My Only One

My Only One
Bersama Daryl


__ADS_3

🌺


🌺


"Lang?" Clarra menyentuh lengan pria itu yang tampak melamun.


"Ya?"


"Sudah yakin?" tanya nya yang hampir saja memberikan persetujuan pada bagian keuangan untuk mentransfer sejumlah uang.


"Apa?"


"Kamu yakin mobilnya mau yang ini? Sebelum kita membayarnya."


"Oh, …." Galang melirik pada mobil yang sudah dipilihnya barusan. 


Setelah melewati test drive dan negosiasi yang cukup alot, akhirnya dia menjatuhkan pilihan pada kendaraan beroda empat itu.


All New Ertiga Smart Hybrid GX-AT berwarna hitam yang mencuri perhatiannya begitu Clarra membawanya masuk ke dalam salah satu dealer yang masih berada dibawah naungan Nikolai Grup itu.


"Siapa tahu mau pilih lagi?"


"Tidak, aku mau yang itu."


"Baiklah kalau kamu sudah yakin." Perempuan itu segera mengirimkan balasan kepada orang di seberang sana agar mentransfer sejumlah uang untuk pembayaran mobil. 


"Sudah." Clarra menunjukkan bukti pembayaran di layar ponselnya.


"Nah, setelah ini harus lebih rajin bekerja ya? Agar tidak cepat habis setelah potongan." Dia tertawa.


"Asal ada sisa untuk aku kirim kepada orang tuaku. Tidak apa." Galang pun ikut tertawa.


"Nggak apa-apa, sisanya masih banyak setelah dipotong kok. Masih bisa mengirim orang tuamu, juga untuk mengisi lagi tabunganmu yang sudah dikuras habis barusan." Clarra tertawa.


"Hmm …."


"Aku pikir kalau beli cash harganya tidak akan terlalu tinggi. Dari pada kredit, sayang kan bunganya terlalu besar. Lebih baik tabunganmu yang diambil, tambahan dari perusahaan tidak terlalu besar jadinya."


"Hmm … kamu tahu yang terbaik." Galang memeriksa saldo rekeningnya yang hampir habis.


"Memang." Lalu perempuan itu mendatangi manager dealer untuk mengurus segala hal.


"Silahkan Pak Galang, mobilnya sudah bisa langsung dibawa sekarang. Untuk surat-surat akan kami antarkan kurang dari 24 jam." Seorang pria menyerahkan kunci mobil kepada Galang.


"Baik. Terima kasih."


"Senang sekali bertransaksi dengan Anda, ditunggu transaksi berikutnya." ucap manager.


Galang menjawabnya dengan anggukkan.


Dia kemudian mengendarai mobil tersebut keluar dealer, sementara Clarra dengan mobilnya sendiri.


***


"Baiklah, nanti aku akan menyuruh seseorang untuk mengambil motornya." Galang berpamitan setelah menghabiskan minumannya.


"Oke. Kamu langsung pulang?" Clarra menatap jam di layar ponselnya yang sudah menunjukkan jam sembilan malam.


"Memangnya ke mana lagi?" Galang terkekeh.


"Baiklah." Clarra mengangguk-anggukkan kepala.


"Orang tuamu sudah tidur?" Pria itu melirik pintu rumah yang sedikit terbuka.


"Sepertinya iya." Clarra melakukan hal yang sama.


"Baik, sampaikan kalau aku pamit ya?" ucap Galang.


"Iya, akan aku sampaikan."


"Aku pergi." katanya, yang kemudian melenggang ke arah mobil barunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kakak kenapa balik lagi ke sini?" Amara hampir saja mengunci pintu depannya ketika melihat Daryl berdiri di depan kedainya.


"Mau menemuimu lagi." Pria itu berjalan ke hadapannya.


"Mau ngapain?"


"Melihat keadaanmu."


"Hah?" Amara mengerutkan dahi.


"Are you oke?" Pria itu bertanya.


"Aku?"


"Ya, siapa lagi?"


"Aku baik." Amara tertegun. "Kakak mau masuk?" tawarnya, lalu dia mundur untuk memberi jalan kepada Daryl.


***


"Bukannya tadi Kakak pulang ya?" Amara Meletakkan dua cangkir kopi masing-masing untuknya dan Daryl.


"Aku balik lagi. Hahaha …." Pria itu tertawa.

