My Only One

My Only One
My Only One


__ADS_3

🌺


🌺


Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah menara Eiffel. Landmark kota Paris, dan Prancis pada umumnya. Yang menjadi tujuan wisata dari seluruh dunia dan sebagai kota romantis bagi jutaan pasangan.


Tidak heran, jika pada saat-saat tertetu kota Paris, terutama area di sekitar Eifeel sering disesaki pengunjung, bahkan hingga malam hari.


"Mantelmu sudah benar?" Galang memastikan pakaian hangat yang Amara kenakan tertutup dengan rapat.


"Scarfnya juga." Hal sama dia lakukan pada kain yang melingkar di leher perempuan itu. 


"Sarung tangan? Sepatu? Topi … um …."


"Udah Kak. Aku kayak mau ke kutub utara kalau gini?" Amara sedikit menaikkan penutup kepalanya yang terbuat dari rajutan benang wol.


"Aku takut kamu kedinginan. Di atas sana anginnya sangat kencang, apalagi di musim gugur seperti ini." 


"Nanti ada Kakak yang meluk aku?"


"Itu lain lagi ceritanya, Neng." Galang terkekeh.


Lift berhenti di lantai paling atas. Seorang petugas membukakan pintu untuk mereka, dan Galang pun segera membawa Amara ke area puncak menara.


Ada dua orang yang sudah lebih dulu berada di dalam sana, dan mereka segera keluar begitu lift tiba. Bergantian dengan Galang dan Amara yang baru saja tiba.


Angin segera berhembus kencang, namun tak mengurangi keinginan mereka untuk tetap berada di sana.


"Whoaaaaa …." Amara berpegangan pada tiang besi saat Galang berhenti mendorong kursi rodanya tepat di pinggiran.


Dari ketinggian itu mereka dapat melihat seluruh kota Paris hingga yang paling jauh. Pemandangan yang indah dan tidak akan ditemukan di manapun.


Sebuah kota dengan ciri khas arsitekturnya yang mengagumkan, dan suasana yang begitu menyenangkan.


"Sudah ya?" Galang membenahi scarf di leher Amara.


"Belum. Aku masih mau di sini." Namun perempuan itu menolak.


"Tapi kita tidak boleh terlalu lama. Ada pengunjung lain yang juga mau masuk ke sini."


"Kakak minta tambahan waktu lagi dong!"


"Nggak bisa, Neng. Sudah aturannya begitu."


"Ah, Kakak!"


"Nanti kapan-kapan kita ke sini lagi."


"Kan sekarang kita lagi di sini?"


"Iya, kan aku bilang kita nggak boleh terlalu lama di sini?"


"Hmm …." Amara mengerucutkan mulutnya.


"Jangan begitu." Pria itu tertawa pelan lalu meraup bibir Amara dan mengecupnya beberapa kali.


"Lagi pula, di sini sangat dingin. Nggak baik untuk anak kita."


"Oh, ya udah."


"Kita turun, oke?" bujuk Galang lagi, seperti sedang merayu anak kecil untuk pergi.


"Hu'um." Amara pun menurut.


***


Sebuah restoran di dekat sungai Seine menjadi tujuan Galang dan Amara berikutnya. Menikmati kuliner khas kota mode itu dan disuguhi pemandangan yang sangat indah. Pohon-pohon yang daunnya menguning dan berguguran menambah suasana menjadi semakin terkesan romantis.


Perbincangan berlangsung hangat seperti biasa, dan keduanya benar-benar menikmati waktu luang tersebut.


Mereka menyusuri jembatan-jembatan penghubung di sekitar sungai Seine yang kemudian mengantarkan keduanya pada beberapa objek wisata lain di sekitar menara.


Mereka berfoto di monumen Arc De Triomphe, bangunan bersejarah yang dibuat untuk mengenang keberhasilan Napoleon Bonaparte. Kemudian berkunjung ke museum Louvre, di mana ribuan koleksi seni dari banyak seniman terkenal berada.


Rasanya tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari ini. Ketika kita bersama dengan orang yang kita cintai. Pergi ke mana pun sepertinya akan selalu menyenangkan. 


"Kamu senang?" Mereka kembali ke area dekat menara Eiffel pada menjelang sore.

