
πΊ
πΊ
Ruang perawatan Amara kembali ramai sepeninggal keluarga Satria ketika kedua orang tua Galang tiba. Mayang yang segera memeluk Amara dan Arif yang menepuk-nepuk punggung putranya. Di susul oleh Angga bersama Maharani yang sengaja ikut berkunjung.
"Padahal Ayah sama Ibu nggak usah repot-repot ke sini. Nanti juga kita pulang ke Bandung." Galang berujar.
"Kapan?"
"Ya kalau Ara sudah sembuh."
"Hmmm β¦ lama. Ibunya keburu kangen?" Mayang mencubit pipi sang putra lalu mengguncangkannya pelan-pelan.
"Tapi Ara nya nggak bisa terlalu banyak bicara Bu. Dia nggak bisa gitu, karena bekas operasinya." Galang menjelaskan kondisi istrinya setelah beberapa saat.
"Oh, tidak apa-apa, ibu mengerti kok." Mayang menjawab sambil mengusap-usap pundak menantunya.
"Nggak apa-apa Neng, nanti kita akan banyak ngobrol kalau kamu sembuh dan pulang ke Bandung." katanya, membuat Amara menganggukkan kepala.
"Ibu dan Ayah hanya penasaran kalau belum menjenguk, makanya kami ke sini." jelasnya, dan dia meletakan bungkusan yang dibawanya dari rumah.
"Cuma bawa kue, ibu nggak sempat bikin apa-apa." katanya.
"Padahal ayah bilang tidak usah buru-buru biar bisa bawa yang spesial, tapi ibu tidak mau mendengar." sambung Arif.
"Jangan bawa apa-apa, kalau mau ke sini ya kesini aja." jawab Galang.
"Cuma cemilan biar kamu nggak ngantuk nungguin Ara." Mayang tertawa.
"Iya, nuhun."
"Jadi kalian belum pulang ke rumah nih setelah menikah?" Angga pun mendekat.
"Belum, kan pengobatannya belum tuntas Om. Baru tangan sama kakinya baikan lanjut operasi wajah. Habis itu pemulihan dulu." Galang menjawab.
"Srius? Ahahahah!" Angga tertawa.
"Iya. Biar sekalian selesai semuanya."
"Yang sabar ya Dul, nanti juga pulang." Pria itu menepuk bahu Galang, lalu tertawa lagi.
"Dih, ketawa melulu Om ini? Ada yang lucu ya?"
"Nggak, cuma β¦." Angga menggantung kata-katanya ketika Maharani menepuk punggungnya.
"Biar nggak bolak-balik ya Lang?" Perempuan itu menyela.
"Iya Tante, sebenarnya bisa sih kalau mau pulang dulu. Tapi nanti ribet harus atur-atur lagi segala macam, jadi ya β¦ tetep disini aja lah."
"Iya, kasihan Ara kalau bolak-balik."
"Om sama tante telat, lebih cepet sepuluh menit aja pasti ketemu si Oneng. Barusan mereka ke sini."
"Oh ya? Sarerea?( semuanya?)."
"Iya. Pak Satria sama keluarganya. Si Oneng juga bawa anak-anak."
"Barusan rame dong di sini?" Angga menyahut.
"Lumayan, apa lagi kalau ada Anya. Tahu sendiri tuh anak gimana?"
"Pasti berisik? Hahaha." Angga kembali tertawa.
"Nggak kebayang dia besarnya kayak apa? Baru TK sudah begitu?"
"Beneran, hadeh β¦." Angga menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Eh yang pasti kayak Anomnya lah. Orang mirip banget?" lanjut Galang, dan kini dia yang tertawa.
"Maksudnya?"
"Kelakuannya mirip Om. Eh β¦." Galang cepat-cepat menutup mulut dengan tangannya.
Sementara Angga menyipitkan mata.
"Ya pasti mirip Anomnya lah, kan dia cucu kita." Maharani ikut berbicara.
"Nah, itu. Apalagi cara dia bicara bener-bener mirip si Oneng. Nggak ada yang mirip Pak Dimitri selain seleranya yang bagus soal pakaian. Kecuali Zenya sih. Kalemnya semua turun dari Pak Satria."
"Hmmm β¦." Angga menggumam.
"Eh, ada tante Raninya juga kalau kalem-kalemnya." Galang tersenyum lebar, merasa senang telah berbuat usil kepada ayah dari sahabatnya ini.
Sementara Angga hanya mencebik sebal.
"Kenapa ini jadi bergunjing soal keturunan ya? Biarin lah mau mirip siapa juga, masih ada darahnya ini." Mayang menginterupsi.
"Jadi penasaran kalau kamu punya anak nantinya mirip siapa?" Angga kembali berbicara.
"Ya pasti mirip aku sama Ara lah, masa mirip Om?" Dan Galang menjawab.
"Yakin?"
"Iyalah."
"Gimana kalau misalnya mirip Pak Arfan?"
