My Only One

My Only One
Aturan


__ADS_3

🌺


🌺


“Akrab sekali mereka?” Arfan memperhatikan kedua anak dan menantunya yang baru saja tiba pada sore hari.


Arkhan tampak mengatakan banyak hal kepada Galang sejak mereka turun dari mobil milik pria itu.


“Bagus juga.” Dygta ikut memperhatikan dari balik jendela rumah mereka sebelum akhirnya dua pria beda usia itu masuk.


“Bagus katamu?” Arfan menoleh saat terdengar langkah memasuki rumah mereka.


“Hai Mom. Pah?” sapa Arkhan kepada kedua orang tuanya.


“Hai sayang? sudah pulang?” Dygta menjawab, dengan senyum manisnya dia menyambut kedatangan mereka.


“Yeah ….” jawab Arkhan yang menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.


“Ara tidak ikut?” Arfan segera bertanya kepada menantunya.


“Tidak Pak. Masih tidak enak badan.” Galang menjawab.


“TIdak pergi ke dokter?”


“Ara tidak mau.”


“Kenapa tidak dipaksa? Bagaimana kalau sakitnya parah?”


“Nggak apa-apa Pah, Kak Ara cuma butuh dimanja.” Arkhan tertawa.


“Apa?”


“Masa sebentar-sebentar marah, sebentar-sebentar nangis, sebentar-sebentar nggak mau ngomong? Itu yang sakit?” sambung sang anak sambil memainkan ponselnya.


“Benar begitu?" Dygta pun bertanya.


“Begitulah.” jawab Galang.


"Kenapa dia itu?"


"Aneh kan Mom? Emang perempuan suka gitu ya? Ann juga kan? Ribet amat."


"Kira-kira kenapa?" tanya Arfan lagi kepada menantunya. 


"Tidak tahu, tapi cuma sebentar. Setelah itu biasa lagi."


"Oh … mungkin moodnya sedang tidak baik? Biasanya suka begitu kalau mau datang bulan." Dygta menerangkan.


"Datang bulan?"


"Ya. Biasalah kalau perempuan."


"Hmm …."


"Untung aku bukan perempuan." Arkhan tertawa.


“Kalau begitu saya langsung pulang? Ara berpesan untuk tidak keluar lama-lama.” Lalu dia berpamitan.


"Begitu?"


"Ya, nanti diusir lagi dari kamar." Adik iparnya itu kembali tertawa.


"Eh?"


"Semalam diusir, tadi siang juga. Kak Ara lagi nyebelin deh hari ini."


"Benar Lang?" Kini Dygta yang bertanya.


"Eee … iya." Pria itu terkekeh sambil mengusap tengkuknya sendiri.


"Astaga, Ara!"


"Saya pergi Mom, Ara sudah menelfon lagi." Galang menunjukkan layar ponselnya yang menyala dan nama kontak Amara yang memanggil.


“Jangan lupa bawain oleh-oleh Kak, takutnya nanti nangis lagi?” Arkhan mengingatkan rengekan kakaknya.


“Iya.” Galang pun segera pergi.


“Kakakmu menangis kenapa?” Afan merasa penasaran.


“Nggak tahu, dari kemarin kayak anak kecil. Kalau nggak nangis ya marah-marah. Mana manja lagi? Kalau kemauannya nggak diturutin pasti ngomel-ngomel.” Arkhan menjawab.


“Kakakmu bertengkar?” Lalu dia bertanya.


“Nggak.”


“Terus kenapa kakakmu begitu?”


“Ya mana aku tahu? Itu kan urusan orang dewasa? Mana boleh aku ikut campur?” Remaja itu bangkit dari duduknya.


“Mau istirahat ah, aku capek.” Lalu dia berujar.


“Capek habis apa?”


“Umm ….”


“Pasti begadang, dan maim game?” sahut Dygta dari tempat duduknya.


“Gitu deh.” sang anak kemudian bergegas pergi ke kamarnya di lantai dua.


“Sudah berapa lama mereka menikah?” Kini Arfan beralih kepada istrinya.


“Entahlah, satu bulan?” Dygta menyesap teh hangat yang dibuatnya beberapa saat yang lalu. “Kenapa?’


“Masa satu bulan sudah bertengkar?” Pria itu berujar.


“Memangnya kenapa? Namanya juga dua orang disatukan dalam satu ikatan, apalagi mereka tinggal satu atap, ya pasti ada saja masalah. Bisa berselisih faham, bisa juga bertengkar.”


“Hmm ….”


