sana. Ada masalah sedikit, masa lalu yang dibahas."


"Nggak!"


"Masa?"


"Beneran." Perempuan itu sesenggukkan.


Galang menghela dan menghembuskan napasnya pelan-pelan. Lalu dia mengulurkan tangannya untuk merangkul tubuh perempuan itu.


"Tolongin aku lah, Neng! Aku kan manusia biasa. Ada capeknya, ada keselnya, ada marahnya juga. Kalau kamunya keterlaluan lama-lama kesabaran aku habis juga. Aku kan masih belajar." Dia mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Kekesalannya menguap seketika setelah mendengar isakan penyesalan Amara kali ini.


Perempuan itu terdiam.


"Aku begini karena sayang kamu, apalagi kita akan punya anak. Kalau nggak sayang, mana mungkin aku melakukan semua yang kamu minta? Ingat itu dong!" Dia kemudian menyentuh wajahnya, lalu mengusap air mata yang masih menetes dengan jemarinya.


Isakan Amara berhenti.


"Ya, jangan begitu lagi. Aku nggak mau kita bertengkar. Capek juga ngomel-ngomel begini."


Amara menatap wajah suaminya.


"Oke?"


Lalu perempuan itu mengangguk pelan.


"Masa mau jadi Mama kamunya begini? Kasihan anak kita."


"Perasaan aku tuh terganggu kalau tahu Kakak sama Kak Clarra begitu." Amara buka suara.


"Ya makanya jangan nyari tahu. Jangan tanya-tanya juga. Nggak penting. Cari penyakit saja?"


Amara terdiam lagi.


"Sudah puas nangisnya?" ucap Galang setelah beberapa saat.


Amara mengangguk lagi.


"Ya sudah, sekarang tidur." Pria itu kembali membenamkan wajah Amara di dadanya.


"Kakak, bukannya tadi mau …."


"Tidur Neng. Aku capek kalau kita bertengkar." katanya lagi, dan dia benar-benar memejamkan mata.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Duh, ngajak anu tuh Bang🤣🤣🤣

__ADS_1


Mana ada ngidam di suruh jangan keterlaluan? jangan ngadi-ngadi!!😁😁


__ADS_2