My Only One

My Only One
Antara Teman Dan Senior


__ADS_3

*


*


Dimitri mengerutkan dahi mendapati Clarra yang tampak baru tiba di kantor. Dia bahkan baru selesai berdandan ketika dirinya mendekat. Sepertinya sekretaisnya datang kesiangan?


"Kamu sakit?" Pria itu bertanya.


"Tidak."


"Tumben merapikan diri di kantor? Baru datang?"


"Tidak juga."


"Tante Vita atau Om Fahmi sakit?"


"Tidak juga."


"Aneh sekali? Biasanya kamu selalu sudah siap kalau aku datang."


Clarra memilih mengacuhkan atasannya itu, menghindar dari apa pun yang mungkin akan dia tanyakan.


"Cla, sepertinya aku nggak cocok memakai dasi yang ini. Bisa aku minta dasiku yang tadi?" Namun tiba-tiba Galang muncul dari ruangannya. Sudah berganti stelan dengan yang tersedia di dalam kantor. Seperti halnya Clarra yang juga sudah berganti pakaian kerjanya di tempat yang sama.


Mereka memang menyediakan pakaian untuk berganti jika sesesekali di butuhkan, sehingga tak harus repot-repot pulang atau mendadak membeli terlebih dahulu. Segalanya di sediakan dengan baik. Dan Clarra lah yang mengaturnya demikian.


"Yang kemarin kamu pakai?"


"Iya. Warna hitam sepertinya lebih cocok denganku."


Warna apa saja cocok denganmu. Eh ...?


"Permisi, ada apa ini sebenarnya? Kenapa kalian berdandan di kantor? Apakah tidak sempat bergaya di rumah?" Dimitri menginterupsi. Merasa heran dengan kedua bawahannya ini.


Dua orang di depannya saling pandang. Tidak mungkin menjawab dengan jujur jika mereka baru saja tiba dari Bandung. Bisa salah faham nanti atasannya itu. Tapi untuk memberikan jawaban lain juga tidak terpikirkan.


"Kalian menginap di sini?" Dimitri bertanya lagi.


"Tidak Pak." Galang menjawab.


"Lantas kenapa kalian sama-sama berdandan di sini?"


"Itu ...."


Dimitri melihat sehelai kain yang dia kenali sebagai dasi terjuntai dari sebuah tote bag di meja Clarra. Yang dia yakini sebagai milik Galang.


Pria itu menyeringai. Apalagi ingat perkataan Rania setelah ayahnya menelfon semalam. Soal pertemuannya dengan Galang dan Clarra di sebuah rumah sakit di Bandung.


"Kalian sudah pergi bersama ya?" Kemudian dia bertanya lagi.


"Mm ... apa? Tidak. Hanya berganti pakaian di sini, dan aku ...." Clarra berusaha menyanggah.


"Saya dari Bandung Pak. Menjenguk ayah saya di rumah sakit." Namun Galang menjawab. Dia yakin atasannya ini mengetahui sesuatu, terlihat dari seringaian di wajahnya. Dan ini pasti ada hubungannya dengan Angga.


"Ooo dari Bandung?" Dimitri mengangguk-anggukkan kepala dengan kedua alis yang dia angkat ke atas.


"Baik." Pria itu tertawa.


"Apa yang kamu tertawakan?"


"Tidak ada, ...." katanya, lalu dia melenggang ke ruangannya.


"Oh iya, jadwalku hari ini apa Cla?" Dimitri memutar tubuh saat dia tiba di ambang pintu yang terbuka.


"Bekerja di kantor. File-file yang harus kamu tanda tangani sudah aku tumpukkan di meja." Clarra menjawab.


"Benarkah? Tidak ada jadwal keluar?" Dimitri dengam senyum anehnya.


"Tidak ada."


"Baiklah." Dia tertawa lagi, kemudian berjalan masuk kedalan ruang kerjanya.


"Apa sih yang kamu tertawakan Dim?"


"Tidak ada." Pria itu berbalik dan membiarkan pintu tertutup dengan sendirinya.


"Kenapa dia itu ya?" Clarra menggerutu sambil membenahi lipstiknya yang belum rapi benar.


"Kamu sih, pakai mau ganti dasi segala? Pasti setelah ini dia akan salah sangka!" ucapnya kepada Galang.


