My Only One

My Only One
Making Love


__ADS_3

🌺


🌺


"Kamu yakin nggak apa-apa kalau sekarang?" Galang kembali meyakinkan Amara dengan ucapannya.


"Umm … sebenarnya aku takut kakinya sakit lagi, tapi …."


"Aku usahakan agar tidak menyakitimu." ucap Galang yang lagi-lagi menelan ludah dengan susah payah. Pikirannya sudah melanglang buana sekarang ini dan sepertinya tidak akan bisa dipulihkan dengan cara yang biasa.


"Kakak janji?"


Pria itu mengangguk seperti orang bodoh. Meski dirinya pun sebenarnya tidak tahu akan bagaimana nantinya, tapi setidaknya, kesempatan ini harus segera diambil.


"Tapi nanti jangan berhenti di tengah jalan ya? Aku bisa gila kalau tiba-tiba berhenti." ucapan yang konyol, tapi dirinya harus memastikan jika malam ini tidak akan ada hambatan lagi.


"Umm …."


"Oke sebentar." Galang turun dari tempat tidur.


Dia memeriksa beberapa hal termasuk pintu yang sudah dikuncinya beberapa saat yang lalu. Memastikan tidak aka ada orang yang masuk tiba-tiba dan menginterupsi kegiatan mereka malam itu.


"Ya hallo?" Lalu dia pun melakukan panggilan.


"Ya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Malam ini istri saya harus benar-benar istirahat karena besok akan menjalani operasi, jadi kami sama sekali tidak bisa menerima kunjungan dari siapa pun."


"Baik Pak, di mengerti." Orang di seberang menjawab.


"Benar-benar tidak bisa." Galang mengulangi ucapannya, dan pria itu sangat serius.


"Baik Pak."


"Oke, terima kasih." katanya, dan dia mengakhiri percakapan.


Lalu Galang tampak mondar-mandir di ujung ranjang. Tampak sekali jika dia sangat gugup, lalu mengisi air minum di gelas kemudian meneguknya hingga tandas.


Setelahnya pria itu mendekat kepada Amara seraya melepaskan kaus tidurnya.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau?" katanya, dan dia naik ke tempat tidur.


Galang segera merapatkan tubuhnya kepada Amara, lalu di detik berikutnya dia menunduk dan segera memulai pemanasan.


Pria itu mencumbu Amara seperti yang dilakukannya sebelum malam itu. Dia membingkai wajah perempuan itu dengan tangannya yang bergetar. Rasa gugup dan bersemangat bercampur menjadi satu.


Amara merespon ciumannya dengan baik, dan segera saja mereka saling memagut dengan penuh perasaan. Suara decapan mengudara begitu saja dan napas mereka terdengar menderu-deru.


Galang menjeda cumbuannya dan dia segera melepaskan pakaian mereka hingga tidak tersisa sehelaipun kain yang menghalangi. Meski ruangan itu cukup temaram, namun mereka masih bisa melihat tubuh masing-masing.


Pria itu kembali meraup wajah Amara dan melanjutkan ciuman. Mengulanginya dari awal sehingga keduanya muali tenggelam dalam hasrat yang tiba-tiba menanjak.


Amara merasakan desiran-desiran merambat di sekujur tubuhnya ketika Galang mulai melancarkan sentuhan. Telapak tangannya meninggalkan jejak panas yang tidak hilang setelah beberapa saat, namun malah membuat tubuhnya bergelenyar hebat.


Apalagi ketika pria itu meremat buah dadanya dan mempermainkan puncaknya yang telah mengeras.


"Ah …." Perempuan itu mendes*h ketika cumbuan Galang turun ke leher dan menyusuri tulang selangka.

__ADS_1


Merayap di dada hingga kemudian menemukan gundukkan indah itu. Galang segera melahapnya seperti yang pernah dia lakukan di malam sebelumnya, dan itu membuat tubuh Amara menggeliat diikuti suara yang terdengar begitu erotis.


Tangan kiri Amara menelusup disela rambut hitam pria itu yang sedikit memanjang. Merematnya dengan keras saat sesapan di dadanya yang meningkat,  seiring gairahnya yang juga menanjak.


Perempuan itu menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan ******* yang hampir lolos dari mulutnya. Namun gagal karena hasrat terus bergolak akibat sentuhan pria diatasnya.


