
🌺
🌺
Galang berjalan memasuki gedung Nikolai Grup dengan langkah yang ringan. Rasanya berbeda saja, seperti dia baru saja mendapatkan hal baru, meski belum sepenuhnya. Tampaknya, pernikahan membawa pengaruh positif baginya.
Beberapa orang tampak memperhatikan. Kabar pernikahan itu tentu saja sudah tersiar di kalangan karyawan dan sempat menjadi buah bibir sejak akhir pekan kemarin.
"Selamat pagi Pak." Beberapa di antara mereka segera menyapa.
"Pagi." Galang menjawab sapaan mereka.
"Ada kado sederhana dari kami Pak." Seorang perempuan yang dikenali sebagai resepsionis menyerahkan sebuah paper bag, diikuti beberapa karyawan lainnya yang menyerahkan beberapa bungkusan.
"Kami dengar soal pernikahannya tapi maaf karena …."
"Oh, soal itu. Ya … sebenarnya tidak usah repot-repot karena memang tidak dirayakan juga. Kami mengadakannya secara tertutup karena satu dan lain hal. Jadi … ya, begitulah." Galang menjawab.
"Iya Pak, kami mengerti. Tapi ini hanya sedikit sebagai ucapan selamat, semoga bermanfaat."
"Ah, ya terima kasih." Galang mengangguk-anggukkan kepala.
"Selamat menempuh hidup baru Pak." Yang lainnya menyalami secara bergantian.
"Ya, terima kasih." Galang masih menerima bingkisan lainnya.
***
"Wah wah, hari ini banyak yang memberi kado?" Dimitri menyapa begitu sang asisten tiba di lantai 20 beberapa saat setelah dirinya.
"Mereka tahu Pak?" Galang meletakkan bingkisan-bingkisan tersebut di meja sekretaris.
"Jelas tahu, orang kedua di Nikolai Grup yang menikah." Dimitri menjawab.
"Siapa yang mengumumkan?"
"Om Andra. Hahaha." Sang atasan tertawa.
"Kenapa juga harus diumumkan sekarang?"
"Memangnya kenapa? Mau dirahasiakan?"
"Bukan begitu Pak."
"Agar tetap terlihat bujangan ya? Enak sekali hidupmu itu?" Dimitri melenggang ke ruangannya.
"Duh?" Galang menjengit.
"Jangan dengarkan. Dia hanya sedang kesal akan ditinggal pergi Rania ke Argentina." Clarra tertawa.
"Iyakah?"
"Ya. Besok Rania sudah harus berangkat."
"Oh, … kasihan."
"Benar sekali."
"Hmm …."
"Oh iya, selamat menempuh hidup baru." Clarra kemudian mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Maaf kemarin tidak bisa datang, kita punya banyak pekerjaan." lanjutnya.
"Oh, tidak apa. Tapi terima kasih." Galang menyambut uluran tangannya.
"Bagaimana keadaan Amara sekarang?" Lalu Clarra bertanya.
"Lebih baik, dia sudah bisa duduk sendiri sekarang."
"Syukurlah, semoga lebih cepat pulih ya?"
"Hmm … akhir minggu ini dia operasi untuk wajahnya, jadi kemungkinan untuk minggu depan aku akan mengambil cuti. Kamu tahu, aku perlu mendampinginya setelah operasi."
"Tidak usah khawatir soal itu, aku sudah mengaturnya untukmu."
"Benarkah?"
"Ya, jadi … santai sajalah."
"Terima kasih, Clarra."
"Sama-sama."
"Baiklah, mana pekerjaan kami untuk hari ini?"
Clarra menyerahkan setumpuk dokumen kepada Galang.
"Apa ada jadwal keluar?" Lalu pria itu bertanya.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya memeriksa beberapa dokumen proyek dan mungkin sedikit diskusi dengan Dimitri."
"Diskusi soal apa?"
"Penempatan beberapa posisi untuk Darren dan Daryl."
