My Only One

My Only One
Hati Yang Lega


__ADS_3

🌺


🌺


Galang sudah menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Mengenakan pakaian barunya yang dia beli tadi di perjalanan keluar dari area Bromo.


Hotel cukup sepi pada petang itu, dan keadaannya memang selalu demikian. Lokasinya yang terletak di sekitar perbukitan memang menjadi ciri khas tersendiri. Meski berada dekat dengan pemukiman tapi suasananya cukup menenangkan.


Dia keluar setelah memastikan penampilannya rapi, kemudian berjalan ke arah kamar Clarra yang letaknya hanya terhalang dua kamar darinya.


"Cla?" Pria itu mengetuk pintunya.


"Ayo kita ke bawah? Kamu lapar nggak? Soalnya aku lapar."


Tak ada jawaban.


"Clarra?" Dia kembali mengetuk, namun tetap tak ada sahutan.


"Kamu tidur ya?" Galang menempelkan telinga pada pintu, dan tanpa sengaja menekan pegangan sehingga membuatnya terbuka dengan sendirinya.


"Ck! nggak dikunci lagi, dasar ceroboh!" Pria itu bergumam.


Sempat bermaksud kembali menutupnya, namun Galang tertegun ketika mendengar suara isakan dari dalam sana.


Dia terdiam untuk meyakinkan pendengaran, dan suara isakan itu menjadi semakin lirih.


Galang memberanikan diri untuk mengintip lewat celah yang terbuka. Dan dia melihat perempuan itu duduk membelakanginya di lantai balkon yang letaknya berbanding lurus dengan pintu masuk. Tampak punggungnya yang bergetar seperti menahan tangis.


"Clarra?" Galang memutuskan untuk masuk.


"Ada apa?" Dia berjongkok di sampingnya.


Clarra belum menjawab, namun isakannya terdengar semakin lirih. Dengan suara tangis yang seolah dia tahan mati-matian.


"Clara! Apa yang ...." Galang menyentuh pundaknya, dan seketika tangis perempuan itu pun pecah.


Dia terlalu terkejut untuk menghindar, sehingga akhirnya membiarkannya saja seperti itu untuk beberapa saat. Dan akhirnya Galang pun duduk di lantai yang sama.


Pria itu tak lagi bertanya, namun segera menariknya ke pelukan.


Sebuah ponsel terlepas dari tangan Clarra lalu jatuh ke lantai dengan posisi layar ke atas. Sehingga Galang dapat melihatnya dengan jelas. Lalu dia memungutnya.


Beberapa pesan dari sebuah nomor tanpa nama dengan nada marah dan kesal, yang kemungkinan menjadi penyebab pecahnya tangisan Clarra.


Mama hanya ingin bertemu, tapi kamu selalu menghindar.


Aku ini mama mu!


Sudah seharusnya kamu mendengarkan aku!


Kedua tangan Clarra melingkar di pinggang Galang, dan dia balas memeluknya dengan erat. Seolah perempuan itu akan jatuh jika dia tak melakukannya. Dan tangisannya tampak belum akan mereda.


"Dia hanya melahirkanku." ucap Clarra dengan suara parau.


"Setelah itu pergi."


Setengah jam berlalu dan dia baru saja menghentikan tangisnya.


"Lalu menemuiku ketika aku sudah dewasa."


"Dia mengatakan jika tidak lari maka hidupnya terancam. Lalu bagaimana dengan aku?"


Galang mendengarkan.


"Kalau bukan karena dokter Fahmi dan Dokter Vita, mungkin aku hanya akan berakhir di panti asuhan."


"Dia hanya mengatakan jika hidupnya terancam, Galang. Tanpa mengira jika aku akan bertanya kepada orang yang lebih mengetahui."

__ADS_1


"Meski Om Satria dengan keras melarang, pada akhirnya orang tuaku mengatakannya juga setelah aku mengancam akan pergi."


Clarra akhirnya menceritakan saat pertama kali dia mengetahui jika dirinya bukanlah anak kandung dari pasangan suami istri yang selama ini mengasuhnya sejak bayi.


Setelah kedatangan seorang perempuan asing ke rumah mereka ketika dia pulang sekolah setelah kelulusannya.


Perempuan yang mengaku ibu yang telah melahirkannya, dan membayang-bayangi kehidupannya hingga kini. Mesti penolakan pernah dia layangkan, tapi Larra tak mau mendengar.


"Apakah sekarang dia membutuhkan aku? Lalu ke mana saja dia selama itu? Apakah dia tidak sadar telah menghancurkan aku?"


Galang bungkam. Dia memutuskan untuk mendengarkan saja.


"Sampai-sampai membuatku batal menikah karena dia selalu mengacaukannya." Clarra sesenggukkan.


"Apa?" Tubuh Galang tampak sedikit mengejang.


Clarra mengangkat wajahnya yang telah basah dan sembab karena tangisan. Dia kembali mengingat peristiwa menyakitkam itu, yang menambah kedukaannya menjadi semakin parah.


🍂 Flashback On 🍂


Ke empat orang itu terdiam dan saling berpandangan ketika seorang perempuan cantik yang baru saja tiba berbicara di depan mereka.


Larra yang merasa kesal karena selalu menerima penolakan dari putrinya saat dia meminta bertemu memutuskan untuk mendatangi rumah Dokter Vita. Yang secara kebetulan pada sore itu tengah menerima tamu agung, yakni Dokter Syahril bersama dengan ibu dan anak perempuannya.


Mereka tengah membicarakan soal rencana pernikahan antara dua insan yang telah lebih dari satu tahun merajut asa bersama.


