
🌺
🌺
"Yang sekarang obatnya harus dihabiskan ya, Pak Darren?" Dokter Kirana menggeser beberapa bungkus obat ke hadapan Darren yang sudah selesai diperiksa.
"Karena kalau terlalu lama dibiarkan, alerginya sulit disembuhkan," lanjut dokter cantik itu.
Darren tidak banyak bicara. Dia hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil menetralisir debaran di dada.
Belum lagi pria itu masih merasa malu akibat akal bulusnya terbuka tanpa sengaja karena ucapan Amara dan ibunya sendiri.
"Atau, kalau tidak mau meminum obat alergi, sebaiknya Pak Darren tidak mengkonsumsi makanan laut atau turunannya sama sekali. Tolong diawasi ya Bu?" Lalu Kirana beralih kepada Sofia.
"Darren sebenarnya penurut, Dokter. Dia juga paling disiplin di antara anak-anak saya. Dan soal makanan laut, justru paling dia hindari. Dia ini pemilih kalau soal makanan. Untuk hal lainnya juga." jelas perempuan di depannya.
"Mom!" Darren baru buka suara.
"Bagitu? Baik." Sang dokter hanya tersenyum.
"Iya, dia selalu hati-hati seperti papinya. Baru kali ini lho dia ceroboh, aneh."
"Aih, Mama!"
"Memang benar kan? Sejak kapan juga kamu begitu? Biasanya paling cerewet kalau soal makanan. Tanya bahannya apa, beli di mana, ada kandungan ikannya atau tidak."
Dokter Kirana tertawa pelan sambil sesekali melirik kepada pria yang semakin diam di tempat duduknya.
"Pengidap alergi kadang-kadang bosan juga, Bu. Apalagi yang alergi makanan. Melihat orang lain bisa makan dengan bebas membuat iri kan, Pak Darren?" Perempuan itu lalu berbicara.
"Umm …."
"Sama saya juga."
"Dokter alergi makanan juga?" Sofia bertanya.Â
"Saya alergi hewan berbulu. Padahal sangat menyukai kucing dan kelinci. Tapi karena alergi jadinya tidak punya hewan peliharaan. Kadang merasa iri dengan mereka yang bisa dengan bebas mempunyai peliharaan."
"Ohhh … sama dengan Darren ya?" Sofia tertawa.
"Beda Mom." Putranya bergumam.
"Sama-sama punya alergi. Jangan-jangan jodoh, eh." Perempuan itu segera menutup mulut dengan tangannya.
"Mom!" Darren menegakkan tubuhnya.
"Maaf, kadang saya suka asal bicara."
"Tidak apa-apa, Bu."
"Dokter sudah berkeluarga?" Sofia segera bertanya.
"Belum."
"Punya pacar?"
Kirana menggelengkan kepala.
"Masih singel atau janda?"
"Umm … singel tapi bukan janda."
"Masih gadis?"
Lalu Kirana mengangguk sambil tertawa.
"Kenapa? Ada yang ditunggu?"
"Oo, tidak juga."
"Kenapa? Apa tidak ada yang datang melamar atau semacamnya?" Pertanyaan perempuan itu menjadi lebih pribadi.
"Mom! Itu nggak sopan!" protes Darren dengan perasaan malu. Namun ibunya tidak menghiraukan.
"Saya santai, Bu."
"Begitu ya?"
"Kalau misalnya ada yang berniat melamar untuk anaknya, Dokter mau?"
"Umm … tergantung. Hehe." Suasana mulai terasa canggung untuk kirana dan Darren. Wajah pria itu bahkan menjadi semakin memerah karena ulah ibunya.
"Stop Mom!"
"Ah, maaf kalau saya tidak sopan. Ini hanya bertanya lho. Hahaha. Jangan tersinggung ya?"
"Come on Mom, sudah sore. Bukankah kita akan ke rumahnya Kak Dygta?" Darren mengingatkan.
"Benar juga. Maaf Dokter, jadi membahas hal lain ya? Terima kasih untuk hari ini. Jangan bosan kalau anak saya datang lagi ya?" Sofia dengan tawa renyahnya.
"What the …." Darren merasakan wajahnya memanas, sedangkan Kirana hanya mengangguk sambil tersenyum.
***
"Mama kenapa bicara sembarangan seperti itu? Aku kan jadi malu." Mereka dalam perjalanan pulang.
"Kenapa malu-malu? Kalau suka ya katakan saja, tidak usah mencari-cari akal untuk bertemu. Kenapa kamu ini?"
"Aku tidak mencari-cari akal, lagi pula siapa juga yang suka kepadanya?"
"Mmm … kamu bisa membohongi siapa pun, tapi tidak ibumu."
"Ah, Mama mengada-ada."
"Ya kalau bisa tidak apa-apa. Kecuali kalau tidak bisa, jangan memaksa."
Darren terdiam.