Galang pun merasakan hal yang sama. Matanya sudah berkabut dan dia sudah tak lagi mampu menahan diri. Alat tempurnya bahkan sudah sangat menegang dan dia siap untuk menyerang.


Tangannya semakin turun ke bawah. Mengusap paha lalu menyelinap meremat bokong, kemudian kembali merayap di perut rata Amara. 


Lama kelamaan sentuhannya semakin turun dan akhirnya dia menemukan titik paling sensitif di tubuh istrinya. Dia terdiam sejenak dan merasakan debaran jantungnya yang berpacu semakin cepat ketika jemarinya meyentuh pusat tubuh Amara.


Perempuan itu sudah siap.


Galang kembali menelan ludah dengan keras dan dia bersiap untuk melakukannya. Membuka kedua paha Amara dengan hati-hati agar perempuan itu tidak merasa kesakitan pada kakinya yang cedera, kemudian merangsek masuk dan mengarahkan senjatanya yang sudah begitu menegang.


Lalu dia berhenti ketika ujung benda itu menyentuh pusat tubuh Amara, dan Galang menatap wajahnya yang tampak pasrah dalam keremangan. Mereka sama-sama merasa tidak sabar.


Galang mendorong pinggulnya perlahan saat naluri alaminya kembali bekerja, dan dia benar-benar melakukannya dengan hati-hati. Meski gejolak di dada segera menggila saat alat tempurnya perlahan masuk dan dia merasakan kehangatan yang menjalar seiring semakin dalamnya dia masuk.


"Mmh …." Amara mengerang saat sesuatu menyeruak memasuki pusat tubuhnya. Membuatnya mulai merasa sakit karena ini pertama kalinya ada benda asing yang masuk ke dalam dirinya.


Galang berhenti ketika dirinya baru masuk setengah dan ujung senjatanya merasa menabrak sesuatu. Dia kembali menatap wajah Amara yang keningnya mulai berkerut.


Napas mereka menderu-deru dan keringat sudah membasahi kening keduanya. Udara bahkan mulai terasa panas di ruangan itu meski air conditioner tetap dinyalakan.


Galang mengumpulkan kekuatan sebanyak yang dia bisa seolah akan menyerang benteng di peperangan. Dan di detik berikutnya dia menekan pinggulnya untuk masuk lebih dalam.


Namun tidak berhasil. 


Ada sesuatu yang cukup sulit untuk dia tembus dan Galang yakin itu adalah bagian terdalam dari Amara yang belum terjamah oleh siapa pun.


Galang semakin menunduk, dan dia bertumpu dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang satunya lagi dia tautkan pada tangan kiri Amara.


"Stop Kak, aku sak …." Terlambat, pria itu mendorong lagi dan kali ini lebih keras sehingga alat tempurnya masuk seluruhnya.


Mulut Amara terbuka ketika dia merasakan panas dan sakit juga terkejut disaat yang bersamaan. Sementara Galang sempat menahan napas ketika dia juga merasa telah merobek sesuatu di dalam sana.


Pandangan keduanya kembali beradu dan wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Dan dada masing-masing telah menempel dengan erat seiring napas yang semakin berhembus kencang. Jantung pun terasa berdetak tiga kali lebih cepat dari sebelumnya.


Galang menarik pinggulnya, kemudian mendorongnya kembali dengan perlahan. Naluri alaminya benar-benar bekerja sekarang ini, dan dia segera memahami apa yang harus dilakukan seiring perasaannya yang mulai nyaman di dalam sana.


"Eeuugghhh!" Amara mulai mengerang. Dia tidak mengira rasanya akan seperti ini.


"Sakit Kak!" katanya, dan raut wajahnya berubah setiap kali Galang bergerak.


"Aaaahhh! Nggak mau! Ini sakit!" Perempuan itu bereaksi ketika Galang menambah gerakannya.


"Stop! Aku nggak mau! Ini sakit!" katanya lagi dan dia melepaskan tangannya dari genggaman Galang kemudian menahan perut pria itu.


"Kakimu atau tanganmu?" Galang mengira Amara merasakan sakit pada cederanya.


"Umm …." Perempuan itu berpikir.


"Sebelah mana?" Galang mengusap tangan dan kaki kanannya yang masih berbalut perban.