__ADS_1


Memilih untuk duduk di kursi taman sekitar seperti halnya pengunjung lain yang menunggu mata hari terbenam pada musim gugur itu. Yang meskipun cuaca cukup dingin, tidak membuat siapa pun beranjak. Keduanya bahkan saling menggenggam tangan dengan erat seolah takut terpisah jika tak melakukannya.


"Hu'um." Amara menganggukkan kepala.


"Syukurlah. Usahaku nggak sia-sia membawamu kembali ke sini."


"Nggak sama sekali."


"Benarkah?"


"Iya."


"Kemarin sepertinya kamu sedikit kecewa karena kita hanya pergi ke Paris."


"Oh ya?"


"Iya, kamu bilang cuma ke Paris."


"Masa?" Amara berlagak mengingat sesuatu.


"Nggak tahu ah, aku lupa. Mungkin karena aku terlalu seneng?" Perempuan itu tertawa.


"Hmm … dasar kamu ya?" Galang mengusak puncak kepalanya.


"Kakak tahu, kayaknya Paris akan jadi tempat favorit aku setelah Bandung." Amara menatap wajah pria itu.


"Kenapa?"


"Karena di sini kita ketemu lagi setelah di berpisah lama. Kayak di Bandung waktu kita ketemu pertama kalinya."


"Hmm …."


"Tujuan Kakak ngajak aku ke Paris karena itu bukan sih? Kok aku jadi geer ya? Hahaha."


"Mungkin iya."


"Masa?"


"Ya, setidaknya kita punya kenangan sendiri di kota ini."


"Hanya kita?"


"Ih, … sweet banget sih Kakak ini." Perempuan itu menghambur ke dalam pelukannya.


"Aku memang sweet, baru tahu ya?" Galang menggendikkan bahu sambil memutar bola matanya.


Amara tertawa, lalu mendongak dan menarik dagu pria itu untuk dia kecup sebentar.


"Umm … ayo kita kembali ke apartemen?" ucap Galang seraya menghentikan cumbuan.


"Aku masih mau di sini."


"Sudah sore, Neng. Cuaca semakin dingin, apa kamu tidak merasa?"


"Hmm …."


"Ayolah. Kita masih bisa ke sini besok, dan besok, dan besoknya lagi. Kalau kamu mau setiap hari selama di Paris kita bisa ke sini terus."


"Beneran ya?"


"Hmm …." Galang bangkit lalu membantu perempuan itu pindah ke kursi rodanya.


"Baiklah, lets go!" Mereka berdua tertawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Neng?" Galang mencari keberadaan Amara yang tak berada di sofanya ketika dia kembali setelah menyelesaikan urusannya.


Lalu pria itu menemukannya yang tengah berada di balkon, menatap pemandangan sekitar menara Eiffel pada petang itu dalam diam.


"Kenapa kamu malah di sini? Nanti kedinginan?" Galang memeluknya dari belakang.


"Aku udah bisa jalan sedikit-sedikit, merayap ke dinding, ke sofa, ke pintu." Amara bergumam.


"Itu bagus."


"Mungkin lama, tapi aku bakal sembuh kan? Bisa jalan lagi kayak biasa?"

__ADS_1


"Iya, pasti bisa. Seperti kata dokter kalau kita harus sabar, dan terus terapi. Lama tidak apa-apa." Galang mengeratkan pelukan.


"Kakak akan terus nemenin aku kan?"


"Tentu saja, memangnya siapa lagi yang akan melakukan itu? Kamu tanggung jawabku sekarang."


"Kakak tahu, dulu di sini aku sering diem mikirin Kakak kalau pulang kuliah. Bukannya belajar." Amara terkekeh.


"Pantas aku nggak bisa melupakanmu. Karena nyatanya kamu juga begitu."


"Bisa begitu ya?"


"Hmm … kamu tahu, sebenarnya hati selalu tahu keadaan kita bagaimana. Siapa yang kita pikirkan, siapa yang kita cintai. Dan tahu ke mana harus kembali setelah pergi. Tapi sering kali diri kita sendirilah yang menyangkal hal itu karena mementingkan ego. Dan itu adalah seburuk-buruknya penyangkalan."


Amara menoleh, dan menemukan wajah pria itu yang sangat dekat dengan dirinya. Dia melonggarkan pelukan, kemudian memutar tubuh perlahan sehingga kini mereka berhadapan.


