
🌺
🌺
"Tidak tidak tidak! Aku mau mencobanya sendiri. Biarkan aku mencobanya sendiri!" Clarra berusaha merebut motor trail yang mereka sewa.
Sudah lima putaran pria itu memboncengnya, tapi kini Clarra ingin mencoba mengendarainya sendiri. Mereka telah mencoba segala hal di tempat itu. Menunggangi kuda, mengendarai mobil jeep memgitari savana, melihat kawah yang asapnya mengepul, juga bertualang di negeri awan yang terkenal hingga ke manca negara. Dan rasanya mereka tidak pernah puas. Terutama Clarra, yang tidak bisa di hentikan seperti baru saja menemukan mainan baru.
Mereka hanya berhenti sebentar untuk makan, dan tak lama kemudian kembali lagi ke tempat berpasir itu.
"Kamu tidak bisa naik motor kan?" Galang bersikukuh menahannya.
"Makanya ajari aku, jadi aku bisa mengendarainya." Perempuan itu berujar.
"Tidak, ini bahaya. Nanti kamu kecelakaan. Bagaimana aku akan bicara dengan orang tuamu?"
"Ah, kamu berlebihan. Tidak ada yang bahaya di sini. Lihat? Semuanya pasir."
"Ada orang, Cla."
"Tapi mereka jauh di sana, sementara kita hanya berdua di sini."
"Tetap saja."
"Oh, ayolah. Dari tadi kamu membonceng aku terus? Dari semalam malah? Aku juga mau tahu bagaimana rasanyamengedarai benda ini. Kenapa kamu sampai suka sekali mengendarainya bahkan untuk pergi bekerja?"
"Yang aku pakai kan bukan yang seperti ini?" Galang meyela.
"Sama saja. Sama-sama beroda dua dan suaranya berisik."
Galang menarik satu sudut bibirnya ke atas.
"Nggak usah bereaksi begitu, kamu jadi jelek! cepat berikan motornya kepadaku!" Perempuan itu mendorongnya sehingga dia dapat merebut kendaraan roda dua itu.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan dengan benda ini?" Clarra sudah duduk di atas motor dengan kedua tangannya yang memegangi stang.
"Kamu yakin?"
"Yakin."
"Tapi pelan-pelan saja ya? Aku akan memegangmu dari belakang." ucsp Galang sambil mrmasangkan helm pada kepala Clarra.
"Ya." Dia mengangguk.
"Baiklah, begini." Pria itu menunjukkan apa yang harus Clarra lakukan dengan motor trail sewaan mereka.
Dia menyalakan mesinnya, menekan handle rem tangan, kemudian memutar bagian gas sehingga terdengar raungan yang cukup keras.
"Nanti pindahkan gigi." Dia menunjuk benda di bawah kaki Clarra. "Lalu injak ini." Kemudian menunjuk benda di sisi lainnya.
"Mengerti?"
"Mengerti." Clarra megangguk lagi.
"Baik, pelan-pelan saja oke?"
"Oke." Kemudian Clarra melakukan apa yang pria itu katakan.
Pada awalnya dia melakukannya dengan pelan, dan berhasil di percobaan pertama. Motor berjalan lurus dan tampak baik-baik saja.
"Benar kan aku bisa? Kamu percaya sekarang?" Clarra berteriak karena dia merasa senang.
Tidak ada apa pun yang tidak bisa di pelajarinya. Semuanya bisa dia lakukan hanya dengan sekali instruksi.
"Ya, benar. Pelan-pelan saja, oke?" Galang memegangi bagian belakang motornya agar benda itu tetap berjalan stabil.
"Tapi aku mau menambah kecepatan." Clarra berujar.
"Tidak boleh."
"Kenapa?"
"Belum waktunya."
"Tapi ini lambat. Aku ingin seperti mereka." Clarra melihat orang-orang yang sama menyewa motor seperti dirinya. Mereka berputar, berbelok, dan memacu kendaraan tersebut dengan lihai.
"Mereka sudah ahli, sedangkan kamu pemula."
"Ya, benar. Tapi aku bisa mempelajari apa pun."
"Aku percaya, tapi tidak untuk yang satu itu."
"Ayolah, sedikit saja." Clarra membujuk.
"Tidak."
"Lang?"
"Tidak boleh."
"Sedikit."
Galang menggelengkan kepala.
"Aku janji hanya sedikit."
"Benar?" Pria itu mulai menyerah.
"Hu'um."
"Baiklah, tapi benar-benar sedikit dan pelan-pelan ya?"
"Iya."
__ADS_1
"Baiklah. Injak ini, lalu tambah kecepatannya sedikit."
Clarra melakukan apa yang Galang katakan. Dia menjejakkan kaki, kemudian memutar gas di stang kanan. Maksudnya agar menambah kecepatannya sedikit saja, namun yang terjadi malah dia memutarnya terlalu kencang hingga motor yang di kendarainya melesat tak terkendali ke arah depan.
"Aaaa ... Galang!!" Perempuan itu berteriak.
"Injak remnya Cla, injak rem!" Galang mengejarnya sambil berteriak.
