My Only One

My Only One
Orang Tua


__ADS_3

🌺


🌺


"Jangan melamun Lang!" Mayang mengingatkan putranya yang berada dibalik kemudi. 


Mereka segera bertolak ke Bandung begitu selesai dengan pertemuan penting hari itu. Yang tiada siapa pun menyangka akan terjadi kesepakatan untuk melangsungkan pernikahan dalam waktu yang begitu cepat.


"Waktu kita hanya sembilan hari sampai akad Bu." Sang anak bersuara.


"Memang. Bukankah setelahnya Ara harus di operasi?" Mayang menjawab.


"Ibu sadar nggak, kalau sembilan hari itu singkat?"


"Terus kenapa? Bukankah ini yang kamu mau?"


"Aku pikir kita akan merencanakan untuk beberapa bulan, atau se nggaknya beberapa minggu. Bukan hanya sembilan hari, lalu dihari ke sepuluhnya pernikahan." Galang dengan nada frustasi.


"Sudah untung mamanya Ara tidak meminta hari ini juga, coba kalau dia minta hari ini? Kita belum membawa apa-apa."


"Bukannya Pak Arfan bilang tidak apa-apa kalau dimundurkan?" tukas Galang.


"Kamu mau memundurkan rencananya?" Mayang bertanya.


"Lang? Kamu mau membatalkan rencana yang ini?" Perempuan itu mengulang pertanyaan saat sang anak tak merespon.


"Aku cuma …."


"Batalkan sendiri kalau kamu maunya begitu!" ucap Mayang kemudian.


"Apa?"


"Batalkan sendiri, ibu nggak mau ikut campur kalau masalah seperti ini. Kamu urus sendiri."


"Ya nggak bisa gitu dong Bu."


"Bisalah, sana telfon calon mertuamu dan bilang kalau kamu nggak sanggup kalau menikah sepuluh hari lagi."


"Nanti jadi masalah Bu."


"Sudah tahu akan jadi masalah, kamu kok pikirannya begitu?"


"Ya kan aku nggak mengira akan secepat ini. Kita nggak ada persiapan apa-apa."


"Lang, pantang bagi pihak laki-laki menolak desakan menikah dari pihak perempuan. Apa lagi kalau kamu sudah bilang serius." Mayang menerangkan.


"Masalahnya aku belum ada persiapan. Ini terlalu mendadak."


"Ya kalau belum ada persiapan kenapa juga kamu sering-sering nemuin anak gadis orang? Ya orang tuanya khawatir lah, makanya mereka meminta untuk cepat menikah."


Galang bungkam.


Mereka pun sampai di depan rumah setelah kurang lebih dua jam berkendara dari Jakarta.


"Apa aku jual lagi aja mobilnya ya Bu?" Galang menatap mobil miliknya yang terparkir di halaman.


"Apa? Jual mobil? Baru saja beli."


"Motor juga. Kalau dijual dua-duanya cukup kali ya untuk biaya pernikahan?" ucap Galang lagi yang menatap garasi di samping rumah.


"Kenapa harus dijual? Sayang, itu hasil kerja keras kamu." jawab ibunya yang melenggang kedalam rumah.


"Tapi tabunganku sisa sedikit. Kalau tahu mau menikah, waktu itu nggak akan beli mobil."


"Memangnya mereka akan mengadakan pesta besar? Ibu rasa dengan keadaan Ara yang seperti itu, keluarganya tidak akan membuat pesta?"


"Tetap saja, Pak Arfan mana mau anaknya hanya dibawakan cincin?" Galang tertawa.


"Hmm … soal Mas kawin bagaimana? Sudah kamu tanya?"


"Belum."


"Coba kamu tanya Ara maunya apa?"


"Harus ya Bu?"


"Hanya agar kita tahu dan bisa memberikan yang sesuai. Jadi pemberian kita tidak sia-sia nantinya."


Lalu Galang melakukan panggilan telfon seperti yang diperintahkan oleh ibunya.


"Maaf Pak? Saya mau tanya soal mas kawin." 


Terdengar Arfan bertanya kepada Amara di seberang sana.


"Soal itu kami serahkan kepadamu." jawaban Arfan.


"Tidak ada permintaan khusus Pak?" Galang bertanya lagi.


"Tidak. Terserah kamu mau memberikan apa. Yang penting layak dan bisa kamu usahakan. Tapi tidak menyulitkan juga." ujar Arfan di ujung telfon sana.


"Baik Pak kalau begitu, terima kasih." lalu Galang mengakhiri percakapan.