__ADS_1


"Orang rumah tahu?"


"Ck! Kamu bicara begitu seperti aku ini abege saja?" Daryl menarik cangkir kopi, lalu meniupnya beberapa kali sebelum akhirnya menyesapnya sedikit demi sedikit.


Amara tertawa.


"Aku baru tahu kalau mantan pacarmu itu ternyata berhubungan dengan Clarra?" ucapan Daryl menghentikan Amara yang hampir menyesap kopi miliknya.


"Aku dengar tadi siang dari obrolan pegawai."


Lalu Amara menyesap minuman panas itu beberapa kali.


"Aku ingat terus kepadamu, apalagi setelah siang tadi mereka datang kesini. Makanya aku kembali." Daryl menjelaskan.


Mereka terdiam untuk beberapa saat, namun kemudian tawa Amara pecah dengan sendirinya.


"Kakak lebay, padahal aku nggak apa-apa." katanya.


"Serius?"


Gadis itu menganggukkan kepala.


"Kan putusnya juga udah lama. Sebelum aku pergi ke Paris."


"Iya sih, tadinya aku pikir …." Daryl menggantung kata-katanya.


"Ssstt! Jangan bahas itu lagi lah." Amara bangkit.


"Kakak mau makan nggak? Aku lapar nih, mau bikin nasi goreng. Kalau mau, nanti sekalian aku bikinin." Dia melenggang ke ruang masak seraya menyambar afron dari gantungan lalu mengenakanannya.


"Boleh." Daryl mengikutinya ke dalam sana. "Apa saja yang harus disiapkan? Aku bantu."


"Sebentar." Amara mengeluarkan beberapa bahan dari lemari pendingin.


Tiga butir telur, daging ayam, sayuran juga bumbu lainnya. Tidak lupa dengan bahan-bahan untuk membuat makanan lain yang ada dalam imajinasi Amara.


Telur yang sudah dikocok dan dibumbui lalu dimasak di dalam wajan. Kemudian Daryl menggulungnya di saat benda itu masih setengah matang.


"Bagus, bagus Kak." Amara tertawa ketika pria disampingnya berhasil mematangkan telur gulung itu dengan sempurna.


"Mau coba nasinya?" lalu dia meraup sedikit nasi dengan sendok. Meniupnya sebentar, lalu menyentuh ujungnya untuk memastikan makanan yang sedang diolahnya tersebut tidak terlalu panas. Kemudian menyodorkannya ke dekat mulut Daryl. Yang langsung disambar oleh pria itu.


"Hmm …." Daryl memejamkan mata dengan satu jempolnya yang dia angkat ke atas. "Enak." katanya.


"Udah pas?"


Daryl mengangguk. "Enak enak."


"Oke kalau gitu." Amara lantas mematikan kompor dan memindahkan nasi goreng buatannya ke dalam dua piring untuknya dan Daryl.


Ditemani telur gulung, ayam goreng dan dua minuman segar hasil kreasi imajinasi Daryl dan Amara, jadilah mereka melahap nasi gorengnya bersama-sama pada hampir larut itu.


"Masa?" Amara mengunyah makananya dengan riang. 


Padahal seharian ini dirinya kehilangan selera makan, sehingga dia malas untuk mengisi perutnya. Tapi kehadiran pria itu berubah moodnya menjadi lebih baik, seperti biasa.


Daryl memang berkepribadian menyenangkan. Dia begitu ramah dan hangat kepada siapa pun, apalagi orang terdekatnya.


Pria itu tidak akan sungkan menunjukkan perhatian kepada siapa saja yang dekat dengan dirinya. Dan memperlakukan mereka dengan begitu menyenangkan.


Seperti kepadanya, sejak kecil pun Daryl memang begitu.


Amara sedang mengingat saat Daryl membagi makanan miliknya yang sedang dia makan, padahal saat itu dirinya baru saja datang ke kediaman Satria. Dia memang selalu penuh kasih sayang seperti ibunya.


"Malah melamun?" Pria itu melambaikan tangan di depan wajah Amara.


"Hey? Aku setampan itu ya, sehingga kamu betah melihat wajahku?" Daryl tergelak.


Amara menyesap jus campuran dari beberapa jenis buah-buahan yang dia punya.


"Mmm … ini enak Kak." Ekspresinya memang selalu se menyenangkan itu.


"Masa?" Daryl juga mencobanya, dan memang benar apa yang gadis itu katakan.


