
🌺
🌺
Suasana terasa cukup menegangkan bagi dua orang yang tengah menjadi sorotan pada siang itu, terutama Galang. Yang segera membawa kedua orang tuanya ke rumah sakit setelah di malam sebelumnya dia menelfon mereka dan mengabarkan tentang pembicaraannya dengan Arfan dan Amara.
"Kami hanya sedikit terkejut Pak. Setelah insiden pemukulan itu, setiap kali Galang menelfon rasanya selalu was-was. Takut terjadi apa-apa lagi kepada anak kami." Arif memulai percakapan dengan sedikit serius.
"Ya, memang kejadian itu cukup membuat semua orang panik. Apa lagi setelahnya Ara juga kecelakaan." Arfan menjawab.
"Ya, benar."
"Jadi, maksud saya meminta Bapak dan Ibu datang adalah untuk membicarakan masalah anak-anak." ucap Arfan kemudian, langsung pada intinya.
"Iya Pak, itu juga yang menjadi tujuan kami."
Arfan terdiam sebentar, dan dia melirik kepada Galang sekilas.
"Kami memang sudah mengetahui sebelumnya mengenai hubungan Ara dan Galang. Bahkan sebelum itu memang sudah ada pembicaraan sebelumnya, tapi kami mengira tidak akan secepat ini." Arif berbicara lagi.
"Benar, saya juga." Arfan mengamini.
"Jadi bagaimana baiknya menurut Pak Arfan? Kalau kami sebagai orang tua hanya akan mengikuti saja kemauan anak-anak. Jika itu memang yang terbaik, maka saya rasa harus segera dilaksanakan."
Galang merasakan hawa panas sekaligus dingin menyerangnya secara bersamaan. Dan dia juga mulai berkeringat. Hal ini rasanya bahkan lebih menegangkan dari pada saat Arfan mendidiknya di awal karir sebagai asisten bagi Dimitri.
"Sebenarnya kami hanya ingin memastikan jika hubungan ini diketahui oleh keluarga kedua belah pihak, agar semuanya jelas dan tidak ada kesalahpahaman. Karena Galang mengatakan jika dia benar-benar serius dengan anak saya." Arfan menjawab, dan sesekali dia melirik lagi kepada Galang.
"Soal itu Bapak tidak usah khawatir, kami sudah mengetahui semuanya."
"Itu cukup melegakan Pak." Arfan sedikit terkekeh.
"Jadi, setelah ini langkah apa yang sebaiknya kita ambil? Karena mereka memang sudah sedekat ini, meski sempat putus dan berpisah cukup jauh, tapi sepertinya tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menghalanginya." Arif menjawab lagi.
"Apakah anda setuju dengan hubungan mereka?" Arfan mulai bertanya.
"Soal itu kami hanya mengikuti kemauan Galang, jika dia memang mau bersama Ara, maka itulah yang akan kami ikuti."
Arfan mengangguk-anggukkan kepala.
"Tapi Ara sedang sakit." Mytha tiba-tiba saja menyahut.
Perhatian semua orang segera beralih kepadanya.
"Dia mungkin akan sedikit menyusahkan, apa lagi kalau akan melakukan sesuatu." lanjut Mytha, menatap wajah tiga orang di depannya.
"Dan kalau seandainya kamu benar-benar menikah dengannya, dia akan sangat merepotkanmu dengan segala kebutuhannya. Kamu harus selalu membantunya dalam segala urusan, bahkan ke yang paling sepele sekalipun." Lalu dia menatap Galang cukup lama.
"Mytha?" Arfan mencoba menghentikan mantan istrinya itu, sementara Dygta dibelakang menggenggam tangan anak sambungnya erat-erat.
"Hidupmu akan terhambat, karena kamu harus mengurus segala hal untuknya. Sendiri." Dia mengangkat tangan untuk memberi isyarat.