"Bagaimana?" Mayang sudah berada di ruang tengah ketika Galang masuk.


"Terserah kemampuan kita Bu."


"Alhamdulillah, Alloh permudah jalannya." Mayang dengan raut lega, meski nyatanya Galang masih bingung.


"Kenapa bingung begitu? Sudah dengar bukan? Kalau mereka tidak memberatkan kita. Itu artinya jalan kita lebih mudah, tidak usah khawatir." Mayang dengan penghiburannya.


"Tetap saja Bu, masa kita mau asal-asalan. Malu lah sama keluarganya Ara." keluh Galang, dan pikirannya memang kalut saat ini. 


Bukan dia tidak senang dengan apa yang akan terjadi nanti, tapi bagaimana dirinya bisa memberikan hal yang pantas untuk pernikahannya yang akan diadakan dalam sepuluh hari ke depan. Dan itu rasanya terlalu singkat.


Galang kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Berapa tabungan yang kamu punya?" Sang ibu bertanya lagi.


"Sisa segini." Pria itu menunjukkan layar ponsel yang tertera jumlah saldo di rekeningnya.


Mayang tertawa melihat angka-angka itu.


"Kurang banyak kan Bu?" Galang dengan raut khawatir.


"Kalau kamu mau mengadakan pesta besar di gedung ya jelas kurang."


"Terus?"


"Kalau untuk membeli mas kawin seperti yang dikatakan Pak Arfan ibu rasa cukup."


"Masa?"


"Ya, bahkan lebih. Mereka pasti faham situasinya, terutama karena keadaan Ara, jadi ibu pastikan mereka tidak akan menuntut banyak hal. Apa lagi soal pesta, tidak mungkin diadakan pesta besar-besaran untuk sekarang ini."


Galang terdiam.


"Tapi kita juga tidak mungkin datang kesana dengan tangan kosong kan?" Lalu Mayang kembali berujar.

__ADS_1


"Itu maksud aku."


"Tunggu sebentar." Kemudian perempuan itu naik ke kamarnya di lantai dua, dan kembali setelah beberapa menit.


"Akhirnya ini berguna juga." Dia meletakkan sebuah kotak diatas meja.


"Apa ini?"


"Tabungan kita."


"Uang?"


Mayang tak menjawab, namun dia segera membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa jenis perhiasan yang sengaja dia simpan.


"Kalau ini dijadikan mas kawin, tidak mungkin. Modelnya kuno dan tidak sesuai untuk Ara. Lebih baik kita jual saja."


"Kenapa dijual? Itu punya Ibu."


"Punya keluarga kita. Ibu membelinya dari uang tabungan dan pemberian kamu. Sengaja ibu simpan untuk keperluan darurat. Dan ternyata berguna kan?"


Galang terdiam lagi.


"Ibu sadar, kita ini bukan orang kaya yang punya uang banyak yang bisa digunakan kapanpun jika diperlukan. Tapi ibu juga sudah mempertimbangkan  semuanya, karena punya anak laki-laki itu harus siap jika sewaktu-waktu di desak menikah seperti ini. Tidak boleh menunda terlalu lama, apalagi dengan alasan tidak siap. Dan kita juga harus memberikan hal yang pantas meski kita tidak seperti mereka. Ibu tidak akan membiarkan harga dirimu terlihat rendah di mata mereka."


Galang menatap wajah ibunya.


"Ayah juga punya ini." Arif pun duduk di samping anaknya, lalu dia meletakkan sebuah buku tabungan disamping kotak milik istrinya.


Tabungan dengan jumlah saldo yang cukup membuat Galang mengerutkan dahi.


"Itu kan uang pesangon ayah dari pabrik?"


"Memang. Ditambah dengan yang kamu kirimkan setiap bulan."


"Ayah nggak pakai?"


"Ya pakai lah, tapi sedikit. Sisanya bisa lah buat biaya pernikahan kamu kalau diperlukan." ucap pria yang tingginya hampir sama dengan putranya itu.


"Nah kan? Apa lagi yang kamu khawatirkan? Semuanya kita punya, tinggal kamunya saja yang benar-benar memantapkan hati. Jalanmu begitu mudah untuk bersama Ara, dan jangan sampai kamu menyia-nyiakannya. Atau dia akan kembali hilang dari jangkauan." ujar sang ibu dengan penuh semangat seperti biasa.


Galang merasakan matanya mulai memanas, dan sesuatu seperti mengganjal di tenggorokkan. Tapi perasaan dihatinya meluap-luap, dan tidak cukup diucapkan dengan kata apa pun. Tapi satu hal, dirinya merasa menjadi orang paling beruntung di dunia karena memiliki dua malaikat yang selalu mendukungnya apa pun yang terjadi. 


