
🌺
🌺
Satu minggu kemudian …
"Ayo, kamu bisa." Galang memegangi Amara yang pagi itu memulai lagi terapinya.
Setelah meyakinkan bahwa kakinya siap untuk dipakai berjalan, mereka membesarkan hati perempuan itu agar kepercayaan dirinya tumbuh dan siap untuk sesi kali ini.
Kedua tangannya bisa berpegangan pada sebuah besi yang dipasang sedemikian rupa untuk membantunya berdiri. Meski dengan gemetaran, namun Amara mencoba untuk melakukan apa yang dikatakan oleh terapinya.
"Kakak jangan lepasin, nanti akunya jatuh." ucap Amara, sedikit ketakutan.
"Tidak akan. Aku di sini, dibelakangmu." Galang memegangi pinggangnya.
Lalu Amara menggerakkan kaki kanannya yang masih terasa lemas. Mencoba menginjakkannya di lantai dan merasakan kembali apa yang berada di bawah kakinya.
Kebas.
Selain perasaan yang berat, tak ada lagi. Namun dia terus mencoba.
Satu langkah tertatih, sementara kedua tangannya mencoba mempertahankan keseimbangan. Pikirannya seolah dibagi dua untuk membuat tubuhnya merespon setiap kali dia berusaha.
Rasa nyeri mulai merambat di lengannya. Tentu saja, bekas cedera tidak akan menghilang dengan mudah. Begitupun dengan kaki, terutama lututnya yang mengalami hal paling parah. Ngilu, sakit dan nyeri menjadi satu. Tapi itulah prosesnya, dan Amara sudah mengetahuinya.
Amara mengerang. Lututnya mulai terasa seperti ditekan keras, dan sesuatu kembali pada posisinya yang semula bergeser. Mungkin hanya perasaannya saja, meski itulah kenyataan yang terjadi.
"Pelan-pelan." Galang mengikutinya dari belakang, menjaga tubuh perempuan itu agar tak terjatuh.
Baru dua langkah tapi keringat sudah mengucur membasahi dahi dan wajah, seolah dia telah menempuh perjalanan sejauh puluhan meter.
Amara berhenti, kemudian menangis.
"Ini sakit!" katanya, dan dia hampir menyerah seperti pada terapi sebelumnya.
"Berhentilah dulu, tidak apa-apa." ucap Galang yang tidak beranjak sedikitpun dari dekatnya.Â
Amara mengatur napasnya yang tersengal. Lalu dia bersiap untuk kembali mengambil satu langkah lagi, dan beberapa langkah berikutnya. Hingga akhirnya dia sudah mencapai setengah jalan.
Rasa sakit semakin menjalar, dan akhirnya perempuan itu menyerah juga. Tepat ketika Galang menangkapnya.
"Aku masih nggak bisa!" katanya, dan dia kembali menangis.
"Ini sudah bagus. Kamu sudah berhasil setengah jalan. Tidak apa-apa." Galang dengan penghiburannya, kemudian dia membawa Amara ke sisi lain ruang terapi.
Sang terapist memberikan pijatan pelemasan pada kaki dan tangannya seperti biasa, setelah dokter selesai memeriksa keadaannya.
"Kemajuannya cukup bagus, dan hari ini kita mendapatkan hasil yang memuaskan. Setengah sesi itu berarti sangat besar bagi Amara. Mungkin di sesi berikutnya akan lebih baik," jelas sang dokter.
"Kok masih sakit?" Amara mengeluh.
__ADS_1
"Itu pasti, sudah saya katakan bahwa ini tidaklah mudah. Tapi jika latihan dan terapinya rutin dilakukan, kesembuhan pasti akan terjadi. Hanya saja kita harus sabar. Jadi, jangan patah semangat ya?"
***
"Janinnya sehat, lihat?" Dokter kandungan menunjuk dua titik hitam di layar.
Angka-angka dan tulisan tertera di layar menerangkan bagaimana kondisi rahim dan janin yang sedang tumbuh di dalamnya, dan hal ini membuat semangat Amara kembali bangkit. Mengetahui keadaan kandungannya yang sangat baik.
"Umurnya sudah delapan minggu dan pertumbuhannya sangat baik. Good job, Mom!" katanya, dengan senyuman manis.
"Terapi dan pengobatannya tidak akan menimbulkan masalah?" Galang bertanya, dengan perasaannya yang masih terkagum-kagum pada apa yang dia lihat di layar.