__ADS_1


Namun Amara tidak menjawab. Dia sendiri bingung dengan rasa sakitnya. Karena bukan pada bagian yang disentuh suaminya, melainkan pusat tubuhnya yang terasa perih.


"Neng?" panggil Galang yang kembali menarik dan mendorong pinggulnya.


"Ini. Aahhhh!" Amara mengerang dan dia kembali menahan perut suaminya.


"Kakak, udah stop! Ini sakit. Aku nggak kuat!" Perempuan itu merintih.


Napas Galang semakin menderu-deru dan jantungnya benar-benar berdegup begitu kencang. Dia bahkan seolah merasakan jika dadanya akan segera pecah saking kuatnya degupan jantungnya.


"Kakak, udah! Aku …."


"Belum selesai! Aku belum selesai!" jawab Galang yang kembali menunduk dan melanjutkan cumbuan tanpa menghentikan gerakannya.


"Tapi sakit Kak!" Amara merintih.


"Hmm … aku belum selesai." katanya lagi, dan dia mengecupi wajah Amara.


Kedua tangannya kembali menjelajahi tubuh perempuan itu. Meremat segala yang dia temukan dan mempermainkannya seperti sebelumnya.


"Ng … Kakak!"


Galang menulikan pendengaran, dan dia terus mencumbui Amara. Membungkam bibirnya yang terus meracau dan merintih. Nalurinya terus menuntun agar dia tetap bergerak memacu tubuhnya.


"Mm …." rintihan Amara semakin jelas terdengar seiring semakin cepatnya Galang menghentak. Namun pria itu tidak berniat untuk menghentikan gerakannya.


Dia malah terus berpacu seiring gairahnya yang kian menggelegak tak tertahankan. Segala rasa bercampur menjadi satu. Bahagia, bersemangat dan tentunya rasa bangga. Karena mereka benar-benar melakukannya untuk pertama kali dan malam ini berlangsung tanpa gangguan.


Galang terus berpacu hingga beberapa saat lamanya dan suara rintihan Amara pun tak terdengar lagi. Namun lama kelamaan rintihan itu perlahan berubah menjadi des*han ketika perempuan itu merasa ada sesuatu yang lain hadir pada tubuhnya.


Rasa sakit dan perih yang sebelumnya dia rasakan berangsur menjadi perasaan yang lain. Yang belum pernah Amara rasakan, dan ini tak bisa dia jabarkan dengan kata-kata.


"Kakak!" Amara meremat lengan pria itu dengan keras ketika sesuatu memaksa meruntuhkan pertahanannya.


Galang tak merespon, namun dia hanya fokus pada perasaannya sendiri. Kedua matanya terpejam dengan alis yang tampak saling bertautan. Pikirannya sudah berhamburan dan akal sehatnya entah ada di mana. 


Yang ada hanya hasrat yang menggulung perasaannya begitu hebat dan gairah yang menguasai alam bawah sadarnya. Sehingga kini hanyalah satu tujuannya, yakni mencapai pelepasan.


"Kakak, ahhh!" Amara mengerang saat dia merasakan gelombang hebat menghantam segala apa yang ada padanya.


Tubuhnya seperti dibelah menjadi dua dan diobrak abrik sedemikian rupa. Tapi rasanya begitu indah dan dia menyukainya, meski dirinya tidak tahu harus menyebutnya apa.


"Kakak, aku pipis!" teriaknya saat merasakan sesuatu berdesir di dalam dirinya dan dia mengetatkan pusat tubuhnya untuk menahan. Meski itu tidak berhasil.


Namun hal itu membuat Galang merasakan kegilaan dibawah sana. Ketika dia merasa alat tempurnya dir*mas dan dipelintir dengan hebat, dan membuatnya tak mampu lagi menahan diri.


Nalurinya mengatakan jika dia harus berpacu lebih cepat lagi, dan Galang mengikuti itu. Dia mempercapat hentakannya meski Amara terus meracau dibawah sana. Lalu di detik berikutnya dia pun mendapatkan klimaksnya. 


Cairan dari dalam dirinya memancar memenuhi Amara, melebur menjadi satu dengan milik perempuan itu, lalu setelahnya dia pun ambruk.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


...Bersambung ......


...Anuu ... Ah, sudahlah😅😅...


__ADS_2