My Only One

My Only One
Urusan Hati


__ADS_3

🌺


🌺


"Selamat ya Galang, Ara. Maaf kami baru bisa datang." Clarra muncul bersama Dokter Syahril juga putrinya.


"Aaa … Kak Clarra!" Amara menyambut mereka bertiga. "Dari tadi aku tungguin."


"Iya, maaf. Ada sedikit masalah di rumah sakit." Sekretaris utama Nikolai grup itu sedikit berbisik.


"Rumah sakit? Ada apa? Kan udah weekend?"


"Ada operasi darurat. Tidak ada yang bisa dihubungi, dan kebetulan saya yang paling dekat." Dokter Syahril menjawab.


"Ohh … begitu ya?"


"Ya."


"Baiklah, silahkan Dokter." Mereka kemudian menyalami keduanya secara bergantian sebelum akhirnya ikut berbaur dengan yang lainnya.


"Aku nggak bisa menemukan Anya! Kalian lihat?" Rania tampak panik.


"Bukankah tadi dia memakan es krim dengan Nania?" Dimitri mengingatkan.


"Dia kembali setelah selesai, habis itu …."


"Sudah aku katakan jangan membiarkan dia sendirian. Begini kan?" Dimitri menelfon nomor Galang.


"Aduh! Aku lilupa kita kan sedang di resepsinya Galang!" Dia menepuk kepalanya sendiri.


"Mungkin Anya kembali kepada Nania." Daryl menatap ke arah pantai yang sepi.


Dari kejauhan dia melihat seorang gadis bersama anak kecil dengan warna pakaian yang sama. Mereka saling mengejar di pinggir pantai seperti dua anak seumuran yang sedang bermain.


"Apa mungkin itu mereka?" Rania pun menatap ke arah pandangan adik iparnya.


"Sepertinya iya." Daryl pun menjawab.


"Zen di mana?" Dimitri bertanya.


"Kalau Zen sama Papa."


"Huh, kenapa anak itu beda sendiri ya? Menyusahkan orang saja?" Daryl bergumam, namun dia melenggang menjauhi pesta.


"Kamu mau ke mana Der?" Dimitri bertanya kepada adiknya.


"Menjemput keponakanku lah, apa lagi?" Daryl pun menjawab seraya meneruskan langkahnya ke tempat yang dituju.


"Look! I found somenthing!" Anya menunjuk ke bawah kakinya yang diterpa ombak kecil bercampur pasir.


"Waahh … kelomang!" Nania memungut benda kecil tersebut dengan antusias.


"Emang di sini ada kelomang ya?" Anya mundur dua langkah ke belakang kemudian berjongkok.


"Ini ada?" Dan Nania menunjukkannya di depan anak kecil itu.


"Kerang sama ikan-ikan juga ada?"


"Ada lah."


"Ohh … Aku mau, aku mau!!"

__ADS_1


Namun keceriaan mereka terusik ketika Daryl mendekat, dan Nania pun bangkit menegakkan tubuhnya saat menyadari kehadiran pria itu.


"Orang-orang datang kesini mau menghadiri pesta, tapi kalian malah main-main?" Pria itu berhenti beberapa meter dari mereka.


"Aku nggak suka pesta, orang-orangnya nggak kenal. Terus tadi juga banyak yang nyubitin pipi aku. Huh, bikin kesel!" keluh Anya yang masih mencari-cari kelomang yang barusan dia temukan.


"Itu karena kamu lucu tahu?" Nania menjawab sambil tertawa.


"Tapi aku nggak suka dicubitin kayak gitu. Kan sakit."


"Makanya jadi anak itu jangan lucu-lucu amat. Jadinya gitu kan?" ucap Nania lagi sambil mengusap pipi gembil Anya yang kemerahan dengan punggung tangannya.


"Bukan salah aku. Kan aku nggak minta, kayaknya ini kerjaan Mommy sama Papi deh?" Anya dengan lugunya.


"Apa?"


"Anak ini mulai lagi!" Sementara Daryl menggumam.


"Apanya yang kerjaan Mommy sama Papi?"


"Ya bikin aku jadi lucu." jawab Anya yang asyik dengan temuan barunya.


"Bagaimana kamu bisa berpikir begitu?" Daryl bereaksi. Dia tak percaya anak sekecil itu bisa berpikir demikian.


"Mommy bilang kan kalau orang udah nikah bakal punya anak. Kayaknya itu maksudnya?"


"Kamu ini kan masih kecil. Kenapa memikirkan hal-hal seperti itu? Itukan urusan orang dewasa."


