
🌺
🌺
Clarra melihat sekeliling kamar tempatnya tidur semalam. Ruangan khas laki-laki itu cukup rapi dengan beberapa ornamen maskulin pada umumnya.
Banyak hal tersimpan di sana yang mungkin hanya beberapa kali saja dalam sebulan ditempati oleh pemiliknya.
Piala, medali, dan beberapa piagam atas keberhasilan yang mungkin didapatkan Galang semasa sekolah hingga kuliah. Yang kebanyakan berkaitan dengan kendaraan bermotor.
Sepertinya pria itu cukup berprestasi? Dia melihat beberapa hal lainnya.
Dinding yang dipenuhi oleh foto-foto masa kecilnya hingga remaja. Yang kebanyakan juga berdampingan dengan beberapa motor. Dan yang paling banyak adalah fotonya bersama seorang gadis yang sama dari mulai mereka kecil hingga remaja.
Clarra mendekat lagi untuk melihatnya lebih jelas.
"Sedekat itu sampai-sampai semua fotonya ada?" Dia bergumam.
Lalu Clarra melihat ke sisi lainnya. Mencari hal yang mungkin lebih menarik dari pada foto Galang dengan sahabatnya semasa kecil.
Tapi tidak ada. Semuanya tampak normal. Bahkan tidak ada hal-hal yang berkaitan dengan Amara di sana. Ini mengherankan, tapi itu Galang.
Huh, dia kan memang aneh. Foto sahabatnya ada, tapi foto pacarnya tidak ada.
Eh, tapi kan mereka sudah putus dua tahun yang lalu. Mungkin dia sudah membuang semuanya?
Clarra tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya. Rasanya ini konyol sekali. Dia seperti abege yang sedang menyelidiki masa lalu kekasihnya.
Hah, jangan mencari-cari masalah yang tidak penting Cla. Atau kamu akan terjebak sendiri! Batinnya.
Kemudian perempuan itu memutuskan untuk keluar setelah memastikan penampilannya rapi.
"Kamu yakin? Apa nggak sebaiknya disini dulu?" Mayang terdengar berbicara dengan putranya setelah membantu dia berpakaian.
"Yakin Bu. Nggak bisa cuti lama-lama. Bisa kacau nanti jadwalnya Pak Dimitri." Galang menjawab.
"Tapi kan kamu sedang sakit?"
"Cuma kaki yang sakit. Tangan masih bisa bekerja. Lagian kerjaannya Clarra banyak, nggak mungkin aku biarkan dia kerja sendirian. Bisa keteteran kan?"
"Hmm … benar kata Rania."
"Hah? Si Oneng bilang apaan?"
"Kamu sudah ketularan orang-orang di perusahaan itu."
"Maksudnya?"
"Yang ada di otak kamu kerja, kerja, kerjaaaa terus. Seperti suaminya." Mayang merapikan pakaian putranya.
"Kan memang seharusnya begitu Bu? Ayah juga dulu gitu. Kerja terus, lembur tanpa henti. Apa lagi pas aku masih SMA."
Sang ibu terdiam.
"Kalau nggak, gimana aku bisa nabung tapi tetap bisa kirim uang ke ibu?"
"Hah, kamu terlalu memikirkan ibu."
"Ya apa lagi? Cuma ibu yang aku punya, ayah juga." Galang tergelak.
"Tapi jangan terlalu sibuk seperti itu Lang. Ingat, kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri. Jaga kesehatan agar ibu nggak khawatir."
"Aku sehat Bu. Lagian kalau udah masuk Nikolai Grup ya resikonya itu."
"Harus terus kerja biar sedang sakit juga?"
"Ya sebenarnya nggak juga sih. Tapi selagi bisa kenapa malas-malasan?"
"Tapi keadaanmu yang seperti ini?"
"Aku bisa kerja di apartemen."
"Bisa juga begitu?"
"Bisa lah. Ini bukan jaman batu."
"Hmmm …" Lalu perhatian mereka teralihkan ketika Clarra turun dari lantai dua setelah mendengarkan percakapan ibu dan anak itu untuk beberapa saat.
