
🌺
🌺
Satu minggu kemudian …
Clarra mengangkat kepalanya ketika seseorang meletakkan satu kotak makanan di meja. Dan senyum manis Galang mendominasi pandangan.
"Apa ini?" Dia bertanya.
"Makanan." jawab Galang, kemudian dia duduk di kursi yang tersedia, seperti biasa.
Clarra mengerutkan dahi.
"Kamu suka lupa makan kalau sudah bekerja." Pria itu berujar.
"Kamu tahu, kamu tidak perlu melakukan hal-hal seperti ini." Perempuan itu berucap.
"Kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa, hanya … tidak usah saja." katanya.
Galang tampak terkekeh.
"Dan berhentilah bersikap berlebihan seperti ini!" protes Clarra.
"Berlebihan di sebelah mananya? Aku hanya membawakanmu makanan, apa itu salah?"
"Tidak, hanya saja …."
"Aku cuma menunjukkan perhatian, kenapa kamu selalu menolaknya?"
"Jangan seperti itu, aku tidak terbiasa."
Galang memutar bola matanya.
"Serius, dan jangan pula menunjukkan perhatian dalam bentuk apapun apa lagi di depan orang banyak."
"Apa?"
"Aku tidak nyaman." Clarra ingat saat pertama kali mereka memasuki kantin sebagai pasangan kekasih. Pria itu menunjukkan perhatiannya dengan memesankan makanan dan membawakannya.
Meski hanya hal sederhana, namun membuatnya merasa canggung.
"Sekarang katakan, apa yang membuatmu nyaman? Aku hanya melakukan hal itu karena merasa harus."
"Hanya … bersikaplah seperti biasa. Tidak usah ada yang berubah."
"Begitu?" Galang mencondongkan tubuhnya ke arah meja.
"Ya, bersikap biasa sajalah."
"Aku bersikap biasa. Seperti seorang laki-laki kepada kekasihnya." Dia memiringkan tubuh sehingga dapat melihat wajah Clarra lebih jelas.
"Ugh! Berhenti mengatakan hal itu!" Clarra mulai merasa kesal.
"Kenapa? Bukannya keadaannya memang begitu?" Galang menahan tawa. Terkadang dia merasa sikap perempuan yang usianya lebih tua empat tahun darinya ini cukup lucu untuk ukuran orang dewasa.
"Nanti ada yang dengar."
"Siapa? Disini tidak ada orang selain kita."
Clarra terdiam.
"Kamu merasa malu karena berhubungan dengan pria yang usianya lebih muda?"
"Umm …."
"Atau malu karena orangnya adalah aku?"
"Lang …."
"Aku tidak pantas untukmu?"
"Kenapa kamu bilang begitu?"
"Karena sikapmu …."
"Ini rasanya aneh. Dan aku belum terbiasa, kamu tahu?"
"Aku tahu, maka biarkanlah seperti itu. Nanti juga akan terbiasa."
"Kamu tidak malu jalan denganku?"
"Kenapa harus malu?"
"Seperti yang kamu bilang, usiamu lebih muda dariku, dan …."
"Usia itu hanya sebuah angka. Pribadimu yang menunjukkan bagaimana dirimu."
"Kata-katamu seperti Mama."
"Benarkah? Berarti kami satu server." Galang tertawa lagi.
"Apa maksudmu itu?"
__ADS_1
"Kami memiliki pemikiran yang sama."
"Ish, kegeeran."
"Tapi bagus kan?"
Clarra menggelengkan kepala namun sambil tersenyum.
"Baiklah, … sebentar lagi aku harus pergi kan?" Galang melihat jam di pergelangan tangannya.Â
"Ya, pertemuan di Hotel Indonesia dengan investor dari Qatar."
"Baik." Pria itu bangkit kemudian melenggang ke arah ruangan Dimitri.
🌺
🌺
Amara menatap sekeliling ruangan yang telah siap pakai itu. Segala perabotan telah diletakkan di tempatnya, dan semua ornamen telah di pasang di tempat yang seharusnya. Dia menyelesaikan penataan ruang itu bersama Arfan, Dygta, dan beberapa orang suruhan sang ayah.
"Sudah sesuai keinginanmu?" Arfan berdiri di sampingnya melakukan hal yang sama.
"Ya, ini bagus."
"Bisa dibuka Senin nanti Kak, kalau semuanya sudah siap." Dygta pun ikut bergabung.
"Tapi aku belum punya pegawai. Baru aku bikin pengumuman lowongan kerjanya." Amara menunjukkan lembaran kertas berisi tulisan pengumuman.
"Tidak mau ambil dulu karyawannya Papa?"
"Nggak. Aku mau orang-orang baru."Â
"Atau mau Papa promosikan juga?"
"Nggak Pah."
"Kamu serius ya?"
"Ya."
"Padahal kalau pakai jasa promosi timnya papa akan lebih menguntungkan lho. Mereka bisa bikin promosi dengan bentuk apa saja." Dygta menyela percakapan.
"Ya, tapi untuk sekarang kayaknya aku harus jalankan sendiri dulu. Banyak media yang bisa aku gunakan untuk promosi."
"Apa sih salahnya kalau menggunakan namanya Papa? Bukannya akan lebih menguntungkan?" ujar Dygta.
"Ini kan kedai kecil, mana cocok pakai promosi besar-besaran, apalagi menggunakan nama Papa. Nanti terlalu ramai dan aku nggak bisa menanganinya, nama papa jadi jelek."
"Hmm …."
"Yah, terserah kamu sajalah. Tapi famflet dan selebarannya sudah ada kan? Kalau belum nanti Papa suruh orang untuk membuatkan."
"Baik. Kalau semuanya sudah selesai, sebaiknya kami pergi dulu. Adik-adikmu harus dijemput." Arfan memeriksa jam tangannya.
