My Only One

My Only One
Menantu


__ADS_3

🌺


🌺


"Terima kasih." Galang menutup pintu begitu petugas rumah sakit keluar dan selesai mengganti sprey juga bed cover mereka.


Kemudian dia kembali ke dalam kamar mandi di mana Amara tengah menikmati berendam paginya.


"Sudah?" Dia mendapati perempuan itu yang terjaga setelah tadi meninggalkannya berendam masih dalam keadaan terkantuk-kantuk.


"Udah kayaknya." Amara menjawab.


Galang kemudian mendekat dan memasukkan tangannya ke dalam air. Mencari penyumbat di dasar bathub kemudian menariknya hingga terlepas dan airnya segera mengalir masuk ke lubang pembuangan.


Setelah itu dirinya menyalakan shower untuk membilas seluruh tubuh Amara dari kepala hingga kaki. Lalu setelahnya dia mengambil bathrobe yang kemudian dipakaikannya kepada perempuan itu. Tidak lupa juga dia menggulung rambut Amara yang basah dengan handuk yang memang sudah tersedia di sana.


"Pelan-pelan Kak, sakit!" protes Amara saat Galang mengangkat tubuhnya dari dalam bathub.


Pria itu tak menyahut, namun dia hanya tersenyum dan bergegas membawanya kembali ke tempat tidur.


"Pelan-pelan ih! Ini masih sakit!" Amara menepuk pundaknya saat Galang mendudukannya di pinggir tempat tidur.


"Maaf maaf, haha. Mana yang sakit? Sini aku obati?" Pria itu mengusap tangan dan kaki Amara yang cedera kemudian meniupnya sebentar.


"Bukan itu!" Amara dengan kesal.


"Terus yang mana?" Galang mendonga.


"Ini." Perempuan itu meletakkan kedua tangan di bawah perutnya.


"Sakit perut? Mungkin karena kamu belum makan, jadinya lapar."


"Bukan ih Kakak!" Amara kembali menepuk pundak suaminya yang berjongkok di hadapannya. Namun pria itu malah kembali tertawa, merasa senang karena bisa terus menggodanya.


"Nanti juga hilang sakitnya." katanya saat dia mengerti apa maksud istrinya itu.


"Masa? Tapi ini sakit banget tahu?"


"Ya kalau tidak hilang masa semua orang melakukannya lagi? Sampai bertahun-tahun dan punya anak banyak. Itu berarti sakitnya hilang."


Amara terdiam.


"Lagi pula … masa akan sakit terus-terusan?" Galang menegakkan tubuhnya seraya mendekat.


"Saking sakitnya, sampai-sampai sakit di tangan dan kakimu terlupakan ya?" Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman, membuat kedua pipi Amara merah merona karena teringat kejadian semalam.


"Umm …."


"Kalau kamu tidak sakit, aku pasti sudah mengulanginya tadi." Pria itu setengah berbisik.


Amara menelan ludahnya dengan susah payah.


"Tapi sepertinya tidak bisa, karena hari ini kamu harus banyak istirahat." katanya, kemudian tertawa.


"Ish!" Amara lagi-lagi menepuk pundaknya dengan kepalan tangannya.


"Siang ini aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu ya? Semoga pulang tidak terlalu sore, jadi bisa menemanimu bersiap-siap." Galang mulai membantu Amara berpakaian.


"Aku pikir Kakak udah mulai cuti?" 


"Belum. Ini hari terakhir, dan aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu."


"Kalau nggak selesai sore gimana?"


"Aku usahakan selesai tepat waktu."


"Aku operasinya jam berapa?"


"Jam empat."


"Kenapa nggak sekarang aja?"


"Prosedurnya seperti itu, dan dokter yang lebih tahu."


"Hmm … gimana kalau ternyata Kakak nggak bisa nemenin aku?"


"Aku usahakan bisa Neng." Pria itu memasangkan kancing terakhir pada pakaian yang sudah melekat di tubuh Amara.


"Eh, ini bed covernya udah diganti?" Amara baru menyadari keadaan di tempat tidurnya yang sudah kembali rapi.


"Sudah." Galang membalutkan perban yang sempat dibuka saat perempuan itu akan mandi tadi.


"Itukan tadi ada itunya … mm … nodanya."


