My Only One

My Only One
Moo Ekstrapaet #4


__ADS_3

🌺


🌺


"Kakak, berisik banget! Di luar ada apaan sih?" Amara mengelus perutnya yang sudah terlihat menonjol di usia kandungannya yang ke lima.


Dia duduk di ruang tengah dengan televisi menyala menayangkan acara talkshow di petang hari.


Sementara Galang menuruti perkataan istrinya meski dia juga baru saja tiba.


Seorang pemuda dengan motor berwarna hitam berhenti di depan rumahnya dan menggeber mesin beroda dua tersebut hingga terasa memekakan telinga.


Pria itu melipat kedua tangannya di dada dan menunggu pemuda tersebut hingga dia berhenti dan melepaskan helmnya.


"Keren kan?" Yang ternyata adalah Arkhan tengah memamerkan kendaraan miliknya.


"Ck! Berisik!" Galang bergumam.


"Kakak nggak tahu, akutuh lagi seneng banget karena dapat ini." Sang adik ipar turun dari motornya.


"Norak!" ucap Galang lagi yang kembali ke dalam rumah diikuti oleh Arkhan.


"Tadi banget motornya dateng, habis itu Papa nyuruh aku bikin SIM, Kak." Pemuda itu berjalan mensejajarinya.


"Ya bikin aja, gampang kok." jawab Galang yang menjatuhkan tubuhnya di sofa dekat Amara.


"Siapa yang geber-geber motor di depan rumah?" Perempuan itu bertanya.


"Nih, adik kamu lagi pamer."


"Duh? Udah di izinin bawa motor? Emang kakinya udah sembuh?" Amara menoleh ke arah jendela.


"Udah tinggal dikit." Arkhan menjawab.


"Seharusnya jangan dulu. Baru juga pulih kan, kalau apa-apa gimana?" Galang melepaskan jasnya kemudian dia sampirkan di pegangan sofa.


"Sambil latihan, Kak."


"Latihan …."


"Ayo dong Kak, bikin SIM. Biar aku bisa bawa motor ke sekolah, kan asik." Pemuda itu pun duduk di samping kakak iparnya.


"Baru juga datang, Ar. Nanti-nanti aja kenapa?" Amara menjawab.


"Yah, aku maunya sekarang!" Dia mengguncangkan lengan Galang seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu kepada ayahnya.


"Kenapa nggak minta sama Papa? Kan biar sekalian." Jawab pria itu.


"Papa juga bilangnya gitu tadi, kan aku jadi nggak sabar!"


"Sabar sedikit lah, lagipula ini sudah sore." Galang merebahkan punggungnya pada sandaran sofa sambil menatap jam di pergelangan tangannya.


"Yah, … nggak bisa gitu sekarang Kak?" Arkhan sedikit merengek.


"Nggak bisa. Tempatnya kan sudah tutup dari jam empat, belum lagi ini hari Jum'at. Paling bisa senin nanti."


"Lah, kok gitu? Minta tolong siapa kek bikinin. Kakak kan pasti ada koneksi. Yang bikinnya cepat gitu biar aku nggak usah datang untuk tes."


"Sembarangan! Memangnya kamu siapa?"


"Ya kan biasanya juga gitu? Temen-teme aku juga bikin SIM tahu-tahu beres aja tinggal pake?"


Galang bangkit lalu menegakkan tubuhnya.


"Kamu pikir kamu ini anak siapa? Arfan Sanjaya tidak akan membiarkan anak-anaknya berbuat seperti itu, karena semua harus melewati prosedur yang benar!" terangnya.


"Masa nggak bisa? Kan yang lain juga …."


"Mereka bukan anaknya Arfan Sanjaya."


"Dih, orang lain bebas-bebas aja apalagi bapaknya terkenal atau punya pengaruh. Tapi aku kok susah amat mau ngapa-ngapain? Mana pake prosedur-proseduran segala lagi, ah!! Padahal opa aku Nikolai." Arkhan dengan nada kesal.


"Ya siapa suruh jadi anaknya Arfan? Kenapa kamu nggak milih jadi anaknya pegusaha lain aja kalau mau begitu?"


"Yeee … Kakak ngadi-ngadi nih? Mana bisa milih-milih? Itu kan udah takdir?" Arkan menjawab.


"Tahu begitu seharusnya kamu sadar. Bahwa nggak semua hal bisa kamu dapatkan dengan mudah. Meski sebenarnya kamu lebih beruntung dari siapa pun. Hidup enak, sekolah lancar, fasilitas ada. Apa lagi? Hanya tinggal menurut saja."


Arkhan tampak mendengus.


"Tau nih anak satu, jawab aja kalau dibilangin." Amara menyahut.


