My Only One

My Only One
Berdamai Dengan Keadaan


__ADS_3

🌺


🌺


Clarra tertegun menatap ibunya yang tampak berantakan. Dia memberanikan diri untuk menemuinya meski rasa was-was tetap mengganggu. Tapi Clarra memutuskan untuk benar-benar menghadapi perempuan ini dengan segala kepasrahan yang dia miliki.


Larra tampak berantakan. Dia mengenakan pakaian tahanan dan tak se modis biasanya. Rambutnya hanya diikat ke belakang tanpa make up lengkap seperti yang biasa dia gunakan.


Garis-garis keriput begitu kentara apa lagi wajahnya yang selalu murung. Ditambah keadaannya yang benar-benar berbeda.


"Mama sehat?" Clarra buka suara.


"Seperti yang kamu lihat." Larra menjawab.


"Bagaimana Mama di sini?" 


"Memangnya apa yang kamu kira? Mama bersenang-senang?"


Clarra menarik dan menghembuskan napasnya pelan-pelan. Tidak apa, bukankah dirinya memang sudah tahu jika sifat ibunya seperti ini? Dan dia harus bisa menghadapinya. Lagi pula perempuan ini sekarang sudah tidak berdaya.


"Harus Mama tahu, kalau aku tidak membenci Mama. Tapi ada resiko yang harus Mama tanggung setelah semua yang Mama lakukan. Apalagi terakhir kali Mama sudah mengorbankan orang lain karena ambisi Mama."


Larra tampak tidak senang.


"Tidak apa, jika Mama tidak akan menyadari semuanya. Bahkan setelah Mama ada dalam keadaan seperti sekarang ini. Itu hak Mama untuk membenci. Tapi satu hal, hidup Mama tidak akan tenang selamanya."


"Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan. Semua yang aku lalui karena kelakuan Mama, dan apa yang aku alami jelas semuanya berawal dari Mama. Tapi aku berpikir ulang beberapa hari ini, jika ternyata apa yang aku lakukan untuk menghadapinya adalah salah. Aku tidak benar-benar menghadapi Mama atas semua masalah yang muncul setelah Mama datang dalam kehidupanku, namun malah berlari menghindar. Dan itu jelas salah. Karena yang terjadi adalah aku malah semakin tertekan."


Larra menatap wajah putrinya. 


"Aku baru tahu, kalau berdamai dengan keadaan itu lebih indah. Menerima segala hal dengan lapang dada itu lebih membuat kita lebih tenang, dan menyadari segala kesalahan akan membuat beban kita berkurang. Setidaknya kita tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."


"Tadinya aku sempat berharap jika Mama akan berpikiran sama denganku, tapi sepertinya itu jauh sekali. Melihat Mama yang masih seperti ini, sedikit membuatku kecewa. Tapi tidak apa, itu hak Mama. Yang merasakan adalah hati Mama, dan yang memikirkan adalah ingatan Mama. Dan akhirnya yang akan merasa tersiksa adalah Mama juga, bukan aku. Sementara kami, dan orang-orang yang Mama benci akan tetap melanjutkan hidup mereka dengan tenang dan bahagia."


"Aku memaafkan Mama untuk apa pun yang telah Mama lakukan kepadaku. Dan aku harap mereka juga. Setidaknya kami sudah berbuat hal yang benar. Selebihnya, terserah Mama saja." Clarra berbicara panjang lebar.


Dia mengeluarkan segalanya yang selama ini ada di dalam benaknya.


"Dan aku juga bersyukur Mama meninggalkan aku di rumah sakit, sehingga orang tuaku membawaku pulang dan mengurusku hingga sebesar ini. Aku bersyukur Mama tidak membawaku pergi. Terima kasih." katanya lagi, dan dia hampir saja bangkit ketika Larra mengulurkan tangan untuk menahannya.


Clarra sempat menahan napas untuk sejenak ketika melihat jari tangan perempuan itu. Hampir semua kukunya menghilang, dan dia mengalami luka yang cukup parah. 