"Eh, Clarra nya sudah bangun. Ayo kita makan dulu? Baru kalian boleh pergi." ucap Mayang yang kemudian memapah putranya ke ruang makan, dibantu oleh Clarra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Baik, selamat datang di Amara'S Love." Empat orang pegawai baru berdiri di depan Amara. Yang sudah dia pilih dari hasil interview kemarin.
Gadis itu tidak sabar untuk memulai usahanya sehingga segalanya dia persiapkan dengan cepat.
"Sebelum pembukaan resminya, aku mau kalian bagikan dulu selebarannya. Terserah kalian di mana aja. Dii ujung jalan, di mall, di taman kota. Di mana aja yang memungkinkan bisa menyebar luaskan pembukaan kedai ini lusa." Amara berbicara lagi.
"Maaf Kak, gimana soal promosi di sosial media?" Salah satu dari mereka buka suara. Si gadis yang menjadi peserta terakhir pada interview kemarin sore.
"Soal itu aku yang urus. Kalian sebarkan aja dulu famfletnya."
"Begitu? Baik Kak."
"Nama kamu siapa tadi? Aku lupa."
"Nania Kak."
"Baik Nania, kamu disini bantu aku menerima barang yang sebentar lagi di antar. Dan kalian bertiga, bisa mulai bekerja menyebarkan famfletnya sekarang juga." Gadis itu mengatur pegawainya.
Lalu dengan segera mereka semua mengerjakan apa yang Amara perintahkan. Sementara Amara dan Nania tetap di kedai untuk menyiapkan segala hal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Semuanya sudah?" Clarra memastikan keadaan pria itu ketika mereka tiba di apartemennya pada sore hari.
Setelah melewati drama kekhawatiran Mayang yang sempat tidak membiarkan putranya kembali ke Jakarta hari itu. Namun berhasil juga setelah mengatakan cukup banyak alasan.
"Sudah." Galang yang merebahkan tubuhnya di sofa.
"Bagaimana nanti? Kamu bisa ke kamar mandi sendiri? Atau mengambil makanan?"
"Bisa aku cuma terkilir. Tenang saja. Tiga hari juga pasti sembuh." Galang menjawab.
"Bukan begitu."
"Atau kamu mau menemani aku di sini?" Galang berujar.
__ADS_1
"Apa? Tidak mungkin. Akan ada fitnah nanti."
"Bercanda Cla." Pria itu tertawa.
"Kalau soal makanan mungkin aku bisa menyempatkan sebentar ke sini."
"Tidak usah, aku bisa order online. Gampanglah, jadi kamu nggak usah repot."
"Serius."
"Aku juga serius. Kerjaan besok kamu banyak."
"Hmm … Memang."
"Makanya, nggak usah memikirkan aku. Selesaikan saja pekerjaanmu."
"Kalau itu sudah pasti Pak."
"Hmm … Kirimkan saja kalau ada yang harus aku kerjakan. Aku akan membantumu dari sini."
"Memangnya dengan keadaanmu yang seperti ini kamu bisa bekerja?" Clarra sedikit terkekeh.
"Sudah aku bilang kan, yang sakit itu kakiku. Yang lainnya nggak apa-apa, jadi aku masih bisa bekerja walau tidak pergi ke kantor."
"Kamu yakin?"
"Ya."
"Baiklah kalau begitu …." Percakapan mereka terhenti ketika terdengar bunyi bel dari arah pintu.
"Sepertinya ada tamu?" Clarra berjalan ke arah pintu untuk melihat.
"Ya?" Lalu dia tertegun ketika sudah mengetahui siapa yang datang.
"Clarra? Sedang apa kamu di sini?" Dimitri bereaksi. Mendapati sang sekretaris yang berada di unit apartemen asistennya.
"Aku? Umm …."
"Nah kan, aku bilang juga apa? Tadi jelas banget denger tante Mayang bilang kalau …." Dimitri segera membekap mulut istrinya yang dipastikan tidak akan berhenti bicara.