__ADS_1
"Dan Anda berdua akan mempunyai menantu yang tidak bisa apa-apa, setidaknya di tahun-tahun awal pernikahan mungkin dia juga akan menyulitkan. Anak Anda harus melakukan segala hal untuknya. Tidak bisa mengurus suaminya, tidak mampu menjalankan kewajibannya sebagai istri, dan tidak bisa melakukan apa yang menantu pada umumnya lakukan untuk mertua. Jadi dia akan benar-benar sangat menyulitkan kalian bertiga." Mytha dengan suara bergetar.Â
Dia ingin melihat reaksi tiga orang itu dengan mengatakan segala kelemahan putrinya. Sementara Arif dan Mayang saling pandang.
"Jadi, apa yang mungkin kalian harapkan dari seorang menantu, mungkin tidak akan ada pada anak kami." lanjut Mytha, dan dia menyeka sudut matanya yang mulai basah.
"Bu Mytha, pernikahan itu bukan soal dia yang bisa melakukan sesuatu atau tidak. Bukan pula soal dia yang bisa menyenangkan orang lain atau tidak. Tapi menurut kami, pernikahan itu soal bagaimana dua orang yang saling mencintai ini bisa saling menerima keadaan masing-masing dengan segala kesadaran dan kerendahan hati. Jadi tidak ada urusannya dengan kemampuan atau kebisaan mereka akan sesuatu." Mayang buka suara, dia mengerti kegundahan perempuan yang kini mereka ketahui sebagai ibu kandung Amara itu. Memgingat keadaan putrinya saat ini.
"Kami tidak menuntut kepada siapa pun yang kelak akan menjadi pendamping putra kami untuk menjadi sempurna seperti orang lain. Tidak bisa seperti itu, karena setiap pasangan itu ada untuk saling melengkapi dan saling menyempurnakan apa yang menjadi kekurangan mereka sebagai pribadi saat masih sendiri. Dan apakah Anda berdua tahu, jika putra kami pun sama tak sempurnanya?" Mayang menoleh kepada putranya, lalu dia mengulurkan tangan untuk merangkul pundaknya.
"Dia hanya seorang pemuda dari kota kecil yang mengadu nasib di Jakarta. Sekedar untuk memperbaiki hidup kami agar menjadi lebih layak. Kemudian dipertemukan dengan orang-orang seperti Anda dan keluarga yang membuatnya mendapatkan banyak pelajaran."
"Dia masih sangat muda, jauh dari kata mapan, dan terkadang masih bisa dipengaruhi oleh hal-hal yang tidak penting. Dan dia bahkan masih sering melakukan kesalahan yang sebenarnya tidak perlu." Perempuan itu sedikit terkekeh mengingat kelakuan anaknya beberapa waktu ke belakang.
"Dan dia terkadang bertingkah kekanakan, tidak berpikir dewasa dan bersikap sembarangan. Tapi dari semua itu kami bisa menjamin kalau dia adalah pria baik-baik. Yang kami besarkan dan kami didik dengan sepenuh hati, dengan harapan bahwa kelak akan menjadi orang yang berguna di manapun dia tinggal. Jika ada kekurangan padanya, maka dengan sadar kami nyatakan bahwa itu merupakan kekurangan kami sebagai orang tua. Tapi Galang kami, sangat bersungguh-sungguh dengan niatnya kepada Ara. Seperti yang dikatakannya semalam. Dia memohon kepada orang tua ini untuk meyakinkan Anda, orang tua dari Ara agar memberikan restu kepadanya untuk meminang putri Anda. Jadi untuk selanjutnya, yang kami harapkan adalah restu yang tulus untuk anak kami, sebab kami telah memberikan restu untuknya jauh sebelum ini, apa pun dan bagaimana pun keadaan Ara. Baik sehat, atau pun sakit. Baik dalam keadaan baik-baik saja atau pun dalam keterpurukan." Mayang mengakhiri pernyataannya yang panjang lebar namun tegas dan melegakkan semua orang.Â
Terutama Mytha yang segera mengucap syukur dan hampir saja menangis jika saja Wira tak menguatkan di sampingnya.
"Jadi bagaimana Pak? Apa Anda menerima pinangan anak kami?" Arif melanjutkan apa yang menjadi niat mereka mendatangi tempat tersebut.