"Oke Pah."
"Kamu masih mau disini?"
"Iya."
"Baiklah. Hati-hati pulang nanti ya?" Pria itu berujar.
"Iya Papa." Kemudian kedua orang tuanya itu pergi.
***
Lembaran pengumuman penerimaan pegawai sudah Amara tempel di kaca depan kedai dengan tulisan dan gambar yang cukup mencolok. Dan dia menatapnya dengan perasaan puas dan penuh harap.
Kemudian perhatiannya dia tujukan ke arah sebuah bangunan tinggi yang berjarak beberapa blok dari tempatnya berdiri.
Meski terletak di antara gedung-gedung lainnya, namun bangunan megah itu tampak mencolok. Dengan logo Nikolai Grup di bagian paling atas gedung membuatnya bisa dilihat dari arah manapun, dan dikenali oleh siapa pun.
"Sudah seminggu Kak, tapi kamu nggak ada kabar." Gadis itu bergumam sambil menatap gedung tersebut.
Mungkin sekarang ini Galang sedang bekerja di tempat itu, sama seperti ayahnya beberapa tahun yang lalu.
"Kamu pasti sangat sibuk sampai-sampai nggak sempat bahkan untuk mengirim kabar." Amara menghembuskan napas berat.
Dia kemudian merogoh ponsel di saku celananya.
"Dia bahkan nggak membuka blokiran whats app nya. Semuanya masih di blokir." gumamnya lagi, kecewa.
"Sesibuk itu ya kamu?" Dia kembali menatap gedung Nikolai Grup yang berdiri dengan megah di ujung blok.
"Apa aku kesana lagi ya?" Amara berpikir.
"Eh, dia kan banyak kerjaan. Nanti aku ganggu lagi, kan nggak enak."
"Tapi kalau gini aku jadi galau." Gadis itu kembali kedalam kedainya, kemudian mengambil tas miliknya. Lalu dia memutuskan untuk pergi.
🌺
🌺
"Memang setiap akhir pekan kamu selalu pulang ke Bandung?" Fahmi menerima kedatangan putrinya dengan Galang yang memutuskan untuk mampir. Setelah beberapa hari pria itu terlihat mengantarkan Clarra hingga ke depan gerbang, atau sesekali pergi bersamanya di pagi hari. Meski mereka menggunakan kendaraannya masing-masing.
__ADS_1
"Iya Pak. Kalau tidak pulang ibu suka khawatir. Takut saya kenapa-kenapa." Galang menyesap minuman yang dibawakan asisten rumah tangga untuknya.
"Kamu berapa saudara?" Fahmi mulai mencari tahu.
"Saya anak tunggal Pak."
"Oh, sama seperti Clarra."
"Iya, hehe …" Pria itu tertawa pelan. Rasanya ini mulai canggung.
"Orang tuamu dua-duanya masih ada?"
"Masih Pak."
"Itu bagus."
"Iya."
"Pekerjaan mereka apa?"
"Ibu saya hanya ibu rumah tangga. Ayah pensiunan pabrik."
"Baik. Tapi mereka masih sehat?"
"Sehat Pak."
"Bersyukur. Orang tua masih lengkap dan mereka sehat."
"Tapi ayah saya bandel. Suka mengerjakan pekerjaan yang seharusnya tidak dikerjakan orang tua."
"Misalnya?"
"Naik-naik ke genteng, membetulkan rumah, atau apa saja. Mungkin merasa masih muda." Mereka tertawa.
"Orang tua kadang melakukan itu untuk mengisi waktu. Apalagi yang tidak punya kegiatan seperti kami ini."
"Iya, mungkin ayah saya juga begitu."
"Memang."
Sesekali Galang melirik ke arah pintu, dan Fahmi mengerti dengan sikapnya.
"Clarra mungkin sedang mandi. Sebentar lagi dia turun."
"Iya Pak. Maksudnya, saya mau pamit. Sudah terlalu sore." Galang bangkit dari kursinya.
"Begitu? Mau langsung ke Bandung?"
"Mungkin ke apartemen dulu, nanti malam baru pergi."
"Baiklah."
Dan bersamaan dengan itu Clarra pun muncul dari dalam rumah. Sudah dalam keadaan segar dan penampilan berbeda. Hanya mengenakan kaus dan celana panjang dan rambutnya dibiarkan terurai begitu saja.
"Mau pulang sekarang?" Dia langsung tahu.
"Ya."
"Pulang ke Bandung?"
Pria itu menganggukkan kepala.
"Aku pikir kamu pulangnya besok?"
"Umm … biar lebih lama di sana. Lagi pula besok aku ada turnamen."
"Turnamen apa?"
"Motor cross."
"Kamu crosser juga?" Fahmi menyela percakapan.
"Cuma hobi Pak."
"Oh, …."
"Kalau begitu, aku pamit ya?" ucap Galang kepada Clarra, yang segera dijawab dengan anggukkan oleh perempuan itu.
"Saya pamit Pak." Lalu dia berpamitan kepada Fahmi, dan mengangguk ke arah Vita yang muncul kemudian.
Pria itu menyalakan mesin motor yang sudah dia naiki, lalu segera pergi dari tempat tersebut diantar dengan lambaian dan senyum dari Clarra.
Sementara di seberang jalan, di dalam sebuah mobil berwarna putih yang tak mereka sadari kehadirannya, Amara menatap adegan itu dengan dada bergemuruh.
"Apakah ini penyebabnya?" Dia menempelkan kepalanya pada belakang kursi.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Oh My God!!😱😱😱
__ADS_1
Terimakasih untuk yang masih stay. Tetep baca, tetap like, komen sama kirim hadiah juga votenya.
alopyu sekebon😘😘