My Only One

My Only One
Malam Minggunya Arkhan


__ADS_3

🌺


🌺


"Lah, kok ke sini? Katanya mau tidur?" Arkhan memalingkan perhatian dari game yang sedang dimainkannya di televisi saat Galang keluar dari kamar dengan membawa sebuah bantal dan selimut.


"Ini juga mau tidur." Waktu sudah tengah malam dan kakak iparnya malah menjatuhhkan tubuh di sofa tak jauh darinya.


"Kenapa malah tidur di dini?" Arkhan menghentikan permainannya.


"Kakakmu sedang menyebalkan. Dia tidak mau didekati dan malah marah-marah." adunya kepada Arkhan, dan dia mengingat saat Amara mengusirnya dari kamar mereka.


"Lho? Kok begitu?" Arkhan tertawa.


"Ssstttt! Pelankan suaramu, nanti Kak Ara marah."


"Masa?"


"Katanya berisik."


"Dih? Segini doang?"


"Tidak tahulah." Galang membenamkan wajahnya di atas bantal.


"Kamu tidak mau tidur? Ini sudah tengah malam." ucapnya, meski pada kenyataannya rasa kantuknya juga menguap entah ke mana.


"Kalau malam minggu aku bebas." Arkhan kembali pada game yang sengaja dibawanya dari rumah.


"Maksudnya?"


"Mau tidur kek, mau begadang kek. Mau main game semalaman kek, bebas." jawabnya, yang memfokuskan mata, sementara kedua tangannya memegang stik dengan beberapa tombol itu.


"Segitu kamu masih merasa Papa terlalu keras? Apa bedanya?"


"Hah? Apaan?"


"Senin sampai Jum'at kamu harus disiplin, tapi Sabtu Minggu bisa melakukan apa yang kamu suka. Nikmat mana lagi yang akan kamu dustakan?"


"Kayak ustad?" Arkhan menggumam tanpa memalingkan perhatian pada layar televisi.


"Setidaknya Papa memberi imbalan atas kedisplinamu tahu?"


"Yeah, tapi nggak ngasih motor."


"Astaga!"


"Heheh." Anak itu tertawa.


"Hey, apa kamu tidak mau tidur?" Galang memperingatkannya.


"Sebentar lagi Kak."


"Sudah malam tahu?"


"Tanggung, mau naik level."


"Besok kesiangan, kita kan mau ke SUNMORI?"


"SUNMORI?" 


"Ya. Sunday Morning Ride."


"Jam berapa?"


"Ya pagi-pagi lah."


Arkhan masih fokus pada game nya.


"Nanti kita bawa motor masing-masing ke sana." lanjut Galang dan hal itu membuat sang adik ipar memalingkan perhatian dari game nya.


"Apa?"


"Nanti kamu bawa motor sendiri."


"Beneran?"


"Ya. Tapi ada syaratnya."


Arkhan menekan tombol pause sehingga gamenya berhenti.


"Syaratnya apa?"


"Jangan terus-terusan membahas soal motor kepada Papa, dan berhentilah berdemo."


"Aku nggak lagi demo." sanggah Arkhan.


"Iya, tapi kamu mendiamkan Papa?"


"Umm …."


"Kamu bikin orang tua sedih tahu? Papa mungkin tidak menunjukannya, tapi Kakak yakin hatinya sedih. Apalagi Mommy."


Arkhan terdiam.


"Kalau kamu janji akan sekolah yang baik dan jadi anak penurut, motor yang hijau akan Kakak berikan untukmu."


"Apa?" Anak itu bereaksi.


"Tapi motornya tetap disimpan di sini, dan hanya dipakai hari Sabtu dan Minggu atau dihari libur. Tidak boleh dipakai ke sekolah atau dijalan raya sendirian."


"Banyak amat syaratnya?"


"Ya kalau tidak mau tidak apa-apa, tunggu 17 tahun nanti Papa yang belikan. Dan kamu akan bebas melelakukan apa saja."


"Eh? Iya iya kak, aku mau!" Arkhan mendekati pria itu.


"Serius? Berat lho syaratnya."


"Ah, … gampang. Senin sampai Jum'at kan cuma sebentar. Dari Jum'at malam aku nginep di sini kan? Bisa lah bisa." Dia tertawa dan perasaannya tentu saja bahagia.


"Beneran?"


"Bener Kak."


"Janji?"


"Janji deh."


"Oke." Lalu Galang melemparkan kunci motor miliknya yang dia miliki sejak remaja.


"Sekarang Si Jagur milikmu."


"Si Jagur?"


"Itu namanya waktu Kakak dapat dari pemilik pertama."


"Kayak nama meriam atau apa ya?" Arkhan hampir saja tertawa.

__ADS_1


"Haha, anggap saja begitu."