Kini tak ada lagi jari lentik dengan kuku yang indah. Atau wajah cantik dengan dandanan elegan.  Yang tersisa hanyalah Larra. Perempuan paruh baya yang tidak memiliki apa-apa.


"Kamu tahu alasannya apa, dan kenapa Mama melakukan itu." ucap Larra dengan suara bergetar.


"Aku tahu, dan semua orang juga tahu. Tapi ada satu hal yang tidak Mama mengerti. Orang bijak ketika berbuat kesalahan akan meminta maaf dan memperbaiki diri. Tapi orang bodoh hanya akan berlari menghindar, dan bahkan mengulangi kesalahan yang sama. Pikirkan saja Mama ada di pihak yang mana. Meskipin aku berharap Mama akan bijak menghadapi masalah ini, tapi kembali lagi, Mama berhak menentukan bagaimana sikap Mama selanjutnya." Kemudian Clarra pun segera keluar. Dia lantas menghampiri Dokter Syahril yang menunggu di luar ruang pertemuan.


"Sudah selesai?" tanya pria itu.


Clarra menjawab dengan anggukkan kepala.


"Baik, ada rencana ke tempat lain lagi?" Mereka berjalan keluar dari kantor polisi setelah menyelesaikan segala prosedur pemeriksaan yang dibutuhkan untuk melengkapi laporan pihak Arfan dan Galang atas insiden kekerasan dan kecelakaan di minggu sebelumnya. Yang semuanya di dalangi oleh Larra.

__ADS_1


"Tidak ada."


"Mau kembali ke kantor?" Keduanya berhenti di dekat mobil milik dokter Syahril.


"Sepertinya tidak untuk hari ini." Clarra hampir masuk ketika pria itu membukakan pintu.


"Kenapa?"


"Aku meminta cuti untuk seharian ini." ucap perempuan itu.


"Benarkah? Kenapa? Nanti Nikolai Grup akan kacau kalau kamu cuti di hari kerja." Syahril sedikit tertawa.


"Tidak akan, sudah ada Galang. Dia bilang dia yang akan kembali ke kantor setelah menyelesaikan urusannya." Clarra menatap ke arah lain di mana dia melihat Galang yang juga baru saja keluar dari kantor polisi.


"Bisa begitu?"


"Bisa. Itu gunanya asisten bukan? Agar kami bisa berbagi tugas." jawab Clarra lagi.


"Ya, memang benar."


"Hmm …"


"Jadi, apa aku harus mengantakanmu pulang sekarang?" Pria itu menutup pintu setelah Clarra masuk dan duduk di kursi penumpang.


"Sepertinya kita harus menjemput Syahnaz dulu ke sekolah. Setelahnya kamu bisa mengantar kami pulang dan kembali ke rumah sakit. Bukankah ibumu pulang hari ini?" jawab Clarra yang membuat dokter Syahril tertegun sebentar.


"Ya, sudah lebih dari dua hari ibu di rumah sakit." Lalu dia menjawab.


Sementara Dokter Syahril hanya tersenyum, untuk kemudian berjalan memutar ke arah kemudi.


Sedangkan di sisi lainnya, Galang yang tengah mengenakan helm dan sarung tangannya memperhatikan kedua orang itu hingga mereka meninggalkan tempat tersebut.


Dia lega, mengetahui Clarra yang tampaknya baik-baik saja. Dan berharap ini menjadi awal yang baik juga bagi mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nania tidak masuk hari ini?" Daryl mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kedai, namun dia tak menemukan gadis yang dimaksud.


"Sedang keluar Pak." jawab Ardi yang meletakkan pesanan pria itu di meja.


"Keluar ke mana? Bukankah di jam makan siang seperti ini kedai selalu ramai? Kenapa dia malah pergi?" Daryl yang hampir saja meminum air mineral yang dia minta.


"Ke rumah sakit." Ardi masih menjawab.


"Kenapa dia ke rumah sakit? Memangnya ayahnya sakit lagi?" Daryl bertanya lagi.


