
🌺
🌺
Amara menginjakkan kakinya di bandara setelah menempuh perjalanan kurang lebih 16 jam lamanya langsung dari Paris, Prancis.
Rasa lelah yang mendera tak mengurangi semangatnya untuk tetap terjaga menikmati perjalanan pulang pada tengah hari yang terik dari tengah kota Jakarta ke kediaman orang tuanya.
"Nanti jangan dulu di beresin semuanya ya?" ucap Amara kepada asisten rumah tangga yang membawakan beberapa tas miliknya ke kamar.
"Kenapa? Mau sekalian pulang ke mama mu?" Arfan yang melintas berhenti di ambang pintu.
"Nggak," jawab Amara yang juga melakukan hal sama.
"Terus?"
"Nanti aku aja," jawab Amara.
"Papa kira karena mau pulang ke mama?"
"Kita lihat nanti aja lah."
"Sudah telfon mama mu Kak?" Dygta muncul, dan seperti biasa, mengingatkan.
"Udah barusan. Mama sih mintanya aku langsung pulang ke sana, tapi tunggu nanti lah, mau istirahat dulu." Kemudian dia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Papa?" Amara menghentikan langkah sang ayah yang hampir saja keluar dari kamarnya.
"Ya?" Arfan kembali.
"Kalau aku mau hidup mandiri boleh?" Amara tanpa menatap wajah sang ayah.
"Apa?"
"Papa tahu, keluar dari rumah, hidup sendiri ...."
Arfan tertegun.
"Tapi nanti kalau aku udah kerja, hehe ...." Amara dengan takut-takut.
"Maksudmu hidup jauh dari kami?" Dygta kembali, dia pun sama terkejut seperti suaminya.
"Nggak jauh, cuma tinggal terpisah aja. Mommy tahu, kayak waktu aku lagi di Paris. Sendiri?"
Arfan dan Dygta saling pandang.
"Memangnya kenapa kalau masih tinggal di sini? Apa itu membuatmu tidak nyaman?" Arfan berjalan mendekat.
"Nggak juga."
"Terus kenapa kamu minta hal seperti itu?"
"Nggak apa-apa, cuma mau gitu aja."
"Kamu pikir setelah dua tahun hidup sendiri di luar negri itu bagus ya?" Sang ayah bereaksi.
"Lumayan, aku mulai terbiasa. Dan itu memang bagus."
Arfan tertegun untuk beberapa saat.
"Tapi kamu baru saja pulang?"
"Nggak sekarang Pah, tapi nanti."
"Kapan?"
"Ya nggak tahu, minimal aku bilang dulu kan sama Papa?"
"Hmm ... baiklah, Papa pikirkan soal itu."
"Oke, aku mau istirahat dulu." Amara memejamkan mata, sementara kedua orang tuanya berjalan keluar.
"Apa itu barusan?" Arfan menutup pintu kamar putri tertuanya itu rapat-rapat.
"Dia meminta hidup mandiri?" Dygta menyahut.
"Seperti yang kamu dengar sendiri." Pria itu menjawab.
"Dan kamu akan mengijinkannya?"
"Menurutmu bagaimana?"
"Entah. Tapi kamu tahu sendiri bagaimana dia kalau punya keinginan?"
"Hmm ... menurutmu aku harus mengijinkannya?"
"Tidak tahu." Dygta melenggang ke kamar mereka di ujung depan lantai dua.
"Apa menurutmu aman kalau kita mengijinkannya?" Arfan mensejajari langkahnya.
"Kamu yang lebih tahu soal itu." Dygta menjawab, dan segera memasuki kamar mereka begitu pintunya terbuka.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apakah ini tepat untuk dilakukan atau tidak, tapi ...."
"Ah, kasurku yang nyaman!" Perempuan itu segera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Aku rasa dia bisa bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Tinggal sendirian di Paris selama dua tahun membuktikannya. Tidak terjadi apa-apa bukan?"
"Hmm ...."
"Dan aku rasa dia tahu apa yang akan dia lakukan."
"Menurutmu begitu?"
"Ya."
"Jadi aku harus mengijinkannya hidup mandiri?"
"Terserah kamu. Tapi kalau pun misalnya kamu tidak akan mengijinkannya, beri dia alasan logis. Tahu sendiri bagaimana keras kepalanya dia kan?"
Arfan duduk di tepi ranjang.
"Tidak usah dipikirkan sekarang, Ara bilang kan nanti kalau dia sudah bekerja?" Dygta bangkit kemudian duduk tegak di samping suaminya.
"Dan setelah ini dia pasti akan segera bekerja. Agar bisa cepat-cepat keluar dari rumah dan hidup mandiri?"
"Kamu tahu itu kan?" Dygta tertawa seraya merangkul pundak pria itu. "Jelas pikirannya sama denganmu, dia itu anakmu tahu?"
"Dan aku harus merelakannya pergi?"
"Dia itu sudah dewasa, tidak ada alasan bagi kita untuk menghentikannya. Lagi pula, cepat atau lambat dia akan pergi juga. Entah itu bekerja dan hidup mandiri, atau mungkin menikah?"
"Konsepnya berbeda. Hidup mandiri itu dia yang semuanya serba sendiri. Sedangkan menikah ada yang menemani dan menjaganya. Dan kalau bisa, aku memilih opsi kedua saja, itu lebih baik."
"Maka, biarkanlah dia menjalani apa yang diinginkannya, dan memilih bersama siapa dia akan melaluinya."
"Aku tidak pernah melarang kan?"