“Itu biasa kan? Semua orang juga begitu? Jangankan yang masih muda, kita saja sering bertengkar."


"Kita?" Arfan menoleh. "Aku tidak ingat kita pernah bertengkar?"


"Umm … aku juga." Dygta kembali menyesap teh hangatnya. "Lagi pula siapa yang akan berani membantahmu? Lebih baik aku cari aman saja." Perempuan itu bergumam pelan.


"Apa?"


"Tidak ada."

__ADS_1


"Kamu bilang sesuatu tadi?" Pria itu mencondongkan tubuhnya.


"Tidak. Kamu salah dengar mungkin?"


"Pendengaranku ini masih jelas tahu?"


"Terus kenapa bertanya?"


"Hanya mau mendengarnya lebih jelas."


Dygta terdiam.


"Sayang?"


"Ya?" Perempuan itu mendongak.


"Apa menurutmu aku terlalu keras kepada anak-anak?" ucapnya, dan dia bersandar pada sofa.


"Kamu pikir begitu?"


"Entahlah. Aku rasa aku sedang melakukan hal benar. Mendidik dan melindungi mereka dengan caraku. Tapi akhir-akhir ini sepertinya ada yang salah."


"Bagian mananya yang menurutmu salah?"


"Aku tidak tahu."


"Kok tidak tahu? Kamu yang membuat aturan, kamu juga yang menerapkannya."


"Hanya saja hasilnya tidak seperti yang aku inginkan."


"Misalnya?"


"Arkhan."


"Kenapa dengan Arkhan?"


"Dia sepertinya ingin memberontak."


"Benarkah?"


"Ya. Kamu tahu, apa pun yang aku lakukan untuk anak-anak adalah agar mereka tetap aman. Pergaulan sekarang ini sangat mengkhawatirkan. Dan aku takut mereka terpapar hal-hal yang tidak baik, jadi …."


"Kamu melakukan apa yang kamu lakukan kepadaku dulu?" 


"Sedikit."


Dygta terdiam.


"Aku rasa kamu memang terlalu keras kepada anak-anak."


"Begitu?"


"Ya. Mereka bukanlah aku yang akan menurut begitu saja pada aturanmu. Ingat juga, anak-anak adalah perpaduan gen kita berdua. Ada sebagian yang akan menurut, dan ada juga yang keras kepala seperti kamu." Dygta tertawa pelan.


"Jadi caraku salah untuk mereka?"


"Tidak juga. Tapi ada beberapa yang kurang tepat."


"Jadi ada yang harus aku rubah?"


"Sedikit saja."


Arfan terdiam.


"Kalau menurutmu ada yang tidak tepat, mengapa kamu tidak memgingatkan aku?"


"Bukan tidak tepat Papa, tapi kurang tepat."


"Iya, kenapa kamu tidak mengingatkan aku?"


"Apa kamu bisa diingatkan? Apa kamu bisa dibantah? Aku rasa tidak. Kamu akan tetap pada pendirianmu sekalipun tidak ada yang setuju. Lalu aku bisa apa?"


"Aku hanya merasa harus memastikan semuanya berjalan sesuai rencanaku. Aku tidak ingin kecolongan sama sekali, tapi …."


"Mereka itu manusia, dan apa pun bisa saja terjadi. Tugas kita hanya membimbing, mendidik dan menunjukkan jalan yang benar. Tapi pada akhirnya hanya mereka yang berhak menentukannya sendiri. Entah itu sesuai dengan rencana kita atau tidak. Setidaknya kita sudah menjalankan kewajiban sesuai dengan kemampuan yang kita punya."


"Dan aku memang terlalu keras kepada Arkhan." gumam Arfan.


"Dan kamu akan sedikit melonggarkan aturan?"


Pria itu menatap wajah Dygta untuk beberapa detik.


"Mungkin sebaiknya …."


"Tidak akan." Arfan kembali berasandar pada sofa.


"Aku tidak akan merubah aturanku walau hanya sedikit. Setidaknya sampai anak-anak cukup umur untuk bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri. Meskipun itu membuat mereka merasa kalau aku ini terlalu keras."


Dygta mendengus pelan.


"Kalau begitu kenapa kamu mengajakku berbicara soal ini?" Perempuan itu memutar bola matanya, kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Neng?" Galang mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Memerikda keadaan istrinya yang dia tinggal untuk mengantarkan Arkhan pulang.


"Hum?" Amara menjawab dengan gumaman pelan.


"Aku kira kamu tidur?" Pria itu masuk ke dalam kamar.