"Eh, ayo kita menemui orang tuanya dan melamar dia? Sebelum orang lain mendahului?" Sofia dengan ide briliannya.
"Apa?"
"Kita, kerumah Dokter Kirana untuk menemui orang tuanya?" Perempuan itu menggerak-gerakkan alisnya ke atas dan ke bawah.
"Untuk apa?"
"Sudah Mama katakan untuk melamarnya kan?"
"Kenapa harus begitu? Baru juga kenal? Masa buru-buru?"
"Ya tidak apa-apa, mumpung ada jodohnya."
__ADS_1
"Tidak! Lagi pula aku belum benar-benar mengenal dia. Bagaimana kepribadiannya, apa benar masih sendiri? Kalau ternyata sudah punya pacar bagaimana?"
"Kamu tidak dengar jawaban dia waktu Mama tanya ya?"
"Bisa saja dia bohong. Jaman sekarang mana ada yang benar-benar jujur?"
"Misalnya kamu? Yang berbohong agar bisa bertemu dia?"
"Aku nggak bohong. Kan aku benar-benar sakit makanya berobat."
"Tapi sakitnya disengaja, memangnya Mama tidak tahu?"
"Tidak Mom."
"Hey, Mama yang melahirkanmu. Mama juga yang mengurusmu, jadi apa yang Mama tidak tahu tentang kamu?"
"Yeah, right." Darren memutar bola matanya.
"Lagipula apa fungsinya suruhan Papimu kalau soal identitas dan data orang saja tidak berhasil kita dapatkan?"
"Jangan katakan kalau papi menyelidiki Kirana?"
"Memangnya apa yang kamu harapkan? Ketika seseorang mulai memasuki kehidupan anggota keluarganya, hal pertama yang dia lakukan adalah menyelidikinya."
"Mom!"
"Apa?"
"Dia bukan siapa-siapa! Aku bahkan belum sempat mengajaknya berbicara. Mengapa papi melakukan itu?" protes Darren lagi, merasa tidak senang dengan pernyataan ibunya.
"Memangnya kamu tidak mau dia menjadi apa-apamu?" Sofia menatap anak bungsunya itu.
Darren tak menjawab.
"Ren?"
"Kami belum saling kenal."
"Maka perkenalkan dirimu, dan berusahalah untuk mengenalnya!"
"Bagaimana kalau dia tidak mau?"
"Setidaknya kamu sudah berusaha."
Darren terdiam lagi.
"Kenapa kamu seperti ini? Kamu ini putranya Satria Nikolai!" Sofia menepuk bahu putranya.
"Aku malu, Mom." Darren terkekeh.
"Malu? Malu kenapa?"
"Entahlah. Aku selalu bisa berhadapan dengan siapa pun, mengerjakan apa saja, dan mengatakan apa saja. Tapi bertemu dengan Dokter Kirana? Rasanya aku tidak tahu apa yang harus dikatakan."
Sofia tersenyum menatap wajah putranya yang memerah.
"Aaahhh, anakku sudah dewasa ya?" Perempuan itu tertawa.
"Stop Mom! Sebentar lagi aku 27 tahun, dan aku mengalami ini? Betapa konyolnya." Darren pun tertawa.
"Ish, tidak apa-apa. Memangnya salah ya?"
"Entahlah, hanya saja aku merasa konyol. Hahaha."
"Apa kamu tidak mau masuk rumah sekarang?" Galang mengusap-usap kaki Amara yang berada di pangkuannya.
Mereka menghabiskan sore di pantai belakang rumah yang tengah disulap menjadi tempat diadakannya pesta resepsi untuk esok hari.
"Sebentar lagi, langitnya masih bagus." Sedangkan perempuan itu menikmati kelapa muda yang dipetikkan oleh pegawai orang tuanya langsung dari pohon yang berjejer di sekitar mereka.
Semburat orange kemerahan menghiasi langit pantai dengan pasir putih di salah satu kawasan elit Jakarta itu.
Tenda sudah di dirikan dan dekorasi tengah dipasang. Pun beberapa orang yang sibuk dengan pekerjaan mereka untuk membuat tempat itu menjadi sebagus mungkin.
"Ayah sama ibu udah sampai belum?" Amara mengingat mertuanya yang memberi kabar kedatangannya ke Jakarta sore itu.
"Mungkin masih dijalan." Galang melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Nanti mau menginap di mana?"
"Di apartemen saja."
"Kenapa nggak disuruh kesini?"
"Nanti disini jadi terlalu banyak orang."
"Kan udah biasa. Setiap hari juga banyak orang. Sering ribut lagi?"
"Justru itu." Galang terkekeh melihat Amara yang tidak berhenti meminum kelapa muda miliknya.
"Ibu sama ayah kesininya sama siapa?"
"Sama paman dan bibi, juga keluarganya Om Angga."
"Papanya Kak Rania?"
"Iya, siapa lagi? Tuh aki-aki kan bestienya ayah."
