
🌺
🌺
"Dih, pergi ke Paris aja pakai rahasia-rahasiaan?" Amara menatap keluar pesawat yang sebentar lagi lepas landas meninggalkan Bandara Internasional Sukarno Hatta pada hampir siang.
Seperti janji Galang yang akan membawanya pergi setelah resepsi meriah mereka kemarin, dengan tujuan yang sudah direncanakannya sejak jauh-jauh hari.
"Mana udah ngelewatin malam pertama lagi?" cibir Amara sambil tertawa.
"Kenapa nggak bilang aja pergi ke Paris gitu? Kan akunya nggak akan ah nebak-nebak?"Â lanjutnya, dan dia hampir saja me-non aktifkan ponselnya setelah membalas pesan.
"Kan sudah aku bilang, ini kejutan." Galang menjawab, diikuti cengiran khasnya.
"Kejutan yang nggak mengejutkan, Kak." Amara memutar bola mata.
"Biarkanlah, yang penting kita pergi. Hahaha." Galang tertawa lagi.
"Piere?" Amara melihat seseorang yang dikenalinya menjadi penumpang terakhir yang masuk di kabin pesawat bersama mereka.
"Hey? Kamu juga pergi?" jawab pria berambut pirang itu, yang meletakkan tas miliknya di atas.
"Hadeh, kenapa juga dia ada di sini?" Galang bergumam, namun Amara masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Dapat tugas dari ayah mertua untuk mengawasi kami ya? Aku dan Ara sudah menikah lho, kami bahkan sebentar lagi punya anak. Tidak tahu soal itu ya? Kenapa juga masih diawasi?" lanjutnya, yang sedikit merasa kesal.
Piere hanya terkekeh sambil menggelengkan kepala.
"Masa kayak gitu?" ucap Amara kepada teman kuliahnya dulu itu.
"Kalian salah sangka." Piere pun menjawab sambil tertawa pelan.
"Terus kenapa kamu juga mau ke Paris? Ada misi rahasia ya?" Galang menatap curiga.
"Mau apa? Tentu saja saya pulang kampung, Pak." Pria yang hampir berusia 24 tahun itu mejawab.
"Benarkah?" Galang memicingkan mata.
"Tentu saja. Orang tua saya ada di sana."
"Hmm …."
"Emangnya kerjaan kamu udah selesai sama Papa ya?" Kini Amara yang bertanya.
"Sayangnya belum."
"Terus kok kamu bisa pulang?"
"Kebetulan libur. Arkhan belum bisa sekolah kan?"
"Hubungannya sama Arkhan apa?"
"Ya apa lagi? Dia kan mengawasi Arkhan." sahut Galang dari tempat duduknya.
"Benar begitu?"
__ADS_1
"Umm … secara teknis … iya."
"Ribet amat pakai diawasi segala?"
Galang tertawa lagi, dan kali ini lebih keras.
"Kenapa Kakak tertawa?"
"Kamu seperti tidak tahu papamu saja. Apa sih yang tidak dia awasi?"
Amara tak menyahut setelah terdengar suara peringatan bahwa pesawat akan segera lepas landas. Ditambah beberapa orang pramugari yang muncul untuk memastikan keadaan, dan melakukan tugas mereka seperti biasanya.
Sementara Piere duduk di tempatnya, menatap layar ponsel yang dia pasangi fotonya bersama Rania. Hasil jepretan setelah bertemu dengan pembalap perempuan yang paling dia gandrungi itu, kemarin di pesta resepsi Galang dan Amara.
***
Daryl berdiri menyandarkan punggung pada Rubicon hitam miliknya. Namun sejurus kemudian dia menegakkan tubuhnya ketika melihat sosok yang ditunggu keluar dari kedai Amara, dan berpamitan dengan ketiga temannya
Nania yang malam itu berniat pulang setelah menyelesaikan pekerjaan rutinnya berhenti tepat di depan pintu yang sudah dia kunci rapat. Mendapati pria yang sangat dia kenali berada di sana.
"Bapak nunggu siapa?" Dia bertanya setelah jarak mereka cukup dekat.
"Menunggumu." Daryl menjawab tanpa banyak basa-basi.
Hatinya berdebar kencang dan dia mencoba untuk tetap tenang.
"Hmm … ada apa?" Nania dengan pandangan meyelidik.
"Ada yang mau aku bicarakan." katanya, dan pria itu berdeham untuk melegakan tenggorokkan.
"Soal apa?"
Nania merapatkan mulutnya ketika bayangan kejadian itu berkelebat di pikirannya.