"Dan waktu itu kita sama-sama egois kan?" katanya, mengingat segala hal yang pernah terjadi.


"Eh bukan! Aku yang egois." Amara tertawa lagi.


"Aku sangat ingin Kakak menjadi apa yang aku mau. Tanpa berpikir kalau ternyata kita nggak bisa mendapatkan segala yang kita inginkan, dan menjalani hidup sesuai rencana. Aku terbiasa mendapatkan segala hal dengan mudah dan tanpa bantahan, tanpa tahu bahwa nggak semua bisa seperti itu."


"Orang tuaku hanya memberikan apa yang mampu mereka beri, dan berusaha membuat aku selalu bahagia ditengah keadaan yang kadang nggak terlalu baik. Kakak tahu, perpisahan orang tua itu nggak mudah. Sebaik apa pun mereka berusaha, tetap ada sesuatu yang kayaknya hilang dan nggak lengkap, dan nggak tergantikan. Kadang aku bingung gimana cara menempatkan diri karena kayaknya mereka takut kalau berbuat sesuatu akan menyakiti aku. Makanya mereka begitu."


Galang menatap ke dalam matanya yang bening.


"Tapi nggak ada yang sebaik orang tuaku. Mereka nggak pernah mengecewakan sama sekali. Biar udah pisah, tapi berusaha untuk tetap berhubungan baik demi aku."


"Ya, bukankah itu bagus? Mereka menurunkan ego karena cintanya kepadamu."


Amara menganggukkan kepala.


"Kakak, apa kita akan terus sama-sama?" Perempuan itu lalu bertanya.


"Memangnya apa yang kamu harapkan? Kita berhenti ditengah jalan lalu berpisah, begitu?"


"Aaa … jangan!" Amara segera memeluk pinggangnya.


"Terus kenapa bertanya begitu?"


"Cuma tanya." Perempuan itu kembali tertawa.


"Jangan melontarkan pertanyaan seperti itu. Seharusnya kita mengatakan hal lain. Kamu tahu, kalau ucapan itu adalah doa?"


"Hmm …."


"Jadi, ayo kita terus bersama-sama selamanya? Menjalani apa pun bentuk kehidupan kita sampai nanti. Bahagia, duka, senang, sedih, susah. Bagaimana pun keadaannya kita harus tetap bersama. Tidak boleh berpisah. Apalagi ada anak-anak." Galang menyentuh perut Amara di mana kini ada dua makhluk yang sedang tumbuh.


Kedua sudut bibir Amara tertarik membentuk sebuah senyuman.


"Jadilah satu-satunya untuk masing-masing, dan tidak boleh membiarkan hal lain merusak itu." Kemudian pria itu menunduk untuk meraih bibir Amara yang tersungging. 


Mengecupnya beberapa kali dan merasakan betapa hatinya begitu penuh olehnya. Kedua tangannya bertumpu pada pagar balkon dan dia merapatkan tubuhnya pada Amara sehingga tidak lagi tersisa jarak di antara mereka.


Sementara perempuan itu terkekeh dalam cumbuannya, dan dia membalasnya dengan pagutan yang tak kalah lembutnya.


Perasaannya pun sama. Dia tak tahu apa mungkin ada perasaan yang lebih baik dari pada ini? Yakni perasaan bahagia dan rasa syukur karena telah benar-benar saling memiliki.


Dan berharap bahwa semuanya tidak akan pernah berakhir. Seperti ucapan Galang, bahwa mereka harus selalu bersama apa pun yang terjadi. 



🌺


🌺


🌺


TAMAT.


Hari ini kita sudah sampai di akhir cerita. Semoga ini nggak mengecewakan. Author berharap semuanya bahagia walau bagaimana pun keadaannya. Seperti halnya Galang dan Ara yang juga berakhir bahagia.


Terima kasih karena kalian selalu memberikan dukungan penuh di semua karya. Kalian memang luar biasa. Tidak ada pembaca seperti kalian di platform mana pun, itu sebabnya Emak memilih untuk tetap di sini.


Jangan pernah berubah, oke? 😜😜


Nantikan juga novel selanjutnya yang masih up di NT/MT yang masih berkisah tentang anggota keluarga Nikolai. Semoga kalian nggak bosen ya?

__ADS_1


alopyu sekebon😘😘



__ADS_2