
🌺
🌺
Galang membuka mata perlahan saat telinganya menangkap suara obrolan di sekitar. Dan dia menemukan Clarra juga kedua orang tuanya yang sedang bercakap-cakap.
Pria itu mencoba menggeliat namun akhirnya melenguh saat dia merasakan nyeri pada tubuhnya. Membuat perhatian mereka bertiga beralih kepadanya.
"Lang?" Clarra segera menghampiri.
"Kenapa badanku sakit sekali? Apa yang terjadi? Ah sial!" Pria itu mengeluh seraya menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya kemudian bangkit.
"Kamu nggak ingat semalam dipukuli?" Mayang pun beranjak dari tempat duduknya.
"Hah?" Sang putra mendongak.
"Iya, semalam kamu dibawa pegawainya Ara ke sini. Katanya kamu hampir pingsan?"
"Umm …." Galang memutar otaknya dengan keras untuk mengingat.
Dan memang dia segera mengingat kejadian semalam ketika sebuah mobil memepetnya ke samping kiri hingga membuat motor yang dikendarainya oleng dan kemudian terjatuh. Dan tak lama kemudian seorang pria menghajarnya hingga dirinya tak memiliki kesempatan bahkan untuk bangkit.
"Benar begitu?"
"Ya, aku ingat." Galang menjawab.
"Siapa orangnya? Kamu kenal?"
Galang menggelengkan kepala.
"Dia memakai penutup wajah. Bagaimana aku kenal?"
"Apa mungkin ayahku?" Clarra berujar.
"Apa?"
"Atau mungkin orang suruhan Mama?"
"Hah?"
"Semalam Mama menghubungi lagi. Dan terakhir dia mengatakan kalau aku akan menyesal karena telah menolaknya. Tak lama kemudian kamu begini."
Galang terdiam untuk beberapa saat, dan dia segera mengingat apa yang dikatakan oleh pria yang memukulinya semalam.
"Dia juga mengatakan sesuatu soal itu." katanya kemudian.
"Apa yang dia katakan?" Andra muncul setelah menyelesaikan beberapa urusannya diluar.
"Umm … dia mengatakan jika aku menghalanginya untuk mendekatimu. Dan nyawaku tidak akan selamat."
Hampir semua orang menahan napasnya, terutama Mayang.
"Apa yang sudah kamu lakukan sehingga seseorang mengancammu seperti itu?" Perempuan itu mendekat.
"Tidak ada, hanya saja …."
"Kami menemui mama kandung saya Bu. Dan membuat saya menghadapinya dan meminta dia untuk tidak mengganggu lagi. Karena selama ini, itulah yang dia lakukan. Tapi rupanya Mama tidak terima." Clarra menjelaskan.
"Kenapa kamu melakukan itu? Dia orang yang telah melahirkanmu." jawab Mayang.
"Karena keberadaannya lah yang telah membuat hidup saya berantakan. Saya mengalami depresi setelah secara tiba-tiba dia datang dan mengaku sebagai ibu kandung saya."
"Seharusnya tidak seperti itu, Clarra. Bagaimana pun juga dia mama kamu."
"Iya, mungkin saya yang salah karena menolaknya. Tapi yang dia lakukan sekarang pun tidak bisa kami terima. Dia datang hanya untuk satu hal."
"Apa?"
"Mengambil apa yang saya miliki, bukan ingin berdekatan dengan saya, apalagi memperbaiki hubungan ini."
"Oh, .... Kamu yakin?"
"Indikasinya seperti itu Bu. Maaf, sudah melibatkan Galang dalam urusan ini, padahal seharusnya Mama tidak seperti itu, tapi …."
"Resikonya Cla, mungkin dia marah karena merasa aku menghalangimu." tukas Galang.
"Ya, aku tahu. Dia memang seperti itu. Segala hal harus dia dapatkan tanpa memikirkan keadaan orang lain. Pantas suaminya menceraikan dia karena sudah merasa tak tahan. Mama seegois itu."
"Dari mana kamu tahu?" Galang bertanya.
__ADS_1
"Aku menghubungi suaminya tadi, dan jawabannya memang seperti yang sudah aku perkirakan. Mereka sudah resmi bercerai sebulan yang lalu, dan itu sebabnya Mama kembali ke Jakarta."
"Dan Pak Arfan benar, dia mengincar aset pemberian Om Satria yang aku punya."
Galang menarik dan menghembuskan napasnya pelan-pelan.
"Maaf Lang, sudah melibatkanmu dalam masalah ini. Aku nggak bermaksud …."
Galang menggelengkan kepala.
"Sudah melakukan penyelidikan atas masalah ini Pak?" Lalu dia beralih kepada Andra.
"Sudah. Orang kita sudah disebar untuk mencari Larra dan Raffi." Pria itu menjawab.
"Ayah saya?" Clarra bereaksi.
"Ya. Ayahmu bernama Raffi. Dulu dia Bekerja sebagai staff Pak Satria juga yang ditugaskan untuk mengawasi Bu Larra."
"Ya Tuhan! Mama berselingkuh dengan pegawai suaminya sendiri? Tidak bisa dipercaya!" Clarra menggelengkan kepala sambil mengusap wajahnya.
"Saya tidak berkata seperti itu, tapi …."
"Tapi itu kenyataannya Pak. Pantas dia merasa takut lalu kabur meninggalkan saya. Dia tahu kalau Om Satria tidak akan mengampuninya."
Andra mengangguk-anggukkan kepala.
