My Only One

My Only One
Lebih Dekat


__ADS_3

🌺


🌺


"Kayak di hotel?" Amara menatap ruangan yang berukuran cukup besar itu. 


Setelah menghabiskan satu hari terakhirnya di rumah sakit semula, akhirnya pada sore hari sepulang bekerja Galang berhasil membawanya ke pusat kesehatan khusus bagi staff dan karyawan Nikolai Grup itu.


Sebuah tempat tidur yang tidak umum untuk ukuran rumah sakit, melainkan tampak seperti kamar di sebuah hotel bintang lima dengan fasilitas premium lainnya. Yang membedakan hanya beberapa alat kesehatan yang tersedia di sisi lain ruangan.


"Ya anggap saja begitu." Galang yang menghentikan laju kursi roda persis di samping tempat tidur besar tersebut.


Amara sedikit memutar kepala dan melihat senyum aneh di wajah suaminya.


"Otaknya pasti udah rencanain sesuatu ini?" katanya dengan nada curiga.


"Apaan!" Galang tergelak.


"Udah ketebak ini bakal gimana? Asli Kakak lagi menjalankan rencana kan?"


"Nggak, kamu curigaan." jawab Galang sambil tertawa.


"Ketawa Kakak mencurigakan soalnya."


Pria itu duduk di pinggir tempat tidur. Dia menarik kursi roda sehingga jaraknya cukup dekat untuk berbicara.


"Sekarang semua tanggung jawabku dan tergantung pada keputusanku. Biarkan yang lain menjalani hidup mereka sendiri tanpa harus direpotkan oleh urusan kita."


"Aku nggak boleh ketemu orang tuaku?" Amara menanggapi.


"Bukan begitu. Hanya saja … papa, mama dan mommy kamu punya urusan sendiri. Ada yang membutuhkan mereka juga selain kita, jadi aku rasa … kita harus memberi mereka kesempatan untuk mengurus hal lain."


Amara terdiam.


"Ada adik-adikmu yang juga butuh perhatian, ingat?" Galang mencondongkan tubuhnya dan menatap wajah perempuan itu lebih dekat.


"Lagi pula kalau kamu di sini aku bisa lebih cepat datang karena lebih dekat. Lihat?" Galang menunjuk ke arah jendela besar di sisi kiri.


"Di sana gedung Nikolai Grup yang hanya berjarak tiga blok dari sini. Dan dua blok di seberangnya adalah Amara's Love." mata Amara mengikuti arah telunjuknya.


"Jadi, kita tidak terlalu jauh bukan?" Galang terkekeh.


Amara kembali memalingkan wajah dan hampir saja bertabrakan dengan milik Galang yang jaraknya begitu dekat.


"Terus kalau misalnya Kakak kerja aku gimana?" Dia lantas bertanya.


"Ada perawat yang siaga 24 jam. Oh tidak, maksudku mereka siap kapanpun diperlukan. Bahkan jika kamu memanggil setiap menit mereka akan segera datang. Jadi kamu tidak akan melakukan apa pun sendirian sampai aku datang di siang atau sore harinya."


"Wow."


"Ya. Itu salah satu keuntungannya kita pindah ke sini. Selain …." Galang melihat sekeliling ruangan.


"Apa?"


"Tempat tidurnya yang lebih luas dari rumah sakit biasanya, dan aku bisa ikut tidur tanpa merasa sakit punggung di pagi harinya." Pria itu tertawa.


"Tuh kan? Kakak emang dasarnya modus." cibir Amara, namun dia juga ikut tertawa.


"Serius Neng, punggungku suka sakit kalau bangun tidur."


"Tapi tetep aja, Kakak awalnya modus!"


"Nggak apa-apa kalau modusnya kepada istri sendiri. Yang nggak boleh itu kepada perempuan lain." Galang menjawab.


"Aku aduin Papa biar Kakak dihajar." Amara mengancam.

__ADS_1


"Ampun, Aa nggak berani Neng." Dia mengatupkan kedua tangannya di depan wajah sambil menunduk sejenak, kemudian tertawa lagi.


"Dih? Aa?"


Tawa Galang pecah semakin keras.


"Seneng banget kayaknya?" Perempuan itu kembali berbicara.


"Iyalah."


"Pasti, udah berhasil modusin yang pertama."


Galang berhenti tertawa namun tak menghilangkan senyum dari bibirnya.


"Terima kasih karena sudah setegar ini. Aku tahu nggak mudah, tapi kamu sudah berusaha dengan begitu baik." Pria itu meremat tangan kirinya dan menautkan jari mereka berdua.


"Aku nggak bisa menjanjikan banyak hal tapi aku yakinkan kalau kita akan melewatinya bersama-sama."


Amara mengangguk pelan.


Mereka saling memindai wajah masing-masing dan menemukan bahwa ada perasaan yang lebih besar dari pada rasa bahagia karena bisa kembali bersama.


Yakni rasa syukur yang tak terhingga karena bisa melewati berbagai cobaan. Meski keduanya yakin bahwa ini baru permulaan, tapi mereka tidak tahu apa yang terjadi jika tidak bersama.


Galang menarik kursi roda itu yang menjadikan mereka semakin dekat lagi, lalu sebelah tangannya bertumpu pada pegangan sebelah kiri sementara tangannya yang lain masih bertautan dengan Amara.