"Sudah, sudah jangan menangis." Mayang menyadari ekspresi putranya. Dia mendekat kemudian merangkul pundaknya, begitu juga yang dilakukan oleh Arif.


"Jangan lagi khawatir." Perempuan itu mengusap punggung putranya yang mulai sesenggukkan.


"Ah, mau menikah tapi masih seperti ini? Nggak malu kamu sama Pak Arfan? Masa menantunya cengeng?" Arif tertawa.


Sementara Galang malah semakin sesenggukkan mendengar kedua orang tuanya berkelakar.


🌺


🌺


"Baik, senang sekali mendengarnya. Semoga semuanya lancar sampai hari H." Satria menutup telfon setelah cukup lama bercakap-cakap dengan Arfan.


Pria itu mengabarkan soal pernikahan Galang dan Amara yang akhirnya diputuskan akan dilangsungkan sekitar sepuluh hari lagi.


"Sekarang apa?" Sofia menunggu di dekatnya.


"Mereka akan menikah." Pria itu menjawab.


"Apa?"


"Ara dan Galang akan menikah."


Sofia membulatkan mata seakan tidak percaya.


"Ya, Arfan sendiri yang memberi tahu."


"Kenapa secepat ini?"


"Sudah waktunya."


"Aku pikir tidak akan secepat ini."


"Ya, aku juga. Tapi cepat atau lambat memang akan terjadi juga kan?"


"Lalu bagaimana dengan Clarra?"


"Mereka sudah putus kan?"


"Iya, tapi …."


"Tidak usah khawatir, Clarra baik-baik saja."


"Benarkah? Kok bisa?"


"Bisa lah."


"Kamu yakin?"


"Yakin."


"Hmm … Kamu mengawasi dia juga?" Sofia menatap curiga.


"Hanya sesekali. Dia ada di dalam lingkaran keluarga kita bukan?"


"Iya juga sih."


"Tapi sekarang sepertinya tidak lagi."


"Kenapa?"


"Dia sudah dengan orang yang tepat, apa lagi Larra sudah tidak lagi bisa menjangkaunya, jadi sekarang Clarra sudah aman."


"Hmm ...."


"Jadi kita bisa fokus untuk pernikahan Ara." ujar Satria, lalu dia tertawa.


"Ah, iya. Apa akan ada pesta?"


"Sepertinya tidak. Kondisi Ara tidak memungkinkan untuk pesta. Mungkin hanya akad."


"Ah, mengecewakan sekali. Padahal aku sudah berimajinasi soal pestanya."


"Mungkin nanti Sayang."


"Pesta apa?" Daryl muncul diambang pintu.


"Hey Nak? Kamu sudah pulang?" Satria menoleh kepada putra keduanya yang baru saja tiba.


"Ya, seperti yang Papi lihat." Pria itu masuk ke ruangan di mana kedua orang tuanya berada.


"Tumben langsung pulang ke rumah?" Sofia menyahut.


"Ya, aku sedang malas ke kedai." Daryl menjatuhkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


Pasangan suami istri itu saling pandang.


"Maksud Mama, tidak ada lembur di kantor?"


"Umm … tidak." Daryl menjawab dengan perasaan canggung.


"Darren?"


"Papi tahu sendiri bagaimana dia kalau sudah bekerja." Lalu dia menjawab.


"Baiklah."


"Tadi Mama bicara soal pesta?" Daryl kemudian bertanya.


"Oh tidak, Mama hanya berandai-andai. Tadinya sudah memikirkan pesta yang meriah." 


"Pesta apa? Memangnya ulang tahun Mama sudah dekat? Seingatku masih lama?"


"Bukan."


"Lalu pesta apa?" Daryl kembali bertanya.


"Pernikahan."


"Pernikahan siapa?"


"Ara."


Daryl membeku.


"Mama sudah bersemangat, tapi mengingat kondisinya Ara, sepertinya tidak mungkin juga mereka mengadakan pesta."


"Ara mau menikah?" Daryl dengan nada terkejut.


"Ya." Satria menjawab.


"Dengan siapa?"


"Dengan Galang, siapa lagi?" jawab sang ayah lagi.


Pria 26 tahun itu membeku.


"Kapan?" Lalu dia menegakkan tubuhnya.


"Sepuluh hari dari sekarang." jawab Satria, agak ragu. Melihat raut wajah putranya itu yang dia kenali apa penyebabnya.


