
🌺
🌺
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Galang menghentikan mobilnya di pekarangan kediaman Fahmi.
"Kamu tahu, seperti ada yang terlepas di sini." Clarra menekan dadanya sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Apa itu?"
"Entah, tapi rasanya sedikit lega."
"Benarkah?"
"Ya, seperti ada beban yang menghilang. Tidak banyak, tapi cukup membuatku merasa bisa bernapas lega."
"Syukurlah."
"Dan kamu benar."
"Soal apa?"
"Bahwa satu-satunya cara paling baik untuk memulihkan diri adalah menghadapi akar permasalahannya. Bukan menghindar dan lari seperti apa yang aku lakukan selama ini."
Galang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Terima kasih." ucap Clarra kemudian.
"Itu bukan apa-apa. Hanya berusaha untuk melakukan yang terbaik."
"Tetap saja, itu sangat berarti. Tidak ada orang lain yang pernah melakukan hal besar kepadaku selain Mama dan Papa."
"Ya. Baiklah, ini sudah malam, dan kita harus istirahat. Hari ini melelahkan bukan?" Pria itu menatap jam tangannya, kemudian membuka pintu.
Galang berjalan memutar ke arah kursi penumpang, kemudian membukakan pintu untuk Clarra.
"Orang tuamu sepertinya sudah tidur?" Pria itu menatap lantai dua yang sudah menggelap, dan keadaan rumah itu memang sudah sepi.
"Ya, tadi sore aku memang memberitahukan kepada mereka kalau aku akan menemui Mama. Jadi pasti mereka tidak menungguku." Clarra turun dari mobil.
"Baik, jadi aku tidak akan mampir untuk berpamitan."
"Iya, tidak apa-apa. Aku yang akan menyampaikan pamitmu kalau mereka bertanya."
"Hmm …." Galang menganggukkan kepala.
"Kamu langsung pulang?" Perempuan itu bertanya.
"Ya, ke mana lagi? Bukankah besok pekerjaan kita banyak sekali?"
"Ya, aku kira kamu akan mampir dulu ke suatu tempat?"
"Apa?" Galang tergelak.
"Tidak ke tempatnya Ara?" Lalu Clarra kembali bertanya.
"Tidak. Lagi pula dia melarangku datang kalau sendiri."
"Hah?"
"Dia bilang kalau mau datang harus dengan kamu."
"Kenapa?"
"Tidak tahu, dia bilang begitu."
"Ara tahu kalau kita ada hubungan?"
"Tahu."
"Terus?"
"Terus apanya?"
"Dia tidak apa-apa?"
"Tidak. Kenapa memangnya?"
"Aku pikir dia akan … marah atau sesuatu …."
"Tidak, dia bukan gadis seperti itu. Bukankah kami sudah putus, jadi aku rasa tidak ada masalah soal itu."
"Benarkah?"
"Ya."
"Kalian mencoba untuk berteman?"
"Sepertinya berteman itu bagus. Lagi pula tidak ada masalah besar yang bisa menjadi alasan bagi kami untuk bermusuhan."
"Hmm …."
Benarkah? batin Clarra.
"Baiklah, aku benar-benar harus pulang sekarang." Galang terkekeh, kemudian bermaksud kembali ke kursi pengemudi.
"Lang?" Namun Clarra menghentikannya.
"Ya?" Pria itu menoleh.
__ADS_1
"Terima kasih sekali lagi."
"Ya, sama-sama." jawabnya.
Dan perempuan itu segera menghambur ke arahnya, seraya mengulurkan kedua tangan untuk memeluknya.
"Yang kamu lakukan untukku sangat berarti. Serius." Clarra setengah berbisik.
Sementara Galang hanya tertegun.
"Aku nggak akan pernah lupa."
"Hmm … ya." Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Cukup lama Clarra memeluknya, dan akhirnya Galang pun membalas pelukan itu. Dia baru sadar, kalau di antara mereka ada hubungan yang cukup serius. Dan dirinya sering tidak merasakan hal itu.
Ah, hatiku! Batinnya, saat yang dia ingat malah orang lain.
"Aku mungkin tidak bisa seperti orang lain, tapi aku harap kamu bisa bersabar menghadapiku. Karena banyak hal yang harus aku sesuaikan."
"Ya, santai saja. Banyak hal juga yang harus kita selesaikan bukan?"
Clarra menganggukkan kepala, kemudian melepaskan lilitan tangannya.
"Aku pulang Cla." Dan Galang pun melanjutkan niatnya untuk pulang.
🌺
🌺
Amara belum memutuskan untuk turun dari mobilnya, padahal dia sudah sampai di depan kediaman orang tuanya.
Gadis itu malah berdiam diri sambil merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.
Setelah dengan sengaja menyelidiki hal yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya, akhirnya dia menemukan kenyataan bahwa apa yang selama ini menjadi ketakutannya terbukti.
Benar kan, semua yang Kak Galang katakan itu bohong. Hari ini dia bilang kangen, terus besok atau entah kapan dia bermesraan dengan orang lain.Â
Batinnya ketika dia kembali mengingat pemandangan yang cukup menyesakkan beberapa saat yang lalu.
Saat dirinya sengaja melewati jalan pemukiman kediaman Fahmi. Di mana dia melihat Galang dan Clarra yang saling memeluk erat di depan rumah perempuan itu.
Eh bukan orang lain juga. Kak Clarra itu kan pacarnya? Ya pantes. Batinnya lagi.
Dan ini semakin menyadarkan Amara posisinya ada di mana.
Tidak ada, kamu sudah tidak lagi menjadi bagian dari dunianya. Maka, sudahilah semua ini Ara! Jangan lagi percaya apa pun yang dia katakan. Karena pada kenyataannya dia hanya membual saja.
