My Only One

My Only One
Dificulties


__ADS_3

🌺


🌺


"Udah sore Kak, kenapa nggak pada pulang?" Amara melirik jam dinding di atas pintu masuk pantry.


Daryl bersamanya di ruang masak, membantu dia mengerjakan bagiannya. Sementara Darren di depan bersama para waiter menerima pesanan. Pengunjung cukup ramai pada hari itu hingga kedua pria tersebut memutuskan untuk turun membantu.


"Nggak apa-apa, sambil main." Daryl menjawab.


"Ini bukan main, tapi bantuin aku." Amara tertawa.


"Ya, sebut saja begitu." Pria dengan tinggi 180cm bermbut cokelat berkilau itu ikut tertawa.


"Memangnya kalau jam segini ramai juga kah?" Darren meletakkan nampan setelah mengantarkan pesanan pembeli.


"Lumayan, dari petang ke malam banyak yang nongkrong juga."


"Yang datang bukan cuma pegawai kantor ya?"


"Kayaknya bukan deh."


"Bagus-bagus. Kamu pintar memilih tempat usaha."


"Jadi kamu bukanya sampai malam?"


"Kadang-kadang."


"Pulang sendiri?"


"Aku nggak pulang, sekarang tinggal di sini."


"What?"


"Iya, tadinya mau cari apartemen kan? Tapi aku pikir-pikir lagi, lantai atas juga kosong. Sayang kalau nggak aku tempatin."


"Hmm … kamu sendirian di sini?"


"Nggak, ada satpam."


"Apa?"


"Maksudnya ada satpam di gedung sekitar." Amara tertawa lagi.


"Uhh, Ara-ku ini benar-benar sudah dewasa ya? Sudah berani tinggal sendirian!" Daryl tampak semakin gemas kepada gadis di sampingnya. Dia bahkan sampai sedikit menunduk untuk menempelkan kepala mereka berdua. 


"Pada akhirnya semua orang akan sendiri. Jadi apa yang harus ditakutkan?" Amara mendongak.


Daryl menatap wajahnya yang ceria seperti biasa. Memindai kedua maniknya yang bening, persis seperti ketika gadis itu masih kecil. Dan dia semakin menyukainya.


"Kamu seperti orang yang sedang patah hati." Daryl menjawab.


"Kakak sok tahu." Namun Amara tergelak.


Dia lantas meletakkan makanan yang telah dibuatnya di piring yang sudah Nania siapkan seperti biasa.


"Oh iya, … bagaimana hubunganmu dengan … siapa itu? Asistennya Kak Dim?"


Amara tertegun.


"Kan udah putus." katanya kemudian.


"Benar-benar putus?"


"Iya. Sebelum aku pergi ke Paris."


Daryl mengangguk-anggukkan kepala.


"So you free now?" Daryl bertanya.


"Hum?" Amara mengerutkan dahi.


"I mean, kamu bebas pergi kemana pun dengan siapa pun kan? Itu bagusnya being single?" Pria itu tertawa.


Daryl merasa dadanya hampir saja meledak setelah mengatakan kalimat itu. Hampir juga dia mengucapkan hal konyol kepada gadis disampingnya.


"Kakak benar."


"Memang. Nggak akan ada yang mengaturmu untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Nggak akan ada yang menghalangi langkahmu mewujudkan apa yang kamu mau. And the best part is … you can go anywhere with someone else. Dan nggak akan ada yang marah soal itu."


Amara menganggukkan kepala. 


"Pesanannya hey! Kalian ini kalau bertemu pasti banyak ngobrol!" protes Darren dari luar pantry yang sejak tadi menunggu pesanan yang akan diantarnya.


"Kau ini cerewet sekali!" Daryl menyerahkan dua piring berisi pesanan kepada saudara kembarnya.


"Kalian yang banyak bicara, membuat pelanggan menunggu. Dan itu akan membuat review kedai ini menjadi buruk tahu?"


"Ini selesai?"


"Iya, kalau aku nggak protes." ucap Darren yang berlalu sambil mengantarkan pesanan tersebut.


"Huh, dasar. Dia kalau jadi manager pasti dibenci semua pegawai." Daryl menggerutu, membuat Amara tertawa terbahak-bahak.


"Senang sekali kamu menertawakan aku?"


"Habisnya kalian ini lucu. Udah sedewasa ini masih aja sering ribut. Padahal kemana-mana nggak bisa kalau nggak sendirian."


"Dia kan saudaraku tahu?"


"Iya iya, saudara kesayangan."


"Itu kamu mengerti."

__ADS_1


"Hu'um. Uuhh … seneng banget Kakak datang. Aku jadi ketawa terus." Amara merangkulnya sejenak.


