My Only One

My Only One
Rasa Yang Baru


__ADS_3

🌺


🌺


Clarra menepikan mobilnya di taman kota favoritnya seperti biasa. Lalu dia menatap sekeliling area yang tampak remang-remang.


Malam memang sudah merangkak naik ketika dia tiba di tempat itu, dan Clarra memutuskan untuk berhenti sejenak. Setelah menyelesaikan pekerjaannya hingga larut karena harus segera di letakan di meja Dimitri agar besok pria itu bisa membuat keputusan untuk beberapa perusahaan yang mengajukan proposal untuk proyek mereka.


Taman kota sudah lengang pada malam itu. Hanya terlihat beberapa orang yang asyik berbincang, yang satu persatu meninggalkan tempat tersebut.


Apalagi ketika gerimis kecil-kecil mulai berjatuhan dari langit, maka mereka semua berlari untuk segera menghindari dari jatuhnya air yang lebih lebat.


Namun Clarra memilih untuk tetap tinggal. Dia merasakan gerimis yang berjatuhan di tangannya yang sedikit dia julurkan keluar. Rasanya dingin, dan menyenangkan seperti biasa.


Gadis itu memang sangat menyukai hujan, apa lagi di musim kemarau seperti beberapa bulan terakhir membuat keadaan sekitar terasa gersang, namun akhir-akhir ini sepertinya musim penghujan akan di mulai. Itu terlihat dari langit yang sering mendung, dan gerimis yang sesekali turun. Meski hujan yang lebih lebat belum benar-benar turun.


Sekali lagi Clarra melihat keadaan untuk memastikan area itu benar-benar sepi, terutama dari orang yang mungkin dikenalnya, yang akan merusak keheningan yang paling disukainya.


Perempuan itu lantas turun kemudian berjalan memasuki area taman kota yang sudah sepi namun begitu dia senangi. Apalagi ketika titik-titik air yang lebih lebat mulai turun, dan hujan benar-benar terjadi malam itu.


Dia berdiri di depan sebuah kursi taman dengan lampu di samping sebagai penerangan. Mengenang masa-masa yang sudah berlalu. Bersamaan dengan itu, hadir pula bayangan menyenangkan tentang kisah yang indah di mana dia menjadi tokoh utama dalam hidup seseorang.


Ketika seorang pria memberikan begitu banyak cinta dan kasih sayang, dan dengan segala bentuk kepercayaan dia menaruh harapan kepadanya. Dan jangan lupakan juga dengan anak kecil manis yang selalu membuat mereka tertawa karena tingkah menggemaskannya. Membuat Clarra berharap penuh kepada mereka, dan mengira dirinya akan memiliki keluarga yang sempurna karena kebahagiaan itu benar-benar membuatnya merasa berarti.


Tapi lagi-lagi kenyataan tidak seperti yang kita perkiraan, dan apa yang dibayangkan tak sesuai dengan apa yang terjadi. Faktanya, dia gagal meraih itu semua. Dan hanya bisa menikmatinya dalam kenangan. 


Meski setelahnya selalu membuat dia merasa sakit dan menangis, tapi setidaknya dirinya pernah bahagia bersama orang lain.


Clarra menengadahkan wajahnya untuk menikmati hujan yang semakin lama semakin lebat. Dan ya, tampaknya musim kemarau itu sudah berakhir, dan apakah kesendiriannya juga akan berakhir?


Entah, tidak ada yang tahu. Tapi dia akan menikmati setiap momennya dengan sepenuh hati, karena mungkin masa-masa itu akan pergi, sama seperti orang-orang yang dicintainya.


***


Galang memelankan laju kuda besinya ketika melihat sebuah mobil yang sepertinya dia kenal terparkir di depan taman kota.


Meski tadinya pria itu terburu-buru menuju apartemennya karena hujan sudah turun, namun sebuah pemandangan tak biasa menghentikannya juga.


Dan benar saja, itu adalah mobil yang dikenalnya merupakan milik Clarra.


Tapi galang tak melihat perempuan itu berada di dalam sana, yang membuatnya mau tidak mau memutuskan turun saja untuk memeriksa keadaan.


Hujan cukup lebat, dan dia melihat sosok itu berdiri di bawah lampu taman, menengadahkan kepalanya sehingga wajahnya terdongak ke atas. Matanya terpejam dengan kedua tangan yang terlentang menerima kucuran air hujan.


“Cla? Apa yang kamu lakukan di sini?” Galang mendekat.


Clarra membuka mata dan meluruskan pandangan, lalu wajah itu mendominasi seluruh indera penglihatannya. 


“Sudah Cla, jangan begini.” Pria itu berujar..


“Tidak apa-apa, semuanya pasti akan baik-baik saja.”


“Kenapa kamu sepeduli itu kepadaku, Galang? Kenapa kamu membuatku merasakan apa yang tidak seharusnya aku rasakan?”

__ADS_1


Galang mengerutkan dahi.


“Sikapmu ini membuatku menyalah artikan keadaan, Galang.” Clarra mengusap wajahnya yang basah. 


