
🌺
🌺
"Urusanmu sudah selesai?" Dimitri menutup dokumen terakhir yang selesai dia kerjakan saat Galang datang untuk mengambilnya di sore hari menggantikan Clarra.
"Sudah Pak." Sang asisten menjawab.
"Di kantor polisi?"
"Sudah juga."
"Baiklah, senang mendengarnya." Pria setengah bule itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Lalu apa rencanamu setelah ini?"
"Rencana apa? Saya rasa tidak ada. Hanya melanjutkan apa yang ada sekarang ini."
"Hmm … lalu bagaimana soal Ara?" Dimitri mendongak kepadanya.
"Ara?"
"Ya, kamu mau melanjutkan hubungan dengannya?"
"Umm …"
Kenapa tiba-tiba orang-orang jadi ikut campur?
"Ahahaha, lupakan. Pertanyaanku konyol." ucap Dimitri kemudian.
"Aku hanya bertanya, bukankah hubunganmu dengan Clarra sudah berakhir, dan kamu kembali mendekati Ara? Aku rasa ini serius."
"Oh ya, memang serius Pak." Galang lantas menjawab.
"Jadi benar?"
"Ya, sepertinya bukan saatnya bagi saya untuk bermain-main."
"Itu bagus, awal yang bagus." Dimitri mengangguk-anggukkan kepala.
"Ya, saya rasa juga begitu."
"Sudah menghadap Om Arfan?" Dimitri kemudian bertanya.
"Apa?"
"Apa kamu sudah menghadap kepada Om Arfan terlebih dahulu?"
"Untuk apa?"
"Untuk apa katamu? Bukankah kamu setiap hari datang untuk menemui anak gadisnya?"
Galang tertegun.
"Astaga, jadi belum ada pembicaraan serius dengan Om Arfan ya?"
"Soal itu … saya rasa belum perlu Pak." Galang menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Belum perlu katamu? Tapi kamu menemui Ara setiap saat, malah lebih sering menemaninya di rumah sakit. Bagaimana kamu ini?"
"Um …."
"Bukankah serius itu artinya kamu bersungguh-sungguh dalam melakukan satu hal? Dalam hal ini soal hubungan dengan Ara. Kamu tidak bisa begitu saja sering menemui seorang gadis di mana orang tuanya mengetahui akan hal itu tapi kamu tidak peduli dengan keberadaan mereka."
"Ara itu punya keluarga, jadi aku rasa adalah hal yang penting jika kamu juga mendekati keluarganya, dalam hal ini tentu saja berarti orang tuanya."
"Dan ingat, ketika kamu dekat dengan Ara, maka secara otomatis kamu akan masuk dalam lingkaran keluarga Nikolai, dan kamu tidak akan bisa menghindari itu."
Galang berpikir.
"Dan yang akan kamu hadapi bukan cuma Om Arfan jika terjadi sesuatu, tapi setiap orang di dalam keluarga kami. Termasuk aku."
"Apa Bapak sedang mengancam saya?" Galang bereaksi.
"Tidak, kenapa ini kamu anggap sebagai pengancaman? Aku hanya sedang memperingatkan." Sang atasan bangkit seraya mengenakan kembali jasnya yang sempat dia lepaskan.
"Kalau memang kamu benar-benar serius, maka lakukanlah sebagaimana pria sejati melakukannya." Dimitri beranjak dari tempatnya.
"Kalian sudah saling mengenal sebelumnya kan? Jadi tunggu apa lagi?"
Galang tampak mengerutkan dahi.
"Hanya tinggal selangkah lagi. Dan jangan sampai gagal lagi kali ini." ucap pria itu yang kemudian segera pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Galang tertegun di pelataran halaman belakang rumah sakit. Masih memperhatikan pria setengah baya yang duduk di kursi taman di ujung sana. Yang tengah menikmati waktu kesendiriannya dengan sebatang rokok yang mengepulkan asap di sekitarnya. Dia pasti sedang melepas penat setelah seharian menunggui putrinya.
Di tangannya dia memegang dua cup kopi panas yang sengaja dibeli di kafetaria sekitar pada perjalanan menuju tempat itu sepulangnya dari kantor.
