My Only One

My Only One
Sebuah Percakapan


__ADS_3

🌺


🌺


Galang membeku sementara Amara membenamkan wajah di dadanya. Dia menghirup napas dalam-dalam dan menikmati aroma tubuh pria itu yang selalu dia rindukan.


"Kakak kenapa nggak nemuin aku waktu itu? Malahan langsung pergi gitu aja?" Lalu dia mendongak kepadanya.


Wajah lugu dan tatapan polosnya mendominasi pandangan Galang. Tentu saja membuat dia merasa tak karuan.


"Ara?" Pria itu masih meyakinkan pandangannya.


"Hum?"


"Kamu pulang?" Galang malah bertanya.


"Iya, makanya aku ada disini." Amara tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang berjejer rapi. Dan dia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh pria itu.


"Ka-kapan kamu sampai?" Ekspresinya masih datar-datar saja, dan dia masih meyakinkan diri jika ini bukanlah mimpi.


"Hari Minggu." Mereka masih dalam posisi berpelukan di pelataran gedung Nikolai Grup. Tepatnya, Amara yang memeluknya begitu erat tanpa mempedulikan sekelilingnya.


Orang-orang yang berlalu lalang seperti hanya ngengat yang lewat begitu saja. Dia bahkan tidak menyadari keberadaan Clarra di dekat mereka.


"Hari Minggu?" Galang membeo.


"Ya, udah dua hari. Dan aku butuh waktu selama itu untuk menemui Kakak." Gadis itu kemudian terkekeh.


"Kamu pulang sendiri?"


"Nggak. Sama papa juga Mommy dan adik-adik. Aku kan habis wisuda." Amara menjawab.


"Wisuda?"


"Hu'um." Dia mengangguk, dan masih dengan senyuman yang sama.


Galang masih betah menatap wajahnya.


"Ehm, …." Clarra berdehem untuk memecah suasana.


"Sepertinya aku harus cepat kembali ke atas." katanya, yang berusaha mati-matian menekan perasaan yang tiba-tiba saja timbul di dalam hatinya.


l


Kedua orang itu menoleh bersamaan.


"Cla, sepertinya aku harus …."


"Tidak apa-apa, gunakan saja waktumu. Kebetulan jadwal hari ini tidak terlalu padat, jadi … tenang saja lah." Clarra menjawab.


Tubuh Galang tampak menegang.


"Aku duluan ya?" ucap Clarra seraya melenggang ke arah pintu masuk.


Dua orang itu menatapnya hingga dia menghilang di dalam sana, dan kemungkinan dia segera melesat ke lantai paling atas gedung tersebut.


"Kakak!" Amara mencoba kembali meraih perhatian Galang.


"Hum?"


"Kakak punya waktu? Aku mau bicara." ucap Gadis itu yang masih memeluknya.


"Tapi …."


"Kak Clarra bilang juga boleh?"


"Umm … baiklah."


Amara tampak tersenyum.


"Tapi lepaskan dulu, malu dilihat satpam." Galang berujar.


Gadis itu tertawa pelan. Dia baru saja menyadari kekonyolanya, namun tidak merasa menyesal kerenanya. Amara justru merasa begitu bahagia setelah dia menemukan pria yang sangat dirindukannya tersebut.


Amara lantas melepaskan lilitan tangannya dari tubuh Galang, namun dia segera bergelayut manja di lengan pria itu. Mereka kemudian berjalan ke arah taman di belakang gedung.


"Jadi … kamu sudah lulus?" Galang memulai percakapan.


"Udah." Amara menganggukkan kepala. 


Mereka duduk bersebelahan di kursi taman yang tersedia.


"Sudah wisuda juga?"


"Udah."


"Lulus dengan nilai terbaik?"


"Hu'um." Gadis itu mengangguk lagi.


"Bagus."


Amara tersenyum bangga.


Kenapa dengan perasaan ini? Galang membatin.


Dia merasa bahagia, namun juga kecewa disaat yang bersamaan.


Bahagia karena gadis itu telah kembali, namun juga merasa kecewa setiap kali mengingat semua yang telah terjadi.