"And you still be my favourite girl." Daryl bergumam.


"Kakak juga cowok favorit aku."


"Really?"


"Ya, kak Darren juga. Kak Dim, Papi, dan Papa aku." Amara mendongak sambil tersenyum.


Daryl segera melepaskan pelukannya.


"Ugh! Aku bukan satu-satunya ya?" Dia memutar bola matanya.


Amara tertawa lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bukankah itu Daryl dan Darren?" Clarra menunjuk ke sebelah kiri jalan di mana bangunan kedai milik Amara berada.


Kedai yang setiap sorenya juga di datangi pengunjung yang sebagian besarnya merupakan keryawan kantor sekitar yang memutuskan untuk melepas penat di sana sebelum pulang ke rumah masing-masing.


Galang yang berada di balik kemudi menoleh. Sudah beberapa hari mereka pergi bersama dari kediaman Clarra menggunakan mobil perempuan itu. Sementara motornya dia biarkan berada di sana seharian.


"Mereka sudah datang ya?" Mobil berhenti tepat di depan kedai Amara ketika lampu laulu lintas di depan berubah merah. Sehingga mereka bisa melihat kegiatan di dalam sana.


"Sudah. Aku dengar mereka akan bergabung ke Nikolai Grup juga."


"Oh ya? Aku belum tahu soal itu."


"Baru pembicaraan Om Satria kemarin. Mungkin akan diadakan rapat dalam beberapa hari ke depan yang akan membahas soal itu."


"Benarkah?"


"Ya. Jadi nanti pekerjaanmu hanya mendampingi Dimitri saja. Tanpa harus mengurus pekerjaan lainnya. Bagaimana? Ringan bukan?"


"Hmm …."


Entah mengapa pemandangan di dalam sana membuatnya merasa kesal. Ketika dia melihat interaksi antara Amara, Darren dan Daryl yang begitu akrab.


Mereka yang bekerja mengantarkan makanan ke meja pelanggan, yang terlihat sambil tertawa dan bercanda.


"Jam segini ramai juga ya di sana?" ucap Clarra yang masih menatap ke dalam kedai yang ramai.


"Hmm …." Galang pura-pura mengalihkan perhatian ke arah jalanan yang masih belum bergerak.


Kenapa juga harus berhenti di depan sini ya? Duh ....


"Eh, besok pagi sudah tahu kan kalau ada pertemuan di luar?" Clarra beralih kepada Galang.


"Iya."


"Mau langsung pergi atau sama-sama lagi dari rumah?"


"Sepertinya aku pergi dari rumah Pak Dimitri."


"Hmm .... Biar nggak terlalu memutar. Netijen suka ada yang kesal karena aku berputar-putar terus."


"Duh, sampai bawa-bawa netijen?"


Galang menggendikkan bahu.


"Kamu kenapa? Capek ya? Dari tadi lebih banyak diam?" Clarra menyentuh pundak pria itu.


"Lumayan."


"Ya sudah, kita cepat pulang saja."


"Ya, kan ini juga mau. Tapinya macet."


"Hmm … kamu benar." Perempuan itu tertawa.


"Hey Cla, menurutmu aku harus beli mobil?"


"Apa? Mobil?"


"Ya."


"Entahlah, terserah kamu. Kalau butuh ya beli."


Galang berpikir.


"Sudah capek bawa motor terus ya?"


"Sepertinya aku bosan."


"Ya, beli saja. Kalau mampu kenapa nggak?"


"Hmm …. Nanti aku pikirkan lagi."


Dan tak lama kemudian lampu lalu lintas berubah hijau, membuat kendaraan-kendaraan itu kembali melaju, begitu juga mobil yang Galang kendarai. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Udah beres semua?" Amara mendapati para pekerjanya yang suda menurunkan tirai dan menggantungkan tanda tutup di pintu dan jendela. Suasana sudah sepi, dan tak ada lagi pengunjung yang datang.


Malam memang telah larut dan sepertinya orang-orang sudah tak lagi berdatangan ke tempat itu.


"Udah Kak."


"Ya udah, kalau mau pulang silahkan." ucap Amara, yang duduk di kursinya bersama dua pria setengah bule yang masih berada di sana.


"Baik Kak, kami duluan ya?" Nania berpamitan, begitu juga yang lainnya.

__ADS_1


"Setiap hari kamu tutup jam segini?" Daryl menyeruput capucino panasnya yang baru saja dibawakan oleh Amara.


"Kadang-kadang."


"Ramai juga ya di sini?" Darren menyahut seraya merenggangkan tubuhnya.


"Biasanya nggak seramai tadi. Ini pasti karena ada Kak Daryl dan Kak Darren." Amara tergelak.


