My Only One

My Only One
Face To Face


__ADS_3

🌺


🌺


"Selamat siang?" Amara mengangguk sopan ketika menemukan sosok yang dikenalnya di rumah sakit.


Dia segera pergi ke rumah sakit setelah tiga hari berpikir dan akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran dari dokter Syahril.


"Siang. Saya pikir kamu masih di jalan?" jawab sang dokter.


"Iya, setelah saya pikir-pikir sepertinya tawaran Pak Dokter bagus juga. Makanya tadi langsung ke sini aja. Tapi lupa nggak telfon dulu dari sana." Amara tertawa pelan.


"Ya, ya. Tidak apa-apa. Mau langsung ke pihak staff rumah sakit?" Mereka berjalan bersisian.


"Boleh Pak, kalau bisa."


"Baik, mari." Pria berjas putih itu merentangkan tangan dan mempersilahkan Amara untuk mengikutinya.


Mereka menemui salah seorang dari pihak staff rumah sakit sekaligus sebagai panitia penyelenggara acara untuk pasien anak yang akan di adakan pada akhir minggu.


Setelah berbincang cukup lama untuk berdiskusi dan merundingkan masalah konsumsi dan makanan yang akan Amara tangani, akhirnya dicapailah sebuah  kesepakatan dan beberapa hal yang mereka setujui.


"Baik kalau begitu, kita ketemu lagi hari Minggu ya?" Sang staff mengakhiri percakapan.


"Iya. Kalau ada tambahan bisa hubungi saya." jawab Amara.


"Baik. Terima kasih." kemudian mereka bersalaman.


Lalu keduanya berpisah dan Amara memutuskan untuk pergi.


"Bagaimana?" Dokter Syahril rupanya kembali ke area staff setelah menyelesaikan pelayanannya untuk beberapa pasien.


"Lancar, sudah sepakat juga." Amara menjawab.


"Syukurlah. Saya rasa pesanannya cukup banyak, apa kamu bisa?"


"Bisa. Saya ada tiga pegawai, dan mungkin akan menambah beberapa orang untuk membantu."


"Baik."


"Oh ya, Syahnaz nggak ikut?" Gadis itu melihat sekelilingnya dalam perjalanan mereka keluar dari gedung rumah sakit.


"Tidak, saya kan sedang bertugas. Masa bawa anak?" Dokter Syahril terkekeh.


"Nah, waktu kemarin itu?" Amara mengungatkan peristiwa di awal minggu.


"Kebetulan menjemput dia dari sekolah. Dan ada janji juga."


"Janji apa?"


"Janji membawanya makan di kedaimu."


"Oh, … saya pikir Syahnaz Pak Dokter bawa bekerja juga?"


Pria itu sedikit menjengit.


"Kenapa?"


"Jangan panggil saya Pak. Rasanya itu terlalu tinggi."


"Umm …."


"Panggil dokter saja, atau Syahril sekalian."


"Ih, mana mungkin saya nyebut Bapak … eh, … anda hanya nama? Kayaknya Anda ini jauh lebih tua dari saya?"


Pria itu tertawa hingga kepalanya mendongak ke atas.


"Kamu benar."


"Memang, kelihatan kok."


"Kenapa? Saya benar-benar kelihatan tua ya?"


"Oh, nggak. Bukan begitu.  Gimana ya nyebutnya? Mm … dokter kelihatan lebih dewasa dari saya."


"Hah, tentu saja. Sekilas saja kamu ini seperti anak baru lulus kuliah."


"Memang."


"Benar kan?"


Amara mengangguk. "Tapi dokter masih lebih muda lah dari Papa saya."


"Masa?"


"Ya, se nggaknya saya nggak harus manggil dokter dengan sebutan Om." Amara tergelak.


"Tapi jangan panggil saya Bapak juga."


"Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, hanya kedengarannya tidak terlalu enak."


"Hmm … oke Dokter."


"Hanya itu saja, rasanya cukup baik."


"Ya ya ya." Amara mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kamu langsung ke kedai?"


"Kayaknya gitu. Tadinya sih mau pulang ke rumah Papa saya, tapi tanggung nasih siang."


"Orang tuamu di Jakarta?"


"Ya."


"Tapi kamu tidak tinggal dengan orang tuamu?"