"Bagaimana Paris?" Otaknya berputar mencari bahan pembicaraan.


"Baik. Terakhir kali Kakak juga kesana kan?"


"Ya, benar." Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kakak kenapa sih? Kok rasanya aneh?" Amara mencondongkan tubuhnya.


"Hah?"


"Kaget ya aku pulang? Nggak nyangka kan kalau aku akan pulang secepat ini?" Dia mengarahkan ujung telunjuk lentiknya ke arah pria itu.


"Ya, kamu benar."


"Surprize!" Amara dengan raut riang gembiranya seperti biasa, membuat Galang sedikit tersenyum karenanya.


"Terus kenapa kamu ada di sini?" Pria itu lantas bertanya.


"Cari Kakak." Amara dengan jujurnya.


"Mau apa?"


"Mau apa? Ya mau ketemu Kakak lah."


"Untuk apa?"


"Kok untuk apa? ya karena aku mau balikan lagi." Gadis itu menjawab dengan begitu ringannya.


"Apa?"


"Aku mau minta maaf, aku salah udah mengambil keputusan sepihak. Dan dua tahun itu lama. Tapi sekarang aku ngerti kok, kenapa Kakak bersikeras masuk ke Nikolai Grup padahal aku nggak setuju."


"Mengerti katamu?"


"Ya."


"Bagian mananya yang kamu mengerti?"


"Bagian bekerja keras, dan semua yang kakak lakukan selama ini. Kakak memang harus melakukan semua itu. Aku salah karena aku nggak tahu, dan nggak ngerti jadi … aku minta maaf." Amara dengan wajah lugunya.


Galang terdiam.


"Kak?" Amara menyentuh tangannya.


"Ya?"


"Aku minta maaf."


"Ya, kamu dimaafkan." jawab Galang tanpa berbasa-basi.


"Masa? Beneran? Aaa … makasih!" Gadis itu kembali memeluknya dengan penuh perasaan. Ternyata berbicara dari hati ke hati tidak sesulit yang dibayangkan.


"Sekarang kita bisa mulai lagi semuanya dari nol. Tapi nggak apa-apa, asal kita barengan." Amara dengan perasaan yang begitu gembira.


"Sebentar, sebentar." Galang meraih tangan gadis itu, lalu menariknya untuk melepaskannya.


"Ada banyak hal yang harus kita luruskan disini."


"Apanya?"


Galang menatap wajah gadis itu lekat-lekat.


"Oh iya, aku bawa sesuatu." Amara memotong kalimat yang hampir Galang ucapkan.


Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah gelang berwarna perak dengan sesuatu yang tergantung berbentuk sebuah huruf A.


Sebelum pulang aku jalan-jalan, dan mampir ke toko suvenir. Tiba-tiba aku lihat beginian, eh ada sepasang." Amara kemudian menunjukkan gelang yang sama yang sudah dia kenakan, namun dengan gantungan berbentuk huruf G.


"Kayak anak SMP ya?" Gadis itu tertawa. "Tapi aku suka." katanya, dan dia memasangkan benda tersebut pada pergelangan tangan Galang.


"Mulai sekarang, jangan berpisah lagi ya? Aku akan membiarkan Kakak memilih apa pun yang akan Kakak kerjakan. Nggak usah memperdebatkan apa pun. Kita bebas melakukan apa yang kita mau tanpa menghambat siapa pun." Gadis itu berujar.


Galang tertegun.


"Kakak?" Amara menatap wajah pria itu lebih dekat.


"Bisakah kita kembali?" tanyanya, penuh harap.


"Kembali?"


"Ya, meneruskan apa yang sempat terputus, dan membiarkan aku memperbaiki keadaan?" Amara memperjelas kalimatnya.


"Memperbaiki keadaan yang mana maksudmu?" Galang mencekal pergelangan Amara yang masih bertumpu di lengannya.


"Keadaan yang …."


"Aku baik-baik saja selama ini. Aku bahkan berusaha dengan keras untuk memulihkan diri setelah kamu pergi. Kamu tahu seberapa keras aku berusaha?"