"Kakak nggak ngerti sih!"


"Nggak ngerti masalah apa? Kamu udah dikasih izin bawa motor begitu umur 17, Kakak setelah lulus kuliah baru dapat izin bawa mobil. Enakan mana? Nurut aja sih kenapa? Lagian sabar sebentar nggak ada salahnya. Motornya juga baru sampai kan?" ujar Amara.


Namun sang adik mengerucutkan mulutnya.


"Jangam sampai karena kelakuan kamu yang grasak-grusuk kayak gini malah bikin Papa narik lagi izinnya. Bahaya lho." Amara meperingatkan.


"Ya jangan sampai, dong!"


"Ya makanya. Jangan suka seenaknya biar Papa punya pengaruh juga. Mending kalau nggak ada kejadian. Tapi kalau ada apa-apa gimana? Nama Papa lho yang jeleknya."


Arkhan terdiam.

__ADS_1


"Sabar dong Ar. Jangan apa-apa mau langsung diturutin. Segitu Papa sudah menuruti kemauan kamu lho. Padahal sudah lama ditahan-tahan, kan? Apa salahnya kasih apresiasi dengan menurut, jadi lain kali kalau kamu minta apa-apa lagi gampang."


"Jadi nggak bisa sekarang nih?" Arkhan bertanya lagi.


"Ya nggak bisa. Nunggu hari senin, terus hadir waktu tes, setelah itu kamu akan dapat SIM nya. Itu juga belum bisa lagsung kamu pakai, tapi nunggu se nggaknya dua minggu atau sebulan sampai nomor polisi untuk motornya keluar."


"Hah, lambaaaaattt." Arkhan menghempaskan kepalanya ke belakang.


"Nikmati saja, se nggaknya motornya udah ada." ujar Galang.


"Hmm …."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Arkhan itu kan masih labil, kenapa sih Papa malah ngasih dia motor?" Amara sudah berada di tempat tidur sementara Galang baru saja selesai berpakaian setelah membersihkan diri.


"Umurnya kan sudah cukup kayak janjinya Papa." Pria itu mengusak rambut hitamnya yang basah lalu dudul di pinggiran tempat tidur.


"Umurnya udah cukup, tapi kelakuannya alay."


"Namanya juga abege." Galang tertawa pelan. "Dan nggak semua anak se nurut kamu kan? Mereka punya karakternya sendiri-sendiri yang beda antara satu sama lainnya. Jadi nggak bisa dipukul rata lah."


"Ann nurut banget sama Papa dan Mommy. Dia nggak se ngeyel Ar."


"Ya kan aku bilang juga beda."


"Apa karena dia anak laki-laki ya? Jadi lebih memberontak gitu?"


"Hmm … mungkin."


"Tapi emang di antara mereka berempat aku lihat Arkhan paling menonjol deh. Dia paling berani nentang Papa. Kalau Ann, biarpun jahil tapi dia nurut. Aska paling diem, kalau Asha paling manja." Amara tertawa.


"Semua anak nggak bisa disamakan." Galang bergeser ke sisinya.


"Kalau anak kita gimana ya nanti? Apa bakal kayak aku atau kayak Kakak?" Perempuan itu mengusap-usap perutnya.


"Kan anak kita, ya perpaduan kita berdua lah. Bisa nggemesin kayak kamu, atau baik kayak aku." Galang mencubit ujung hidung istrinya.


"Dih? Narsis."


"Lah, iya kan? Masa mirip Om Angga? Nggak mungkin. Ahahaha." Lalu pria itu tertawa.


"Huss! Jangan ngomong sembarangan, Kak. Nggak baik tahu?"


"Keyataannya begitu. Kan yang ditanam saham aku semua, masa iya ada sifat orang lain di dalam? Ya nggak mungkin lah."


Amara juga tertawa.


"Aa mau langsung bobok, Neng. Capek. Kamu mau kangen-kangenan dulu nggak?" Galang membenahi bantal di belakangnya.


"Nggak usah kalau Kakak capek, nanti nggak benar kangen-kangenannya."


"Nggak ah, aku juga sama capeknya. Seharian ini kedai rame banget deh, anak-anak juga sampai keteteran." Namun Amara menolak.


"Hmm …." Pria itu merengut.


"Oke, Papa? Besok lagi ya?" Amara menyentuh wajah suaminya sambil tertawa.


"Ya sudah." Galang pun mengalah, dan mereka berdua sama-sama mencoba untuk tidur.


***


"Kakak!!" Amara beberapa kali mengguncangkan tubuh suaminya yang pada tengah malam itu sedang nyenyak-nyenyaknya tidur.


"Kakak, bangun!!" katanya lagi.