Dengan segenap keberanian yang sudah dia kumpulkan di sepanjang perjalanan, akhirnya Galang memutuskan untuk mendatanginya. Meski sedikit ragu, namun dia memilih untuk mengambil tindakan sekarang.Â
Entah dengan hasilnya nanti, tapi setidaknya dia telah mencoba melakukan sesuatu yang benar. Seperti yang telah dikatakan oleh atasannya tadi. Dan pria itu memang ada benarnya.
"Ehm … selamat sore Pak?" Galang menyapa setelah jaraknya cukup dengan Arfan.
__ADS_1
Pria yang dimaksud memalingkan pandangan kepadanya.
"Oh, kamu sudah datang?"
"Ya pak, hari ini tidak terlalu sibuk." Galang berbasa-basi.
"Kopi Pak? Kebetulan tadi saya lewat gerai kopi, jadi …." Dia menyodorkan cup di tangan kanannya kepada Arfan seraya menempati ruang kosong di samping pria itu.
"Sudah habis satu cup." Arfan menunjukkan cup kosong miliknya yang dia dapatkan di kantin rumah sakit.
"Oh, …."
"Tapi satu lagi juga sepertinya bagus." Lalu dia menerima cup tersebut dari tangan Galang.
Satu batang rokok lagi dia nyalakan dan menyesapnya seperti biasa. Kemudian membuka penutup cup dan menyesap isinya.
"Hmm … cukup enak." gumamnya, lalu dia meletakan cup tersebut di antara dirinya dan Galang.
"Kamu merokok?" Arfan menggeser satu bungkus rokok miliknya ke dekat Galang.
"Tidak Pak, terima kasih. Saya tidak merokok." jawab pria itu sambil menggelengkan kepala.
"Hmm … bagus." Arfan sedikit terkekeh. "Sekali mencobanya kamu tidak akan bisa berhenti. Bahkan setelah diingatkan berkali-kali."
Galang menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Ara sendirian Pak?" Lalu dia memukai percakapan.
"Tidak, ada Mommynya dan adik-adiknya. Makanya saya bisa turun."
"Oh …" Galang mengangguk pelan.
"Memangnya kamu belum ke atas ya?" Arfan mencoba menyambung percakapan itu, meski dia tak tahu apa yang akan mereka bicarakan selanjutnya.
Ini seperti tengah memulai percakapan dengan orang yang baru saja dikenal, dan dia tidak terbiasa melakukannya. Terutama karena ini bukanlah urusan pekerjaan.Â
"Belum Pak, saya langsung dari kantor." Galang menjawab. Dia pun sama canggungnya, karena yang dihadapinya kini adalah orang tua dari gadis yang dicintainya.
"Hmm …" Arfan menggumam.
"Pekerjaanmu lancar?" Lalu dia bertanya.
"Lancar Pak."
"Urusan dengan polisi?"
"Sudah selesai. Tinggal Ara yang belum."
"Ya, sepertinya kita harus meminta mereka yang datang kemari, karena sepertinya Ara belum bisa dibawa keluar dari rumah sakit. Keadaannya …."
"Saya akan mengurusnya kalau itu memang diperlukan." Galang dengan sigap.
"Ya Pak, nanti saya akan mengurusnya dengan pihak kepolisian." Galang dengan penuh kepercayaan dirinya.
"Hmm …."
"Dan soal Ara …."
"Apa?" Arfan segera menoleh, membuat pria muda disampingnya merasa cukup terkejut.
Apalagi menatap wajahnya yang selalu tampak tegas dengan pandangan menyelidik, membuat nyalinya seketika menciut begitu saja.
Galang bahkan sampai menelan ludahnya dengan susah payah untuk mengembalikan keberaniannya yang berangsur menghilang.
"Saya …."
Arfan menunggu.Â
Pria itu kemudian malah menenggak kopinya yang tak sepanas tadi untuk mentralisir rasa gugup yang berkecamuk. Tapi ini harus segera dilakulan bukan? Dan tidak boleh ditunda-tinda lagi.Â
Benar yang dikatakan Dimitri, bahwa ada yang harus dia lakukan mengenai hubungannya denga Amara.
"Saya … mau minta izin Pak." Galang agak tergagap. Tampak sekali jika dia sedang mati-matian menahan kegugupannya.
"Izin untuk apa?" Arfan mengerutkan dahi.