"Aku?"


"Iyalah, dan lagi kenapa juga harus kamu katakan kalau kamu baru saja pulang dari Bandung? Bisa-bisa dia curiga lagi!" omel Clarra, nampak kesal.


"Hah? Aku pikir percuma kalau aku bohong. Om Angga pasti sudah mengadu."


"Hah, tidak ada hubungannya!"


"Menurutmu begitu ya? Kamu nggak tahu saja bagaimana Om Angga."


"Terserah padamu lah. Cepat sana rapikan pakaianmu, sebentar lagi harus mulai bekerja!" Perempuan itu berujar.


"Huh, kenapa sih kalau di kantor kamu selalu segalak itu? padahal kemarin biasa-biasa saja?" Galang bergumam.


"Apa kamu bilang?"


"Nggak apa-apa, aku mau pakai dasi lagi!" Galang menarik dasinya dari tote bag di meja Clarra, lalu segera kembali ke dalam ruangannya.


***


"Cla, semalam Mama menunggumu di restoran." Sebuah pesan masuk di ponsel Clarra.


Perempuan itu menghembuskan napas berat sambil memejamkan mata.


"Iya Ma, maaf."


"Mama menunggumu sampai larut." Masuk balasan dari nomor itu.


"Iya maaf, aku harus ke Bandung. Ada tugas yang tidak bisa ditunda." Clarra menjawab.


"Sayangnya Mama harus kembali ke Batam hari ini, jadi tidak sempat menemuimu."


"Tidak apa-apa Ma, mungkin lain kali?"


"Mama tidak tahu kapan bisa ke Jakarta lagi."


Clarra terdiam menatap layar ponselnya.


"Tidak apa-apa, mungkin nanti kita juga akan bertemu."


"Mama harap begitu. Kalau kamu ada tugas ke Batam tolong beri tahu Mama ya?"


"Iya Ma."


"Mama pamit."


Clarra meletakkan ponselnya di atas meja. Satu kesempatan dia lolos, seperti kesempatan-kesempatan lainnya juga. Tapi entah nanti atau lain kali. Alasan apa yang harus dia berikan agar terhindar dari pertemuan dengan Lara, ibu kandungnya.


"Astaga, apa aku berdosa?" Perempuan itu menelungkupkan wajahnya di atas meja.


Dia tak pernah sedikitpun mengira jika perempuan itu akan kembali menemuinya setelah beberapa tahun berlalu. Dia memang sudah tahu mengenai statusnya sebagai anak angkat dari Dokter Vita dan Dokter Fahmi, dan tidak ada masalah dengan itu.


Keduanya masih orang tuanya, dan dia masih tetap anak mereka. Yang sejak bayi mereka urus seperti anak sendiri. Memberinya cinta dan kasih sayang, dan melimpahinya dengan segala yang dia butuhkan.


Tidak ada yang berbeda selain kini ada yang sering menghubunginya untuk saling memberikan kabar.


"Waktunya istirahat Cla." Dimitri keluar dari ruangannya.


Clarra menegakkan kepala.


"Kenapa kamu ini? Tidak biasanya seperti ini?" Pria itu memasukkan ponselnya ke dalam saku jas setelah mengirim pesan kepada istrinya.


"Tidak ada, aku hanya lelah."


"Lelah?"


Clarra mengangguk.

__ADS_1


"Maka istirahat lah, jangan bekerja terus?"


"Kalau aku tidak bekerja bagaimana kalian akan bekerja? Bisa kacau Nikolai Grup."


"Maksudku istirahatlah jika waktunya istirahat. Makan, liburan, menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Jangan hanya mengurung diri di tempat kerja."


Clarra terdiam.


"Habis hidupmu hanya untuk bekerja." lanjut Dimitri.


"Seolah kamu bisa bebas menikmati hidup dengan santai tanpa beban." Clarra bergumam.


"Setidaknya aku istirahat jika waktunya memang tiba untuk beristirahat. Pulang jika sudah merasa cukup dan sesekali menghabiskan waktu dengan anak istriku." Dimitri dengan bangga.


"Eh, aku lupa. Mana ngerti kamu soal begitu, kamu kan jomblo?" Pria itu berujar


"Apa?" Clarra mendongak.


