My Only One

My Only One
Pagi Di Paris


__ADS_3

🌺


🌺


Amara membuka mata saat penciumannya menangkap aroma segar dari sabun mandi dan pasta gigi. Lalu dia menemukan wajah segar Galang mendominasi pandangannya.


Dengan senyum merekah dan mata berbinar, pria itu membangunkannya pagi-pagi sekali.


Setelah menempuh perjalanan selama hampir 16 jam dari Jakarta, hingga akhirnya mereka tiba di Bandara Internasional Charles De Gaulle pada malam sebelumnya.


Amara menggeliat seraya merentangkan kedua tangannya. Dia masih merasakan jet lag namun keadaannya cukup baik pagi itu. Dirinya bahkan tak mengalami morning sicknes seperti biasanya.


"Ayo cepat mandi, jadwal kita banyak hari ini." ucap Galang yang bangkit menegakkan tubuhnya.


Dia masih mengenakan bathrobe, dan rambut basahnya masih agak sedikit berantakan.


"Aku masih pusing." Amara menarik kembali selimutnya.


"Morning sickness?" Namun Galang menahannya.


"Bukan, pusing."


"Mau muntah?"


"Itu mual. Aku pusing. Memangnya Kakak nggak ya?"


Galang terkekeh. "Sedikit," katanya.


"Bangun, Neng. Airnya sudah aku siapkan."


Sesaat kemudian Amara bangkit.


"Kakak udah mandi?" Lalu dia bertanya.


"Sudah, barusan." Galang mengeluarkan beberapa pakaian dari koper mereka.


"Terus aku mandinya sendiri?" Perempuan itu berujar.


Galang menoleh, dan dia mendapati Amara yang tengah melepaskan pakaiannya.


"Umm …


"Padahal baby mau mandi sama Papanya lho." Amara menahan senyum.


"Begitu?" Galang mendekat.


"Iya." Lalu kedua sudut bibir perempuan itu tertarik membentuk lengkung senyuman.


"Baik, ayo kita mandi lagi?" Galang dengan cengiran khasnya.


Lalu dengan mudah dia mengangkat tubuh semampai Amara. Membawanya ke kamar mandi dan mendudukkannya di bathub yang sudah dia isi air hangat beraroma menyenangkan.


Amara tertawa saat Galang melepaskan bathrobenya, lalu mengikutinya masuk ke dalam air seperti dirinya.


"Kalau di sini nggak akan ada yang ganggu kayaknya?" Perempuan itu diam saja ketika Galang membasahi rambutnya.


"Mungkin."

__ADS_1


"Nggak akan ada yang ketuk-ketuk pintu."


"Hmm …." Pria itu mengusapkan tangannya yang sudah dibubuhi sabun pada punggung Amara.


Menggosoknya dengan lembut kemudian memijitnya pelan-pelan.


"Kakak, nanti aku mau ke menara Eiffel, boleh?" Amara menoleh sekilas.


"Bukankah sekarang kita sedang di dekat Eiffel?" Galang menjawab.


"Maksud aku, bener-bener ke Eiffel nya." Amara menatap ke luar jendela kamar mandi apartemen yang menampilkan pemandangan menara Eiffel di antara gedung-gedung di sekitar tempat tinggal mereka.


"Hmm …."


"Dulu, waktu kuliah aku sering sih ke sana. Tapi cuma lihat aja dari bawah."


"Masa?"


"Hu'um. Sambil mikirin Kakak."


Galang mengulum senyum.


"Sekarang?"


"Sekarang maunya masuk ke sana. Naik ke atasnya dan lihat sekeliling Kota Paris."


"Maksudku, sekarang sudah tidak memikirkan aku lagi?" Galang memperjelas pertanyaan.


"Kakak bercanda ya? Ya nggak lah." Amara menoleh lagi.


"Kan Kakaknya udah sama aku, ngapain dipikirin?" lanjut perempuan itu, kemudian tersenyum.


Dia lantas mundur sehingga bagian belakang tubuhnya merapat pada Galang.


"Lebih dari dipikirin aja bisa. Dipeluk, atau dicium misalnya?" Lalu Amara menyandarkan kepalanya pada dada Galang.


Pria itu pun tersenyum, kemudian meraup dagunya, kemudian menariknya sehingga bisa mengecup bibirnya yang lembut.


"Mau lebih boleh?" gumam Galang dalam cumbuannya. Dan tangannya merayap dibawah air, menarik tubuh telanjang Amara sehingga mereka semakin merapat.


Keduanya tertawa pelan, dan Amara membiarkan saja ketika pria itu menyentuhnya lebih jauh.


Sebelah tangan Galang menahan lehernya sehingga posisinya tetap seperti itu. Dan mereka tetap dapat saling memagut, sementara tangan yang lainnya bermain-main di tubuh basahnya yang terendam air.