Amara menarik diri. Keningnya berjengit keras mendengar perkataan Galang.


"Kakak masih marah?"


"Tidak, bukan marah." Galang menggelengkan kepala.


"Terus?"


"Kamu tahu begitu kerasnya aku berusaha agar keadaanku baik-baik saja setelah kamu tinggalkan? Dan setelah dua tahun berlalu, sekarang kamu dengan gampangnya meminta maaf dan ingin kembali?"


"Maksud Kakak …."


"Tidak segampang itu, Ara."


"Kakak nggak mau memaafkan aku? Aku sudah mengerti sekarang."


"Bukan soal minta maaf atau saling memaafkan. Tapi ini lebih dari yang kamu pikirkan."


"Aku pikir … waktu Kakak menemukan aku di Paris, dan kita …."


"Maafkan aku, saat itu aku terbawa emosi."


"Apa?"

__ADS_1


"Umm … maksudku …" Galang menggeleng sambil memejamkan mata sejenak. 


"Maaf, pikiranku kacau sekarang ini. Aku harus …."


"Sudah ada orang lain?" Amara bereaksi.


"Tidak, hanya saja … aku perlu waktu."


"Waktu?"


"Ya, ini terlalu tiba-tiba dan aku …." Dia memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba saja terasa nyeri.


"Aku antar kamu pulang." katanya, yang kemudian bangkit seraya meraih tangan gadis itu.


"Tapi aku nggak akan pulang Kak."


"Aku tahu, tapi pulanglah dulu."


"Kakak mau memikirkannya dulu?" 


"Ya, sepertinya begitu." Galang menggiringnya ke tempat parkir.


"Kakak mau kerja lagi?"


"Ya, kamu tahu, jadi asisten Pak Dimitri itu sangat sibuk."


"Iya, aku tahu."


"Jadi aku akan mengantarmu pulang dulu, terus …."


"Nggak usah Kak, aku bawa mobil." tolak Amara.


"Apa?"


"Aku bawa mobil sendiri, jadi Kakak nggak usah mengantarkan aku." Amara mengeluarkan kunci mobil kemudian menekan tombol sehingga tedengar bunyi bip dari sebuah mobil berwarna putih tak jauh dari mereka.


"Begitu?"


"Ya. Lagian aku mau mampir dulu ke tempat lain setelah ini."


"Ke mana?"


"Mau cari tempat untuk usaha."


"Usaha?"


"Iya, aku mau memulai usaha sendiri. Gimana menurut Kakak?"


"Usaha sendiri?"


Gadis itu mengangguk.


"Usaha apa?"


"Mungkin semacam kafe kecil-kecilan."


"Kenapa?"


"Kenapa apanya?"


"Kenapa tidak kerja di salah satu tempat usaha papamu?"


Amara tersenyum.


"Aku mau memulai usahaku sendiri. Dari nol, dan melakukannya sesuai dengan apa yang aku mampu dan aku mau."


"Hmm …."


"Kayak Kakak." Dia maju dua langkah sehingga jarak di antara mereka hampir saja menghilang.


Galang terdiam.


"Aku pergi ya? Udah siang." Amara berujar.


"Ya, pergilah."


"Kakak janji akan memikirkan soal kita lagi?"


"Ya, aku janji."


"Oke, semoga yang terbaik yang akan Kakak pikirkan."


"Iya."


Amara belum menghapus senyum dari bibirnya.


"Pergilah."


"Oke." Gadis itu memutar tubuh kemudian bermaksud membuka mobilnya, sebelum akhirnya dia kembali ke hadapan Galang.


"Mau peluk boleh?" katanya, penuh harap.


Baru saja Galang membuka mulutnya untuk menjawab, namun gadis itu tiba-tiba saja menghambur ke pelukannya.


"Jangan lupa pikirkan aku." Amara setengah berbisik.


Setelah itu dia melepaskannya, dan segera pergi dari sana.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...

__ADS_1


Mm ... anu ....


mau minta like, komen sama hadiahnya lagi, boleh? 😂😂


__ADS_2