"Cari jodoh Cla, agar ada teman berbagi. Setidaknya kamu punya alasan untuk mengambil liburan. Nanti kamu keburu tua."


"Berani-beraninya kamu bicara begitu?" Perempuan yang usianya satu tahun lebih tua dari Dimitri itu bereaksi.


"Kenapa aku harus tidak berani? Lagi pula itu memang fakta."


"Dimi!"


"Ya Clarra?"


"Kamu ini ...."


"Ssst! Aku pergi dulu, mau bertemu istriku sebelum dia terbang ke Qatar untuk balapan." Pria itu tertawa sambil berlalu.


***


"Uhhh, ... kalau habis kerja gitu, auranya beda kan? bikin seger mata." Seorang pegawai perempuan bersama beberapa temannya bercakap-cakap di lobby. Bersamaan dengan Galang yang muncul setelah menyelesaiakan tugasnya mewawancarai calon karyawan baru.


Mengenakan stelan jas berwarna navy yang masih tampak rapi meski sedari pagi dia bekerja mewawancarai puluhan peserta pelamar kerja.


"Itu salah satu alasannya semangat kerja. Jadi males ambil liburan. Apalagi kalau tahu dia selalu masuk kantor bahkan di hari Sabtu." Perempuan lainnya menimpali.


"Asli, aku jadi berharap di promosikan jadi staff utama biar bisa sering ketemu dengan Pak Galang."


"Yeee, ... itu sih keinginan semua orang. Bayangin setiap hari kerja dengan dia, ketemu terus, atau pergi untuk tugas diluar. Kan asyik." Semakin lama obrolan mereka menjadi semakin tak karuan saja.


Membuat Clarra yang mendengarkan di belakang mereka sejak tadi merasa geli sendiri.


Kemudian dia mengarahkan pandangannya ke arah Galang yang tengah bercakap-cakap bersama rekan yang lain. Terkadang dia tertawa seperti tengah mendengar lelucon paling lucu di dunia. Matanya saja sering terpejam dan membentuk seperti bulan sabit. Dengan lengkungan bibirnya yang membentuk sebuah senyuman.


"Bener kan, dia memang tampan. Seperti juga Pak Andra dan Pak Alex. Dia versi mudanya mereka, dan versi lajang tentunya."


"Hu'um, ... aku membayangkan bagaimana rasanya jadi pacar dia. Oh, ... apa bisa sering berhadapan dengannya, sedangkan baru melihatnya di sini saja aku sudah gemetaran."


Clarra membulatkan mata, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Fantasi gadis-gadis ini memang diluar batas.


"Ehm, ...." Perempuan itu berdeham, membuat mereka semua menoleh.


"Eh, Bu? Selamat siang?" Mereka menyapanya.


"Siang." Clarra menjawab seraya melewati mereka semua.


"Galang?" Dia bergegas menghampiri pria itu saat rekannya sudah pergi.


"Ya?"


"Pekerjaanmu selesai?" Dia bertanya setelah jarak mereka cukup dekat.


"Belum. Aku mau istirahat dulu lah, capek juga. Lagipula sepertinya tidak akan bisa selesai hari ini. Pesertanya ternyata banyak." Galang menjawab.


"Begitu ya?"


"Ya." Galang menganggukkan kepala.


"Baiklah kalau begitu."


"Kamu sudah makan siang?" Tanya Galang kemudian.


"Mau sama-sama?" tawar pria itu kepadanya.


"Umm, ..."


"Kalau mau kita ke restoran di depan."


"Tapi aku nggak bawa uang, dan kunci mobil. Tasku di atas, tadinya cuma mau ke kantin dan ...."


"Aku yang traktir."


"Apa?"


"Aku yang traktir. Anggap saja ungkapan terima kasihku untuk yang kemarin."


"Terimakasih?"


"Ya, karena kamu sudah menjenguk ayahku."


"Oo itu bukan apa-apa, serius."


"Tapi aku tetap mau mentraktirmu. Apa itu akan jadi masalah?"


"Masalah apa?"


"Karena aku mentraktir seniorku?"


Clarra terdiam.


"Atau aku terlalu lancang melakukan hal seperti ini?"


"Tidak juga, kita rekan kerja bukan?" Perempuan itu menjawab.


"Benarkah?"