Clarra malah menambah kecepatannya karena panik.
"Galang!!!" Teriakannya semakin nyaring, dan peristiwa itu tentu saja membuat pengunjung lain ketakutan. Mereka berusaha menghindar dari kemungkinan terjadi tabrakan.
"Rem Cla, rem!" teriak Galang lagi dan dia masih berusaha megejar, meski dirinya benar-benar tertinggal jauh.
Clarra merasakan otaknya seperti berhenti berputar, tapi dia mendengar apa yang pria itu katakan. Seketika dia menginjak rem belakang dan menekan rem depan secara bersamaan sehingga motor yang dikendarainya tiba-tiba saja berhenti, lalu oleng ke kiri dan membuatnya terseret sejauh beberapa meter.
"Tidak, Clarra!" Galang mempercepat larinya, begitu juga beberapa orang crew motor yang berada di sana.
Dia dan pria-pria itu segera menyingkirkan motor yang menindih tubuh semampai Clarra yang diam tak bergerak.
"Clarra!" Galang meraup tubuh perempuan itu, lalu mengguncangnya denga keras. Dia lantas melepaskan helm yang melindungi kepalanya.
Namun pria itu tertegun ketika mendapati Clarra yang tertawa terbahak-bahak.
"Cla!" Galang mendorong perempuan itu sehingga dia kembali berbaring terlentang diatas pasir hitam itu, sementara dirinya menjatuhkan bokongnya ke belakang.
Rasa terkejut dia rasakan ketika melihat Clarra terjatuh dengan motornya, dan itu cukup menakutkan.
Perempuan itu masih tertawa hingga beberapa saat, namun kemudian terdiam dengan sendirinya.
"Aku tidak tahu kalau kegiatan seperti ini ternyata menyenangkan." katanya.
"Kamu membuatku ketakutan tahu?" tukas Galang.
"Ini bagus untuk kesehatan mental. Dan kenapa aku baru mengalaminya sekarang? Bersamamu pula? Padahal sejak kecil aku sering bolak-balik ke sekitar sini bersama orang tuaku tapi aku tidak pernah punya keinginan untuk mencoba apa pun."
Galang hanya menatapnya yang masih berbaring seperti itu, sementara orang-orang membubarkan diri setelah dibuat heboh dengan kejadian tersebut.
"Bangunlah." Pria itu bangkit seraya meraih tangannya.
"Sebaiknya kita mencari penginapan. Kamu kelelahan." ucapnya, dan dia menarik Clarra agar bangkit.
"Aku masih mau di sini."
"Sudah sore Cla."
"Bisakah kita menginap? Tempat ini menyenangkan."
"Ya, di hotel."
"Tidak camping di dekat sini?"
"Kamu akan membeku jika camping di sini. Ayo, kita cari penginapan terdekat?"
"Tapi besok kita kembali ke sini ya?"
"Ah, ... kenapa aku lupa soal itu?"
"Kamu mulai menikmati liburannya heh?" Galang tertawa, dan mereka berjalan beriringan.
"Ya, kamu mempengaruhiku. Tapi ini bagus. Kamu nggak salah membawa aku kesini. Tapi waktunya kurang ya? Banyak hal yang belum aku lakukan, dan pasti banyak tempat yang belum aku kunjungi."
"Makanya harus ambil cuti panjang kalau ke sini. Biar kita bisa melakukan banyak hal."
"Hu'um, kamu benar. Lain kali kita ke sini lagi ya?"
"Lain kali?"
"Ya."
"Kita ini sibuk, jangan meminta hal yang mustahil! Nikolai Grup tidak bisa ditinggalkan begitu saja." ucap galang dengan suara tegas, persis seperti Clarra setiap kali dirinya meminta cuti.
"Kamu mengolokku ya?"
Pria itu hanya tertawa, sementara Clarra menendang kakinya ketika mereka berjalan keluar dari area itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arfan dan Dygta menatap Amara yang sedang menjalani prosesi wisudanya dengan bangga. Gadis itu lulus sebagai mahasiswa dengan nilai terbaik bersama beberapa teman satu angkatannya.
Dia melenggang di podium dengan toga yang membuatnya terlihat luar biasa.
"Ara terlihat hebat ya?" Dygta tidak melepaskan genggaman tangannya dari Arfan.
"Ya, bukankah dia keren?"
"Hu'um, kamu benar. Uuhh, si bayi kecil itu sekarang sudah lulus kuliah. Dia sudah dewasa." Dygta mengingat saat pertama kali memeluk Amara ketika Arfan membawanya ke rumah besar, beberapa hari setelah dilahirkan.
Dia begitu gembira dengan kehadiran anak itu sehingga hampir tidak pernah meningalkannya walau hanya sebentar.
"Setelah ini apa lagi? Lulus kuliah, bekerja, lalu menikah." sambung Dygta, membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan.
"Menikah?" Arfan mengerutkan dahi.
"Ya, semua orang pada akhirnya akan menikah dan mempunyai keluarganya sendiri kan? Itulah yang terjadi."