"Nggak tahu, ya ingat aja kalau ada yang ngomong."


"Berarti harus hati-hati nih kalau dekat Anya." Pria itu bergumam lagi.


"Hati-hati apanya?" Nania menoleh.


"Memangnya Bapak mau apa? Pakai bilang harus hati-hati segala?" Nania menatap curiga.


"Tidak ada, hanya bilang begitu saja. Kenapa?" Daryl pun menjawab.


"Huh, kata-kata Bapak mencurigakan!" Gadis itu bergumam.


"Hey anak SMP! Bicara apa kamu ini?"


"Terserah Bapak lah." Nania mendelik.


"Kak Nania sama Om Der kalau ketemu kok berantem terus? Kayak kucing sama anjing?" Anya menatap kedua orang dewasa itu bergantian.


"Siapa juga yang berantem? Kakak cuma tanya. Pak Daryl, eh Om kamunya yang suka ngegas kalau jawab. Heran?"


"Apanya yang ngegass? Kamu kira aku ini apa?"


"Tuh kan? Denger nggak barusan?" Nania mengarahkan telunjuknya pada pria itu.


"Hey!!" Lalu Daryl segera menangkap telunjuk kecil milik gadis berusia 19 tahun itu.


"Apaan ih lepas, Pak!" Nania segera menarik tangannya, namun tak Daryl lepaskan.


"Ah, aku nggak ngerti sama orang dewasa. Sebentar-sebentar temenen, sebentar-sebentar musuhan. Kadang akur, kadang berenatem. Kelakuannya bikin bingung!" Anya menggelengkan kepala.


"Anya!!! Come!" Dimitri terdengar berteriak dari area pesta.


"Wait, Papi!!"

__ADS_1


Anak itu memungut sepatunya di sisi pasir yang kering kemudian berlari ke arah panggilan sang ayah yang bermaksud menyusul mereka.


"Papi aku mau pulang, boleh?" Anya berbicara setelah Dimitri berhasil menghampirinya.


"Sebentar lagi, Sayang."


"No! Mau sekarang. Udah sore kan?"


"Pestanya belum selesai."


"But i want to go home right now!" rengek Anya ketika jaraknya dengan sang ayah sudah dekat.


"Iya, kita bilang Mommy ya?" Pria itu pun membujuk.


"Ajak Mommy pulang ya? Mumpung nggak balapan."


"Iya."


"You promise?"


"Promise."


"Alright!!" Anya menarik sang ayah untuk kembali ke area pesta.


"Anya, tunggu! Kakak juga mau …." Nania hampir saja mengikuti mereka.


"Eh, … mau kemana kamu? Urusan kita di sini belum selesai!" Daryl mengeratkan genggaman pada jari gadis itu.


"Urusan apa? Memangnya kita ada urusan ya?" Nania berusaha menarik tangannya.


"Ada." Daryl mendekat.


"Apa?"


"Urusan hati." Daryl menarik gadis itu sehingga jarak di antara mereka hampir menghilang.


"Hah? Apa yang …."


Lalu dengan cepat pria itu menundukkan tubuh tingginya sehingga mampu mencapai Nania yang hanya sebatas dada. Dan dalam hitungan detik dia meraih bibir gadis itu yang tentu saja dalam keadaan terkejut.


Nania bahkan dengan refleks mundur namun Daryl segera menahan pinggangnya. Dan terjadilah segalanya secara tiba-tiba.


Ketika bibir mereka bertabrakan dan Daryl segera memagutnya dengan perlahan. Menyesap dan merasakan kelembutannya meski juga terasa bergetar.


Kedua bola mata Nania terbelalak dan dia berusaha mendorong tubuh pria itu, namun gagal. Kekuatan mereka tak sebanding. 


Tubuhnya yang kecil seolah terbenam dalam dekapan Daryl dan seketika dia tak dapat berkutik.


Lalu pria itu melepaskannya setelah beberapa saat dan menatap wajahnya yang memerah. Cahaya jingga pada matahari sore menambah semburat rona pada kedua pipi gadis dalam dekapannya. Dan Daryl menikmati pemandangan indah itu.


Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk lengkung senyuman. Namun seketika berubah dan keningnya berkerut sehingga alisnya tampan saling bertautan.


Ketika Nania menyingkirkan tangannya, kemudian mundur perlahan. Dengan napas menderu-deru gadis itu menatapnya dalam diam. Lalu sejurus kemudian dia berlari menjauh.


"Nania?" Daryl berteriak memanggil, namun gadis itu tak menghiraukannya. Dia terus menjauh dari pantai dan area pesta.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2