Pria itu tahu, waktunya akan tiba, tapi dia juga tidak menyangka akan secepat ini. Apalagi masih dalam situasi yang tidak terlalu kondusif seperti ini.
"Izin untuk … kembali dengan Ara." Galang lagi-lagi menelan ludahnya dengan keras. Agak takut memag, tapi masa bodoh! Yang penting dia sudah melakukannya.
Arfan tampak terdiam, namun dia belum melepaskan pandangan darinya. Tatapannya yang tajam terasa menusuk hingga ke hatinya yang paling dalam, dan rasanya itu tidak baik.
"Umm … kalau Bapak mengizinkan, saya mau kembali melanjutkan hubungan dengan Ara, dan mungkin kali ini akan lebih serius. Saya harap Bapak mengizinkan kami untuk kembali bersama." lanjut pria muda itu dengan tegas dan penuh kemantapan hati. Meski suaranya terdengar bergetar.
Arfan masih saja menatapnya.
"Kalau saya tidak mengizinkan?" Lalu dia menjawab.
"Maaf Pak?" Galang merasa dunianya hampir menggelap saat pria itu menjawab.
"Bagaimana kalau saya tidak mengizinkan? Apa kamu akan mengurungkan niat dan mundur?"
"Dengan alasan apa Bapak tidak mengizinkan?" Galang menegakkan tubuh.Â
Sudah terlanjur, dan dia tidak bisa mundur. Segalanya harus diselesaikan hari ini, dan jika seandainya tidak berhasil, setidaknya dia tahu sejauh mana kadar kepantasan dirinya menurut pria di depannya.
__ADS_1
Arfan juga merubah posisinya, kini menjadi lebih santai. Dia bahkan kembali menyesap kopi yang dibawakan oleh pria itu untuknya.
"Mungkin Ara tidak akan kembali seperti semula. Keadaannya tidak akan senormal sebelumnya. Atau, kalau pun dia bisa kembali seperti dulu maka kita akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memulihkannya. Dengan cara yang tidak mudah dan mungkin membuat frustasi."
"Saya akan mendampinginya Pak." Galang menyela.
"Tubuhnya tidak sesempurna gadis lain, dan wajahnya tidak normal rupa orang lain. Dia akan berubah, mungkin menjadi lebih buruk."
"Kita akan mengusakan yang terbaik bukan?"
"Ya, tapi bukan perkara mudah untuk memulihkannya. Karena bukan hanya fisiknya yang terluka, tapi juga batinnya. Setidaknya dia akan kehilangan kepercayaan dirinya."
"Saya tidak akan membiarkannya menghadapi ini sendirian Pak. Saya akan mendampinginya apa pun yang terjadi." Galang meyakinkan.
"Benarkah?"
"Ya, Bapak bisa mempercayai saya." Galang menjawab.
"Bagaimana saya bisa mempercayai kamu? Sedangkan kamu melanggar larangan saya untuk menemuinya disaat keadaan sedang genting seperti kemarin?" Arfan mengingatkan kejadian sebelum insiden.
"Sa-saya tahu soal itu, dan saya minta maaf. Itu kelalaian saya. Tapi itu terjadi karena …."
"Jangan bicarakan soal perasaan, karena saat ini bukan itu yang sedang kita bahas." sergah Arfan yang membuat Galang seketika menutup mulutnya.
"Kamu tidak tahu seberapa keras seorang ayah menjaga anak perempuannya, sehingga ketika sedikit saja dia terluka, maka sang ayah akan menjadi orang yang paling tersakiti melebihi siapa pun."
"Seandainya luka itu bisa ditukar, maka aku akan memilih menggantikan Ara untuk merasakan penderitaannya sekarang. Menggantikannya merasakan cederanya yang separah itu, dan mengembalikan senyumnya lagi. Maka aku tidak akan meminta banyak hal." sapaannya pun kini berubah.
Sedangkan Galang masih terdiam.
"Kamu tahu, dulu dia hanya sekecil ini waktu lahir." Arfan memperagakan dengan kedua telapak tangannya yang didekatkan.
"Dia tidak sempat merasakan kasih sayang Mamanya waktu bayi karena Mytha koma setelah dia melahirkan. Hingga selama tiga tahun lamanya, aku yang mengurusnya." Arfan kembali menoleh kepada Galang.