"Ya." Mereka berjalan bersisian. "Kenapa sih semua orang mempermasalahkan hal seperti itu? Kita kan bekerja di tempat yang sama."


"Bisa saja kan hal itu membuat segan."


"Segan karena apa?"


"Posisimu."


"Posisiku?"


"Kamu senior, dan menjadi sekretaris utama Pak Dimitri."


"Nggak ada bedanya selain ruang kerjaku yang di atas dan tugasku yag cukup banyak."


Galang tersenyum.


"Bagaimana kalau kita tidak membahas masalah seperti itu? Nggak ada bedanya aku senior atau kamu yang baru dua tahun bekerja. Kita sama dalam hal ini."


"Baiklah ...."


Mereka tiba di sebuah restoran tak jauh dari gedung Nikolai Grup. Yang kebetulan sudah ramai pada siang itu. Dan keduanya langsung memesan makanan yang mereka sukai.


Tak ada pembicaraan soal pekerjaan, atau yang berhubungan dengan perusahaan. Hanya obrolan biasa di antara dua orang yang sudah saling mengenal secara profesional itu. Dan tawa canda yang tiba-tiba saja menghangatkan percakapan mereka.


"Kamu sebenarnya menyenangkan juga kalau tidak sedang bekerja." Galang menghabiskan makanan di piringnya.


"Memangnya ada bedanya ya?" Sementara Clarra menyesap jus stroberynya.


"Iyalah. Kalau sedang bekerja mode galakmu aktif. Mirip ceo-ceo di novel gitu." Galang tertawa, merasa geli dengan pikirannya sendiri.


"Gila kamu! Aku cuma berusaha untuk ptofesional tahu?"


"Iya aku tahu. Pekerjaanmu juga yang membuat sikapmu harus seperti itu kan?"


"Ya, sebut saja begitu."


"Kadang sebuah pekerjaan membuat kita memiliki dua kepribadian ya? Satunya lembut dan menyenangkan, sementara satunya lagi harus tegas, profesional dan bahkan juga galak?"

__ADS_1


"Begitulah. Kamu tahu kenapa?"


"Kenapa?"


"Agar tidak ada orang yang dengan mudah mendekat dan memanfaatkan keadaan. Kamu tahu, jadi orang yag ramah itu tidak terlalu baik juga."


"Kata-katamu persis seperti Pak Andra dan Pak Arfan." Galang merebahkan punggungnya pada sandaran kursi. Dia ingat dua orang itu yang mendidiknya dengan keras sehingga dapat memahami apa yang harus di kerjakan sebagai salah satu staff utama di Nikolai Grup.


"Jelas, mereka kan yang mendidikku di awal bekerja di Nikolai Grup."


"Pantas."


"Kenapa?"


"Kamu mirip mereka."


"Masa?"


"Iya, dalam versi perempuan." Galang tertawa.


"Aih, ...." Perempuan itu mendelik.


"Kamu tahu, kamu juga terlihat menyenangkan kalau sering tertawa seperti itu."


"Hah?"


"Tapi mungkin untuk orang-orang tertentu bisa lain lagi artinya."


"Maksud kamu?" Galang memgerutkan dahi.


"Umm ...." Clarra berpikir lagi. Sepertinya dia sudah terlalu jauh.


"Waktu istirahat kita hampir habis Lang." Dia melihat jam di layar ponselnya, menghindar.


"Iya." Galang bangkit dan menyesap habis minumannya, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu dan meletakkannya di trey bill.


"Terima kasih, makan siangnya enak. Kamu benar, restoran ini bagus. Lain kali aku yang traktir." Mereka berjalan keluar.


"Ngga usah, masa laki-laki di traktir perempuan?" Galang terkekeh.


"Memangnya kenapa? Ada larangan perempuan mentraktir laki-laki?"


"Nggak tahu. Hanya saja, rasanya aneh."


"Begitu ya? Aku nggak tahu soal itu. Bagiku sama saja."


"Memangnya kamu sering mentraktir teman laki-laki?" Mereka meyeberangi jalan menuju kantor Nikolai Grup yang berada beberapa blok dari restoran tersebut.


"Teman laki-laki yang mana?"


"Serius? Hahaha." Pria itu tertawa.


"Serius, teman laki-laki yang mana? Karena selain Pak Arfan, Pak Andra dan om Satria juga anak-anaknya, aku nggak pernah dekat dengan siapa pun."