Kemudian lamunannya buyar ketika ponselnya berbunyi tanda ada pesan yang masuk.
"Bonne nuit. (selamat malam)" Pesan dari nomor yang tak dia kenal.
"Demain je prends le vol du matin. (besok aku mengambil penerbangan pagi)"
Amara mengerutkan dahi.
"J'ai decide de viciter. ( aku memutuskan untuk berkunjung)" Diikuti emot senyum.
"Est-ce autorise?( apa boleh?)"
"Meme si je ne peux pas, je viendrai quand meme. Parce que j'ai deja riserve le billet. (kalaupun tidak boleh, tetap saja aku akan datang karena aku sudah memesan tiketnya)" lalu diikuti emot tertawa.
"Hah …." Amara menutup mulut dengan tangannya.
"Piere, is that you?" Dia mengirimkan balasan.
"Oui.( iya)"
"Etes-vous serieux? ( apa kamu serius?)"
"Oui. Je voux rencontrer Rania. (ya, aku mau bertemu Rania.)"
"Tu es vou!( kamu gila!)"
"I know. Love drives me crazy. (cinta membuatku gila)" Balasannya kembali diikuti emot tawa.
"Just come, Piere. I'll be waiting."
"Ok. I have to prepare now. See you.( oke, aku akan bersiap. Sampai nanti)" Lalu tak ada balasan lagi.
"Kak?" Tanpa Amara sadari sang ayah telah berdiri di dekat pintu mobilnya.
"Astaga! Papa!" Yang tentu saja membuat gadis itu terkejut.
"Kenapa kamu tidak masuk? Malah melamun di sini? Ada masalah?" Arfan membuka kan pintu untuk putrinya.
"Aku lagi balas pesan Pah!" Amara menjawab sambil menunjukkan layar ponselnya.
"Kenapa tidak di dalam rumah? Papa kira ada apa, kamu datang dari tadi tapi tidak langsung masuk?"
"Nggak ada, hehe … cuma dapat pesan dari Piere." Gadis itu turun dari mobilnya.
"Piere?"
"Ya, dia bilang mau datang berkunjung."
"Berkunjung?"
Amara menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Eee … untuk apa ya? Lupa tadi nggak nanya. Cuma dia bilangnya mau ketemu Kak Rania."
"Ketemu Rania?"
"Ya, dia fans beratnya Kak Rania. Sempet nggak percaya pas aku bilang kalau dia masih keluarga kita kan."
"Hmm … aneh sekali sampai segitunya?"
"Nggak tahu." Amara menyerahkan tas besar kepada ayahnya.
"Apa ini?"Â
"Makanan."
"Makanan?"
"Ya, tadinya aku bikin sample buat pesanan dari rumah sakit. Tapi aku bikinnya banyak biar pegawai juga bisa bawa pulang."
"Pesanan dari rumah sakit?" Mereka berjalan memasuki rumah.
"Ya, untuk acara anak-anak. Apa ya aku lupa juga tanya sama dokter Syahril acaranya apa. Pokoknya acara untuk pasien anak aja."
"Dokter Syahril?"
"Iya. Papa kenal? Soalnya dia bilang kenal Papa."
"Dokter Syahril mantan tunangannya Clarra?"
"Hah?"
"Dokter Syahril yang punya anak perempuan masih kecil?"
"Iya itu. Kok Papa tahu?"
"Tahu lah. Muridnya Pak Fahmi."
"Hmmm … maksud aku, kok Papa tahu kalau dia mantan tunangannya kak Clarra?"
"Tahu. Waktu mereka tunangan Papa kan datang. Kamu sedang di Paris waktu itu."
"Terus mereka putus?"
"Sepertinya begitu."
"Udah tunangan kok putus?"
"Tidak tahu, yang menikah saja bisa cerai."
"Hmm … terus sekarang dia sama Kak Galang." Amara berhenti tepat di lorong penghubung antara ruang tamu dan ruang keluarga.
"Kamu sudah tahu?" Arfan juga melakukan hal yang sama.
Ana gadisnya itu menganggukkan kepala.
"Umm …."
"Tumben Kakak pulang?" Arkhan keluar dari kamarnya saat mendengar suara orang bercakap-cakap di lantai bawah.
"Iya, lagi mau pulang." Amara menjawab.
"Di kedai sepi ya, nggak ada temen?" remaja 16 tahun itu turun.
"Hmm …" Sang kakak mengangguk.
"Makanya, kenapa pindah? Kan asik kalau kita tetep sama-sama?" Arkhan mendekat.
"Kalau pulang pergi capek tahu. Tutup kedai kan malam." jelas Amara.
"Hmm …."
"Yang lain udah pada tidur?" Amara melihat ke lantai atas.
"Nggak tahu."
"Panggil gih, Kakak bawa makanan."
"Oh ya?"
"Iya."
"Guyss!! Kak Ara datang bawa makanan!" anak laki-laki itu berteriak dengan kencang sehingga suara baritonnya menggema memenuhi ruangan.
"Astaga!" Arfan menepuk kepalanya sendiri.
Pria itu hampir protes, namun urung dilakukan sebab seluruh anggota keluarganya segera muncul setelah mendengar teriakan Arkhan. Tidak terkecuali Dygta yang dia kira sudah tertidur.
Segera saja, rumah besar di pinggir pantai terkenal di Jakarta itu kembali ramai seperti sebelum para penghuninya masuk ke kamar mereka beberapa saat yang lalu.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
ayo ayo like komen sama hadiahnya kirim lagi. 😚😚😚
__ADS_1
alopyu sekebon😘😘