
🌺
🌺
Rumah kediaman Arif masih ramai padahal malam sudah larut begitu Galang tiba. Dia segera turun dari mobilnya dan segera disambut dua anak kecil yang berlari menghampirinya.
"Om Galang!!!" Anya bahkan segera memeluk kaki pria itu sehingga membuatnya mengalami kesulitan untuk berjalan.
"Kamu telat Dudul! Acara doanya udah selesai." Rania keluar dari rumah.
"Kalian kok ada di sini?" ucapnya saat perempuan itu menghampirinya.
"Kalian dari kapan sampai?" Lalu dia bertanya kepada sahabatnya.
"Tadi jam tujuh." Rania pun menjawab.
"Kabur ya? Suami kamu nggak tahu? Hehe … tadi dia curhat tahu, eh beneran kamu tinggalin." ucap Galang.
"Siapa bilang? Aku datang waktu mereka hampir berangkat tahu, dan kamu benar." Tiba-tiba saja Dimitri juga muncul.
"Eh? Saya pikir Bapak tidak ikut?" Galang kemudian beralih kepada atasannya.
"Iya, padahal udah aku bilang kalau mau di Jakarta ya tinggal aja, kenapa juga harus repot-repot ikut kalau nggak mau." Rania sedikit mendelik kepada suaminya.
"Bukanya tidak mau Zai, sudah aku katakan agar kita tidak repot. Pergi jauh dengan dua anak yang sangat aktif, belum lagi harus membawa banyak barang." sergah Dimitri.
"Ck! Setiap bulan aku sering ke sini, nggak repot kok, biasa aja. Dibandingin pergi balapan ini masih mending. Kamunya aja yang nggak mau."Â
"Lagian aku juga udah bilang kan, kalau aku juga bisa pergi sendiri. Kamu tinggal nunggu di Jakarta."
Galang merapatkan mulutnya untuk menahan tawa. Menyimak perdebatan suami istri di depannya ini memang selalu membuatnya merasa gemas sendiri.
Nanti aku akan sering berdebat seperti itu tidak ya? Pria itu tertawa pelan, membayangkan dirinya dengan Amara jika nanti sudah sah dan tinggal bersama.
"Jangan tertawa, bodoh!" Dimitri menggeram.
"Maaf Pak, saya buka sedang menertawakan Bapak, hanya saja …."
"Om Galang Om Galang?" Anya menarik ujung kemejanya untuk meminta perhatian.
"Ya Anya?"
Pasti dia akan bertanya soal hal aneh. Galang bergumam.
"Om Galang beneran mau nikah?" Anak itu bertanya.
Nah kan?
"Iya, kok Anya tahu?" Galang menjawab pertanyaannya.
"Kan Mommy yang bilang tadi pagi waktu ngajak aku sama Zen pergi ke sini."
"Oh ya?"
"Hu'um."
Lalu Galang menarik dua anak itu ke dalam rumah ketika melihat ibunya melambaikan tangan. Diikuti Rania dan Dimitri di belakang.
"Nikah itu apa sih? Kok semua orang kayaknya seneng tahu Om Galang mau nikah? Apalagi nenek May."
Galang tertawa.
"Nah, Om Galang juga pasti seneng, soalnya ketawa."Â
"Ya, memang."
"Terus nikah itu apa?"
Galang menyalami orang-orang yang menyambut kedatangannya. Sebagian besar dari mereka adalah para tetangga terdekat dan sanak saudara dari pihak kedua orang tuanya.
"Ini bukan syukuran Bu, tapi hajatan." Pria itu berbisik kepada ibunya saat melihat banyaknya orang di sekitar rumah mereka.
"Ya, anggap saja begitu."
__ADS_1
"Ah, ibu! Pakai bikin acara begini segala? Repot deh."
"Ibu yang repot, bukan kamu."
"Hmm … lagian kenapa nggak pakai jasa catering saja sih? Kan ibu-ibu nggak harus repot begitu?" ucap Galang lagi yang melihat para ibu baru selesai menyiapkan makanan di dapur.
"Diamlah, kamu nggak tahu kesenangannya mengumpulkan tetangga seperti ini." sergah Mayang yang kemudian kembali pada tamu yang berkumpul.
"Om Galang Om Galang?" Anya kembali meminta perhatiannya.
"Ya Anya?" Pria itu duduk di sofa terdekat.
"Om Galang belum jawab pertanyaan aku."
"Pertanyaan apa?"
"Soal nikah."
"Ya apa?"
"Nikah itu apa?"
"Astaga!" Galang mengusap wajahnya sendiri.
"Mommy sama Papi kamu tuh, menikah." Lalu dia melirik kepada sahabatnya yang sibuk berbincang dengan beberapa orang yang dikenal. Sementara Dimitri dengan putranya asik di sofa lainnya memainkan ponsel.
"Selalu barengan gitu?" Anya bertanya lagi.
