My Only One

My Only One
Masalah Hati


__ADS_3

🌺


🌺


Galang membuka mata ketika telinganya menangkap suara ketukan pelan di samping. Dia mengerjap beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya, dan mengingat apa saja yang telah terjadi sehingga dirinya berakhir di ruangan yang sangat dikenalnya ini. Yakni ruang tengah di kediaman keluarganya. Dia menoleh untuk mencari asal suara, dan yang ditemukannya adalah sosok Clarra. Yang tengah fokus pada laptop di depannya. Perempuan itu pasti sedang menerima email dan mengatur jadwal.


Dia kemudian melirik, lalu tersenyum.


“Hey? Kamu sudah bangun.” katanya, yang menghentikan pekerjaannya.


“Kenapa kamu ada disini?” Galang bangkit sambil mengerutkan dahi, namun kemudian dia mengerang ketika rasa sakit menyerang kakinya. Membuatnya kembali terhempas ke sofa tempatnya berbaring.


“Ck! Diam dulu kenapa sih? Segitu senangnya ketemu aku ya? Sampai-sampai kamu lupa kalau sedang cedera.” Clarra pun bangkit dan segera menghampirinya.


“Umm … jam berapa ini? Kenapa juga kamu ada di sini? Bukannya ….”


“Sssstt! Jangan banyak bicara.” Clarra membenahi selimutnya, kemudian dia duduk di sampingnya.


“Minum?” Kemudian perempuan itu menyodorkan segelas air kepada Galang., yang kemudian segera diterima oleh pria itu, yang kemudian menenggaknya hingga hampir habis setengahnya.


"Jam berapa ini?" Galang mengulangi pertanyaan.


"Jam lima sore." Clarra menjawab.


"Hmm … aku sepertinya ketiduran." 


"Kata ibu kamu pingsan waktu sedang di pijat?"


"Benarkah?" Galang berpikir keras untuk mengingat.


"Iya, ibu bilang begitu." Kemudian Clarra menoleh ke belakang ketika Mayang masuk ke ruangan tersebut.


"Bangun juga rupanya? Ibu pikir masih mau pingsan sampai malam?" Perempuan itu meletakan nampan berisi makanan di meja.


"Ada pingsan direncanakan begitu?" Galang menggerutu.


"Ya kali?"


"Motornya di mana Bu?" Pria itu teringat pada kendaraan roda duanya.


"Ck! Bangun-bangun yang diingat malah motor? Kaki kamu tuh?" tunjuk Mayang pada kaki putranya yang cedera.NL


"Udah tahu, kakinya sakit. Terus motornya?"


"Ada di garasi."


"Stepnya patah, rantainya putus. Stangnya bengkok. Masih untung kamu nggak kenapa-kenapa." Arif muncul tidak lama kemudian.


"Nggak kamu servis dulu ya sebelum pergi? Baru sekarang kamu mengalami hal seperti ini?" Sang ayah bertanya.


"Nggak sempat yah, aku pikir servis minggu lalu cukup."


"Sudah ayah bilang nggak biasanya kamu seperti ini. Lain kali, tidak peduli kamu sudah cek minggu lalu, atau kapan saja, tetap harus kamu cek ulang kalau mau di pakai turnamen. Bahaya. Gimana kalau terjadi sesuatu di track?"


"Aku buru-buru yah, semalam juga nggak sempat. Aku capek." jawab Galang, sedikit berbohong.


"Itulah, makanya. Walau bagaimana pun harus disempatkan lah." Arif berujar.


"Sekarang makan dulu, sepertinya dari pagi kamu nggak makan. Makanya pingsan waktu dipijat tadi."


"Hah?"

__ADS_1


"Padahal cuma terkilir. Tapi teriakannya seperti orang sedang di siksa. Habis itu pingsan lagi." Arif tertawa.


"Cepat makan, habis itu kamu mandi. Kamu kotor." ucap Mayang lagi kepada putranya.


"Kamu mau makan sekarang Cla? Kamu juga sejak datang tadi belum makan apa-apa. Tunggu dia terus?" Perempuan paruh baya itu beralih kepada Clarra yang menyimak percakapan itu dalam diam 


"Eee … nanti Bu, sebentar lagi." Clarra pun menjawab dengan sedikit perasaan canggung. 


Ini pertama kalinya lagi, setelah sekian lama dia berada di rumah seorang pria dan berbaur dengan keluarganya. Dan rasanya cukup aneh.


"Memangnya nggak lapar? Dari siang lho kamu kesini." Mayang meyakinkan.


"Iya bu."


"Ah, baiklah terserah. Kalau mau makan ambil saja ya? Nggak usah sungkan. Anggap saja dirumah sendiri." Mayang kemudian melenggang kembali ke arah dapur setelah Clarra menganggukkan kepala, diikuti oleh suaminya.


"Kamu dari siang ke sini?" Galang kemudian bertanya. Setelah mendengar kata-kata ibunya yang menerangkan sola kedatangan perempuan itu.


"Iya." Clarra menganggukkan kepala.


"Kenapa?"


"Tadi pagi aku dengar kamu kecelakaan di turnamen."


"Oh ya? Dengar dari siapa?"


"Dari ibu."


"Hah?"


"Waktu aku menelpon kamu."


"Kamu menelfon aku? Mau apa?"


"Aku … iseng." Perempuan itu terkekeh.


"Iseng?"


Lalu  Clarra menganggukkan kepala.


"Aku hanya sedang membuat jadwal, terus tiba-tiba ingat kamu." lanjutnya, lalu dia tertawa.