"Kakak yakin mau ngasih si Jagur ke aku?" Anak itu meyakinkan.


"Asal kamu mau merawat dia dengan baik. Tua-tua begitu dia masih berguna, dan … bersejarah juga."


"Pasti ada hubungannya sama Kak Ara?"


Galang terkekeh.


"Kan? Ciuman pertama disana ya?" Arkhan tertawa lagi.


"Dih? Sudah tahu cium-ciuman?"


"Alah, di kelas sering."


"Apa?" Galang bangkit.


"Eee … maksud aku sering denger temen-temen gitu, hehe."


"Ketahuan begitu dikurung Papa kamu!"


"Nggak Kak ih, suwer aku belum pernah."


"Belum pernah ketahuan."


"Serius Kak."


Galang mencebik.


"Emangnya Kakak ciuman di umur berapa? Pasti pas udah tua ya? Sama Kak Ara?" Anak itu berucap.


"Eee …." Galang mengingat.


"Kok temen-temen aku gampang banget ya? Mana bukan sama pacarnya lagi? Terus bukan cuma sama satu orang. Ganti-ganti gitu. Aku kalau deket sama cewek aja rasanya gugup, apalagi kalau sama yang disuka. Kayak ada deg-degannya gitu." Arkhan tergelak.


"Uuhh … anak baik. Tetaplah seperti itu." Galang mengacak rambut gondrong adik iparnya.


"Memangnya kamu sudah punya pacar ya? Makanya mau punya motor biar bisa pacaran?" Galang kemudian merubah posisinya menjadi duduk.


"Belum."


"Masa?"


"Suwer Kak."


"Aaah bohong?" Galang menusuk-nusuk pundak Arkhan dengan ujung jarinya.


"Nggak ih! Sumpah!"


"Terus, kok kamu memaksa mau punya motor? Bukannya karena mau bebas bergaul?"


"Bukan begitu. Aku malu disebut anak TK terus karena setiap hari di antar jemput."


"Aduh?"


"Kan malu, masa anak cowok segede ini sekolah masih diantar?"


"Kamu bilang tidak ada yang berani mengejek anaknya Arfan Sanjaya? Tapi buktinya?"


"Kalau aku bilang ada, nanti Papa datang ke sekolah terus bilang sama guru. Nambah deh aku diledekin?"


"Nggak akan."


"Pasti Kak. Waktu SMP juga gitu. Cuma ada yang sebut aku anak mami dan aku nggak sengaja bilang besoknya papa ke sekolah. Kan malu."


"Astaga!" 


"Papa cuma mengantisipasi hal terburuk agar tidak terjadi."


"Tapi itu berlebihan nggak sih? Aku kok ngerasanya Papa lebay yah?"


"Bukan lebay."


"Terus apa dong namanya kalau gitu?"


"Papa cuma terbiasa mengambil tindakan cepat untuk masalah yang dianggapnya penting. Dan untuk Papa, kamu sangat penting. Semua anak-anaknya sangat penting."


Arkhan terdiam menatap wajah Kakak iparnya tersebut.


"Kamu tahu, orang tua itu punya banyak cara untuk menyayangi anaknya. Dan bagi Papa, tindakan itu lebih penting dari pada kata-kata."


"Gimana Kakak tahu? Kakak kan nggak punya banyak saudara kayak aku?"


"Justru karena Kakak cuma sendiri makanya tahu. Apa pun akan orang tua lakukan agar anak-anaknya bahagia, apalagi seorang ayah. Tanggung jawab untuk menjaga dan membahagiakan anak-anaknya menjadi prioritas utama."


Arkhan terdiam lagi.


"Jangan jadi anak yang tidak bersyukur. Kamu tahu, tidak semua anak terlahir dari orang tua seperti Papa dan Mommy, dan jangan sampai kamu merasa menyesal karena sudah menentang orang tua. Percayalah, jadi anak baik itu tidak akan sia-sia."


"Emangnya Kakak udah jadi anak baik ya, makanya bisa ngomong kayak gitu sama aku?" Sang adik ipar sedikit mengejek.


"Tidak tahu, tapi usaha untuk seperti itu sih ada."


"Masa? Gimana?"


"Salah satunya tidak berbuat diluar batas."


"Misalnya?"


"Jangan melakukan hal buruk."


"Apaan?"


"Bukankah kamu sudah besar? Kamu pasti tahu hal buruk itu apa? Salah satunya menentang orang tua."


"Ah, itu lagi."


"Atau berbuat nakal."


"Nakalnya kayak apa?"


"Mungkin salah satunya yang teman-temanmu lakukan."


"Salah ya?"


"Menurutmu?"


"Mungkin salah."


Galang tertawa.


