
🌺
🌺
"Apa kabar?" sapa Dokter Syahril kepada Clarra, yang dengan terpaksa harus menempati meja yang sama karena pengunjung pada tengah hari itu sangat ramai, dan tidak ada meja yang tersisa.
"Baik Dokter." Clarra menjawab.Â
Lalu dia menoleh kepada anak kecil yang duduk di antara mereka. Yang menatapnya dengan senyum lebar dan mata berbinar.
"Hai Syahnaz? Bagaimana kabarmu?" Dan dengan terpaksa pula dia menyapa anak itu.
"Baik tante." Syahnaz menjawab dengan raut sumringah.
"Tante juga suka makan di sini ya? Kalau gitu sama dong, aku juga suka dan hampir setiap hari makan di sini. Iya ka Pah?" Lalu dia menoleh kepada sang ayah.
Dokter Syahril mengangguk pelan.
"Oke, kalau gitu kalian mau pesan apa?" Amara memecah kecanggungan di antara mereka.
"Aku …."
"Aku mau es boba." jawab Galang yang sejak tadi terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Oke, makanannya?"
"Rattatouile enak, aku udah coba." Syahnaz menyahut, dan dia menunjukkan piring miliknya yang hampir kosong.
"Kak Ara bilang aku sama papa udah jadi pelanggan tetap karena kita sering makan di sini. Jadi aku dapat bonus juga." Dia meraup puding dengan sendok kecil kemudian menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri.
"Mmm … enak!" katanya, dengan ekspresinya yang lucu.
"Beneran? Terima kasih." Amara pun tersenyum. Dia selalu merasa puas setiap kali melihat ekspresi seperti yang ditunjukkan oleh Syahnaz.
"Aku juga mau puding itu, dan rattatouile nya juga. Sepertinya enak." Galang berujar.
"Iya, memang enak." Dokter Syahril pun menyela.
Galang tampak melirik sekilas dengan perasaan tidak suka. Apa lagi jika mengingat pria yang dikenalnya sebagai dokter pribadi dan mantan kekasih dari Clarra ini menjabat tangan Amara. Dadanya lagi-lagi terasa bergemuruh.
Namun tak ada yang bisa dia lakukan mengenai hal itu karena memang tak ada hak. Memangnya siapa juga dirinya?
"Kamu mau apa Cla?" Lalu dia bertanya kepada Clarra.
"Aku … Spageti saja." Perempuan disampingnya menjawab.
"Minumnya?" Amara menambahi.
"Lemon tea dingin." jawab Clarra lagi dengan perasaan yang entah bagaimana dia harus menyebutnya.
Antara terkejut, menyesal juga kesal. Mengapa juga dirinya harus memaksa Galang membawanya ke kedai itu. Yang tanpa dia duga malah membawanya bertemu dengan orang yang selama ini dihindari?
"Ada tambahan?" Amara mencatat pesanan.
"Tidak ada."
"Aku mau Kak." Namun Syahnaz menginterupsi.
"Syahnaz, kita bahkan hampir selesai makan." Dokter Syahril mengingatkan.
"Tapi aku masih mau makan." jawab sang anak.
"Oke, Syahnaz mau apa?" Dan Amara pun beralih kepadanya.
"Kentang goreng aja, tapi dibungkus ya?" Anak itu menjawab, dan Amara mengangguk.
"Dokter mau makanan lagi?" Lalu dia menawarkan kepada Dokter Syahril.
Apa itu? Galang membatin sambil mendongak ke arah pria di seberangnya yang menjawab tawaran Amara dengan gelengan kepala sambil tersenyum.
"Tidak usah, saya sudah kenyang." katanya.
"Ya udah, kalau begitu, ditunggu sebentar ya?" Amara bergegas ke arah pantry.
Dia bahkan tidak menanyakan hal yang sama kepadaku? Batin Galang lagi dengan dahinya yang berkerut.
__ADS_1
"Tante mau coba pudingnya? Enak deh." Tiba-tiba saja Syahnaz menyodorkan potongan kecil dessert itu kepada Clarra.
"Tidak, terima kasih sayang." Namun perempuan itu menolak.
"Kenapa? Tante udah nggak suka puding? Padahal dulu sering bikinin aku puding kayak gini?"
Clarra terdiam menatap anak itu yang menyuapkan makanan manis kedalam mulut kecilnya.
"Papa, kayaknya untuk temen-temen di rumah sakit pakai puding juga bagus?" ucap Syahnaz kepada sang ayah.
"Benarkah?"
"Iya. Temen-temen pasti suka."
"Baik, nanti kita bilang kepada Kakak ya?"
"Hu'um." Ayah dan anak itu asyik bercakap-cakap, sementara pasangan di dekat mereka hanya mendengarkan dalam diam.
"Silahkan." Amara kembali dengan nampan berisi pesanan mereka.
"Oh iya." Dokter Syahril beraih kepada si pemilik kedai yang hari itu membuatnya sangat terkesan.
Bagaimana dia yang masih sangat muda memiliki semangat yang cukup besar untuk melakukan hal lebih yang tidak biasanya dimiliki oleh gadis-gadis seusianya. Dan bahkan dia turun tangan sendiri untuk mengurus kedainya.