"Iyakan?"


Daryl menganggukkan kepala.


"Besok aku masukin menu ah ...."


"Ck! Semua hal kamu masukin menu? Apa nggak ada yang spesial? Satu saja."


"Semua menu di sini spesial Kak. Makanya aku masukin."


"Oh ya?"


"Iya. Itulah kenapa kedai ini aku kasih nama Amara's Love."


"Right?"


"Iya. Ada ayam paprikanya resep Papa yang sangat Mommy suka. Ada ayam panggangnya resep Mamaku yang Mama Fia suka. Terus makanan kesukaannya Papi. Sop iga sama ayam geprek kesukaannya Kak Galang sama kak Rania. Eh, … maksud aku Kak Dim."  gadis itu tertawa.


"Kalau makanan kesukaanku?"


"Emang Kakak ada makanan kesukaan? Bukannya Kakak suka semua jenis makanan ya?"


"Ya, terutama masakan kamu."

__ADS_1


Amara tersenyum. Dia mengerti semua yang pria itu katakan memiliki maksud tertentu. Sejak mereka remaja dia memang selalu seperti itu. 


Namun Amara tidak pernah menanggapinya secara serius. Mereka berempat tahu, jika dirinya menyukai Dimitri sejak dulu. Meski pada akhirnya kisah masa kecil itu kandas seiring pernikahan yang terjadi antara Dimitri dan Rania. Lalu berlanjut pada hubungannya dengan Galang yang merubah segalanya.


Dan rasanya itu tidak terlalu menyakitkan seperti perpisahannya yang kali ini dia alami.


Tak bisa bersama Dimitri memang sempat membuatnya sedih, tapi itu tidak berlangsung lama. Karena ada orang lain yang membuatnya bangkit dan melupakan segalanya.


Tapi kini?


Waktu dua tahun bahkan tidak bisa menghapus perasaannya kepada Galang.


Ah, dia lagi dia lagi. Kan aku tersiksa jadinya? Batin Amara.


"Hey? Melamun lagi." Daryl menginterupsi.


"Umm … Kakak tahu keadaannya sangat rumit kan?"


"Iya."


"Terus kenapa Kakak selalu gitu sama aku?"


"Memangnya kenapa?" Daryl meneguk minumannya yang sudah berembun.


"Sikap Kakak selalu berbeda sama aku."


"Tidak boleh ya?"


"Iya, nanti aku kegeeran."


Daryl tergelak lagi.


"Cari cewek lain kenapa sih Kak?"


"But i want you." Pria itu langsung pada maksudnya.


"Nggak mungkin. Biarpun misalnya aku juga merasakan hal sama kayak Kakak, kita mustahil bersama."


"Karena Om Arfan ya?"


"Ya masa nanti aku iparan sama papa aku sendiri. Kakak jadi menantunya Mommy. Eh, aku pusing nanti nyebutnya gimana?" Amara meremas rambut di kepalanya sambil tertawa.


"Rumit ya?" Daryl kembali menyesap minumannya.


"Bukan lagi, tapi aneh dan membingungkan." Lalu mereka berdua tertawa.


"Masa adik ipar jadi menantu ya?"


Amara menganggukkan kepala.


"Terus nanti kalau punya anak bagaimana?"


"Nah itu Kakak ngerti?"


"Hah, … ribet."


"Makanya."


"So we're just keep it silent right?"


Amara mengangguk lagi.


"Cuma kita yang tahu."


"Ya."


"But i love you."


"Terima kasih."


"You will always be my favourite girl."


"Aku tahu."


"Jangan sungkan untuk mengatakannya jika kamu sedang kesulitan ya?"


"Iya."


"Kalau sedih juga boleh kalau misalnya mau menangis. Dada dan pundakku belum ada pemiliknya lho."


"Percaya kalau sama Kakak."


"Aku serius."


"Hmm …." Mereka kembali tertawa.


Hal itu berlangsung hingga malam semakin larut, dan keadaan benar-benar sepi. Keduanya terus tertawa sambil membicarakan banyak hal. Mengingat semua yang pernah terjadi diantara mereka. Sehingga Amara pun sempat melupakan rasa sedihnya meski untuk sementara.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....


ada senengnya, tapi ada sedihnya juga. Duh 🤧

__ADS_1


Meet Kak Daryl



__ADS_2