"Ya nggak apa-apa, kan kekeknya. Mirip Ayah sama Ibu juga bagus. Kalau mirip Om nggak mungkin. Masa anak aku nantinya tengil kayak Om? Hiii β¦ nggak kebayang!" Galang bergidik seolah dia baru saja menemukan hal yang mengerikan.
"Kamu tahu nggak, kalau orang sering ledekin tetangga nanti anaknya bakal mirip?" Angga menyeringai.
"Apaan? Nggak mungkin."
"Nggak lah! Kan Om nggak nyumbang saham, masa iya bisa mirip?"
"Dih, dia nggak tahu? Tanpa nyumbang saham juga anak bisa mirip siapa aja. Apalagi sering ledek-ledekan."
"Mitos!"
"Fakta."
"Mitos Om!"
"Fakta Dudul!"
"Nggak mungkin!"
"Eh ini juga, kenapa malah jadi rebutan hal yang belum tentu ada? Galang sama Ara nya juga baru nikah, mana masih dirumah sakit lagi?" Maharani menghentikan perdebatan antara suami dan anak tetangganya ini yang memang selalu terjadi jika mereka bertemu.
"Nggak ada hubungannya Nin, mau di mana aja juga bisa. Yang namanya laki-laki sama perempuan apa lagi udah sah pasti anuan." ucapan Angga membuat Galang terbatuk dengan keras.
"Apaan sih Om?" Wajah Galang tampak memerah, dan dia faham dengan maksud pria itu.
"Dih? Kura-kura dalam perahu!" Angga tertawa lagi.
"Om ngaco!"
"Nggak apa-apa ngaco, tapi fakta. Hahaha."
"Ck!" Galang berdecak sambil memutar bola mata.
"Cuma nebak Dul." Angga menatap wajah anak tetangganya itu yang semakin memerah.
"Emang bener ya tebakannya?" Pria itu kembali berbicara.
__ADS_1
"Om ih!" Galang bereaksi dan dia hampir saja menutup mulut Angga sebelum akhirnya Maharani kembali menghentikan mereka.
"Astaga, kalian ini!" Perempuan itu menarik suaminya yang lagi-lagi tertawa agar pindah ke belakang untuk menghentikan ocehannya.
"Jangan dengarkan Lang, Om Angga akhir-akhir ini memang begitu?" Dia menjauhkan Galang.
"Bukan akhir-akhir ini, tapi udah dari dulu." Galang dengan raut kesal.
"Iya, kan udah tahu. Jadi nggak usah di dengar lah. Anggap aja kaleng rombeng!"
"Apa?"
Galang akhirnya tertawa terbahak-bahak.
"Istrinya sendiri nyebut kaleng rombeng! Ahahaha."
"Jangan aneh ya Ara, mereka masa kecilnya kurang bahagia, jadi begini tiap ketemu." Maharani kepada Amara yang sejak tadi hanya terdiam.
Entah wajahnya sudah semerah apa sekarang saat menyimak perselisihan diantara dua pria dewasa namun beda usia ini. Yang memang setiap bertemu selalu ada saja yang menjadi bahan perselisihannya.
Beruntung perban masih menutupi wajahnya. Sehingga dia masih bisa bersembunyi meski rasa malu juga menguasai.
"Ayo setelah ini kita berkunjung ke rumah Rania? Sudah lama tidak bertemu bukan?" Maharani berujar.
"Sana Om, kunjungi cucu menantunya. Usilin aja mereka, jangan aku." Galang menimpali.
"Siapa juga yang usil? Dasar baperan." Angga bersiap untuk pergi.
"Kalau begitu Ayah dan Ibu juga ikut berkunjung ke rumah Rania ya?" Mayang dan Arif pun melakukan hal yang sama.
"Lho? Kok malah ikut?" Galang bereaksi.
"Ya masa mau di sini lama-lama? Kan Ara juga harus istirahat? Ya Ara? Ibu pamit, nanti ketemu lagi?"
Amara menganggukkan kepala.
"Cepat pulih ya, agar bisa berkunjung ke Bandung." Mayang memeluk menantunya cukup lama.
"Iya Bu."
"Lang, kami pamit ya?" Arif pun merangkul putranya.
"Iya lah kalau kalian memaksa."
Mayang menepuk-nepuk punggung putranya.
"Jangan dulu macam-macam, Ara masih sakit." Kemudian perempuan itu berbisik.
"Ibu?"
"Kami pamit?" Kedua orang tuanya tertawa seraya melenggang ke arah pintu mengikuti Angga yang menunggu.
"Inget Dudul, ini rumah sakit bukan hotel. Jangan pengantinan di sini!" ucap Angga sebelum pergi.
"Om ih!" Membuat Galang menarik salah satu bantal yang mampu dia jangkau untuk kemudian dilemparkannya ke arah pintu yang sudah tertutup rapat.
πΊ
πΊ
πΊ
Bersambung ...
nggak macem-macem kok, cuma semacem ππ
Jangan lupa jengukin Mbak Anne di yt sama Felisha di ungu ya.
__ADS_1
Alopyu sekebonππ