"Tidak. Itu sudah disesuaikan dengan keadaannya. Itulah kenapa Anda harus selalu memberitahukan kepada kami apa pun yang terjadi. Agar hal-hal buruk bisa diantisipasi." jelas sang dokter.
Galang mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Baik, setelah ini jangan lupa istirahat yang banyak dan obatnya seperti biasa di minum ya?" dokter pun mengakhiri sesi konsultasi siang itu.
"Dengar kan? Pemulihanmu sangat baik, dan semuanya juga begitu. Jadi tidak usah terlalu khawatir." Mereka menyusuri lorong rumah sakit.
"Tapi tetep aja lama."
"Tidak apa-apa, yang penting kamu sembuh." ujar Galang, lagi-lagi menguatkan perempuan itu.
"Eh, tunggu sebentar." Amara meminta suaminya berhenti berjalan.
"Itu kayaknya Kak Darren deh?" Dia menunjuk seseorang di ruang tunggu unit penanganan kesehatan kulit.
"Ada Mama Fia juga?" ucap Amara yang melihat orang lain di sana.
"Kita ke sana Kak!" katanya, dan Galang menuruti ucapannya.
"Mama Fia sama Kak Darren lagi apa?" sapanya, ketika jarak mereka sudah dekat.
"Oh, hey? Kamu sedang check up?" Sofia segera memalingkan perhatian, begitu juga Darren.
"Udah beres. Habis terapi juga dari pagi." jawab Amara.
"Oh ya? Bagaimana sekarang?" Perempuan yang masih cantik di usia paruh bayanya itu bertanya.
"Semuanya baik, Bu." Giliran Galang yang menjawab.
"Syukurlah."
"Mama Fia antar siapa? Papi sakit?" Amara bertanya lagi setelah melirik pintu ruangan dokter Kirana.
"Bukan, antar Darren." jawab Sofia.
"Kak Darren?" Dia pun melirik pria yang terdiam di kursi tunggu.
"Biasalah, alerginya kambuh."
__ADS_1
"Alergi? Kok bisa?"
"Biasa, Darren suka lupa kalau dia punya alergi."
"Hmm …."
Lalu Dokter yang ditunggu pun tiba.
"Maaf sekali harus menunggu, saya harus menangani pasien lain terlebih dahulu." ujar dokter cantik itu setelah menyapa.
"Tidak apa-apa Dokter, kami juga baru datang." Sofia menjawab.
"Hai Ara? Bagaimana kabar?" Kirana beralih kepada Amara yang juga berada di sana.
"Sehat Dokter. Hari ini sibuk ya?"
"Tidak terlalu, hanya ada pasien dengan penanganan khusus." jawab Kirana, lalu dia beralih kepada Darren yang terdiam.
"Pak Darren, apa ruamnya masih ada? Setelah konsultasi kedua kemarin belum hilang juga ya?" tanya nya kepada pria itu.
"Umm … se-sedikit." Orang yang dimaksud menjawab.
"Baik, kalau begitu mari ke ruangan saya?" ajaknya, dan dia mempersilahkan.
"Kak Darren sih, suka bandel. Udah tahu punya alergi, kenapa ngeyel?" celetuk Amara, yang membuat Darren membelalakan matanya.
Dokter Kirana seketika melirik.
"Iya, kalau begini kan susah. Sudah minum obat juga masih belum hilang. Padahal biasanya hanya meminum obat alerginya satu atau dia hari pasti hilang." sahut Sofia.
Darren tiba-tiba merasa bahwa membiarkan sang ibu untuk mengantarnya ke rumah sakit adalah ide yang buruk.Â
"Umm …."
"Memangnya Pak Darren ada riwayat alergi, Bu?" Dokter Kirana segera saja bertanya.Â
"Ada. Makanya dia seperti ini. Tapi sepertinya ini agak parah, Dokter. Karena belum juga sembuh setelah satu minggu. Padahal tiga hari yang lalu juga check up ke sini kan?"Â
"Ya, tapi saya tidak mengira kalau ternyata itu reaksi alergi. Karena Pak Darren menjawab tidak punya riwayat alergi waktu saya tanya."Â
Pandangan semua orang mengarah kepadanya. Dan seketika Darren merasa ingin menghilang saja dari dunia.
"Hmmm …." Kedua sudut bibir Amara tertarik membentuk sebuah senyuman, sementara Sofia menatap putranya dengan raut curiga.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1
Nah lu ... Setelah ini apa? 😂😂😂