“Jangan lakukan itu padaku, atau aku akan merasakan hal yang lebih.” Perempuan itu hampir saja memutar tubuhnya ketika Galang meraih pergelangan tangannya, kemudian menariknya ke pelukan.


“Maaf, maaf.”


“Jangan!” Clarra berusaha mendorongnya untuk menjauhkan diri, namun pria itu malah menahannya begitu erat.


“Apa kamu memiliki perasaan kepadaku?” Dia lantas bertanya.


“Tidak!” Clarra menjawabnya dengan tegas.


“Tapi sikapmu menunjukkan seolah-olah kamu memiliki perasaan kepadaku Cla.”


“Aku bilang tidak ya tidak!”


“Kamu bohong.”


“Apa urusanmu dengan perasaanku? Kamu bahkan tidak akan peduli dengan hal itu karena memang tidak ada yang berarti.” Clarra menjawab seraya menghentakan kedua lengannya pada dada Galang. Kemudian pandangan mereka bertemu.


Keduanya saling memindai dan menatap ke dalam mata masing-masing. Seolah mencari sebuah jawaban yang yang selama ini mereka inginkan. Dalam bentuk yang lain tentunya.


“Hujannya ….” Galang hampir saja membuka mulutnya untuk berbicara, namun tanpa di duga tangan Clarra merayap di leher hingga naik ke wajah, lalu membingkai kedua rahangnya yang mengeras karena menahan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.


Dan terjadilah, ketika kedua bibir mereka bertemu dalam getaran-getaran syahdu yang merayap menyeruak dari dalam kalbu. Hingga pagutan lembut itu terjadi dengan sendirinya, dan sejenak menghanyutkan mereka berdua dalam buaian yang melenakan.


Namun kelebatan wajah Dokter Syahril menginterupsi kegiatan di bawah hujan yang begitu lebat tersebut, membuat Clarra tersadar dari buaian. Dan pada saat dia membuka mata, didorong pula lah tubuh Galang dengan keras sehingga akhirnya pelukan itu terlepas.


“Ma-maaf.” Katanya seraya menutup mulut dengan tangannya.


Clarra mundur beberapa langkah, kemudian berbalik bermaksud untuk pergi. Namun Galang mampu mencapainya sehingga perempuan itu kembali ke dalam pelukannya.


“Tidak, Galang!” Clarra berusaha melepaskan diri.


“Ayo kita sembuhkan luka ini sama-sama.” Pria itu berbisik.


Clarra tertegun.


"Aku ingin memulihkan diri, dan kamu juga perlu menyembuhkan hati. Jadi apa salahnya jika kita mencobanya bersama?"


"Ini bukan hal yang bisa dibuat untuk percobaan, dan kita berdua sama-sama tahu bagaimana keadaannya. Keadaanmu."


"Sudah dua tahun Cla, dan keadaannya tak lagi sama."


Clarra meronta, namun Galang mengeratkan rangkulan.


"Aku mohon!" Clarra masih mencoba untuk melepaskan diri.


Galang membenamkan wajahnya di pundak Clarra, dan seketika membuat perempuan itu tertegun.


Kemudian dia memutar tubuh ketika Galang melonggarkan lilitan tangannya, dan sekali lagi, dia manatap wajah pria di depannya.

__ADS_1


“Kamu sudah tahu segalanya tentang aku.” Clarra berujar.


“Ya.”


“Mengetahui segala hal buruk yang menaungi hidupku.”


“Aku tahu.”


“Dan usia kita yang ….”


“Jangan bicarakan soal umur denganku.”


“Kamu akan menghadapi perempuan keras kepala yang tidak akan bisa dihentikan dengan cara apa pun.”


“Sudah dua tahun aku menghadapimu, tapi tidak terjadi apa-apa. Aku baik-baik saja.” Pria itu terkekeh.


Clarra kembali terdiam.


“Bagaimana dengan Ara?”


“Dia hanya masa lalu.”


“Lalu kedatangannya kemarin?”


“Hanya menemuiku saja. Tidak ada yang lebih.”


Clarra mencari kebohongan di dalam matanya. Namun nihil, pria ini tampak bersungguh-sungguh.


“Jadi, bisakah kita memulai hubungan baru tanpa melibatkan cerita apa pun sebelum ini?” pinta Galang, dan dia kembali meraih tangan perempuan itu.


“Kamu tidak main-main?”


“Aku terlalu dewasa untuk main-main.”


Clarra menyusuri wajah tegas pria itu yang mulai memucat, sama juga seperti dirinya.


“Jadi, bisakah kita bersama bukan hanya sebagai partner kerja saja? Tapi saling memiliki lebih dari itu?” Akhirnya kalimat itu meluncur juga dari mulutnya.


Bibir Clarra bergetar dan napasnya menderu-deru. Tentu saja ini juga merupakan hal yang sama sekali tidak terduga.


“Cla, aku ….”


Segera saja dia menghambur ke dalam pelukan pria itu. Memeluknya dengan erat dan merasakan kehadirannya yang kini lebih memiliki arti.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Apaaaa??!! 😱😱

__ADS_1


__ADS_2