"Bersabar Clarra, kita tidak bisa menolak hal yang sudah terjadi." Mayang mengusap punggung perempuan itu.
"Tidak apa Bu, memang begitu kenyataannya. Dan saya menerimanya sekarang. Galang masih selamat, dan itu yang terpenting."
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" Clarra kembali beralih kepada Andra.
"Kami sedang mencari keberadaan mereka. Agak sulit karena tampaknya Bu Larra sudah memperkirakan semuanya. Dia sudah merencanakan segala sesuatunya dengan matang jadi, … ya membutuhkan waktu untuk menemukannya."
"Baik, tolong usahakan temukan Mama dan Ayah saya secepatnya."
"Apa kamu mengizinkan kami memprosesnya secara hukum? Karena yang mereka lakukan ini sudah termasuk tindakan kriminal. Melakukan teror, pengancaman dan hampir menghilangkan nyawa orang. Belum lagi pengrusakkan barang."
"Pengrusakkan barang?"
"Penembakkan terhadap mobil Galang?" Andra memperjelas ucapannya.
"Jadi mobilmu samuk bengkel gara-gara itu?"
"Hanya bannya saja."
"Ya, untung bannya yang ditembak, bukan kepalamu." sambung Andra, membuat mata Clarra membulat seketika.
"Galang! Kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku?"
"Aku takut membuatmu khawatir Cla!"
"Ugh! Kamu!" Perempuan itu menggeram.
"Tidak apa-apa Pak, lakukan saja. Dari pada Mama berbuat hal yang lebih buruk lagi." ucapnya kemudian.
Â
"Baik kalau begitu, kami usahakan secepatnya."
Clarra pun menganggukkan kepala.
🌺
🌺
"Hey, hati-hati! Kamu mau membahayakan orang-orang ya?" Daryl menahan nampan ditangan Nania yang penuh dengan makanan pesanan pengunjung.
Gadis itu terlihat kewalahan dengan benda tersebut dan dia hampir saja tersandung.
"Kenapa sih tidak sebagian-sebagian dulu?" ucap pria itu.
"Tanggung Pak." Nania pun menjawab. "Mereka udah lama nunggu."
"Iya, tapi tidak seperti ini juga. Kamu pikir kamu bisa membawa barang sebanyak ini?" Daryl merebut nampan tersebut dari Nania.
"Biasanya juga bisa, Bapak jangan lebay deh?"
"Apa katamu?"
__ADS_1
"Saya bisa, makanya bawa sebanyak itu. Bapak nggak usah perhatiin saya!" Nania merebut kembali nampan yang barusan dibawanya dari Daryl kemudian segera mengantarkannya ke meja pelanggan.
Sementara pria itu memperhatikannya dengan kening berkerut.
"Dia itu kenapa?"
Beberapa saat kemudian Nania kembali ke pantry dan mengambil pesanan berikutnya untuk dia antarkan ke meja selanjutnya.
"Kayaknya nanti sore kedainya kita tutup aja ya?" Amara keluar setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Kenapa?" Daryl meletakkan nampan setelah mengantar pesanan.
"Biar nggak terlalu repot. Kasihan anak-anak keteteran kayaknya."
"Hmm … memangnya nggak bisa dadakan kamu buatkan pesanannya? Bukannya untuk makan siang ya?"
"Biar santai ngerjainnya Kak. Nggak buru-buru."
"Oh, …." Daryl mengangguk-anggukkan kepala.
"Hufftthhh …." Nania meletakkan nampan di meja pantry, lalu menyeka dahinya yang berkeringat.
"Setelah ini tutup kedai ya Nan?" ucap Amara kepada pegawainya itu.
"Kok tutup?"
"Biar kalian bisa istirahat. Malamnya kan kita mulai proses makanan."
"Nggak sayang? Biasanya malam minggu itu rame."
"Sekali ini doang nggak apa-apa lah. Minggu depan kalau nggak ada pesanan kita buka kayak biasa lagi."
"Gitu ya?"
"Iya."
"Ya udah. Nanti aku turunin tanda close nya."Â
"Oke."
"Hey, tanganmu kenapa?" Daryl menunjuk lengan Nania yang terdapat lebam kebiruan cukup besar.
"Hah? Mana?"
"Ini?" Dia mengarahkan ujung tekunjuknya pada gadis itu.
Nania terdiam sebentar, kemudian menutupi bagian itu dengan tangannya yang lain.
"Nggak kenapa-kenapa."
"Kamu jatuh, atau terbentur sesuatu?" tanya pria itu lagi.
"Nggak apa-apa ih, kenapa sih Bapak banyak tanya?" Nania dengan nada tak suka.
"Kamu ini kenapa? Aku kan cuma tanya? Begitu saja marah?"
"Habisnya Bapak sok akrab!" gadis itu kemudian beranjak pergi ketika melihat pengunjung yang baru masuk. Seperti biasa, dia segera menyapanya.
"Ish nggak sopan! Dasar anak SMP!" Daryl menggerutu.
Dan hal itu membuat Amara tertawa karenanya.
"Cieee … merhatiin Nania, cieeee …" katanya, setengah mengejek.
"Apa?"
"Cieee … mulai tanya-tanya, cieeee …." Amara tertawa lagi.
"Ada apa kalian ini? Kenapa semua orang bertingkah aneh?"
"Nggak ada, cuma Kakak yang lagi aneh. Cieeeee … nggak jadi ngajakin aku nikah." Gadis itu terus tertawa, sementara Daryl mendelik kesal.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1
Ciee, ... ada yang salting cieeee .... 😂😂😂