"Nggak. Saya kebanyakan tinggal di kedai."


"Cukup menarik. Orang tuamu pasti bangga. Anak mereka punya usaha sepertimu."


"Baru mulai Dok, masih jauh sama Papa saya mah."


"Oh ya? Papamu punya kedai juga?"


"Bukan cuma kedai."


"Restoran?"


"Ya … sebut aja gitu."


"Di Jakarta juga?"


"Kebanyakn di luar kota."


"Kebanyakan? Papamu pasti orang hebat sehingga kamu bicara seperti itu?"


"Untuk saya iya."


"Siapa namanya? Mungkin saya kenal?"


"Arfan."


"Arfan?"


"Iya. Arfan Sanjaya."


"Dokter kenal sama Papi?"


"Kenal. Dia kan sepupunya Dokter Vita? Ibunya Clarra."


"Ya."


"Bukankah Pak Arfan menikah dengan anaknya Bu Sofia?"


"Ya Mommy Dygta."


"Benar, Arfan yang itu?"


"Iya."


"Astaga! Pantas saja kamu seperti ini."


"Emangnya kenapa?"


"Tida heran kalau kamu berhasil membuka usaha seperti ini, memang ada darah pengusaha di tubuhmu."


"Ah, Dokter berlebihan." Gadis itu tertawa.


"Serius."


"Emangnya Dokter kenal Papa saya seperti apa?"


"Tentu saja kenal. Dia legenda di kalangan staffnya Pak Satria."


"Kayak cerita aja disebut legenda?"


"Ya, cerita keberhasilannya selama di Nikolai Grup sampai dia berhenti selalu jadi kiblat bagi sebagian orang. Saya juga beberapa kali bertemu denga Papamu."


"Masa?"


"Iya." 


"Kalau begitu Papa aku keren ya?" Amara dengan bangganya.


"Ya, tentu tentu."


"Oke, kalau gitu saya pamit. Sebentar lagi kedai ramai." Gadis itu melihat jam di layar ponselnya, lalu dia berhenti ketika mereka tiba di area parkir dan mencoba menemukan tempatnya memarkirkan mobil.


"Nah, itu mobil saya. Dokter mau pulang juga?"

__ADS_1


"Tidak, saya masih di sini sampai sore."


"Baiklah, kalau begitu saya pamit?"


"Baik, silahkan." ucap Syahril.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa." Galang menyentuh lutut Clarra yang sejak beberapa menit yang lalu terus bergetar semakin kencang.


Sore ini sepulang kerja mereka memutuskan untuk menemui Larra di sebuah restoran di tengah kota. Dan Clarra mulai merasa gelisah meski Galang beberapa kali menenangkannya.


Apa lagi ketika dari kejauhan sosok itu mulai terlihat. Larra yang berjalan dengan kepala tegak dan gaya elegan. Penampilannya sangat mencolok dan membuat perhatian beberapa orang beralih kepadanya.


Dia memang pandai menata penampilan, meski usianya sudah tak lagi muda, namun riasan di wajah mampu menyembunyikan tanda-tanda penuaan. Apa lagi dengan gaya busananya yang fashionable, membuat perempuan itu terlihat masih cantik di usia setengah abadnya.


Clarra tampak membeku saat sang ibu yang telah melahirkannya tiba di depan mereka. Dan postur tubuhnya tetap tidak terkalahkan. Dia masih angkuh seperti ketika masih muda. Apalagi dengan keberadaan pria di sampingnya, yang Clarra ingat ibunya perkenalkan sebagai ayah biologisnya.


"Selamat sore Bu?" Galang bangkit lalu membungkuk dengan sopan.


Larra tak menjawab, namun dia segera duduk di kursi yang tersedia.


Galang mencoba untuk setenang mungkin, dan dia memindai keadaan. Memastikan semuanya akan berjalan dengan baik seperti yang telah direncanakannya. Meski beberapa bawahannya telah memperingatkan jika perempuan yang dihadapinya tidak boleh dianggap enteng.


"Terima kasih sudah memenuhi undangan kami untuk …." Galang menggantung kata-katanya saat larra mengangkat tangan untuk memberi isyarat.


"Tidak perlu berbasa-basi, cepat katakan apa maumu?" Perempuan itu berujar.