"Tapi sikapmu menunjukkan sebaliknya."
"Maksudmu apa?"
"Sukapmu kepada Galang?"
"Hah?"
"Sikapmu kepadanya tidak bersahabat, bahkan sering kali acuh."
"Memangnya harus bagaimana? Lagi pula mereka sudah putus kan? Kenapa juga aku harus beramah tamah kepada orang asing?"
"Aku kan memang seperti itu? Kamu tahu sendiri?"
"Padahal selama ini kamu sudah mengenal dia. Bahkan kamu sendiri yang mendidiknya sebelum dia resmi jadi asistennya Dimitri kan?"
"Terus? Itu harus berpengaruh pada caraku memperlakukannya?"
"Setidaknya jangan berlagak seolah dia berbahaya."
"Apa katamu?"
"Ah, kalau membahas itu ujung-ujungnya kita akan berselisih paham kan?" Dygta melepaskan tangannya, kemudian bangkit.
"Hey, bukannya kamu yang memulai? Sepertinya kamu sangat menyukai anak itu? Bahkan setelah mereka putus kamu masih saja sering membicarakannya. Seperti tidak ada bahasan yang lain saja?"
"Sepertinya aku hanya asal bicara." Dygta terkekeh.
"Asal bicara katamu?"
"Ya, lupakan sajalah." Dygta melenggang ke kamar mandi.
"Lupakan katamu? Tapi nanti tiba-tiba saja kamu membahasnya lagi?"
Namun Dygta tak lagi merespon.
"Hey, Dygta!" Arfan pun bangkit dari duduknya.
"Sudahlah Papa, jangan dibahas lagi, aku mau mandi!" Perempuan itu berteriak dari dalam ruang berbilas.
"Yeah, yang benar saja." Arfan menggumam.
Namun kemudian dia menoleh ke arah ruangan di ujung kamar mereka, dan satu ide muncul di kepalanya.
Pria itu bergegas mengikuti Dygta ke dalam sana yang sudah memulai ritual membersihkan dirinya.
"Hey, apa maumu?"
"Sepertinya urusan kita belum selesai?"
"Benarkah?"
"Hmm ...." Pria itu menutup pintu kamar mandi rapat-rapat setelah melepaskan seluruh pakaiannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Saya pamit Bu?" Galang bangkit setelah beristirahat sebentar di teras kediaman Vita.
Mereka tiba pada sore hari setelah menempuh perjalanan pulang sejak pagi hari langsung dari area Bromo.
"Baru sebentar?" Sang tuan rumah menjawab.
"Iya, harus ke Bandung dulu."
"Lho? Dari sini kamu mau langsung ke Bandung?" Clarra pun ikut bicara. Setelah dia membersihkan diri dan berganti pakaian.
"Ya." Galang mengenakan helmnya.
"Besok mulai kerja lho?"
"Aku tahu."
"Capek-capek?"
"Ibu terus bertanya, kenapa aku tidak pulang? Dia mengira aku kenapa-kenapa." Pria itu tertawa.
"Huh, dasar anak ibu?"
"Begitulah, hahaha ...."
"Cih, bangganya?" Clarra mencibir.
"Ya apa lagi? Hanya mereka yang akan mencintaimu tanpa syarat." Dia menaiki motor dan menyalakan mesinnya.
"Hmm ...."
"Pergi dulu Cla." ucapnya, yang telah siap dengan kendaraan roda duanya.
"Baik."
"Ingatlah satu hal." Pria itu sebelum pergi.
"Apa?"
"Senyuumm!" Katanya yang kemudian kembali tertawa sebelum akhirnya merapatkan helm dan mengangguk ke arah Vita.
Lantas pria itu segera pergi memacu kuda besinya keluar dari pekarangan rumah, sementara Clarra menatapnya hingga dia menghilang di balik pagar.
"Dia sepertinya orang yang menyenangkan?" Vita membuyarkan lamunannya.
"Memang. Aku tertawa terus kalau mengobrol dengannya." Clarra menggumam.
"Dan dia bisa membuatmu tertawa?" Sang ibu menatap wajah putrinya yang masih betah menatap jalanan di depan rumah mereka yang cukup lengang.
"Itu bagus." Vita tersenyum karenanya.
"Maksud Mama?"
"Jika seseorang terasa menyenangkan dan dia bisa membuatmu tertawa, itu bisa jadi dia juga akan membuatmu bahagia."
"Hah?" Clarra menoleh kepada ibunya.
"Pertahankan." Vita mengusap-usap punggung putrinya.
"Mama bicara apa sih?"
"Tidak, hanya menyemangatimu."
"Menyemangati aku?"
"Ya. Jika seseorang pernah membuatmu sakit hati dan menangis, maka akan ada orang lainnya yang mengusap air matamu dan mengusahakan kebahagiaan untukmu. Jadi, semangatlah."
Clarra tertegun.
"Kamu tahu, usia hayalah sebuah angka. Tidak ada jaminan yang pasti siapa yang mampu membuatmu bahagia. Entah itu yang lebih tua, atau lebih muda darimu. Yang penting kalian saling menerima."
"Mama jangan bicara sembarangan." Kedua pipi Clarra tiba-tiba saja memerah.
"Mama serius."
Perempuan itu menggelengkan kepala sambil memutar bola matanya.
"Mama suka Galang, sepertinya dia pria yang baik."
"Mama!"
Vita hanya tertawa, semetara Clarra bergegas masuk ke dalam rumah.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Nah lu? Emaknya udah suka. Oh My God! 😱
__ADS_1