"Tidak apa-apa, itu biasa."


"Hum? Biasa ada yang ml di rumah sakit?"


"Bukan." Galang tertawa. Sepertinya mereka adalah satu-satunya pasien yang melakukan hal tersebut di rumah sakit.


"Kata petugasnya sudah biasa kalau pasien datang bulan." lanjutnya.


"Hah, datang bulan?"


"Iya. Masa aku harus menjelaskan kalau noda darahnya berasal dari … eee … ml pertama kita?" Pria itu tertawa lagi.


"Bikin malu Kakak!"


"Ya makanya." Galang selesai membalut kaki dan tangan Amara dengan kain perban itu seperti yang dia lihat dilakukan oleh petugas medis, lalu beralih menyisir rambut panjangnya.


Dan setelah dia selesai dengan urusan Amara, pria itu bergegas mengurus dirinya sendiri.


"Sudah ada yang mengantar makanan?" Galang muncul setelah beberapa menit dan mendapati meja beroda di samping tempat tidur sudah penuh dengan makanan.

__ADS_1


"Udah barusan."


"Tapi belum ada dokter yang memeriksa keadaanmu ya?"


"Belum, mungkin sebentar lagi?"


"Hmm …." Galang kembali duduk disampingnya dan berniat memulai sarapan.


"Nanti setelah lewat tengah hari kamu harus berhenti makan dan minum ya?" Pria itu menyuapkan makanan ke mulut Amara.


"Kenapa?"


"Sorenya operasi."


"Nggak boleh ada makanan masuk sebelum operasi?"


"Iya."


"Kan ini operasi wajah, apa hubungannya sama makanan?"


"Tidak tahu, pesan dokter begitu."


"Emang kapan dokter bilang?"


"Tadi kirim pesan."


"Pesan ke mana?"


"Ke nomor aku."


"Dokter Kirana?"


"Ya."


"Kalian suka kirim-kiriman pesan? Suka chat-an gitu?"


"Untuk keperluan konsultasi."


"Sering?"


"Tidak juga, hanya beberapa hari ini."


"Konsultasi apa?"


"Ya konsultasi soal operasi kamu lah, masa aku?"


"Umm …."


"Jangan berpikir macam-macam!"


Amara terdiam.


"Jangan baca novel lagi, otak kamu terganggu setelah baca itu."


"Tapi nanti kamu hubung-hubungkan dengan cerita novel. Bisa kacau kita."


"Itu cuma hiburan Kak."


"Hiburan kalau kamunya nggak terbawa suasana. Kalau kamunya baperan? Semuanya bisa disama-samakan dengan cerita novel. Dunia halu masuk ke dunia nyata, kacau."


"Kakak ada pengalaman soal itu ya? Hahaha." Amara tergelak.


"Tidak, cuma dengar pengalaman author yang pembacanya ribut gara-gara pemeran utamanya dibully. Mereka jadi kubu-kubuan."


"Masa?"


"Serius. Si author sampai ngomel gara-gara kena dikte terus karena ceritanya disebut basi dan copy paste."


"Duh? Kakak kok tahu?"


"Tahulah, apa yang aku nggak tahu?"


"Dih, makin sombong aja Kakak ini?"


Galang tertawa.


"Udah ah, aku kenyang." Amara menolak makanan yang kembali Galang sodorkan kepadanya.


"Satu lagi Neng?" bujuk pria itu.


"Nggak mau, perut aku nggak enak rasanya." Amara mengusap-usap perutnya sendiri.


Galang mendengus, namun dia menyuapkan makanan tersebut ke mulutnya.


"Papa kamu bilang mau datang jam berapa hari ini?" Galang mendorong meja makanan ke sisi lain ruangan agar memudahkan petugas untuk mengambilnya.


"Nggak." Amara menggelengkan kepala.


"Apa aku harus menunggu?" Galang melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi.


"Nggak usah, kalau Kakak mau pergi ya pergi aja. Kalau nunggu papa nanti telat."


"Benar?"


"Iya, nggak apa-apa. Tapi …." Amara bergeser. Dia mencoba merebahkan tubuhnya pelan-pelan, namun kemudian Galang membantunya.


"Memangnya sangat sakit?" Pria itu menunduk seraya mengusap-usap perutnya setelah melihat istrinya sedikit menjengit.