"Bukan Pak."


"Terus?"


Lalu terdengar lonceng diatas pintu kedai berbunyi, dan perhatian dua pria ini teralihkan saat Nania masuk.


"Nah, itu Nania sudah datang." Ardi mrnunjuk gadis itu yang berjalan masuk dengan tergesa.

__ADS_1


"Maaf aku telat. Tadi jalannya macet, habis itu ojolnya telat lagi, cansel melulu." Dia meletakkan tas selempangnya di meja pantry yang segera di amankan oleh Raka.


Nania kemudian mengenakan afron hitamnya dan segera mengikat rambutnya ke atas.


"Nah, kamu bisa kembali ke dalam Di, aku yang ambil alih di sini." katanya, kepada Ardi.


"Oke." pemuda itu pun menurut.


"Hey!" Daryl memanggilnya yang sedang mengawasi keadaan.


"Hey Nania?" panggilnya lagi saat gadis itu tidak merespon.


"Ya Pak? Bapak panggil saya?" Nania kemudian menghampirinya.


"Dari mana kamu siang-siang begini? Ini kan jam sibuk di kedai? Malah keluar." Daryl berujar.


"Saya?" Gadis itu menunjuk wajahnya sendiri.


"Siapa lagi? Memangnya di depan saya ada orang lain selain kamu?" Daryl malah balik bertanya.


"Oh, … saya dari rumah sakit Pak."


"Siapa yang sakit? Kenapa tidak tadi pagi, atau nanti sore saja selagi keadaan sepi? Bukannya di siang hari yang biasanya ramai pengunjung? Seenaknya sekali kamu ini?"


"Lho, saya kan di …."


"Jangan mentang-mentang Ara tidak ada, lalu kamu merasa bisa bebas bekerja semaumu sendiri."


"Nggak gitu Pak, saya …."


"Tidak apa-apa kalau memang penting, tapi harus melihat situasi juga. Pokoknya jangan pergi di jam sibuk. Ingat, Ara mempercayakan kedai ini kepadamu. Seharusnya kamu menjaga kepercayaan itu dengan baik, bukan semena-mena seperti ini."


"Ck! Bapak kebiasanyaan nyerocos kayak gini, tanpa mendengar penjelasan orang lain. Sekali-kali kek kasih kesempatan orang untuk bicara, bukanya cuma Bapan yang bicara." Nania menjawab dengan rasa kesal di hati.


"Dan jangan ingatkan saya tentang bagaimana menjaga kepercayaan bos saya, karena selama ini pun saya menjalankan pekerjaan dengan baik. Jangankan nggak ada,  ada Kak Ara pun kerjaan saya baik kok. Bapak jangan sok tahu."


"What? Kamu berani bicara begitu kepadaku?"


"Kenapa saya nggak berani? Saya nggak salah kok. Orang Bapak emang sok tahu. Lagian kenapa sih Bapak kayaknya nggak asik gitu kalau nggak ganggu saya? Ada aja kerjaan saya yang jadi masalah buat Bapak?"


"Hey!" Daryl meninggikan suaranya.


"Nggak usah teriak-teriak, Bapak bukan bos saya, bukan yang ngegaji saya. Yang bayar tenaga saya itu Kak Ara, atau paling nggak ya Pak Arfan. Cuma mereka yang berhak teriak-teriak sama saya, itu pun kalau saya salah. Kalau nggak salah, saya nggak akan terima." Nania hampir saja pergi, namun dia menghentikan langkah.


"Oh iya, saya juga pergi keluar bukan tanpa alasan. Saya ke rumah sakit mengantar makanan untuk Kak Ara. Soalnya tadi Pak Arfan nelfon minta di bikinin risotto." Kemudian gadis itu benar-benar pergi saat melihat beberapa pengunjung berikutnya yang masuk. Sementara Daryl terdiam dengan mulut menganga.


🌺


🌺


Bersambung ...


nah lu ... mulai bikin anak gadis kesel 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2