Galang menarik napas dalam-dalam dan dia sesekali melirik kepada Clarra yang terdiam di tempat duduknya.


"Ada yang mau kamu katakan kepada Mama Cla?" Lalu Larra beralih kepada putrinya.


"Kamu sudah memutuskan sesuatu? Apa?" Dia bertanya.


"Mama harap kamu tidak berulah seperti sebelumnya. Kamu tahu, Mama sudah lelah dengan keadaan seperti ini."


Clarra mendongak.


"Ayolah, apa susahnya kamu menerima keberadaan Mama? Toh Mama hanya ingin kita memulai hal yang telah Mama tinggalkan. Dan Mama minta maaf untuk itu." 


"Mama tahu, perbuatan Mama meninggalkanmu tidak bisa dibenarkan meski dengan alasan yang kuat sekali pun. Tapi rasa takut mama saat itu lebih besar dari kasih sayang Mama kepadamu."


"Mama hanya ingin bisa menemuimu seperti halnya orang tua yang menemui anaknya. Tanpa penolakan, tanpa rasa takut tidak diterima, dan tanpa rasa kecewa setiap kali kamu menolak untuk menemui Mama."


Clarra meraih tangan Galang yang berada di bawah meja. Lalu dia menggenggamnya begitu erat. Seolah tengah meminta kekuatan untuk menghadapi perempuan ini. 


Dia tahu, bahwa sang ibu tengah memperdayainya. Dan Clarra sudah mengerti dengan hal itu. Maka, inilah yang dia takutkan sehingga selalu menolak untuk menemuinya setiap kali perempuan itu meminta. Karena dia sudah hafal dengan perkataan yang akan diucapkannya. 


Sementara Galang menatapnya dari samping, dengan tangan mereka di bawah yang saling menggenggam.


"Clarra dengar, Mama …."


"Aku tidak mau lagi bertemu dengan Mama." Clarra akhirnya buka suara.


"Hidupku baik-baik saja sebelum Mama datang. Dan aku ingin semuanya kembali seperti semula. Setidaknya mulai saat ini Mama tidak usah menemuiku lagi."


"Apa?" Larra bereaksi.


"Mama tahu, hidupku tidak tenang setelah mengetahui bahwa aku ini bukanlah anak kandung dari orang tua yang selama ini membesarkan aku. Apa lagi setelah tahu bahwa Mama lah orang tuaku."


"Sepertinya semua yang aku miliki akan hilang. Oh tidak, bahkan aku telah kehilangan hal terbesar yang hampir aku raih. Apa Mama tahu?"


Larra mencoba untuk mendengarkan.


"Cinta yang telah aku bangun dan aku dapatkan dengan susah payah menghilang begitu saja karena kedatangan Mama."


"Apa Mama sadar telah menghancurkan hidupku? Sehingga aku tidak tahu lagi bagaimana harus menghadapinya. Kedatangan Mama tidak ada gunanya bagiku, selain menjadi sumber depresi dan siksaan mental yang tidak pernah berakhir."


"Clarra …."


"Aku mengakui Mama sebagai ibu kandungku. Tapi aku harap hanya sampai disitu saja. Jangan lagi menemuiku, atau berusaha menghubungiku. Karena jika Mama tetap begitu, maka aku akan menjadi semakin membenci Mama."


"Mungkin suatu hari nanti aku akan bisa menerima kehadiran Mama. Tapi aku tidak tahu kapan. Hanya saja, aku butuh waktu."


"Aku mohon, Mama mengerti aku. Sangat sulit bagiku untuk memulihkan diri jika Mama terus berusaha, apa lagi memaksa. Karena usaha apa pun yang Mama lakukan tetap tidak akan merubah segala yang telah terjadi. Aku sudah kehilangan jati diri, dan sekarang sedang berusaha mengembalikannya."


"Aku mohon kepada Mama untuk menjauh, dan jangan menemuiku lagi. Itu lebih baik, dan aku akan sangat berterima kasih kepada Mama." Clarra kemudian bangkit dan menarik Galang untuk segera pergi dari sana.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


coba, setelah ini apakah akan selesai? 🤔🤔🤔


jan lupa gaess, ikuti novel aku di y o u t u b e. Judulnya Dear Husband di Chanel Tiyana Pratama.


alopyu sekebon 😘😘

__ADS_1



__ADS_2