Dengan lantang Larra mengatakan jika dia adalah ibu kandung Clarra di depan Dokter Syahril dan ibunya. Dan ingin terlibat juga dalam hal perencanaan ini.


Namun yang tidak Larra perkirakan adalah ketika keberadaan suaminya dipertanyakan. Mengenai asal usul pria yang telah menyebabkannya mengandung dan melahirkan Clarra.


"Ibu, saya ini anak adopsi, dan ini mama saya." Clarra menjelaskan dengan suara bergetar. Akhirnya dia harus membuka masalah ini juga, yang telah dipendamnya selama bertahun-tahun.


"Mas, kalau kita menikah nanti, mungkin bukan Papa yang akan menikahkan kita, juga bukan Papa kandungku. Tapi wali hakim." Dengan berlapang dada dia meneruskan.


Memang ini harus dijelaskan sedetil mungkin agar tak ada yang mengganjal nantinya.


"Karena aku tidak tahu, dan tidak punya hak untuk mengetahui masalah itu."


"Mas tahu, tidak mudah bagiku untuk menjelaskan ini, karena kemungkinannya adalah dua. Mas akan memandang rendah aku dan keluarga, atau Mas akan membatalkan semuanya. Jadi semuanya aku pasrahkan kepada Mas." Air matanya mulai mengalir.


Pria itu mengerti dengan kondisi yang dialami oleh Clarra, lalu dia menggeleng pelan.


"Tidak Cla, aku tidak akan ...." Namun dia menggantung ucapannya ketika sang ibu menyentuh lengannya.


"Clarra, kami minta waktu berpikir?" Ibu dari pria itu berujar.


"Bu?" Syahril bereaksi.


"Terus terang kami terkejut, tapi kami janji akan membicarakannya dengan baik, jadi kita cukupkan saja sampai di sini dulu?" lanjutnya dengan cara yang lemah lembut.


"Begitu?" Clarra mengusap pipinya yang basah.


"Ya, ini sangat mengejutkan. Tapi ibu janji nanti kita akan berbicara lagi ya? Secepatnya."


"Baik kalau ibu maunya begitu." Clarra menjawab.


Namun pada kenyataannya, perempuan paruh baya itu mengatakan hal paling menyakitkan yang pernah Clarra dengar selain kenyataan bahwa dirinya bukan anak kandung dari kedua orang tuanya.


Saat tanpa sengaja, Clarra mendengar perdebatan di antara anak dan ibu itu ketika dia berkunjung seperti biasa ke kediaman dokter Syahril di akhir minggu.


Dan hal yang menjadi penyebabnya menutup diri dari siapa pun bermula dari sini.


"Ibu tidak setuju, Clarra bukan hanya anak adopsi, tapi dia juga anak haram."


"Bu!"


"Asal usulnya tidak jelas, ayahnya siapa dan ada di mana. Masih hidup atau sudah tidak ada. Lalu bagaimana ibu menjelaskan kepada keluarga besar kita?"

__ADS_1


"Tidak perlu menjelaskan apa-apa, buka kewajiban kita untuk menjelaskan."


"Tetap saja, ibu tidak mau keturunan kita ternoda karena satu orang. Dia akan menggantikan Nisa mengasuh Syahnaz dan melahirkan keturunanmu nantinya. Lantas ...."


"Berhenti bu!"


"Pokoknya ibu tidak setuju. Kamu mau memilih Ibu yang sudah melahirkanmu, atau dia?"


"Tidak bisa seperti itu Bu!" Dokter Syahril meremat rambut di kepalanya denga frustasi.


"Keputusan ibu sudah bulat, kita batalkan saja."


🍂 Flashback Off 🍂


"Dan aku yakin semua orang akan berpikiran sama. Lalu bagaimana dengan aku? Dia telah membuat hidupku menjadi seperti ini?"


Galang menghembuskan napas pelan, sementara perempuan itu masih bersandar di dadanya.


"Kamu tahu, hari ini adalah pertama kalinya aku melepaskan segala yang aku pendam sendirian. Dan rasanya lega. Meski pada akhirnya ibuku tetap merusaknya seperti biasa."


"Kamu sudah merasa lega?" Galang bertanya.


"Sedikit." Dan Clarra menjawab.


"Mau merasa lebih lega lagi?" ucap pria itu.


"Bagaimana caranya?" Clarra mendongak.


Mereka saling pandang untuk waktu yang cukup lama.


"Ceritakan semuanya, dan menangislah."


Clarra sedikit terkekeh karenanya.


"Ayo, menangislah kalau masih mau menangis. Dadaku masih muat untuk menampung air matamu." Pria itu berujar.


Namun Clarra bangkit dan menepuk pundaknya. Lalu dia menyeka matanya yang basah.


"Aku serius."


"Kamu konyol sekali. Nanti Amara bisa marah kalau tahu kamu seperti ini." ucap Clarra seraya bergeser menjauh.


"Hah? Apa yang kamu katakan? Menyebut siapa tadi aku tidak mendengar?"


"Amara."


"Siapa itu Amara?"


"Pacarmu."


"Lupa ya kalau aku ini jomblo? Dia kan mrninggalkan aku?" Galang mengacungkan telunjuknya ke arah Clarra.


"Ish, bangga sekali jadi jomblo?" Perempuan itu memutar bola matanya.


"Bangga lah, aku ini jomblo imut tahu?"


"Apa?"


Lalu dalam sekejap mata mereka kembali berdebat seperti biasanya. Dan kesedihan yang semula mendominasi malah berubah jadi gelak tawa yang begitu hangat.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...

__ADS_1


Si otor maunya apa sih? Calarra lagi, Clarra mulu? Pemeran utamanya siapa sebenarnya?


😂😂😂


__ADS_2