Pria itu terdiam.
"Oh, ayolah ... tidak usah seperti itu. Lagi pula sepertinya Ara masih lama ke pernikahan. Pacar saja dia tidak punya?"
Arfan menoleh kepada istrinya.
Perempuan itu kemudian bangkit dan menariknya ketika Amara berjalan ke arah mereka. Dan Dygta segera menyambutnya dengan ucapan selamat dan pelukan hangat.
__ADS_1
"Selamat Kak, kamu berhasil."
"Makasih Mommy." Amara membalas pelukannya dengan erat.
Arfan menunggu dengan sabar. Dia tersenyum menatap putrinya yang telah menyelesaikan pendidikan lanjutannya dengan baik dan berhasil sebagai salah satu mahasiswa dengan nilai terbaik.
"Papa." Amara segera menghambur ke pelukan sang ayah.
Tiada hal yang paling menyenangkan selain berada bersama pria itu. Yang menjadi sandarannya setiap saat tanpa mengenal waktu dan tempat.
Dia yang selalu mengusahakan yang terbaik untuknya, dan menjadikannya prioritas disela kesibukannya yang tak terhitung jumlahnya.
"Selamat." Arfan memeluk putrinya begitu erat, begitu juga dengan Dygta dan ke empat anak mereka yang lain.
"Exuse me?" Seorang pemuda mendatangi mereka.
Piere yang juga mengenakan toga, menghampiri bersama seorang pria paruh baya.
"Piere?"
"Conratulation." Dia mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
"Mercy." Amara menerima uluran tangannya.
"Ini ayahku."
"Bonjour."
"Papa, kenalkan ini Piere, dan ayahnya." Dygta memperkenalkan mereka.
Arfan menyalami kedua pria berbeda usia itu dengan cukup ramah. Setidaknya dia mencoba untuk seramah mungkin meski sebenarnya enggan juga.
Apa lagi ketika Dygta juga mengulurkan tangannya untuk menyalami mereka, dia malah menahan perempuan itu.
"Kak, katakan kepada mereka kalau perempuan yag sudah menikah dilarang bersalaman dengan pria lain." ucapnya kepada Amara.
"Apa?" Putrinya bereaksi.
"Hanya katakan saja seperti itu!" Arfan sedikit menggeram.
"Kamu ini apa sih?" Dygta juga bereaksi sama.
"Diamlah. Ayo kak, katakan kepada mereka." ucapanya kepada Amara.
Dan gadis itu berbicara kepada Piere dengan bahasa Prancis tentang apa yang di ucapka oleh sang ayah.
"Itu semacam kultur kami Piere." Amara menjelaskan.
"Oh, ... ya aku mengerti, tidak apa-apa." Meski bingung, pemuda itu tetap menganggukkan kepala.
"Kalau begitu kami pamit. Sampai bertemu lagi lain waktu?" Piere berujar.
"Ya. Dan mungkin setelah ini kita tidak akan bertemu lagi. Aku akan langsung pulang ke Indonesia." jawab Amara.
"Begitu? Baiklah, semoga kau suskse di sana Ra."
"Ya, kamu juga Piere."
"Baik."
"Dan berkunjunglah kapan-kapan, aku akan menunjukkan banyak hal kepadamu."
"Tentu tentu. Nanti kalau aku sudah sukses ya?" Pemuda itu tertawa, kemudian dia dan ayahnya benar-benar pergi.
"Apa ada acara lagi setelah ini?" Arfan bertanya kepada putrinya.
"Ada pesta mahasiswa senior di aula kampus." Amara menjawab.
"Kamu ikut?"
"Kayaknya nggak, banyak yang harus aku bereskan bukan?"
"Benar? Ini pesta terakhir di kampus lho."
"Nggak apa-apa, nanti juga ada pesta-pesta lainnya. Lebih baik kita pulang ke apartemenku, kita harus cepetan pulang ke Indonesia kan?"
"Kakak ih buru-buru amat? Aku kan mau ke Eiffel dulu?" Anandita bersuara.
"Dari kamar kakak juga kelihatan."
"Tapi aku maunya datang ke sana langsung."
"Ah, udah nggak aneh."
"Ya kan kakak tinggal di sini."
"Aku juga mau ke Eiffel. Ya Papa, kita mampir dulu ke sana. Masa udah jauh-jauh ke Paris tapi nggak ke Eiffel?" Asha memohon. Sementara dua anak laki-laki lainnya acuh saja.
"Terserah Mommy, apa mau ke Eiffel dulu?" Mereka berjalan beriringan keluar dari tempat diadakannya acara wisuda itu.
"Tentu saja mau, kapan lagi kita ke Paris? Hari-hari kita kan kalau tidak di Jakarta ya ke resort. Sekalian ke sini lah." Dygta menjawab.
"Baik, kita punya waktu beberapa jam sebelum pulang." Arfan menatap jam tangannya.
"Yeaayyy!!" Dua anak perempuannya berjingkrak kegirangan.
"Lebay." Sementara dua anak laki-lakinya mendelik sebal.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung ....
selamat hari vote!😉😉