Setelah menanyakan kabar sahabatnya begitu dia mendengar insiden kecelakaan itu ketika bertelefon ria dengan Angga ayahnya, Rania segera memaksa suaminya untuk mendatangi apartemen Galang.
"Kami dengar Galang kecelakaan di turnamen kemarin?" Dimitri bertanya, tanpa melepaskan bekapan tangannya dari mulut Rania.
"Eee … ya. Benar." jawab Clarra dengan nada canggung.
"Parah nggak? Apanya yang luka? Jangan-jangan kakinya patah?" Rania menimpali.
"Hanya terkilir. Tapi kemarin sudah dipijat, dan tadi sebelum sampai sini sempat di periksa juga di rumah sakit. Dia baik-baik saja." Clarra menjelaskan.
"Beneran?"
"Siapa Cla?" Galang sedikit berteriak dari dalam.
Clarra menoleh sambil mengatupkan mulutnya sejenak.
"Umm … masuklah." Lalu perempuan itu mundur untuk memberikan jalan kepada pasangan tersebut.
Rania langsung menerobos ke dalam diikuti suaminya di belakang.
"Kamu kenapa?" Dia segera bertanya.
"Ya nengok kamu lah. Tadi pagi pas telfonan sama papa katanya kamu kecelakaan di turnamen?"
"Eee … iya. Gitulah." Galang menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Pasti setelah ini dia menginterogasi. Batinnya.
"Apa yang kena? Parah?" Rania memberondongnya dengan pertanyaan.
"Nggak, cuma keseleo."
"Dih, nggak elit banget lukanya cuma keseleo."
"Kamu pikir apa? Segini juga sakit tahu?"
"Ya kali, motornya sampai ringsek. Om Arif sama papa lagi benerin di bengkel. Aku pikir lukanya parah?" Rania tertawa terbahak-bahak.
"Zai …." Dimitri mencoba menghentikannya.
"Eh, maaf. Aku lupa." Lalu dia mundur dan mendekat kepada suaminya.
"Bagaimana keadaanmu Lang?" Dimitri bertanya.
"Tidak apa Pak. Hanya terkilir. Mungkin untuk tiga hari ke depan saya tidak bisa bekerja di kantor. Tapi saya sudah minta Clarra untuk mengirimkan pekerjaan agar bisa saya kerjakan di sini." Galang menjawab.
"Baik, tidak apa-apa. Istirahat saja."
"Terima kasih Pak."
"Hmm …."
"Anak-anak tidak ikut?" Galang melihat ke belakang mereka.
"Mereka nggak tahu kita ke sini. Kalau tahu ya ribut mau ikut. Apa lagi Anya." Rania menjawab. Kemudian dia dan Dimitri duduk di seberang Galang.
"Terus di mana mereka?"
"Di rumah papi."
"Kebiasaan ditinggal."
Rania tertawa.
"Terus kamu dari kapan di sini?" Dia beralih kepada Clarra.
"Kemarin." Perempuan itu menjawab.
"Kemarin?" Dimitri dan Rania bersamaan.
"Eee … maksudnya, dari kemarin di Bandung, terus pulang sama-sama." Clarra tergagap. Merasa menyesali jawabannya.
"Kamu kemarin ke Bandung, terus hari ini pulang sama-sama?" Dimitri memperjelas pertanyaan.
"Eee …."
"Kan, aku bilang juga bener. Aku nggak salah denger pas Tante Mayang bilang kalau Clarra nginep di sana." Rania lagi-lagi bereaksi.
__ADS_1
"Umm …." Kemudian Dimitri kembali menghentikannya.
"Oh, …." Rania mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menahan tawa.
Susah payah dia menutup mulutnya sendiri agar tidak membuat dua orang di depannya merasa malu, tapi sulit. Dan akhirnya dia tertawa.
"Ini beneran nggak sih apa yang aku pikirin? Aku merasa kalau di antara kalian itu ada apa-apa." Dia sambil tertawa, membuat kedua orang itu terlihat salah tingkah.
