
🌺
🌺
Galang tertegun di teras belakang menatap mertuanya yang tak kunjung masuk ke dalam rumah. Pria itu masih duduk di ujung anjungan dengan rokok yang mengepulkan asap, dan sesekali dia sesap seperti biasa. Padahal petang hampir beranjak dan matahari berangsur tenggelam. Meninggalkan semburat jingga di antara awan-awan yang menggelap.
Kalau diam saja setelah kecelakaan Arkhan, tentu tidak akan membuat keadaan lebih baik. Pria itu dipastikan sudah mengetahui perihal rahasia mereka soal motor dan semacamnya. Apalagi dengan kejadian ini, mereka semua pun sudah pasti mengerti penyebab awalnya.
Heh, memangnya apa yang kau harapkan, Lang? Dia itu Arfan Sanjaya, orang kedua di Nikolai Grup sebelum dirimu. Dan dia yang mendidikmu agar bisa menjadi seperti ini, meski yang kau jalani bahkan belum seujung kukunya.
Galang bermonolog.
"Mati aku!" katanya, namun akhirnya dia memutuskan untuk mendekat.
"Ehm …." Galang berdeham.
"Hampir malam, Pak?" Dia berbasa-basi.
Arfan terlihat tak terganggu. Dia masih asyik dengan rokok dan minuman kalengnya yang dibawanya dari rumah. Duduk di kursi malas dengan tatapan mengarah ke lautan yang deburannya tak pernah berhenti.
"Pak, saya …."
"Kamu tahu, pantai ini?" Arfan mulai berbicara.
"Beberapa bulan setelah menikah, tempat ini menjadi hal pertama yang kami ingat untuk menjalani hari-hari yang tidak mudah. Kehamilan demi kehamilan yang cukup sulit bagi Dygta karena terjadi di usia seperti Ara, dengan janin kembar dan ditambah mengasuh seorang anak yang sudah terlebih dahulu lahir dari perempuan lain. Tapi dia berusaha keras untuk menjadi apa yang seharusnya. Tanpa mengeluh, tanpa menolak, ataupun bertanya mengapa saya selalu membuat aturan di keluarga ini sejak awal." Arfan kembali meneguk minuman kalengnya yang berembun, lalu menyesap rokok dan meniupkan asapnya di udara.
"Lalu anak-anak lahir berurutan, dan lingkungan ini menjadi tempat mereka tumbuh hingga seperti sekarang. Tidak kenal orang lain selain keluarga, hanya kami, kakek nenek, dan para pegawai. Dan mereka tumbuh dengan baik." Lalu dia menoleh ke arah Galang.
"Tidak memerlukan satu pun teman yang berasal dari luar. Karena kami, keluarganya sudah menjadi teman mereka sejak lahir."
Galang terdiam.
"Setidaknya sampai mereka cukup umur." ucap Arfan dengan tenang, dan menyampaikan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya begitu jelas.
"Saya tidak membatasi keinginan mereka, sejauh itu tidak membahayakan siapa pun. Tidak membahayakan siapa pun, Galang!" Pria itu sampai mengulang kalimatnya yang terakhir.
"Dan untuk Arkhan, usianya memang hampir 17 tahun dalam beberapa bulan. Tapi sikap dan mentalnya masih labil. Dia belum bisa mengontrol emosi maupun perasaannya. Apalagi jika merasa terpancing. Kamu tahu bahwa teman-teman sekelasnya memang menyebutnya anak manja, dan hanya itu satu-satunya hal yang selalu membuatnya terusik. Maka, kami memutuskan untuk tetap mengantarkan dan menjemputnya ke sekolah. Karena Arkhan itu, kalau sudah marah tidak ada siapa pun yang mampu menghentikannya."
Galang mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Tapi setelah genap 17 tahun nanti, kami bisa mempercayakan apa pun kepadanya. Termasuk motor yang selalu dia inginkan. Karena kami percaya, di usia itu dia sudah dapat diandalkan."
"Kenapa harus seperti itu?" Arfan menoleh lagi ke arah menantunya.
Galang tak menjawab.
"Agar dia mengerti, bahwa segala hal harus sesuai dengan waktu, tempat dan porsinya. Tidak terburu-buru seperti ini. Kamu sendiri tahu apa akibatnya melakukan apapun dengan terburu-buru?"
"Siapa pun bisa membuat pengecualian. Karena dia sudah besar, atau karena teman-temannya pun begitu. Tapi seharusnya tidak ada yang melanggar apa yang sudah saya tentukan. Selama masih dibawah tanggung jawab saya, maka aturan itu tetap harus dijalankan. Dan tidak ada yang berani merubahnya sampai sekarang."
Galang membuka mulutnya untuk berbicara.
"Tapi … sepertinya zaman memang sudah berubah. Anak-anak tidak bisa lagi diperlakukan seperti itu, seperti saya mengatur Mommynya dulu. Sebuah larangan malah terdengar seperti perintah bagi mereka, terutama Arkhan. Egonya sedang naik dan dia ingin membuktikan diri." Arfan menghembuskan napas pelan, seolah dia sedang merelakan sesuatu untuk dilepaskan.