"Cepat matikan tivinya, terus tidur. Besok kita ke SUNMORI."


Arkhan menurut. Dia mematikan televisi kemudian merebahkan tubuhnya yang sudah terlihat tinggi itu diatas kasur udara yang sudah digelar di lantai, sementara Galang berbaring di sofa.


Mereka baru saja akan memejamkan mata ketika ponsel milik pria itu berbunyi beberapa kali. Suara notifikasi pesan masuk terdengar berurutan.

__ADS_1


Arkhan bangkit lalu memeriksa benda pipih milik kakak iparnya.


"Haih!! Bayi manjanya Kakak ngechat!" Dia bergumam.


"Hum? Apa?"


"Bayi gede Kakak!" Lalu dia menyerahkan ponsel tersebut kepada Galang.


Ada lebih dari sepuluh pesan yang hanya sebuah huruf P saja masuk berturut-turut dari nomor Amara. 


"Padahal cuma di kamar?" 


"Kenapa lagi kakakmu ini?" Galang pun bergumam sambil membalas pesannya.


"Nggak tahu. Mungkin mau bobok bareng?"


Galang sempat mencebik saat adik iparnya itu tertawa. Namun setelahnya dia memutuskan untuk pergi ke kamar ketika Amara tidak membalas pesannya.


"Apa Neng?" Dia mendorong pintu kemudian masuk, dan mendapati Amara yang duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Kakak ke mana?" Perempuan itu balik bertanya.


"Nggak ke mana-mana."


"Dari tadi nggak ada pas aku bangun? Aku haus pengen minum."


Galang melirik gelas penuh di nakas di sebelah Amara.


"Kamu kan ngusir aku tadi, makanya aku pindah ke luar."


"Hah? Masa?"


"Lupa?" Pria itu meraih gelas kemudian menyodorkannya kepada sang istri.


"Udah?" tanya nya saat Amara sudah meminum airnya.


"Udah." 


"Mau tidur lagi?"


Amara menganggukkan kepala. Kemudian dia menurunkan tubuhnya dan kembali merebahkan kepalanya pada bantal. Sedangkan Galang membenahi selimutnya yang sedikit berantakan.


"Kakak mau ke mana lagi?" tanya Amara saat pria itu bangkit dan melenggang ke arah pintu.


"Tidur." Galang yang hampir membuka pintu.


"Di mana?"


"Diluar dengan Arkhan."


"Kenapa tidurnya di luar?"


"Kan kamu tadi suruh aku keluar?"


"Terus sekarang Kakak mau keluar lagi gitu?"


"Ya … kalau kamu suruh aku."


"Tapi aku nggak bisa tidur."


"Terus?"


"Aku mau tidur sama Kakak!"


Galang menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Tadi kamu usir aku lho? Kamu bilang aku nyebelin dan nggak punya perasaan, juga nggak peka?"


"Tapi sekarang aku mau sama Kakak."


"Yakin?"


Amara mengangguk lagi.


"Haih!" Pria itu kembali ke dekatnya lalu naik ke tempat tidur.


Amara segera menempel begitu Galang berada di sisinya. Dia membenamkan kepalanya pada dada bidang pria itu, lalu meletakkan tangan dan kakinya yang masih cedera pada tubuh suaminya.


"Kalau kamu begini nanti kesakitan pas aku bergerak tahu?" protes Galang yang merasa terkurung karena pelukan Amara.


"Ya jangan bergerak."


"Mana bisa? Kalau tidur kan nggak sadar?"


"Ya jadi Kakak harus tetep sadar."


"Hah?"


"Jangan tidur."


"Apa?"


"Kalau tidur bikin Kakak nggak sadar ya jangan tidur."


"Bercanda ya? Aku ngantuk tahu?"


"Ya udah, tidur." Tubuh Amara terus bergerak mencari posisi paling nyaman, terutama untuk kedua anggota tubuhnya yang cedera.


"Neng, jangan gerak-gerak terus! Katanya mau tidur?" protes pria itu lagi.


"Ini juga mau tidur, tapi nggak enak!"


"Apanya yang nggak enak?"


"Posisinya."


"Nanti tangan dan kakimu sakit lho?"


"Alah, setiap malam Kakak kerjain aku biasa aja nggak ada pengaruhnya?" Amara mendongak.


"Apa?"


Amara tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang berjejer rapi.


"Umm …."


"Kerjain?" Perempuan itu kembali tersenyum sambil menggerak-gerakkan alisnya ke atas dan ke bawah.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Maaf gaess beberapa hari ini upnya selalu telat dan cuma sekali sehari. Soalnya ada kerjaan di dunia nyata yang nunggu untuk di selesaikan.

__ADS_1


Semoga kalian nggak bosen ya?


alopyu sekebon😘😘


__ADS_2