"Hu'um. Kayaknya mau datang bulan." Amara mengangguk.


"Memangnga suka begini kalau datang bulan?"


"Kadang-kadang. Atau mungkin ini gara-gara semalam."

__ADS_1


"Semalam?" 


Perempuan itu mengangguk lagi.


"Masa sampai segitunya?" Galang tertawa.


"Ya nggak tahu juga sih, aku kan belum pernah."


"Memangnya kamu pikir aku pernah ya? Ini kan pertama kali juga untuk aku, makanya nggak tahu."


"Iyalah terserah Kakak." Amara mencoba membuat dirinya sendiri nyaman.


"Serius Neng!" Galang semakin menunduk saat perempuan itu memejamkan mata.


"Hmm …."


"Hey, masih pagi. Masa mau tidur lagi?"


"Habisnya mau ngapain? Lagian Kakak bilang aku harus banyak istirahat kan? Ingat, nanti sore operasi." Amara menirukan ucapan suaminya.


"Umm …."


"Lagian Kakak juga mau kerja. Ya aku tidur, istirahat."


Galang terdiam sebentar.


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi ya?" Dia menarik selimut dan menutupkannya ke tubuh Amara.


"Iya."


"Benar nggak apa-apa kamu aku tinggal sekarang?"


"Nggak apa-apa, kalau pergi sekarang kerjaan Kakak juga cepat selesai kan? Jadi nanti cepat pulang juga."


Galang tersenyum.


"Udah, sana pergi. Nanti kesiangan."


"Oke. Aa pergi ya?" Pria itu tertawa. 


Ini rasanya menggelikan sekali!


"Hmm …." Amara menjawab dengan gumaman.


Galang mendekatkan wajahnya kemudian mengecup bibir perempuan itu. 


"Jangan kangen!" Katanya, lalu dia beralih mengecup keningnya.


"Ini sudah siang, kenapa kamu belum berangkat?" Suara Arfan menginterupsi saat dua sejoli itu selesai bermesraan. 


Galang bahkan masih menunduk ketika mertuanya itu masuk. Membuatnya segera menarik diri dan menegakkan tubuh.


"Bukankah masih ada pekerjaan?" Arfan bertanya.


"Iya Pak." Galang pun bangkit dan membenahi jasnya.


"Lalu tunggu apa lagi? Cepat pergi!" ucap Arfan lagi.


"Iya, ini juga mau berangkat." Galang kemudian meraih tas kerjanya di sofa.


"Aku pergi." katanya kepada Amara yang menjawab dengan anggukkan. Lalu pria itu pun pergi.


"Papa kenapa sih galak amat sama Kak Galang?" Amara bereaksi.


"Siapa yang galak? Tidak. Papa hanya mengingatkan dia untuk pergi bekerja karena memang sudah waktunya."


"Itu, kalau ngomong sama Kak Galang suka ngegas?"


"Kenapa? Kan dari dulu Papa seperti ini?"


"Nggak, kalau sama Kak Galang beda."


Arfan terdiam.


"Jangan gitu Pah, kasihan. Dia kan yang ngurus aku sekarang? Masa mau Papa galakin terus?"


"Papa tidak galak, hanya …."


"Ngingetin dia untuk kerja. Tapi jangan gitu juga caranya. Dia kan suami aku, menantu Papa." ucap Amara.


"Hmm …."


"Udah jadi anak Papa juga." lanjutnya, dan dia terdiam lagi.


Arfan memutar bola mata kemudian duduk di sofa.


"Kamu sudah sarapan?" Sang ayah kemudian mengalihkan topik pembicaraan.


"Udah, barusan. Kak Galang yang suapin aku. Setiap hari juga gitu. Mandiin, mengurus semua keperluan aku. Papa pikir siapa yang melakukan semua itu untuk aku? Perawat? Bukan. Ya Kak Galang. Menantu Papa." Perempuan itu menekan kata terakhir.


Arfan tak menyahut, namun dia merasakan sesuatu seperti diremat kuat dan direnggut paksa dari dirinya.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Nah lho papa, diomelin anak gadisnya kan? Eh, udah nggak gadis lagi deng🤣🤣


Selamat hari vote!!😘😘

__ADS_1


__ADS_2