"Katakan, harus dengan cara apa kita mendidik anak muda sekarang ini?" Dia menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.
"Peringatan keras tadi pagi bahkan tidak Arkhan dengarkan." katanya, saat mengingat ucapannya sebelum sang putra pergi.
Di mana dia tak mengizinkan pemuda itu untuk pergi, apalagi dirinya mengetahui apa yang akan anaknya itu lakukan.Â
"Saya hanya tidak ingin dia mencoba hal-hal yang membahayakan. Setidaknya jangan sekarang." Kemudian dia terkekeh.
"Tapi sepertinya sulit. Dia anak laki-laki dan fitrahnya memang seperti itu." Arfan menyugar rambut ikalnya yang mulai berubah abu-abu.
"Mungkin sebelumnya dia tidak berani memberontak karena merasa sendirian. Lalu kamu masuk ke dalam keluarga ini, dengan kesenangan yang sama dengannya. Dan itu berarti banyak bagi Arkhan, karena satu orang yang pemikiran dan kesenangannya yang sama membuat dia merasa kuat."
Galang membiarkan saja mertuanya berbicara. Mungkin begini lebih baik, dan terbukti semua yang pria itu ucapkan membuatnya lebih mengerti.
"Hmmm …." Arfan kembali menghela napas seraya mengerucutkan mulutnya.
"Mungkin ada peraturan yang harus dirubah setelah ini."
"Maaf, Pak?" Galang mulai bereaksi.
"Setelah Arkhan sembuh nanti, apa kamu pikir sebaiknya kita mengizinkannya mengendarai motor?" Arfan menoleh lagi.
"Bapak akan mengizinkan?" Dan Galang tiba-tiba saja duduk di kursi kosong di samping ayah mertuanya.
"Bagaimana menurutmu? Apa ini akan berdampak baik untuk Arkhan? Karena kalau tetap dilarang, dia pasti akan mencuri-curi kesempatan. Dan itu lebih berbahaya dari pada yang terjadi sekarang."
Galang kehilangan kata-kata. Ini seperti dirinya sedang diberi kepercayaan untuk melakukan sesuatu.
"Menurutmu, perlakuan seperti apa yang harus Arkhan dapatkan agar dia menurut tanpa membuatnya merasa terkekang oleh aturan?" Arfan bertanya lagi.
"Menurut saya … kita biarkan saja Arkhan menjalani hobinya Pak. Dengan syarat tidak boleh melupakan sekolahnya. Mungkin sekarang, motor menjadi keinginan utamaya, maka kita berikan saja. Tidak perlu membeli dulu, dia bisa memakai punya saya dengan catatan berkendara di akhir pekan."
__ADS_1
"Apakah itu ide yang baik?"
"Ya. Dua minggu dia menurut kan? Itu aturan yang saya terapkan kepada Arkhan waktu memberinya motor yang hijau." jawab Galang.
"Tapi hari ini dia tetap melanggar."
"Itu karena saya ke Bandung, saya memang melarangnya pergi tanpa pendampingan. Tapi seandainya kita membiarkannya berkendara di akhir pekan dengan syarat ada pendamping setelah syarat lain dia lakukan, pada akhirnya dia akan menurut juga. Alapagi kalau hobinya kita salurkan pada jalur yang tepat. Saya rasa itu lebih baik."
"Begitu?"
"Ya." Galang sumringah. Dia merasa lega karena ini tidak seperti yang dipikirkan sebelumnya.
Kini Arfan yang terdiam.
"Percayalah, Arkhan akan menurut dengan cara ini. Hobinya tersalurkan, dan dia tetap ada di bawah pengawasan kita."
"Hmm …."
"Saya yang akan memastikannya sendiri, Pak." ucap Galang dengan berani.
Kepercayaan dirinya seketika timbul setelah mendengarkan perkataan sang mertua.
"Aku pegang kata-katamu." gumam Arfan, dia bersedekap.
"Baik, Pak. Urusan Arkhan serahkan kepada saya." Galang meyakinkan pria itu.
"Sayang? Sedang apa kamu di sana?" Suara Dygta menginterupsi. Dia melangkah cepat menghampiri suaminya.
"Kamu juga di sini rupanya? Dari tadi Ara mencarimu." katanya kepada Galang.
"Benarkah?"
"Ya. Cepat sana, sebelum Ara mengomel!" Dygta memperingatkan.
"Ooo kalau itu bahaya!" Sang menantu segera beranjak.
"Hey?" Arfan kemudian bangkit dari kursinya.
"Ya?" Dan Galang berhenti sejenak.
"Jangan katakan soal ini kepada Arkhan. Kita tunggu saja sampai dia sembuh." katanya, setelah menghabiskan minumannya.
"Baik Pak, saya akan ingat itu." Galang menjawab. Dan tanpa menunggu lama lagi dia pun segera pergi.
"Ada yang aku tidak tahu?" Dygta bertanya setelah menantu mereka menjauh.
"Lalu apa yang kalian bicarakan?" Perempuan itu tampak tidak percaya.
"Hanya pembicaraan laki-laki."Â
"Pembicaraan laki-laki?" Dygta membeo.