"Oh, mereka belum menempati posisi yang seharusnya?"
"Untuk saat ini masih dalam tahap percobaan, tapi perkembangan mereka cukup bagus. Apalagi Darren, dia yang paling tekun soal pekerjaan. Kalau Daryl sih standar saja. Dia cenderung santai, tapi untuk keseluruhan bagus lah."
"Benarkah?"
"Ya, aku sudah memeriksanya."
"Bagus Cla, seharusnya itu jadi tugasku tapi karena akhir-akhir ini ada banyak masalah jadinya …."
"Tidak apa, kita tim bukan? Selagi bisa akan aku usahakan untuk menanganinya.
"Terima kasih Cla, kamu memang terbaik." Galang tersenyum.
"Oo, aku tidak akan menyangkal soal itu." Perempuan itu tertawa.
"Ya baiklah, aku harus bekerja sekarang. Titip kado-kado ini, nanti sore akan aku bawa pulang." Galang kemudian masuk ke ruangan Dimitri.
🌺
🌺
Daryl mengikuti Nania dengan pandangan matanya ketika dia menemukan gadis itu berjalan di trotoar dengan menenteng sebuah tote bag. Sementara dirinya berada di dalam mobil dalam suasana macet karena lampu merah sepulangnya dari pertemuan bisnis pada siang itu.
"Mm … ya, aku rasa aku harus pergi ke suatu tempat, jadi tolong tangani yang satu itu ya Ken? Bisa?" titahnya pada orang di ujung telfon.
"Baik Pak, untuk yang satu itu bisa saya tangani."
"Baik terima kasih, aku harus segera pergi." Lalu percakapan pun diakhiri.
Daryl segera melajukan Mercedes Benz GT63S hitamnya begitu lampu lalu lintas berubah hijau.
"Hey anak SMP, mau ke mana kamu siang-siang begini?" Lalu dia berhenti di dekat trotoar di mana Nania berada.
Gadis itu merunduk untuk melihat siapa sosok yang bertanya kepadanya.
"Astaga! Kenapa harus ketemu dia?" gumamnya, pelan.
"Hey, aku bertanya kepadamu! Kenapa tidak menjawab?" Daryl mengeraskan suaranya.
Nania meniupkan napasnya dengan kencang, lalu memasang senyum yang cukup manis.
Daryl memutar bola mata.
"Mau antar makanan untuk Kak Ara Pak ke rumah sakit." lanjutnya seraya menunjukkan tote bag dalam genggamannya.
"Kenapa kamu jalan kaki? Apa tidak ada kendaraan yang bisa ditumpangi?"
"Temen-temen di kedai sibuk Pak, order ojek online dari tadi cansel terus. Ini baru mau nyoba lagi." Dia menunjukkan layar ponselnya.
"Hmm …." Lalu sebuah ide muncul di kepala Daryl.
"Ayo cepat masuk." katanya kemudian.
"Maaf Pak?"
"Ayo cepat masuk!" Daryl menggendikkan kepalanya.
"Maksud Bapak?"
"Apa kata-kataku kurang jelas? Aku bilang cepat masuk!" Pria itu setengah berteriak.
"Maksud Bapak, saya masuk ke mobil Bapak?" Nania menunjuk dirinya sendiri.
"Menurut kamu?" Daryl dengan nada kesal.
Gadis itu melihat sekelilingnya, dan tak ada siapapun di sana.
"Cepat! Nanti kita malah bikin macet!" Daryl membukakan pintu mobilnya dari dalam.
"Eee …."
"Naniaaaa!!!" Daryl menggeram.
"Iya pak, iya." Gadis itu pun masuk.
"Dari tadi kenapa? Lambat sekali kamu ini?" Daryl kembali melajukan mobilnya, sementara Nania menutup mulutnya rapat-rapat.
Tahan Nania, jangan terpengaruh. Anggap apa pun yang dia ucapkan hanya rekaman kaset kusut. Batinnya.