"Tidur terus bosen." Amara yang awalnya memejamkan mata.


"Aku bawa makanan, kamu mau?"


"Makanan apa?"


"Macam-macam."


"Mau-mau."


"Baiklah, ayo?" Pria itu membantunya bangun kemudian membawanya keluar dari kamar mereka.


"Kakak mampir ke kedai?" Mereka duduk di depan televisi dengan meja penuh dengan makanan.


"Ya."


"Kenapa malah makanan dari kedai? Aku pikir yang lain?"


"Duh?"

__ADS_1


"Lain kali kalau mau bawain apa-apa tuh tanya dulu. Akunya mau apa nggak? Maunya apa, makanan kayak gimana. Jangan asal bawa aja."


Galang menarik dan menghembuskan napasnya pelan-pelan. Sepertinya kali ini dia salah lagi?


"Aku pikir karena makanan dari Amara's Love itu menu buatan kamu, jadi kamu pasti akan senang kalau aku bawakan?"


"Siapa bilang?"


"Aku."


"Nggak juga. Justru karena itu menu buatan aku, jadinya malah bosen tahu?"


"Bosan?"


"Iya, karena aku udah tahu apa-aja bahannya, gimana bikinnya, dan siapa yang bikin." Dia mencicipi salah satunya.


"Kalau ini pasti bikinan Ardi."


"Bagaimana kamu tahu?"


"Ardi kalau bikin makanan kadang nggak fokus. Kadang garamnya kelebihan, atau bahannya yang dikurangin. Dia sering ragu-ragu main bumbu. Jadi terkesan kurang rasa. Kalau Nania yang bikin semuanya pas. Dia bahkan nggak perlu sendok takah biar rasa masakanya pas. Feelingnya soal bumbu sama bahan itu sangat tajam. Jadi dia bisa diandalkan kalau soal masak."


"Duh, sampai hafal?"


"Iyalah, mereka pegawai aku."


"Terus kenapa kamu nggak membiarkan Nania yang memegang kitchen? Malah membuat mereka masak bergantian?"


"Biar semua orang bisa, dan nggak cuma satu orang aja yang bisa aku andalkan."


"Tapi kamu seperti sembarangan menempatkan semua orang."


"Nggak. Mereka mampu pada porsinya masing-masing, dan aku nggak khawatir soal apa pun."


"Soal perbedaan cara masak bagaimana?"


"Setiap orang punya selera yang berbeda. Ada yang cenderung ke masakannya Ardi, ada juga yang sangat menyukai buatannya Nania. Dan itu bagus."


"Kamu lebih suka yang mana?"


"Buatan Kakak. Hehe." Amara terkekeh.


"Lah?"


"Jadi Kakak percuma hari ini beliin aku makanan. Soalnya aku lagi pengen masakan Kakak."


Galang mendengus pelan.


"Ayo, sana masak? Aku udah lapar."


"Terus makanan ini bagaimana?"


"Kakak aja yang makan."


"Kebanyakan, Neng."


"Kasih aja ke petugas apartemen. Mereka pasti seneng."


Pria itu mengerucutkan mulutnya.


"Cepetan Ayang, masak!" Amara mengerling manja.


"Haihhh! Untung sayang!" Dia bangkit seraya mengusak puncak kepala Amara.


"Kalau nggak sayang?" Perempuan itu mengikuti dengan pandangan.


"Aku jual kamu!"


"Dih, emangnya aku ayam dijual?"


"Iya, ayam love you to the moon." Galang melenggang ke arah dapur.


"Apaan?"


Pria itu tak menyahut.


"Kakak?"


"Ya?"


"Tadi bilang apa?"


"Nggak."


"Kakak ih curang?"


"Kita nggak lagi main bola."


"Tapi Kakak tetep curang!"


"Terserah."


"Ya udah, nanti malam nggak aku kasih main bola ya?" ucap Amara sambil tertawa.


"Apa?" Galang menghentikan kegiatannya.


"Nanti malam nggak aku kasih main bola." ulang Amara, dan dia tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.


"Main bola?"


"Eh lupa, Kakak kan oon. Jadi mana ngerti soal main bola yang itu?"


"Neng! Kamu sebut aku oon lagi!" Galang setengah berteriak.


"Kenyataannya begitu."


"Dosa tahu!"


Amara hanya tergelak.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....


Main bola apaan Neng? 🤣🤣

__ADS_1


Cuss yang udah ada vote dikifin.


Alopyu sekebon 😘😘😘


__ADS_2