"Ya, pembicaraan laki-laki."
"Kamu merokok lagi?" Dygta mengendusi tubuh suaminya yang tercium bau asap dan tembakau.
"Sedikit."
"Kemarin sedikit, waktu itu juga sedikit. Terus seminggu yang lalu juga beberapa kali sedikit. Kalau ditambah terus ya jadi banyak!" Perempuan itu memeriksa setiap saku celana suaminya.
"Eh, tidak ada." katanya.
"Kamu cari apa sih?" Dan Arfan mencoba menyingkirkan tangan istrinya.
"Cari rokoknya, mau aku buang."
"Tidak ada, Sayang!"
"Kamu bohong! Buktinya sore ini kamu merokok lagi."
"Sudah aku katakan hanya sedikit!"
Dygta tak menggubris. Dia lantas melihat ke arah kursi dan meja, lalu menemukan satu bungkus rokok dengan koreknya.
"Sudah habis?" katanya, saat dia mengambil benda tersebut. Sedangkan Arfan hanya tersenyum.
***
"Neng?" Galang kembali dan menemukan Amara yang sedang berbincang dengan orang yang tentu dia kenal.
"Kakak, ada Piere!" Perempuan itu menoleh.
Pria yang dimaksud mengangguk sopan.
"Apa kabar, Pak?" sapanya.
__ADS_1
"Hmm … baik." Galang mendekat.
"Ya ampun! Seneng banget ketemu kamu! Aku pikir udah pulang ke Paris?" Amara dengan suara riang.
"Yeah, setelah aku pikir-pikir, bekerja di sini sepertinya bagus juga. Tawarannya menggiurkan." jawab Piere, kemudian tertawa.
"Dan sejak kapan kamu mengawasi Arkhan?" Galang menyela.
"Sejak hari ini, Pak. Dan Arkhan tugas pertama saya. Tapi gagal. Dia malah mengalami kecelakaan." Piere menjawab.
"Terus selama ini kamu ke mana? Apa kerja di kedai?" Amara bertanya.
"Aku … belajar." Pria Prancis yang kini sudah sangat fasih berbahasa itu menjawab lagi.
"Belajar apa?"
"Belajar jadi bodyguard. Papamu mengirimku ke satu tempat untuk belajar."
"Apa?"
"Yeah, … dan begitulah semuanya berawal."
"Kamu kan kuliah jurusan masak sama aku. Gimana ceritanya malah jadi bodyguard?" Amara dengan raut heran.
"You know, tidak semua hal harus berjalan sesuai dengan alur yang kita rencanakan. Tapi kita mungkin harus sedikit berbelok untuk menemukan hal lebih baik. Dan aku rasa, ini adalah jalannya."
"Serius?"
"Yeah, dan aku suka di sini."
"Hmm … kebanyakan orang asing memang akan senang di sini." Galang lebih mendekat lagi kepada Amara.
"Ya Pak."
"Itu bagus! Aku senang ada kamu. Apa kamu akan jadi bodyguardnya Arkhan?" Amara bertanya lagi.
"Ssttt! Sebenarnya ini tidak boleh dibahas. Tapi karena kamu adalah temanku, maka aku akan membuat pengecualian."
"Apa itu maksudnya?" Galang bergumam ssmbil memutar bola matanya.
"Aku hanya akan menjaga anak-anak, tanpa mereka ketahui. Dan sebaiknya kamu juga jangan mengatakan ini kepada siapa pun."
"Apa ini semacam misi rahasia?" Amara memelankan suaranya.
"Yeah, sebut saja begitu."
"Uuuhh, berasa kayak nonton film action!" Amara tertawa sambil menutup mulutnya.
"Neng?" Namun hal itu membuat Galang merasa gerah.
"Oh iya Pak," Piere beralih kepada Galang. "Apa yang harus saya lakukan dengan motornya?" Lalu dia bertanya.
"Motor?"
"Iya. Mau kita masukkan bengkel atau bagaimana? Karena kondisinya cukup parah."
"Separah apa?" Galang pun bertanya.
"Cukup parah. Gesekan keras dengan aspal membuat bodinya tidak karuan. Belum lagi dilindas mobil sebelum akhirnya berhenti jadi …"
"Bawa saja ke sini, aku lihat dulu!" ucap Galang.
"Sudah Pak. Motornya di depan." Piere menjawab.
"Benarkah?"
"Ya Pak."
"Kalau begitu aku mau lihat!" katanya, yang melenggang ke luar.
"Tunggu di sini Yang, aku mau lihat motornya." ucap Galang kepada Amara.
Kemudian dia diikuti oleh Piere bergegas ke luar dan menemukan sebuah pick up dengan sepeda motor yang ringsek diatasnya.
"Cukup parah Pak. Saya heran bagaimana bisa Arkhan selamat dari kecelakaan itu?" Mereka berdiri di dekat pick up.
"Astaga, Arkhaaaannnn!!!" menatap keadaan motor trail kesayangannya yang separah itu, membuay Galang sedikit berteriak.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1
Sabar Pak, beli lagi aja😅😅