"Kakak!!"


"Hmm …." Galang bergumam.


"Kakak bangun dulu!!" Dia mengguncangkannya lagi.


"Apa sih, Neng?" Galang segera bangkit sambil mengusak kepala hingga rambutnya berantakan.


"Bangun!"


"Iya, ini udah. Kamu mau apa? Jangan aneh-aneh, akunya capek!" keluh Galang dengan nada kesal.


"Aku mau es boba." jawab Amara.


"Apa?" Galang mengusap wajahnya.


"Aku gerah, aku mau es boba!"


Pria itu melirik jam diatas nakas.


"Tengah malam, Neng?"


"Iya tahu, tapi aku gerah."


"Aku nyalakan ACnya?"


"Bukan itu."


"Terus masa minum es boba malam-malam begini?"

__ADS_1


"Aku maunya itu!"


"Mana ada yang buka?"


"Pokoknya mau itu. Beliin!" Amara merengek.


"Tapi Neng …."


"Aku mau itu, Kak. Kayaknya enak banget ke sini, duh." Amara menyentuh tenggorokkanya sendiri.


"Tapi ini sudah malam, Neng. Dan aku capek. Besok saja ya aku belikan kalau istirahat?" Galang kembali merebahkan diri dan dia hampir memejamkan mata.


"Nggak!! Maunya sekarang!" Namun Amara malah menariknya.


"Cik atuh Neng! Aku teh capek seharian kerja, kamunya jangan mau yang macem-macem!" Galang bereaksi.


"Kakak nggak mau beliin?" Perempuan itu menjawabnya.


"Besok lah!"


Amara bergeser ke sisi ranjang kemudian turun.


"Kamu mau ke mana?" Yang membuat Galang akhirnya terbangun lagi.


"Ngambil hape aku." Dia berjalan tertatih ke meja di dekat jendela di mana ponselnya berada.


"Pesan online juga nggak ada, Neng. Kan sudah malam?"


"Bukan mau pesan online." Amara sudah mendapatkan ponselnya lalu dia melakukan panggilan.


"Terus?" 


"Mau minta Papa yang beliin." katanya, yang membuat kedua bola mata Galang membulat seketika.


"Apa?"


"Hallo? Papa?" 


Pria itu segera turun dari tempat tidur dan melesat ke arah istrinya.


"Iya, nggak bisa tidur soalnya aku mau …." Namun kalimatnya terpotong ketika Galang merebut benda pipih tersebut.


"Hallo? Ara? Ada apa? Kenapa? Apa kamu sakit? Kamu perlu Papa ke sana? Ara?" Suara Arfan terdengar memanggil.


"Ara? Kamu tidak apa-apa kan? Nak?"


"Umm … nggak Pah." Galang terpaksa menjawabnya.


"Ada apa Galang?"


Mati aku.


"Umm … sepertinya kami akan ke sana malam ini?" Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.


"Apa? Kenapa?"


"Umm … hanya … ingin menginap saja. Ya. Ingin menginap."


"Terjadi sesuatu?"


"Aaa … tidak ada apa-apa. Hanya ingin menginap." jawab Galang lagi.


"Duh?"


"Saya memberi tahu agar tidak terkejut nanti waktu kami datang." Galang menjelaskan.


"Ohh … begitu? Baik, kemarilah!" ucap Arfan dengan suara gembira.


"Ee … iya, Pah." Lalu percakapan berakhir.


"Hufftthhh! Hampir saja!" Galang mengusap dadanya.


"Kakak serius mau nginep di rumah Papa? Ini kan tengah malam?" Amara pun bereaksi.


"Umm … ayo kita cari es boba, tapi kalau nggak dapat jangan ngambek ya? Terus kita menginap di rumah Papa?" Galang berujar.


"Aaaa … Kakak baik banget deh." Perempuan itu menghambur memeluk suaminya.


"Aku serius. Ini kan sudah tengah malam. Kalau misal tukang es bobanya nggak ada kamu jangan marah. Nanti kalau pas kita sampai ke rumah Papa kamunya manyun dikiranya ada apa-apa lagi?" Galang berbicara dengannya pelan-pelan untuk mengantisipasi apa yang mungkin terjadi.


"Hu'um." Amara mengangguk.


"Janji ya, jangan marah kalau nggak ada?"


"Janji."


"Baiklah, kalau begitu …." Galang segera berganti pakaian, begitu juga Amara.


Mengenakan pakaian tebal dan jaketnya yang akan melindungi mereka dari udara dingin malam itu, kemudian segera pergi untuk melaksanakan keinginan perempuan itu.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


Bersambung ....


Ahaha, awas loh kena amukan kang jahe😅😅


__ADS_2