"Apa hubungannya?"


"Ya kali kedai aku punya waiters yang ganteng-ganteng. Mana sebagian besar tadi yang makan disini perempuan lagi? Jelas keberadaan Kakak ada pengaruhnya."


"Bagus kan?" Daryl dengan bangganya 


"Bagus bagus." Amara menepukan kedua tangannya dengan riang.


"Oh ya, setelah wisuda ini Kak Daryl sama Kak Darren mau ngapain?" Amara menyesap lemon tea panas miliknya.


"Ya kerja lah, apa lagi? Mau kuliah lagi tapi Mama keburu protes." Daryl menjawab.


"Lagian, kuliah melulu yang di pikirin? Perusahaan juga butuh kalian tahu?"


"Yeah, kamu benar."


"Kasihan Kak Dim ngurus Nikolai Grup sendirian. Kayaknya udah waktunya juga kalian gabung."


"Yeah, memang."


"Jadi mau kerjanya di mana?"


"Belum tahu, mungkin di pusat? Biar lebih dekat dengan kamu?" Daryl tertawa.


"Dih?"


"Duh, sudah mulai." Darren menggumam. "Der, sebaiknya kita pulang. Mama nelfon aku terus dari tadi." lalu dia menginterupsi percakapan dua orang di dekatnya.


"Sebentar lagi kenapa sih? Kan aku sudah bilang kalau kita di tempatnya Ara?"


"Iya, tapi ini sudah malam. Mungkin Ara mau istirahat?" Darren beralih kepada Amara.


"Memang kamu suka langsung istirahat?" Daryl bertanya.


"Ya iyalah, dia kan kerja seharian, masa begitu saja kamu nggak ngerti?"


"Kadang-kadang Kak. Habis rekapan sebentar ya tidur."


Daryl melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Ya sudah, kalau begitu kami pulang lah. Bisa-bisa Mama ribut juga."


Amara mengangguk sambil tertawa.


"Beginilah kalau hidup dengan orang tua. Apa-apa di awasi."


"Jangan mengeluh Kak."


"Kadang-kadang aku berpikir mungkin nikah muda lebih baik, biar nggak diatur orang tua lagi?"


"Ya nikah aja, apa susahnya? Kakak kanudah cukup umur. Bukan nikah muda lagi."


"Masalahnya calonnya nggak ada."


Amara mencebik.


"Kamu mau nggak nikah dengan aku?" Daryl tiba-tiba saja berujar.


"Astaga!" Sementara Darren menepuk kepalanya sendiri. Merasa tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh saudara kembarnya.


"Dih, masa aku nikah sama om aku sendiri?" Amara menjawab.


"Nggak apa-apa, kita kan nggak sedarah?"


"Tetep aja, Kak. Mama Fia sama Papi itu mertuanya papa aku, jadi gimana nantinya? Pusing Kak." Amara tertawa.


"Lagian, kenapa juga sih Om Arfan pakai nikah dengan Kak Dygta segala? Kan jadi ribet begini." Daryl menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kakak ngomong apa sih, nggak jelas?"


"Ck! Kamu ngelantur Der, padahal nggak minum alkohol." Darren menarik saudaranya untuk bangkit.


"Kami pulang ya Ra?" pamit Darren kepada Amara sambil menarik kakak kembarnya keluar.


"Dah Ra, besok aku kesini lagi ya?" Daryl melambaikan tangan, yang dibalas dengan lambaian pula oleh gadis itu.


"Kau ini jangan bicara sembarang tahu? Dia kan sudah seperti adik kita? Masa mau memacari adikmu sendiri? Gila kau ini!" Darren terdengar menggerutu.


"Siapa tahu dia juga mau? Kan bagus? Hahaha …." Namun Daryl malah tertawa.


"Dasar bodoh!" Darren mendorongnya masuk ke dalam mobil, kemudian mereka segera pergi.


Sedangkan Amara tertegun di ambang pintu, menatap kepergian dua pria itu hingga mereka menghilang diantara mobil-mobil lainnya.


"Hmm … saudara kembar yang aneh." Gadis itu menggelengkan kepala.


Kemudian dia menutup pintu dan menguncinya seperti biasa. Menutup tirai dan mematikan lampu bawah hingga menyisakan hanya satu lampu luar saja yang menyala. Dan setelahnya, dia bergegas ke lantai dua untuk beristirahat.


Lalu seseorang diluar pun segera pergi memacu motor besarnya setelah memastikan tak ada lagi yang datang, terutama setelah dia puas mengawasi keadaan hingga akhirnya kedai tutup pada malam itu.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


Bersambung ...


Muter teroooosss, biar lama 😉😉🤣🤣🤣


__ADS_2