Daryl menghembuskan napas cukup keras, dengan perasaan yang entah bagaimana dia harus menyebutnya.


Dia kemudian bangkit seraya mengusap wajahnya kasar. 


Terkejut? Ya.


Kecewa? Sudah pasti.


Meski dirinya sudah tahu bahwa ini akan terjadi, entah kapan dan entah dengan siapa, namun pada kenyataannya Daryl tak mampu mengendalikan perasaannya.


"Aku … pergi dulu." katanya, dan dia segera keluar dari rumah.


Daryl kembali ke dalam mobilnya, dan dia segera tancap gas dari tempat itu.


Sofia dan Satria saling pandang, dan mereka tahu mengapa sang putra bersikap seperti itu. Diantara ketiga putranya, hanya dia sajalah yang bisa dengan terang-terangan menunjukkan bagaimana perasaan dan kedekatannya dengan Amara tanpa merasa canggung ataupun sembunyi-sembunyi. 


Meski Daryl tahu keadaan keluarga mereka seperti apa, tapi dia tampak tak peduli. Apalagi setelah tahu jika hubungan Amara dan Galang kandas dua tahun lalu, hal itu seperti menjadi pengobat kegundahannya selama ini. Dan dia dapat dengan leluasa mendekati gadis itu sejak mereka sama-sama pulang dari pengembaraan di luar negri. Dan bahkan, hal itu pula lah yang membuatnya mau kembali pulang ke tanah air.


Tapi rupanya, memang keadaan benar-benar tidak memihak. Di satu sisi hubungan keluarga yang rumit yang menjadikan Satria menghalangi niatnya mendekati Amara, dan di sisi lain gadis itu juga sudah sampai pada jodohnya.


"Daryl patah hati, Papi." Sofia dengan raut sendu. Melihat putranya lagi-lagi harus mengalah pada keadaan membuatnya merasa perih sendiri.


"Yeah, apa boleh buat?


"Ah, kenapa harus harus Ara? Seandainya gadis lain maka aku tidak akan melarangnya sama-sekali." Sofia dengan nada kecewam


"Kita sudah melakukan hal yang benar Sayang, tidak apa-apa. Ini hanya salah satu proses pendewasaan lain untuk Daryl." Satria berusaha menghibur istrinya.


"Ya, tapi aku tidak tega. Dua putra kita harus mengalami hal yang sama."


"Tapi Dimitri baik-baik saja bukan? Dia punya keluarga yang bahagia bersama Rania."


"Ya, aku harap Daryl juga begitu."


"Hmm …."


"Ah, aku merasa sedih sekali."


Namun Satria malah tertawa.


"Kamu malah senang anakmu sedang patah hati?" protes Sofia akan reaksi suaminya.


"Kenapa juga aku harus bersedih. Aku yakin ini tidak akan berlangsung lama."


"Benarkah?"


"Ya, dia punya banyak kegiatan dan segudang kesibukan. Salah satunya mengganggu pegawainya Ara." Pria itu menjelaskan.


"Oh ya?"


"Ya, jadi kenapa kita harus bersedih? Daryl akan cepat pulih, seperti halnya juga Dimitri."


Sofia mengerutkan dahi.


"Jangan terlalu dipikirkan, mereka akan menemukan belahan jiwa yang tepat jika memang sudah waktunya. Dan akhirnya akan bahagia juga."


"Lalu bagaimana dengan Darren? Jangan-jangan dia juga …." Sofia mengingat putra ketiganya.


"Tidak, jangan khawatirkan Darren. Dia baik-baik saja. Dia hanya sedang belajar bagaimana menjadi Nikolai yang sesungguhnya. Tanpa memikirkan kehidupan pribadi, ataupun gadis-gadis. Dia aman."


"Kamu yakin?"


"Kamu meragukan pengawasanku atas anak-anakku?" Satria memicingkan mata.


"Tidak Sayang, maksudku …"


"Percayalah, sekarang yang menyibukkannya hanyalah pekerjaan. Tapi tidak tahu kalau misalnya ada sekretaris atau pegawai yang menarik hatinya. Aku tidak bertanggung jawab soal itu."


"Hmm … jadi yang mengkhawatirkan hanya Daryl?"


"Mungkin, tapi tidak terlalu mengkhawairkan juga. Dia akan baik-baik saja, percayalah."


"Semoga begitu ya?"


"Hmm … jadi … ayo kita istirahat? Aku lelah." Satria bangkit dan menarik perempuan itu ke arah tangga yang menuju kamar mereka di lantai dua.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


Bersambung ...


ah papih mah, ada aja 😂😂😂


__ADS_2