"Dih, bilang aja kangen?" cibir Galang dengan salah satu sudut bibirnya yang terangkat ke atas.


"Tidak! Aku hanya ingat kamu."


"Iya, itu kangen. Kalau dengan pacar, ingat dan kangen itu perbedaannya tipis."


Clarra mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia masih saja belum terbiasa dengan kata-kata itu. Pacar, kekasih, atau semacamnya.


"Lalu setelah tahu aku kecelakaan kamu langsung kesini?"


Perempuan itu menganggukkan kepala.


"Manis sekali!" Galang tersenyum lebar. "Jakarta-Bandung itu jauh lho?" sambungnya, dan dia tertawa.


"Masih jauh Jakarta-Bromo." Clarra menjawab.


"Hu'um. Sepuluh jam ya?"


Perempuan itu mengangguk lagi.

__ADS_1


Lalu mereka saling terdiam dengan perasaan yang tidak dapat di artikan. Antara senang karena bertemu, dan juga bingung harus bersikap bagaimana.


Lalu rasa haru menyeruak begitu saja di hati Galang. Mengingat bagaimana perempuan di depannya ini berusaha datang setelah mendengar apa yang terjadi dengannya.


Tapi di sisi lain, rasa sedih juga seketika hadir, saat dia mengingat kejadian semalam. 


Bagaimana pertemuan dengan Amara yang berakhir dengan terbukanya kesalah pahaman yang mendominasi pikirannya selama beberapa minggu ini. Yang juga memiliki andil saat dirinya memutuskan banyak hal.


Ah, kenapa juga harus seperti itu? Batinnya.


"Makan!" Clarra menggeser nampan berisi makanan yang dibawakan Mayang untuk pria di depannya.


Namun Galang hanya terdiam meski dia tersadar dari lamunannya.


"Atau, mau aku suapi?" Perempuan itu terkekeh sambil meraih piring berisi nasi dan sayur juga lauknya.


"Apa? Nggak usah, aku masih bisa. Yang sakit cuma kakiku, tanganku baik-baik saja." Pria itu merebut piring di tangan Clarra.


"Ooo, … aku pikir tanganmu juga sakit? Makanya dari tadi diam terus?" Clarra berujar.


Galang tak menjawab, namun dia mulai mengunyah makanannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Oke, umm … wawancaranya cukup untuk hari ini. Nanti saya hubungi lagi ya, kalau kalian lolos?" Amara membereskan berkas di atas mejanya begitu wawancara kerja untuk orang terakhir yang melamar hari itu selesai.


"Baik Kak. Semoga saya memenuhi kriteria pegawai menurut Kakak." jawab si calon pegawai yang tiba pada hampir sore itu.


"Semoga doa kamu terkabul ya? Tunggu saya menghubungi."


"Iya Kak. Kalau begitu saya pamit?" Gadis yang sepertinya baru lulus SMA itu pun bangkit dan segera keluar dari bangunan tersebut.


Amara menghela napas dalam, kemudian menghembuskannya pelan-pelan.  Menatap kepergian gadis belia itu dari  kedainya dalam diam.


Hidupnya jelas lebih beruntung dari siapa pun. Dia lahir dari keluarga berada dan tidak harus bersusah-susah bekerja. Apa lagi untuk mewujudkan mimpi dan keinginannya, tidak ada yang sulit.


Dia bisa melakukannya hanya dengan mengucapkannya kepada sang ayah, dan segalanya dapat terwujud dengan mudah.


Tapi tidak lagi. Sudah waktunya dia melakukannya sendiri tanpa mengandalkan orang lain lagi, terutama orang tuanya. 


Mungkin kedengarannya konyol, tapi bukankah segala hal itu harus di usahakan? Mungkin inilah saaatnya. Sang ayah telah memberinya kemudahan dengan menjadi awal dari terwujudnya kedai ini. Bantuan modal dan segala macamnya harus dia manfaatkan dengan baik. Dan selebihnya, biar dia lakukan sendiri.


Bagus kan Ra? Kamu akan sibuk menjalankan bisnis pertamamu, dan mungkin tidak ada waktu untuk memikirkan hal lainnya lagi.


Lalu dia melirik ke jendela yang terbuka jelas di samping kirinya. 


Bahkan dari dalam kedai miliknya, bangunan megah milik Nikolai Grup masih saja terlihat. Dan itu menandakan bahwa segala hal dalam hidupnya tidak akan pernah lepas dari mereka dan orang-orang di dalamnya. Mungkin termasuk Galang.


Amara mendengus sambil memejamkan mata. Kini, mengingat nama itu mulai terasa menyakitkan. Hatinya berdenyut nyeri, dan dadanya tersa ngilu.


Tidak semua hal bisa kamu dapatkan Ara. Tidak peduli seberapa mampu dirimu, hidup tidak akan pernah mengalah kepadamu. Kamu harus berjuang untuk mendapatkannya, atau dunia akan mengalahkanmu.


Tapi kalaupun harus kalah, tidak apa-apa. Yang penting kamu tetap berjuang. Setidaknya kamu tidak menyerah.


Dan soal hati? Biarkan saja seperti itu. Tidak usah dijadikan penghambat. Biarkan dia dengan keinginanya, dengan cintanya, dan hidupnya. Kalian sama-sama punya hak untuk bahagia.


Dia kemudian keluar, mengunci kedainya rapat-rapat, lalu melangkah tenang ke arah area parkir tempat di mana mobilnya berada.


🌺


🌺

__ADS_1


🌺


Bersambung ...


__ADS_2