"Mungkin besok gipsnya akan dilepaskan dan kita akan melihat bagaimana keadaannya." Pria itu melirik tangan kanan Amara yang masih berbalut gips, begitu juga kaki kanannya.


"Serius?" Amara bereaksi.


"Ya. Apa kamu senang?"


"Iya."


"Kalau membaik semuanya akan dilepaskan dan mereka akan membiarkanmu untuk tak menggunakannya lagi."


"Kita belum tahu kan?"


"Aku janji akan hati-hati, jadi Kakak bisa bilang kalau aku udah nggak perlu pakai gipsnya lagi oke?"


Galang tak langsung menjawab.


"Kakak. Bilangin kalau aku udah nggak apa-apa."


"Semuanya ditentukan besok Neng. Kalau hasil pemeriksaannya bagus, gipsnya nggak akan dipasang lagi. Tapi kalau kurang bagus ya …."


"Please … aku nggak mau pakai gips lagi. Rasanya kaki sama tangan aku kaku." Amara memohon.


"Iya, kan aku bilang besok dilepas."


"Janji ya?"


Galang menganggukkan kepala.


"Tapi aku belum bisa apa-apa, masih ngerepotin orang lain?"


"Bukan orang lain ini yang kamu repotin." Galang menegakkan tubuh sambil melepaskan jas dan dasinya yang kemudian dia letakkan di ujung tempat tidur.


"Mau pindah?" tawarnya, dan Amara mengangguk.


Galang segera bangkit kemudian meraup tubuh perempuan itu, dan dengan mudah memindahkannya ke tempat tidur. Memastikan sang istri merasa nyaman dengan ranjang perawatannya yang baru.


"Makasih." Amara mengulurkan tangannya dan meraih leher pria itu yang sedang menunduk, kemudian dia kecup bibirnya untuk beberapa saat.


Galang tertegun setelah Amara melepaskannya, dan dia menatap wajah perempuan itu.

__ADS_1


Amara tersenyum.


"Nggak usah kaget begitu, Kakak juga sering tiba-tiba cium aku?" ucapnya, lalu terkekeh.


"Umm …." 


"Aku lapar, bisa pesenin makanan lagi nggak sama Nania?" Amara menyodorkan ponsel miliknya kepada Galang.


"Di sini juga ada." Pria itu menerima ponsel tersebut.


"Tapi aku maunya dari kedai. Kan lebih dekat?"


"Hmm …." Namun tak urung juga dia melakukan Apa yang Amara katakan.


"Aku mandi dulu lah. Sudah aku bilang juga kepada Nania nanti langsung masuk kalau misalnya nggak ada yang membuka kan pintu." Lalu dia melenggang ke arah kamar mandi.


***


"Nania sudah datang?" Galang keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan urusannya. Dengan hanya mengenakan handuk yang dia lilitkan di pinggang.


Tubuhnya masih setengah basah dan dia melenggang begitu saja melewati tempat tidur untuk mengambil pakaiannya yang masih berada di dalam tas.


"Kakak!" Amara memekik karena terkejut.


Ini pertama kalinya pria itu melakukan hal tersebut dan dengan cueknya Galang hampir saja berpakaian di hadapannya.


"Apa?"


"Kakak jangan pakai baju di sini." ucap Amara dengan nada panik.


"Tanggung." Pria itu menarik beberapa helai pakaian dari dalam tasnya.


"Ih, … jangan! Kakak nggak malu apa?"


"Malu kepada siapa? Kamu?" Galang tergelak.


"Bukan cuma aku." jawab Amara.


"Hah, apa?" Pria itu menoleh dan mendapati istrinya yang memberikan isyarat dengan menggendikan kepala sambil menatap ke arah pintu.


Galang pun memutar kepala dan menemukan ada Nania yang baru saja tiba. Berdiri hampir merapat ke pintu menggenggam erat tote bag dengan ekspresi canggung juga bingung. Menatap pria itu yang tak berpakaian selain handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya.


"Mm … saya … simpan di sini Pak." ucap gadis itu yang meletakkan tote bagnya di atas bufet tak jauh dari pintu.


"Saya langsung pamit." katanya lagi yang kemudian segera keluar dari ruangan tersebut.


"Kakak suka sembarangan kadang-kadang?" Amara bergumam.


Galang hanya tertawa sambil berjalan ke arah pintu dan menguncinya rapat-rapat, lalu setelahnya segera berpakaian. Sedangkan Amara mengalihkan pandangannya pada ponsel yang menyala. Mencoba untuk tak merasa terganggu dengan hal itu meski pada kenyataannya dia berdebar-debar juga.


Bagaimana tidak? Pria itu berpakaian di depannya tanpa merasa canggung sama sekali. Meski tidak terlalu jelas, tetap membuatnya merasa gugup.


"Nah, sekarang makanlah." ucap Galang yang telah selesai berpakaian. Duduk di pinggir ranjang seraya mengeluarkan beberapa kotak makanan yang Nania bawa barusan.


Satu kotak nasi hangat dan kotak lainnya berisi lauk, sayur juga buah-buahan dan puding yang Nania bawakan.


Dia meraup nasi, lauk dan sayurnya dengan sendok kemudian menyodorkannya kepada Amara. Menyuapinya seperti yang selalu dia lakukan, kemudian menyuapkannya kepada dirinya sendiri secara bergantian.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....

__ADS_1


uluh uluh ... so sweet 🤣🤣


__ADS_2