"Bisakah kamu datang ke rumah sakit?" Pria itu segera bertanya.
"Saya Pak?" Amara menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, untuk berdiskusi soal makanan dengan bagian panitia acara?" jelas Syahril.
"Oh, … harus ya?"
"Tentu saja, karena harus menyesuaikan dengan aturan nutrisi yang diterapkan rumah sakit."
"Begitu."
"Terserah kamu mau kapan. Mungkin kalau waktu kamu senggang, kamu bisa ke rumah sakit."
"Baik kalau begitu."
"Baik." Amara menerima ponsel tersebut lalu mengetikkan nomor ponselnya sendiri.
"Ini nomor saya Pak." Dia mengembalikan benda itu kepada pemiliknya.
"Baik." Syahril mengetikkan sesuatu. "Nama kamu siapa tadi?"
"Amara Pak. Atau panggil saja Ara."
"Baik Ara, sudah saya kirim spam. Nanti kamu hubungi saya kalau mau ke rumah sakit."
"Iya Pak."
"Kalau begitu saya tunggu di rumah sakit ya?" Dokter Syahril kembali memasukkan ponsel ke saku kemejanya, lalu dia meletakkan selembar uang berwarna merah di trey bill.
"Syahnaz sudah selesai?" Dia menoleh kepada putrinya.
"Udah."
"Kalau begitu kita pulang? Papa harus kembali ke rumah sakit."
"Oke."
"Terima kasih Ara, makanannya enak." Lalu dia bangkit.
"Ya, sama-sama Pak."
"Ingat, saya tunggu di rumah sakit ya?"
Gadis itu menganggukkan kepala.
"Kami permisi." Kemudian Syahril berpamitan kepada Clarra dan Galang.
"Dah tante?" Syahnaz pun melakukan hal yang sama.
"Ya." Clarra menjawab dengan suara pelan.
__ADS_1
Kemudian kedua ayah dan anak itu pergi.
"Orang-orang yang menyenangkan ya?" Amara masih menatap mereka hingga keduanya menghilang dibalik pintu.
"Kakak kenal mereka?" Lalu dia bertanya kepada Clarra.
"Kenal." Dan Clarra pun menjawab.Â
"Oh, … keren nggak sih kenalannya Kakak itu dokter?"
"Hmm …"
"Oh, selamat makan ya? Aku ada tamu lagi." Amara meninggalkan mereka dan beralih kepada pengunjung yang baru saja tiba di kedainya.
***
"Jadi bagaimana menurut kamu?" ucapan Galang membuyarkan lamunan Clarra setelah mereka tiba di kantor.
"Hum? Apa?" Perempuan itu menoleh.
"Rencana bertemu dengan Mama mu?"
"Kapan?"
"Terserah kamu siapnya kapan. Lebih cepat lebih baik, sebelum dia datang lagi da melakukan sesuatu …."
"Melakukan apa?"
"Entahlah, bisa apa saja."
"Kamu tahu sesuatu soal mamaku?"
"Sedikit."
"Tahu juga rencana apa yang dia punya?"
Galang tak segera menjawab.
"Aku mengira-ngira, mungkin saja dia punya rencana terselubung. Gerak-geriknya mencurigakan, dan sikapnya memang sedikit aneh. Dia sangat ngotot untuk ukuran orang yang sudah ditolak beberapa kali."
"Dia itu mamamu. Jelas dia akan ngotot karena ingin bertemu anaknya."
"Ya, benar. Lalu dimana dia saat aku bayi?"
"Kalau hal itu saja yang kamu ingat, aku yakin kamu nggak akan pulih. Seberapa keras pun kita berusaha, maka tidak akan ada hasilnya. Karena kamu masih memiliki rasa benci."
Clarra menatap wajah pria itu.
"Kamu tidak tahu rasanya ...."
"Ingat hal baik apa yang selama ini kamu punya. Siapa yang mengurusmu dan mengantarkan hingga memiliki kehidupan sebaik ini. Yang aku yakini tidak semua orang seberuntung kamu."
Perempuan itu terdiam.
"Bukankah sebelum Bu Larra datang hidupmu baik-baik saja? Lalu hanya karena kamu tahu bahwa Pak Fahmi dan Bu Vita bukanlah orang tuamu, membuatmu menjadi seperti ini. Padahal cinta mereka lebih dari apa yang kamu bayangkan."
"Kamu tidak tahu sebesar apa dampak kehadirannya untukku."
"Membuatmu merasa rendah diri? Atau arena kedatangannya menggagalkan pernikahanmu? Lalu apa masalahnya? Mungkin karena kamu dan dokter Syahril sebenarnya tidak berjodoh makanya kalian berpisah."
Clarra terlihat mendengus.
"Beri tahu aku kalau kamu siap. Agar aku tahu apa yang harus dilakukan untuk menghadapi Bu Larra. Karena aku yakin dia tidak akan berhenti sampai di sini." Galang masuk ke dalam ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan yang terjeda.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
terus apa lagi setelah ini?ðŸ¤ðŸ¤
Biasa atuh gaess like komen sama hadiahnya biar aku semangat up lagi.
__ADS_1
Â