"Benarkah?"


"Iya. Pernah pergi makan bersama seperti ini, tapi itu hanya acara kantor. Bukan berduaan seperti sekaranng."


Galang menghentikan langkah.


"Kenapa? Heran ya? Seperti yang pernah kamu bilang, nggak ada yang pernah mendekat padaku karena posisiku sebagai sekretaris utamanya Dimitri." Clarra juga menghentikan langkahnya ketika mereka hampir mencapai gerbang gedung Nikolai Grup yang tinggi menjulang.


"Mungkin karena segan, atau ... takut?" lanjut Clarra.


"Taku? Konyol sekali pikiranmu itu? Takut karena apa?" sergah Galang.


"Seperti yang pernah kamu bilang juga waktu itu."


"Apa?"


"Kalau aku ini galak. Makanya para pria enggan mendekat. Sehingga di umur kepala tiga seperti ini aku belum mendapatkan jodoh?"


Tubuh Galang sedikit mengejang mendengar perkataan perempuan cantik di depannya.


"Tapi itu hanya masalah waktu kan?" Clarra kemudian tertawa.


"Dan setelah melihat hubungan beberapa teman yang gagal dan kadang kacau, aku jadi bersyukur." Dia melanjutkan langkah.


"Bersyukur soal apa?" Galang mensejajari langkahnya.


"Bersyukur Tuhan tidak cepat memberikan aku jodoh."


"Kenapa bisa begitu?" Galang menjengit.


"Jadi aku tak harus merasa sakit hati karena perpisahan, pertengkaran, atau berselisih faham. Aku bisa menikmati hidup sesuai dengan apa yang aku inginkan, meski kadang kesepian, tapi aku menikmatinya."


Galang terdiam mendengarkan perempuan itu terus berbicara.


"Masa sih selama tujuh tahun di Nikolai Grup kamu nggak punya teman?" Dia seakan tak percaya.


Clarra menggelengkan kepala sambil tertawa.


"Seperti tidak tahu saja bagaimana bekerja di Nikolai Grup?"


"Iya sih. Hahaha ... saking sibuknya kita jadi kehilangan kehidupan pribadi. Aku bahkan kehilangan kekasih begitu memutuskan bergabung dengan kalian."


"Hah? Jadi Amara memutuskanmu karena bekerja di Nikolai Grup?"


"Eee ... soal itu ...."


"Kasihan sekali kamu ini!" Tiba-tiba Clarra menepuk punggung Galang.


"Sudahlah, jagan di bahas." Namun pria itu malah tertawa. "Kerja di sini memang harus orang yang nggak punya kehidupan pribadi ya, jadi aman."


"Sepertinya begitu. Contohnya aku."


"Iya, aku juga." Mereka sama-sama tertawa.


"Tenang saja Lang, kita sama-sama nggak punya kehidupan pribadi, jadi sepertinya cocok untuk jadi teman."


"Ya ya ya, sepertinya begitu." Galang mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Baiklah teman, terima kasih sekali lagi. Makan siangnya menyenangkan. Di tambah obrolan kita setelah dua tahun saling mengenal." Mereka berhenti di lobby kantor.


"Ya, sama-sama."


"Aku akan kembali bekerja di atas, dan kamu juga harus menyelesaikan tugasmu di sini kan?"


Pria itu menganggukkan kepala.


"Bekerjalah dengan baik, agar kamu mendapatkan apa yang selama ini kamu kejar."


"Baik Bu." Galang tersenyum.


"Jangan terlalu sering senyum, itu akan membuat orang salah faham."


"Apa?"


"Kembali bekerja sana! Kita jadi teman hanya kalau sedang di luar kantor, selebihnya aku seniormu!"


"Ck! Mode galaknya balik lagi?" Galang bergumam.


"Cepat bekerja!"


"Iya, iya. Ish!! Menyebalkn!" Pria itu kembali ke ruang interview di mana dia melaksanakan tugasnya, dan Clarra kembali ke lantai paling atas gedung tersebut.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Duh, senior sama junior ya? hmm ... 🤔🤔


Biasa atuh genks, like komen sama hadiahnya kirim terus. Biar makin semangat up episodenya.

__ADS_1



__ADS_2