Galang menemukan dua buah dadanya yang semakin ranum seiring bertambahnya usia kehamilan, membuatnya merasa semakin gemas ketika menyentuhnya.


Lalu tangannya semakin merayap ke bawah, yang seketika membuat Amara menggeliat saat dia menyentuh pusat tubuhnya.


"Mm …." Amara menggigit bibir Galang ketika tangan nakalnya menerobos di bawah sana. Namun pria itu malah tersenyum dalam cumbuannya.


Tubuh Amara bergerak-gerak tak karuan, dan sudah merasa gelisah. Hasratnya menanjak begitu saja seiring sentuhan pria itu yang semakin intens di tubuhnya.


Sama halnya dengan Galang yang sudah tidak bisa menahan diri. Alat tempurnya bahkan sudah mengeras sejak tadi. Apalagi tubuh Amara yang bergerak-gerak setiap kali ia menyentuhnya, membuatnya terus bergesekkan.


Galang berhenti sebentar, lalu menarik kembali Amara, dan dengan mudah membalikkannya sehingga kini mereka berhadapan.


Perempuan itu menduduki kedua pahanya, dan wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.

__ADS_1


"Apa sakit?" Galang menyentuh kaki sebelah kanan Amara.


"Se-sedikit." jawabnya yang keningnya sedikit menjengit kala dia merasakan ngilu yang menjalar di lutut.


Galang mengusap-usapnya perlahan. Lalu dia melanjutkan cumbuan. Memagut bibir lembut Amara dengan penuh perasaan dan dia mulai menyentuh tubuhnya lagi.


Perempuan itu mend*sah pelan saat Galang mengecupi leher jenjangnya, dan sentuhan kedua tangannya menjadi semakin nakal saja.


Dia meremat kedua buah dadanya, dan mempermainkan puncaknya bersamaan. Membuat Amara semakin menggeliat dan mend*sah tak karuan. Dan kedua tubuh itu semakin memanas.


Kedua tangan Galang kemudian semakin turun. Mengusap paha dan bokongnya dengan sensual sehingga menghadirkan sensasi lain pada perempuan itu. 


Lalu setelah beberapa saat, dan dia merasa bahwa mereka sudah siap, Galang mengangkat bokong Amara sehingga milik mereka bersentuhan. Dan pria itu segera menekannya, membuat senjatanya menerobos pusat tubuh Amara dari bawah.


"Ahhhh!" Perempuan itu setengah berteriak.


"Kakak!" rengek Amara dengan napas yang terengah-engah karena terkejut.


Ini hal baru bagi mereka, namun intuisinya bekerja dengan cepat. Sehingga dalam beberapa detik saja keduanya bisa menyesuaikan diri.


Galang terkekeh melihat ekspresinya yang menggemaskan, lalu dia melanjutkan cumbuan.


"Nggh …." Amara berpegangan dengan erat pada pundak pria itu saat dia mulai bergerak. Dan diwaktu yang bersamaan Galang menekan pinggulnya sehingga hujaman di bawah terasa semakin dalam.


"Ah, Kakak!" Dia mengerang dengan wajah mendongak dan mata terpejam.


Rasa sakit namun menyenangkan bercampur menjadi satu sehingga hal ini tak dapat didefinisikan dengan jelas.


Galang tidak menghentikan cumbuan. Dia bahkan menyesap kedua dada Amara secara bergantian dan membuat perempuan itu menjadi semakin menggila.


Dia menggerakkan pinggul dengan sendirinya, menghadirkan rasa baru yang lebih indah dan lebih menyenangkan.


Air di dalam bathub berkicipak nyaring dan sebagian berjatuhan ke lantai kamar mandi.  Suara des*han dan erangan yang kian mengudara.


Gairah mereka meluap-luap dan hasrat sudah menguasai tubuh, pikiran dan akal sehat keduanya. 


Amara bahkan sudah tidak peduli lagi dengan rasa sakit pada kakinya. Kali ini hal itu sudah tak lagi mengganggu. Yang ada hanya keinginan untuk mencapai pelepasan bersama.


Sehingga dia mempercepat gerakan pinggulnya, sementara Galang menghujam dari bawah, dan mereka berpacu bersama.


Des*han Amara dan geraman Galang saling bersahutan, hingga akhirnya mereka saling menekan pusat tubuh dan melenguh bersamaan ketika pelepasan menggulung keduanya tanpa ampun. 


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Ah. Kalian ini! Mentang-mentang lagi bulan madu 😂😂


Oh iya, cerita Kak Daryl dan Nania sebentar lagi rilis ya gess. Siapkan poin kalian untuk ngeboom gift di sana. Karena nanti akan ada give away untuk yang kirim gift terbanyak. So, pantengin terus biar nggak ketinggalan 😉


Coming Soon anggota keluarga Nikolai lainnya di Noveltoon/ Mangatoon.


__ADS_1


__ADS_2