"Kan nggak mungkin kalau nggak ada apa-apa, tapi Clarra bela-belain ke Bandung setelah denger kamu kecelakaan Lang. Abis itu …."
"Zai!" Lagi-lagi Dimitri menghentikannya.
"Kamu diem dulu, aku lagi ngomong."
"Tidak usah begitu."
"Tapi kan …."
"Ya, …." Akhirnya Galang buka suara.
"Apaan?"
"Aku dan Clarra ada hubungan." lanjut pria itu yang seketika membuat keadaan menjadi hening.
Clarra bahkan sampai mendongak ke arahnya dan menatapnya lekat-lekat.
"Aku ada hubungam dengan Clarra, kenapa? Masalah?"
Rania mengatupkan bibirnya.
"Apa di Nikolai Grup dilarang memiliki hubungan antar sesama pegawai Pak?" Galang beralih kepada Dimitri.
"Apa? Tidak." Sang atasan berujar. "Tidak ada masalah dengan itu, hanya saja tidak boleh mencampur adukan masalah pribadi dengan urusan pekerjaan."
"Baiklah kalau begitu."
Sedangkan Rania mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum.
"Stop Oneng, kamu aneh!" Galang menggumam.
"Oh, akhirnya!" Perempuan itu mengatupkan kedua tangannya di depan wajah.
"Apa?" Galang menjengit.
"Nggak apa-apa, aku cuma seneng aja." Rania menjawab. "Iya kan Papi? Ini bagus kan?" Dia menoleh ke arah suaminya. Hatinya tentu saja merasa senang mendengar keadaan sahabatnya saat itu.
"Ya, bagus."
Bagus karena dia akan berhenti mengkhawatirkanmu. Batin Dimitri.
"Baiklah, karena kamu ternyata nggak apa-apa selain terkilir, aku rasa nggak ada yang perlu di khawatirkan lagi."
"Iyalah, memangnya kenapa?"
Rania menggelengkan kepala.
"Nah, sekarang sudah cukup kan? Galang tidak apa-apa?" Dimitri kembali berbicara.
"Hu'um."
"Jadi, bisakah kita pulang sekarang? Anak-anak pasti sedang mencarimu." ucap pria itu lagi.
"Oke."
"Baiklah. Kalau begitu kami pamit? Sampai bertemu besok di kantor Cla?" Dimitri meraih tangan Rania dan mereka pun bangkit dari sofa.
"Pergi dulu ya? Titip si Dudul ya?" ucap Rania kepada Clarra.
Perempuan yang di maksud pun hanya mengangguk tanpa mengucapkan apa-apa. Hingga akhirnya pasangan itu keluar dari unit tersebut.
"Apa itu tadi?" Clarra kembali ke hadapan Galang setelah mengantar kepergian Rania dan Dimitri.
Galang terdiam.
"Apa dia selalu seperti itu?" Clarra duduk di sofa yang sama.
"Hmm … ngga usah heran. Si Oneng memang begitu."
"Aku yakin setelah ini hari-hari kita nggak akan sama lagi."
"Hmm …."
"Bagaimana kalau orag sekantor tahu."
"Tahu apa?"
"Soal hubungan ini?"
"Tidak bagaimana-bagaimana." Galang merebahkan kepalanya pada sandaran sofa, kemudian memejamkan mata.
"Mungkin akan menjadi bahan pembicaraan." Clarra terkekeh.
"Biar saja lah. Memangnya kenapa?"
Perempuan itu terdiam, lalu dia melakukan hal yang sama. Merapatkan punggungnya pada sandaran kursi.
Benarkah yang aku jalani ini? Apa aku bisa? Apa ini akan berhasil? Batin Clarra.
Lalu dia menahan napas ketika merasakan sesuatu yang hangat menggenggam tangannya.
"Semuanya akan baik-baik saja bukan?" Galang yang tak merubah posisinya.
"Aku tidak tahu."
"Maka biarkan saja begitu, agar kita tahu." ucap pria itu yang tetap memejamkan mata.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
anu🙉🙉
like komen sama hadiahnya lagi dong
__ADS_1
alopyu sekebon❤❤