"Ya begitulah." Galang menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Pacaran setiap hari dong?"Â
Hadeh. Galang semakin frustasi.
"Kayak Mommy sama Papi barengan terus kalau nggak balapan. Boboknya aja barengan." ucap Anya yang membuat Galang terbatuk karena terkejut.
"Aku aja sama Papi nggak boleh bobok sama Mommy kalau pulang balapan. Padahal kan aku kangen mau sama Mommy." adunya kepada Galang.
"Apaan?" Lalu pria yang ia sebut namanya pun muncul.
"Ini, cucu Om bikin aku pusing." Galang mendongak, lalu dia mengeluh.
"Dih, emangnya kenapa?"
"Banyak tanya."
"Tinggal jawab, gitu aja repot." Angga berujar.
"Udah, tapi makin banyak aja pertanyaannya."
"Siapa?"
"Ini." Galang mengarahkan pandangannya kepada Anya.
"Oh maaf, itu cucunya Pak Satria. Cucu saya mah tuh, udah ganteng kalem lagi, ah nggak ada duanya." Angga melirik kepada Zenya yang asyik menatap ponsel ayahnya.
"Jejen?" Kemudian pria itu memanggil sang cucu.
"Zen!!!" Rania, Dimitri, juga Galang bersamaan.
"Ah, lupa terus." Angga menepuk kepalanya sendiri.
"Ayo pulang, udah malam." katanya kepada Zenya.
Lalu bocah tampan dengan rambut coklat bergelombang itu turun dari sofa, kemudian menghampiri dang kakek.
"Masih seru Anom." Zenya meraih tangan sang kakek yang terulur.
"Seru apanya? Kamu diem terus sama papi."
"Tapi di sini masih banyak orang."
"Biarin, itu kan orang tua. Anak-anak harus pulang kalau jam segini." jawab Angga lagi.
__ADS_1
"Emangnya kenapa?"
"Nggak kenpa-kenapa."
"Anom mau nakutin aku pakai hantu ya? Nggak akan mempan. Kata Mommy hantu itu nggak ada. Yang ada cuma setan, tapi bisa dilawan jadi nggak usah takut." Zenya mengarahkan ujung telunjuknya kepada sang kakek.
"Nggak ih, ngapain nakutin kamu pakai hantu? Udah nggak jaman. Di jaman Anom aja hantu nggak ada."
"Masa?"
"Iya."
"Terus kenapa Anom ngajak-ngajak aku pulang?" Zenya bertanya.
"Udah malam tahu, Anom ngantuk." Angga setengah berbisik.
"Ya pulang aja, bobok sendiri. Anom kan udah gede?"
"Anom mau ada temen."
"Udah gede gini harus ada temen? Emangnya Enin ke mana?"
"Enin lagi sibuk masak."
"Anya nggak diajak pulang juga Om? Dia kan anak-anak." ucap Galang ketika Angga hampir saja pergi membawa Zenya.
"Kayaknya dia belum mau pulang?" Pria itu menoleh.
"Siapa bilang? Kan belum Om ajak?"
Angga menatap cucu perempuannya itu yang duduk disamping Galang.
"Om jangan pilih kasih ih, Anya kan masih cucu Om juga sama kayak Zenya?"
"Saya nggak pilih kasih, kamu fitnah!"
"Itu buktinya, Om ajak Zenya pulang tapi dicuekin Anya?"
"Orang dianya masih betah di sini?"
"Tanya Om!"
"Ck!" Angga berdecak.
"Anya, mau pulang sekarang sama Anom?" Namun akhirnya dia bertanya juga kepada cucu perempuannya itu.
"No, aku masih mau di sini sama Om Galang." Anya menjawab.
"Nah kan?" Angga beralih kepada si calon pengantin.
"Ya udah kalau mau di sini." Lalu pria itu segera pergi membawa Zenya bersamanya.
"Dih? Zenya tadi dirayu-rayu biar pulang? Giliran Anya cuma dijawab begitu? Memang aneh anom kamu itu Anya." Galang bergumam.
"Emang Anom aneh. Lebih aneh dari Opa." Anya menyahut.
"Aneh gimana Opa?"
"Manja sama Oma, padahal udah tua." jawabnya yang membuat Galang tertawa dengan keras.
"Hadeh … nggak kebayang nanti kamu gedenya gimana? Kecil aja sudah begini, apa lagi nanti." Dia mengusak puncak kepala anak itu dengan gemas.
Malam itu sepertinya menjadi malam yang cukup panjang bagi orang-orang. Tetangga paling dekat juga kerabat berkumpul untuk menemani sang tuan rumah yang besok mengadakan acara sederhana mereka sebagai tanda syukur atas hadirnya jodoh bagi satu-satunya putra.Â
Entah hingga jam berapa mereka melakukan persiapan itu, yang pasti rumah sepi pada hampir dini hari.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1