"Dari empat orang pegawainya Ara, kenapa sih hanya kamu yang paling sibuk? Ke pasar iya, servis di bagian depan iya. Pergi antar-antar seperti ini iya. Bukannya di sana juga ada dua pegawai laki-laki ya? Seharusnya mereka dong yang lebih gesit." Daryl memulai percakapan.
"Bapak nyebut saya lambat gitu?" Nania menjawab dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Bukan, maksudku kenapa selalu kamu?"
"Ya kenapa nggak? Namanya juga kerja, selama bisa kita kerjain kenapa harus sama orang lain?"
"Jawabanmu itu …." Daryl menggelengkan kepala.
"Memang Bapak maunya saya jawab gimana? Karena disuruh-suruh gitu? Ya nggak lah. Kita semua punya tanggung jawab yang sama, dan ini bagian saya."
Pria itu memutar bola matanya.
Jawaban yang bagus. Tidak menunjukkan kalau dia hanya lulusan SMP. Gumamnya dalam hati.
Nania melirik kepadanya.
"Bapak sendiri ngapain di jalan siang-siang? Bukannya kerja. Mentang-mentang kerja di perusahaan keluarga malah keluyuran?" Nania dengan polos namun ketusnya.
"Apa katamu?"
Ralat! Dia benar-benar anak SMP. Cara bicaranya menunjukkan kalau pendidikannya rendah. Kata-katanya selalu sepedas ini ketika berbicara dan dia tidak mempunyai tatakrama. Kalau saja dia tahu apa yang bisa aku lakukan sebagai anggota keluarga Nikolai, aku jamin dia tidak akan berani.
"Aku tidak sedang berkeliaran. Aku sudah menghadiri pertemuan dengan klien tahu? Jangan asal bicara."
"Oh, … ya maaf. Saya kan nggak tahu." Nania dengan cueknya.
"Ish, kenapa sih aku selalu merasa kesal kalau bicara denganmu?"
"Oo sama, saya juga kesel kalau ngobrol sama Bapak."
Daryl mendelik.
"Udah Pak, di sini aja." ucap Nania saat dia menyadari telah sampai di depan rumah sakit.
"Nggak usah antar sampai ke dalam Pak. Bapak kan sibuk, sayang waktunya."
"Hah?" Pria itu menghentikan laju kendaraannya.
"Saya turun Pak, makasih tumpangannya." Nania hampir saja membuka pintu mobil.
"Hey?" Namun Daryl meraih tangannya untuk menghentikannya.
"Ya Pak?"
"Umm … kalau aku order makan siang terus kamu antar ke kantor bisa?" Daryl asal bicara.
"Bisa, buat kapan? Kalau sekarang sih nggak bisa. Sayanya kan antar untuk Kak Ara."
"Ya, … mungkiin … besok atau ... ."
"Oh … bisa-bisa." Nania mengangguk.
"Eh, bukannya di kantor juga ada kantin ya? Kenapa pesan?"
"Aku … mau … makanan dari kedai Ara."
"Oo … oke oke. Untuk berapa porsi?"
"Untukku saja."
"Begitu? Baik. Untuk makan siang aja?"
"Mungkin sesekali aku akan pesan untuk makan malam juga kalau ada lembur."Â
"Oke Pak. Kasih tahu aja kapan saya bisa mulai antar."
"Hmm … baik, nanti aku telefon."
"Oke."
"Tapi aku tidak punya nomer hapemu?"
"Bapak chat aja ke nomor resmi kedai. Tahu kan? Kalau nggak tahu bisa dm ke akun media sosialnya. Pasti tahu."
"Tapi itu …."
"Pamit Pak. Makasih sekali lagi." Gadis itu akhirnya benar-benar turun.
Daryl malah tertegun.
"Eh, Bapak nggak mau ikut jenguk Kak Ara ke sana?" Nania kembali merunduk untuk melihat pria di dalam mobil.
"Umm … aku … sibuk." jawabnya, yang kemudian kembali melajukan mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1
selamat hari vote!