Saat pria di depannya mencium secara tiba-tiba dan tanpa aba-aba sama sekali. Lalu dia menggeleng cepat untuk mengenyahkan pikiran itu di kepalanya.
Nania tertegun sebentar, kemudian terkekeh pelan. Sementara Daryl mengerutkan dahi.
"Apa sih yang harus dibicarakan soal itu Pak? Kayaknya nggak ada yang penting deh?" ucap Nania yang melenggang melewatinya.
"What?" Daryl pun mengikuti gerakannya.
"Kayaknya Bapak bebas untuk mencium siapa aja yang Bapak mau, tanpa mempedulikan perasaan atau hubungan apa pun. Bukankan semua orang sekarang begitu?" Gadis itu berhenti beberapa langkah setelahnya, lalu berbalik.
"Saya ini cuma objek, yang mungkin bisa diperlakukan seenaknya oleh orang seperti Bapak."
"Orang sepertiku katamu?" Daryl membeo.
"Ya, memangnya apa lagi? Orang-orang dari dunia Bapak memang seperti itu kan?" Nania terkekeh.
Dia mendengar cerita tentang pria-pria yang mencari kepuasan sesaat dengan hanya menencani gadis-gadis atau perempuan lajang seperti dirinya.
"No! You just …." Daryl hampir saja mendekat.
Sedangkan Nania mundur sambil merentangkan tangannya ke depan untuk memberi isyarat kepada pria itu agar tidak mendekat.
__ADS_1
"Saya … bukan orang seperti itu, Pak. Dan saya harap Bapak mengerti untuk tidak lagi melanjutkan ini. Saya menghargai Bapak sebagai keluarga dari pemilik tempat saya bekerja, begitu juga sebaliknya. Saya berharap Bapak juga menghargai saya sebagai pekerjanya Kak Ara." Nania dengan tenang. Meski suara-suara di kepalanya berteriak begitu senang ketika bertemu dengan pria itu.
Namun Daryl menatapnya dengan hati ngilu. Ucapan gadis itu seperti sebuah penolakan baginya.
"Aku memiliki perasaan kepadamu." Dia mengucapkan kalimat itu.
Lalu Nania menahan napas. Namun dia segera meraih kesadarannya yang hampir saja menghilang, kemudian menggelengkan kepala.
"Kamu menolakku?" Pria itu berucap.
"Saya … hanya menyadari posisi saya ada di mana."Â
Daryl terdiam.
"Tidak mungkin Anda serius bukan?" Gadis itu terkekeh lagi.
"Ada banyak hal yang bisa Bapak dapatkan, termasuk perempuan. Dan itu bukan saya. Tidak mungkin."Â
"Kamu pikir siapa dirimu sehingga mengucapkan penolakan seperti itu kepadaku?" Daryl merangsek lebih dekat agar mampu menatap wajah gadis di depannya lebih jelas.
Nania membeku dan pandangannya tertuju pada pria tinggi itu.Â
"Saya … bukan siapa-siapa. Hanya …."
Tiba-tiba saja Daryl terkekeh.
"Kamu benar. Kamu … bukan siapa-siapa." Pria itu mengepalkan tangannya dengan erat.
Sesuatu di dalam dadanya berdenyut nyeri, namun dia tak mampu mengatakan hal lain.
"Jadi … nggak ada yang perlu dibicarakan, bukan?" ucap Nania yang mati-matian menekan sesuatu di dalam hati yang perlahan menyeruak.Â
"Right. Bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa. Jadi kenapa harus dibicarakan, begitu?" Daryl memperjelas situasi di antara mereka.
"Ya. Bapak benar."
Pria itu mengangguk-anggukkan kepala.
"Jadi, semuanya jelas bukan? Kita nggak ada urusan lagi setelah ini. Selain saya sebagai pengantar makanan dan Bapak yang memesan? Seperti biasa?"
Daryl kembali terdiam. Merasakan sesuatu seperti menciut di dalam dadanya.
"Jadi … permisi, Pak. Saya pamit." Nania kemudian berbalik. Dan tanpa menunggu jawaban dia bergegas pergi.
Sementara Daryl membeku ditempatnya berdiri, mendengarkan raungan di kepalanya yang memanggil gadis bertubuh mungil yang tampak berlari dan menghilang di tikungan, di antara gedung-gedung pencakar langit.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Jadi ... Gimana? 😜😜
__ADS_1
udah waktunya vote gaess. Jan lupa like komen sama hadiahnya ya?
Alopyu sekebon😘😘😘