
🌺
🌺
Galang menatap kantin yang siang itu cukup ramai. Orang-orang sudah di sibukkan dengan makanan mereka, dan tak seorangpun yang berpaling.
Seperti halnya Clarra yang sudah asyik di meja sudut tempat biasanya dia berada pada jam istirahat. Sendirian tanpa ada siapa pun yang mengganggu.
Dia berpikir sebentar. Mengapa setiap kali ingin melangkah dirinya selalu teringat Amara? Bahkan setelah gadis itu mematahkan hatinya untuk kedua kali, dirinya tak bisa melupakannya.
Padahal dulu, saat patah hati karena ditinggal menikah oleh Rania rasanya tak sesakit ini. Dirinya bisa bertahan, kemudian pulih dengan cepat. Meski sering bertemu dan bersama ketika mendampingi sahabatnya itu di sirkuit, namun dirinya tidak seperti ini.
Mereka bisa kembali berteman seperti sebelum Rania bertemu dengan Dimitri, dan semuanya kembali seperti semula. Apalagi setelah lahir anak-anak yang menggemaskan dan cukup mengesalkan menurutnya, keadaan benar-benar membaik di antara mereka.
"Pak? Mau bergabung?" Seorang staff mengajaknya duduk bersama mereka.
Galang menoleh, namun pandangannya kembali tertuju kepada Clarra. Perempuan itu yang sejak tadi membenahi nampan berisi mangkuk makanan berkuah dan piring berisi sedikit nasi. Juga letak sendok dan garpu agar letaknya menjadi selaras.
Kemudian menggeser botol minuman yang memang selalu dibawanya kemana pun dia pergi. Sepertinya, dengan begitu saja dia sibuk? Dan perempuan itu memang selalu melakukannya selama ini.
"Terima kasih, saya sudah dapat tempat." tolaknya, yang kemudian berjalan menuju meja di mana Clarra berada.
Kenapa juga aku harus selalu memikirkanmu? Sementara kamu tidak memikirkan aku.
Hidupku ini berharga tahu? Aku juga ingin bahagia. Bukan hanya kamu. Hatinya bermonolog.
"Hey, kursinya sudah ada yang menempati?" tanyanya setelah dia tiba di dekat Clarra.
Perempuan itu hampir saja memulai makan siangnya, namun dia mendongak.
"Apa?"
"Apa kursinya sudah ada yang menempati?" Galang mengulang pertanyaan.
"Oh, memangnya siapa yang mau menemaniku? Tidak pernah ada kan?" Clarra menjawab.
"Makanya aku bertanya."
"Memangnya selama ini kamu pernah melihat ada yang makan semeja denganku?" Clarra balik bertanya.
"Tidak ada."
"Ya sudah, kenapa juga kamu bertanya?" Clarra meneguk air minumnya.
"Jadi aku boleh duduk di sini?" Galang meletakkan nampan makan siangnya di meja, dan segera duduk tanpa menunggu jawaban perempuan itu.
Clarra hampir saja tersedak, namun dia cepat menguasai diri.
"Terserah sajalah." jawabnya seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Huh, kenapa sih anak ini? Kenapa dia tiba-tiba saja selalu mendekat? Aneh. Gumamnya dalam hati.
Namun Galang tampak tak peduli. Dia lantas memulai acara makannya tanpa terganggu sedikit pun.
"Hey Galang?" Clarra memulai pembicaraan.
Rasanya dia tak tahan juga terus berdiam diri seperti ini ketika pria itu ada di dekatnya. Seperti banyak hal yang ingin dia bicarakan dengannya.
"Ya?" Galang mendongak.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Clarra.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja. Beberapa hari ini sikapmu aneh sejak pulang dari Paris."
"Sok tahu."
"Bagaimana? Di sana bertemu Amara?" Clarra terus saja bertanya, membuat Galang menghentikan kegiatan makannya.
"Kenapa?" Clarra malah menatap wajahnya.
"Kenapa sih kamu bertanya soal itu? Aku kan mau makan dengan tenang, makanya memilih duduk denganmu. Kamu ini awalnya tidak terlalu banyak bicara, tapi akhir-akhir ini jadi cerewet?"
"Aku kan cuma tanya, begitu saja marah? Lagi datang bulan ya?" Clarra bersungut-sungut.
"Mana ada? Aku ini kan laki-laki, memangnya kamu yang sering marah-marah setiap hari?"
"Kalau aku kan sudah biasa, nah kamu?"
__ADS_1
Galang meletakkan sendoknya, kemudian meneguk air minum yang berada di dekat tangannya.
"Mulai sekarang jangan bicara soal dia lagi, aku sudah tidak punya semangat." katanya.
"Apa?"
"Jangan bicarakan soal dia, membuatku kesal saja."
"Sola Ara?" Clarra memperjelas ucapan Galang.
"Ish! Sudah aku bilang jangan bicarakan soal dia!" Pria itu bereaksi.
"Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, hanya jangan bicarakan dia lagi. Aku mau move on!"
Tawa Clarra menyembur seketika, membuat beberapa orang di dekat mereka menoleh karena tidak biasanya perempuan itu bersikap demikian.
"Kamu ini kenapa?"
"Move on katamu? Sepertinya kepalamu benar-benat sudah terbentur ya?" Clarra menyentuh wajah bagian samping pria itu, kemudian menggerakkannya ke kanan dan ke kiri.
"Ish, apa sih?!" Galang menepis tangannya.
"Sudah dua tahun Pak, dan kamu baru mengatakan kalau kamu mau move on sekarang? Sepertinya kamu terlambat." Clarra tertawa pagi.