Arfan menarik dan menghembuskan napasnya pelan-pelan. Kemudian dia menatap semua orang yang ada di ruangan itu satu persatu.
Dygta yang mendampingi putrinya di tempat tidur, Galang dan keluarganya. Wira, dan terakhir Mytha. Dan dia menatap perempuan itu cukup lama untuk meminta isyarat. Yang kemudian Mytha jawab dengan anggukkan.
"Baiklah, kalau begitu …" Arfan mempersiapkan diri, begitu juga orang di depannya.
"Kami menerima pinangan Galang atas Amara, untuk mengikatnya dalam hubungan yang lebih serius nanti." lanjut pria itu, dan semua orang segera mengucap syukur setelahnya.
Amara bahkan sampai menangis di pelukan Dygta karena merasa begitu terharu.
"Soal itu kami …." Arfan hampir saja menjawab ketika Mytha juga menyahut.
"Tidak usah ada pertunangan." ucap perempuan itu.
"Ya Bu?"Â
"Kalau Galang memang bersungguh-sungguh, kenapa tidak kita nikahkan saja mereka sekalian?" lanjut Mytha yang membuat semua orang tercengang.
"Saya rasa itu yang lebih baik, agar kami juga bisa dengan leluasa membiarkannya mendampingi Ara menjalani pemulihan." katanya lagi, yang sukses membuat Galang kehabisan kata-kata.
"Umm … bagaimana Pak Arif?" Arfan memecah kebekuan yang hampir tercipta.
"Soal itu …."
"Baik, kami menyetujuinya." Mayang pun menjawab.
"Bu?" Galang bereaksi.
"Niat baik itu tidak boleh ditunda-tunda. Kalau menjalankannya membuat keadaan menjadi lebih baik, kenapa harus kita rencanakan untuk nanti kan?"
"Ya, benar sekali." Mytha mengamini.
__ADS_1
"Dengar Galang? Kalian akan menikah setelah ini." ucap Mayang kepada putranya yang duduk membeku di sampingnya.
"Dengar itu?" Dia menyikut lengan Galang cukup keras.
"De-dengar Bu." Pria itu tergagap.
"Nah, jadi setelah ini rupanya kita harus menyiapkan banyak hal bukan?" Lalu perempuan itu beralih kepada Arfan dan Mytha.
"Betul sekali Bu Mayang."
"Lalu kapan pernikahannya akan dilangsungkan?" Mayang bertanya lagi.
"Kami harap bisa secepatnya, kalau bisa sebelum Ara menjalani operasinya." Mytha pun menjawab.
"Mytha …." Arfan kembali bereaksi.
Lalu Mayang dan Arif kembali saling pandang dan memberi isyarat.
"Kapan operasinya Ara?" Kini Arif yang bertanya.
"Kira-kira dua minggu lagi." Dan Arfan pun menjawab. "Tapi bisa di undur jika misalnya tidak sanggup. Kita butuh waktu, dan harus ada persiapan bukan? Karena semuanya tidak bisa dilakukan secepat itu."
"Baik, dua minggu kami rasa cukup untuk persiapan. Jadi … mari kita bersiap-siap?" Mayang dengan penuh semangat.
"Bu?" Galang meraih tangan sang ibu.
"Anda bersedia?" Arfan dengan sedikit tidak percaya.
"Tentu saja bersedia. Jadi tunggu apa lagi? Sebelum operasi mereka sudah harus menikah bukan?" Perempuan itu menjawab.
"Ibu yakin?" Galang berbisik kepada ibunya.
"Karena kamu sudah yakin, maka ibu akan lebih yakin."
"Tapi Bu?"
"Diamlah, biar kami yang mengaturnya untukmu. Bukankah ini yang kamu inginkan?"
"Umm …."
"Baik Pak Arfan, kalau kita sudah sepakat kami akan segera pulang untuk melakukan persiapan di Bandung." dengan percaya dirinya perempuan itu berujar.
"Ba-baik Bu Mayang." Sementara Arfan hanya menganggukkan kepala, masih merasa tidak percaya dengan hal ini.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1
nah lu Dudul!!😂😂😂 mau apa sekarang?
kuy ke KUA