"Aku yang memandikannya, memakaikan pakaian kepadanya. Menguncir rambutnya saat dia beranjak besar, dan memastikan dia mendapatkan yang terbaik meski aku dan ibunya harus berpisah."
"Aku yang merawatnya sejak bayi, dan tidak ada siapa pun yang yang melebihi pengorbananku untuknya. Jadi, meskipun kamu memberikan seluruh dunia karena rasa cintamu padanya, itu tetap tidak akan menandingi kasih sayangku kepada anakku."
Galang merasa hatinya melemah seketika. Dia tak lagi memiliki alasan untuk memaksa ataupun berusaha. Karena penolakan itu sudah jelas adanya.
Tapi dia sudah mencoba bukan? Walau bagaimana pun hasilnya, setidaknya dia sudah tahu harus bagaimana.
"Baik Pak, saya mengerti sekarang." Akhirnya dia akan mengalah.
Lalu Galang bersiap untuk pergi membawa segala kegagalannya kali ini. Dia mencoba untuk berpasrah diri dan menerima kenyataan yang tak sejalan dengan keinginannya.
Meski rasa cintanya begitu besar, tapi ada benteng yang tidak dapat ditembus. Benteng bernama Arfan Sanjaya yang tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh usaha sekeras apa pun.Â
Dia kalah.
"Terima kasih Pak." ucapnya, kemudian bangkit.
"Maka dampingilah Ara sampai dia sembuh dan kembali seperti sebelumnya." ucap Arfan kemudian, yang sontak membuat Galang mengurungkan niatnya.
Pria itu menoleh dan berusaha keras meyakinkan pendengarannya.
"Jangan menyesali keputusanmu, karena sekali masuk ke dalam keluarga ini, maka kamu tidak akan bisa keluar dengan mudah. Tanggung jawabmu sangat besar setelah ini."
"Ma-maaf Pak?" Galang kembali duduk di tempatnya.
"Jika ucapanmu memang serius, lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Maka aku akan menyerahkan putriku kepadamu tanpa keraguan sedikitpun." Suara Arfan terdengar tercekat.
Ini adalah hal tersulit yang dia lakukan, tapi tetap dirinya tidak boleh egois. Meski merasa tak rela, tapi bukankah semuanya akan terjadi seperti ini jika waktunya sudah tiba? Dan tak akan ada yang mampu menghalanginya sama sekali.
Mungkin ini memang waktunya. Sekeras apa pun dia menghalangi dan membuat keduanya tetap berjauhan dengan mengizinkan Amara pergi ke Paris, nyatanya banyak hal yang membuat putrinya kembali dan bertemu lagi dengan Galang.
Dan pria di depannya tampak membeku. Dia tak tahu apa yang akan dikatakan selanjutnya. Otaknya terasa kosong, lidahnya kelu dan dia bahkan tidak tahu apakah ini merupakan sebuah kenyataan ataukah hanya mimpi semata?
Arfan menghembuskan napas lega, dia senang karena mampu melewati hal ini dengan baik. Setidaknya itu yang dia rasakan.
"Ayo pergilah sana, temui Ara. Katakan kalau kita sudah berbicara. Kamu tidak tahu akan sebahagia apa dia setelah ini." ucap Arfan lagi yang kemudian bangkit menegakkan tubuhnya.
"Te-terima kasih Pak." hanya kata itu yang mampu Galang ucapkan.
"Hmm … cepat sana! Atau saya berubah pikiran." Arfan berujar dan sapaannya pun kini kembali seperti semula.
"Ba-baik Pak. Saya … akan pergi ke sana." Galang pun bangkit.Â
Dia memutar tubuh lalu berlari, namun sesaat kemudian dia berbalik dan kembali. Dan dengan cepat menyalami dan mencium tangan Arfan dengan takdzim.
"Terima kasih Pak, terima kasih." katanya, lalu dia melanjutkan langkahnya menyongsong kebahagiaan.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Fiyuhhh ... rasanya ... legaaaa ....
gimana-gimana? abis ini selanjutnya apa lagi? 😂😂
like komen hadiah dulu lah, baru lanjuutt.
__ADS_1
jan lupa mampir ke Y o u T u b e untuk lanjutan Daer Husband yang nggemesin.
alopyu sekebon 😘😘