"Mereka emang sodaraan?"
"Nggak juga."
"Tapi kok deket kayak sodara?"
"Dulu sama-sama penghuni komplek pertama waktu masih sepi. Jadi ya kalau ada apa-apa saling mengurus."
"Ohh … Jadi Kak Rania juga temen Kakak dari kecil kan ya?"
"Hu'um."
"Kalau Kak Rania nggak ketemu Kak Dim, pasti dijodohin sama Kakak."
"Siapa bilang?"
"Biasanya kalau orang tuanya sahabatan kan gitu?"
"Belum tentu juga."
"Masa? Kan Kakak juga deket sama Kak Rania?"
"Memang kalau kita dekat dengan seseorang, terus orang tua sahabatan harus sijodohkan?"
__ADS_1
"Biasanya."
"Jangan mulai, Neng!" Galang bereaksi.
"Apaan?"
"Nanti ujung-ujungnya kita berdebat, terus bertengkar?"
"Aku cuma mikir."
"Dari pikiran bisa jadi bayangan. Terus nanti kamu berandai-andai, selanjutnya kamu akan berhayal tentang semua hal yang mungkin terjadi. Bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu. Setelahnya kamu jadi overthinking, dan ujung-ujungnya asli nggak akan baik."
Amara tertawa.
"Serius, kamu kan begitu."
"Umm …."
"Stop!"Â
"Yah, habis?" Perempuan itu memicingkan mata mengintip kedalam buah kelapa tersebut.
"Punyaku masih ada, mau?" Lalu Galang memberikan miliknya.
"Boleh? Emangnya Kakak udah?" Amara dengan riang.
"Buat kamu saja."
"Uuu … baik banget sih?" Amara menyentuh pipi suaminya.
"Memang, baru tahu ya?" Galang tersenyum riang.
"Setelah anak-anak lahir Kakak masih akan sebaik ini nggak?" Amara kembali menyesap minuman dari buah khas kawasan pantai tersebut.
"Kenapa tidak? Kan memang seharusnya begitu."
"Beneran?"
"Iya. Masa berubah?"
"Kali aja?"
"Tidak akan. Nanti dikirim santet sama emak-emak netijen kalau aku begitu."
"Ngeriiiii."
"Memang. Hanya para author yang tahu seberapa ngerinya emak-emak kalau sudah komen."
Amara tertawa lagi. Kemudian dia meletakkan kelapa di atas meja, lalu merangsek ke dekat suaminya.
Kedua tangannya merangkul bahu Galang dengan perasaan gemas.
"Jangan begini, Neng. Kita diluar." Pria setengah menghindar.
"Memangnya kenapa?"
"Malu ada crew yang sedang bekerja."Â Galang melirik orang-orang di sekitar tenda.
"Tiap hari juga dipantau reader, tapi Kakak nggak apa-apa."
"Itu beda."
"Bedanya di mana?"
"Reader nggak kelihatan, tapi mereka kelihatan." ucap Galang.
"Ah, anggap aja crew juga kayak reader yang nggak kelihatan."
"Mana bisa? Nyatanya mereka ada di sini kok?"
"Bisa-bisa aja." Perempuan itu malah mengeratkan pelukan.
"Neng?" protes Galang ketika Amara merangkulnya semakin erat.
"Apaan?"
"Jangan begini lah, mana sebentar lagi aku mau pergi lagi."
"Pergi ke mana?"
"Ke apartemen menemui ayah dan ibu."
"Kakak bilang masih di jalan?"
"Iya nanti kalau sudah sampai."
"Kalau gitu masih ada waktu."
"Waktu untuk apa?"
"Ketemu si kembar."
"Apa?"
"Emangnya Kakak nggak mau ketemu si kembar?" Amara menggerak-gerakkan alisnya sambil tersenyum, sementara Ngalang mengerutkan dahi.
Namun kemudian dia mengerti maksud perkataan perempuan itu.
"Tapi masih sore." Galang menoleh ke belakang di mana orang-orang sedang berkumpul. Bahkan Satria dan keluarganya pun sudah berdatangan.
"Nanti malam apalagi. Mama juga pasti ke sini, belum yang dari Solo sama Jogja?"
"Umm …."
"Nggak mau? Ya ud …."
"Okelah." Pria itu segera bangkit.
Dia lantas menarik Amara sehingga perempuan itu berdiri. Namun kemudian Galang meraup tubuhnya dalam gendongan dan setengah berlari membawanya ke dalam rumah.
"Ada apa?" Arfan bertanya karena anak dan menantunya terlihat tergesa-gesa.
"Tidak ada, hanya mau ke air." jawab Galang yang bergegas membawa Amara ke lantai dua.
"Mesra-mesraan teruuuuuussss!" Arkhan setengah berteriak dari ruang tengah, namun keduanya tak menghiraukan.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung ....
Anu teroooooosssss!!😜😜😜😜