"Kenapa berkata begitu? Sudah melihat dia bersama orang lain ya?" Perempuan itu terus tertawa, dan kali ini terlihat lebih puas.
Galang terdiam menatapnya yang baru kali ini bersikap seperti itu. Ada sesuatu yang lain dengan Clarra, dan dia baru saja menyadarinya.
"Eh, ... um ... benar ya?" Kemudian dia berhenti tertawa. "Kamu bertemu dia di Paris?"
Galang tidak langsung menjawab.
"Jadi yang aku bilang barusan itu benar?"
Galang terlihat menghela napas dalam-dalam.
"Ups." Clarra menutup mulut dengan tangannya. Tiba-tiba saja dia menyesali ucapannya.
"Turut berduka cita Lang, aku nggak tahu kalau ...."
"Tidak usah dibahas lagi. Sudah aku katakan kalau aku mau move on. Meskipun terlambat seperti katamu, tapi setidaknya aku sudah menyadari kalau selama ini penantianku sia-sia." katanya, yang melanjutkan kegiatan makannya.
"Umm ... terus, apa yang akan kamu lakukan?"
"Tidak ada. Hanya begini saja. Memangnya apa yang harus aku lakukan?" Dia terkekeh.
"Tidak apa-apa, sendiri pun kamu bisa bahagia." Clarra menepuk pundak juniornya itu.
"Ya, kamu juga kan?" jawab Galang.
"Hah? Aku?" Clarra menunjuk wajahnya sendiri.
"Yeah, selama ini kamu tidak punya pacar, tapi bisa bahagia bukan? Lalu kenapa aku harus memusingkan hal itu?"
Clarra kemudian tertegun.
"Tidak harus memiliki pasangan untuk bahagia. Bisa menikmati hidup saja itu sudah bagus." sambung Galang yang berusaha tersenyum.
Senyum yang biasa dia lakukan ketika menemukan kebahagiaan.
"Tidak boleh seperti itu Lang, karena keadanmu dan keadaanku berbeda. Kamu masih punya banyak kesempatan untuk menemukan orang lain yang mungkin akan membuatmu lebih bahagia dari pada sendirian. Sedangkan aku?"
"Konteksnya sama Cla."
"Jelas beda. Kamu bebas memilih akan dengan siapa menghabiskan sisa hidup, sementara aku? Bahkan untuk menemukan orang yang tetap saja sulit, dan butuh banyak pertimbangan. Belum lagi kalau keluarga sudah berperan, semuanya jadi rumit."
"Wow wow wow! Berhenti sampai di sini! Stop! Nanti orang-orang mendengar penderitaanmu, dan mereka mungkin akan tertawa karenanya. Jadi lebih baik simpan saja untuk dibicarakan jika kita tidak di tempat ramai seperti ini." Galang melihat sekitar.
"Kita punya banyak waktu untuk bicara kan?"
"Hmm ... kamu seperti tidak sedang patah hati. Kamu masih bisa ceria seperti ini." Clarra menjawab.
"Aku berusaha. Kamu tahu, sekarang ini hatiku sudah hancur berkeping-keping, pikiranku kacau, dan perasaanku tidak menentu. Tapi itu tidak boleh mempengaruhiku sama sekali, kamu tahu kenapa?"
"Kenapa?"
"Hidup ini terlalu berharga untuk diratapi." Galang terkekeh lagi.
__ADS_1
"Sedih boleh, terpuruk boleh, bahkan mengeluh juga boleh. Tapi harus bisa bangkit lagi karena dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena kamu sedang patah hati."
"Mudah sekali kamu mengatakan itu?"
"Harus dibuat mudah, agar kita bisa bangkit dengan cepat. Ayo kita selesaikan makannya, setelah itu kita kembali bekerja." ucap Galang dengan semangat.
"Hey, kamu kalau sedang sedih suka pergi ke mana?" Namun Clarra tidak mau berhenti berbincang.
"Jalan-jalan."
"Naik motor?"
"Ya."
"Ke mana?"
"Ke mana saja, kadang tidak tahu tujuan. Sesampainya saja, terus pulang lagi."
"Dasar kamu ini tidak jelas."
"Namanya juga lagi healing."
"Healingmu aneh."
"Tapi asik. Mau ikut healing denganku?" tawarnya kemudian.
"Apa?"
"Mau pergi jalan-jalan?"
"Tidak mau, nanti ada gosip."
"Gosip apa?"
"Umm ...."
"Kita ini sama-sama singel, apa yang kamu khawatirkan? Tidak akan ada yang marah juga kalau kita pergi."
"Mudah bagimu untuk melakukan itu."
"Memangnya kamu tida bisa? Orang tua melarangmu?" Galang kini yang tertawa. "Aneh sekali perempuan dewasa sepertimu takut dimarahi orang tua. Seperti remaja saja?"
"Kamu mau membawaku jalan-jalan?" Clarra memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa tidak?"
"Pergi yang jauh?"
"Kalau bisa."
"Tidak akan ada yang marah?"
"Siapa? Aku kan Jomblo."
"Penggemarmu akan kabur jika tahu kamu pergi denganku."
"Penggemar yang mana? Kamu ada-ada saja."
"Para pegawai ...."
"Kamu ngaco."
"Aku serius. Aku sering mendengar mereka membicarakanmu."
"Aku tidak peduli soal itu. Aku tidak kenal mereka secara pribadi, dan aku tidak mau peduli."
Clarra terdiam lagi.
"Ayolah, nanti kita buat rencana untuk pergi?"
Perempuan itu tak menjawab. Dia kemudian melanjutkan acara makan siangnya hingga selesai. Begitu juga Galang.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1
Mau ke mana nih? otewe ikut ahhhh ...